Menjadi Dokter sukses di usia 31 tahun ternyata tidak cukup bagi Hazel untuk membeli satu hal yang paling ia inginkan yaitu kebebasan dari kekangan Ibunya, hingga ia dipaksa untuk pergi ke daerah perbatasan demi ambisi sang Ibu mencari menantu tentara.
Namun, takdir punya rencana lain. Di tempat itulah Hazel kembali dipertemukan dengan seorang pria yang sudah lama ia kenal, pria yang mampu menggoyahkan perasaan Hazel setelah 14 tahun lamanya.
Bagaimana kelanjutan ceritanya? Siapakah pria itu? Bagaimana nasib Hazel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saya Bisa Sendiri, Kapten
Sinar matahari pagi yang menerobos masuk melalui jendela kaca besar ruang tunggu langsung menerpa wajah Hazel. Kelopak matanya bergerak perlahan, menyesuaikan diri dengan cahaya yang tiba-tiba terasa menyilaukan. Hazel melenguh pelan, merasakan seluruh persendian tubuhnya kaku dan pegal akibat tidur dengan posisi meringkuk di atas kursi.
Begitu kesadarannya terkumpul sepenuhnya, Hazel langsung menegakkan tubuh dan hal pertama yang tertangkap oleh matanya adalah sosok Gavin yang sedang berdiri di dekat jendela dan membelakanginya.
"Sudah bangun?" tanya Gavin tanpa berbalik, seolah tahu pergerakan Hazel hanya dari suara gesekan kain jaketnya.
"Eh... iya, Kapten," jawab Hazel canggung, suaranya masih agak serak khas orang baru bangun tidur.
Hazel segera merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, "Jam berapa sekarang?" tanya Hazel.
"Hampir jam enam pagi, cuaca sudah cerah. Tapi, helikopter harus kembali ke pangkalan utama untuk pemeriksaan rutin. Kita akan kembali ke pos perbatasan menggunakan jalur darat, ada rombongan prajurit yang kembali dari kota ke perbatasan, jadi kita bisa sekalian menumpang," ujar Gavin sambil membalikkan badan dan menatap Hazel dengan ekspresi datar seperti biasanya.
"Siapkan barang-barangmu, sepuluh menit lagi kita berangkat," tambah Gavin.
"Baik, Kapten," jawab Hazel.
Hazel segera bergegas ke toilet untuk mencuci muka, saat menatap pantulan dirinya di cermin, Hazel mengembuskan napas panjang. Lingkar hitam di bawah matanya terlihat jelas, mempertegas gurat kelelahan yang ia rasakan.
Hazel menepuk-nepuk kedua pipinya, mencoba menyuntikkan semangat untuk dirinya sendiri. "Hari ini kamu harus profesional, Hazel. Semuanya sudah masa lalu, Gavin yang Sekarang berbeda dengan Gavin empat belas tahun lalu," gumam Hazel.
Setelah membasuh wajahnya dengan air dingin yang segar, Hazel merasa sedikit lebih bertenaga. Ia mengeringkan wajahnya dengan tisu, merapikan kunciran rambutnya dan memastikan penampilannya tidak terlalu berantakan.
Sebelum keluar dari toilet, Hazel menarik napas dalam-dalam, mengunci rapat-rapat semua perasaan sedihnya di tempat terdalam. Mulai detik ini, ia harus memperlakukan Gavin murni sebagai komandan kompi, tidak lebih.
Begitu Hazel kembali ke ruang tunggu, Gavin memberikan isyarat dengan anggukan kepala agar Hazel mengikutinya, mereka berjalan menuju area parkir belakang rumah sakit.
Di area parkir belakang rumah sakit yang masih terasa sejuk oleh embun pagi, sebuah truk militer besar sudah terparkir dengan mesin yang menyala. Di bagian bak belakang yang terbuka namun ditutupi terpal tebal, tampak para prajurit berseragam lengkap sedang mengobrol santai sambil memegang kotak ransum sarapan mereka.
Begitu melihat kedatangan Gavin dan Hazel, obrolan para prajurit itu langsung terhenti. Salah satu prajurit yang tampaknya memimpin rombongan tersebut segera melompat turun dari bak truk, membenarkan posisi baretnya lalu berdiri tegap memberikan hormat militer yang sempurna kepada Gavin.
"Lapor, Kapten! Rombongan logistik dari Sektor Barat siap bergerak kembali ke pos perbatasan utara!" seru prajurit bertubuh tegap itu dengan suara lantang.
Gavin membalas hormat tersebut dengan gerakan tangan yang santai namun tegas, "Kondisi jalur darat bagaimana? Sudah aman?" tanya Gavin langsung pada intinya.
"Siap! Laporan dari tim pembersih dua jam lalu mengatakan material longsor di tebing jembatan gantung sudah berhasil disingkirkan sebagian, Kapten. Jalur sudah bisa dilalui satu jalur secara bergantian, meskipun jalannya masih agak licin dan berlumpur," jelas prajurit itu dengan saksama.
Gavin mengangguk-angguk paham, lalu melirik ke arah Hazel yang berdiri di sampingnya sambil mendekap tas medis darurat. "Bagus, saya dan Dokter Hazel akan ikut menumpang kembali ke pos," ucap Gavin.
Mendengar hal itu, prajurit itu seketika tampak tidak enak hati. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil melirik ke arah kabin depan truk, lalu kembali menatap Gavin dengan raut wajah sungkan.
"Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Kapten... tapi kapasitas kabin depan sudah penuh total. Di depan sudah ada sersan yang bertugas sebagai sopir dan satu orang lagi sebagai navigator pembuka jalan karena jalur pasca-longsor masih rawan. Jadi... Kapten Gavin dan Ibu Dokter terpaksa harus ikut naik di bak belakang bersama kami," ucap prajurit itu dengan nada penuh penyesalan, takut menyinggung sang komandan kompi yang terkenal tegas.
Hazel yang mendengar hal itu langsung tersentak kecil, ia tidak masalah jika duduk di bak belakang truk, hanya saja di bak belakang dipenuhi oleh para prajurit pria dan Hazel tentu saja tidak nyaman dengan hal itu.
Namun, sebelum Hazel sempat mengeluarkan suaranya, Gavin sudah terlebih dahulu bersuara dengan suara baritonnya yang tenang.
"Tidak masalah, kami naik di belakang," ucap Gavin.
"Siap, Kapten! Silakan!" prajurit itu langsung berbalik dan memberikan aba-aba kepada teman-temannya di atas bak truk untuk bergeser dan merapikan ruang kosong.
Gavin kemudian menoleh ke arah Hazel dan memperhatikan bagaimana wanita itu yang memandangi tangga besi dengan tatapan agak ngeri.
"Bisa naik sendiri atau perlu saya angkat?" tanya Gavin datar, namun ada nada menyindir yang sangat halus di sana.
Hazel langsung mendengus pelan, harga dirinya sebagai dokter relawan yang tangguh seketika terusik. "Saya bisa sendiri, Kapten," jawab Hazel ketus.
Hazel melangkah maju, memegang besi pembatas truk, lalu mulai mengangkat kakinya untuk memijak anak tangga besi yang cukup tinggi itu.
Meskipun sudah menjawab dengan penuh percaya diri, realitas ternyata tidak seindah bayangan Hazel. Tangga besi itu letaknya sangat tinggi dari permukaan tanah, apalagi sasis truknya memang didesain tinggi untuk menerjang medan berat perbatasan.
Ketika Hazel mencoba mengangkat kaki kanannya, rasa nyeri yang luar biasa mendadak menusuk tumitnya. Luka lecet akibat sepatu kemarin yang sempat ia lupakan karena panik, kini meradang hebat dan berdenyut kencang. Tubuh Hazel seketika limbung dan ia terpaksa menurunkan kakinya kembali ke tanah dengan wajah meringis menahan sakit.
Para prajurit yang berada di atas bak truk tampak tanggap, salah satu prajurit muda yang berada di dekat pintu bak langsung mengulurkan tangannya ke bawah.
"Mari, Bu Dokter, pegang tangan saya. Saya bantu tarik dari atas," ucap prajurit itu dengan ramah dan sopan.
Hazel mengembuskan napas lega, "Iya, terima kasih banyak...,"
Belum sempat Hazel menyambut uluran tangan prajurit tersebut, sebuah tepukan pelan mendarat di bahu sang prajurit dari bawah. Gavin sudah berdiri di belakang Hazel, menatap prajurit muda itu dengan pandangan datar yang seketika membuat si prajurit menarik kembali tangannya dan kembali berdiri tegap dengan kikuk.
"Biar saya," ucap Gavin pendek.
Sebelum Hazel sempat melayangkan protes atau mencerna apa yang terjadi, Gavin sudah melangkah maju mendekatinya. Tanpa aba-aba, Gavin menyelipkan kedua tangan kekarnya di bawah ketiak Hazel, dengan satu hentakan napas yang kuat dan gerakan yang sangat mudah seolah Hazel hanya seberat kapuk, Gavin mengangkat tubuh mungil Hazel ke atas.
.
.
.
Bersambung.....
SeMangattt Up Lagii Buat Besok Kak
Makasiiii Kak Cerita Sorenya
SeMangattt Up Sorenya Kakkkk
Makasiii Ceritanya Siang Iniiii
SeMangattt Up Lagiii Buat Siang Kak