NovelToon NovelToon
Teratai Pedang Sembilan Kematian

Teratai Pedang Sembilan Kematian

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:10.1k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Lin Tian, seorang pemuda dari kasta terendah Sekte Awan Hijau, harus menelan kepahitan takdir saat Dantiannya dihancurkan tanpa ampun demi melindungi adik perempuan satu-satunya. Alih-alih mendapat keadilan, sang adik dirampas oleh petinggi sekte yang serakah, sementara Lin Tian dibuang ke tambang beracun di Lembah Kematian untuk membusuk sebagai manusia cacat.
​Namun, di kedalaman keputusasaan, Lin Tian menolak untuk menyerah pada nasib. Ketika langit menutup jalan kultivasi ortodoks baginya, ia memilih untuk membelah langit itu sendiri. Diasingkan bersama kerangka para pendekar masa lalu, ia menemukan Seni Pedang Sembilan Kematian—sebuah warisan kuno dan terlarang yang tidak membutuhkan Dantian.Tanpa lautan Qi, ia menjadikan daging dan tulangnya sebagai wadah pedang. Menempuh jalur yang dipenuhi siksaan berdarah dan rasa sakit yang melampaui batas manusia, Lin Tian perlahan menempa dirinya menjadi senjata paling mematikan di bawah langit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Pintu Berdarah

​Kabut merah pekat bergolak layaknya lautan darah yang mendidih di antara dua gunung batu raksasa. Gerbang menuju Alam Rahasia Lembah Musim Gugur akhirnya terbuka sepenuhnya. Suara riuh rendah ribuan kultivator mengiringi langkah mereka yang berdesakan masuk, didorong oleh keserakahan akan harta peninggalan kuno.

​Di antara kerumunan itu, Lin Tian menyusup masuk. Ia mengenakan caping bambu lebar yang menyembunyikan sebagian wajahnya dan jubah abu-abu biasa yang membuatnya terlihat seperti kultivator pengembara kelas bawah yang putus asa. Tidak ada yang memperhatikannya, karena semua orang sibuk menjaga diri dari serangan tiba-tiba lawan atau miasma beracun di pintu masuk.

​Saat kaki Lin Tian melangkah melewati batas formasi alam, sebuah kekuatan ruang yang masif tiba-tiba menyelimutinya. Visinya memutih sekejap.

​WUSH!

​Ketika Lin Tian membuka mata, pemandangan lembah berubah drastis. Ia tidak lagi berada di tengah kerumunan. Alam rahasia ini memiliki formasi teleportasi acak (random displacement) di pintu masuknya, memisahkan rombongan sekte agar mereka berjuang bertahan hidup sendirian.

​Lin Tian mendapati dirinya berdiri di tengah hutan tandus. Pohon-pohon di sini tidak memiliki daun, melainkan ranting-ranting tajam berwarna hitam kelam yang menyerupai tombak yang tertancap di tanah. Langit di atasnya berwarna jingga kusam yang suram, memberikan nuansa abadi musim gugur yang mendekati kematian.

​Udara di sini... berbeda.

​Bagi kultivator biasa, udara di Lembah Musim Gugur terasa menyesakkan dan merusak meridian, dipenuhi oleh sisa-sisa niat bertarung dan darah purba. Namun bagi Lin Tian, ini adalah surga. Setiap tarikan napas terasa menyejukkan Niat Pedang yang bersemayam di tulang-tulangnya.

​BZZZT...

​Tiba-tiba, suara kepakan sayap bernada rendah terdengar mendekat. Dari balik batang pohon hitam di sebelah kirinya, melesat tiga ekor Serangga Pedang Bermata Merah. Binatang buas spiritual tingkat 2 ini memiliki ukuran sebesar kepalan tangan orang dewasa, dengan cangkang setajam silet dan kecepatan setara anak panah.

​Mata Lin Tian menyipit.

​Ketiga serangga itu menerjang lurus ke arah wajah dan dada Lin Tian. Alih-alih menghindar, Lin Tian mengangkat tangan kanannya—lengan yang kini telah mencapai tahap Tulang Pedang Sejati—dan menyabetkannya secara horizontal ke udara kosong di depannya.

​ZING!

​Hanya dengan kekuatan angin dari sabetan fisik lengannya, ketiga serangga itu terbelah dua di udara secara presisi, cangkang keras mereka tak berarti apa-apa. Tubuh serangga itu jatuh berdebam ke tanah yang gersang.

​Lin Tian menatap tangan kanannya. Lengan itu terasa luar biasa ringan dan kuat, jauh lebih mematikan dari senjata tingkat menengah mana pun.

​"Medan perang kuno... tempat yang sempurna untuk berburu," gumamnya pelan.

​Ia mengeluarkan gulungan peta tua dari balik jubahnya. Peta itu peninggalan Sekte Gagak Hitam yang ia ambil dari Mu Qingyi. Ia membukanya dan membandingkan garis kontur peta dengan bentuk gunung bergerigi di kejauhan.

​Tujuannya bukanlah istana utama tempat artefak dewa disembunyikan—tempat yang pasti akan diperebutkan habis-habisan oleh para elit sekte. Tujuannya adalah wilayah yang ditandai dengan simbol teratai layu di tepi barat peta: Rawa Darah Pedang. Itu adalah tempat di mana Biji Teratai Pedang legendaris konon terkubur.

​Lin Tian melipat peta itu kembali dan mulai melangkah santai menuju arah barat.

​Perjalanannya tidak tenang. Alam Rahasia ini dirancang untuk menyaring yang lemah. Dalam beberapa jam pertama, Lin Tian menghadapi serigala bayangan, tanaman karnivora pemakan Qi, dan perangkap formasi kuno yang tersembunyi di bawah tanah. Semua rintangan itu ia hancurkan dengan kepalan tangannya, meninggalkan jejak kehancuran murni tanpa setetes Qi pun.

​Menjelang sore, saat langit jingga semakin redup, langkah Lin Tian terhenti di tepi sebuah jurang kecil. Di seberang jurang, terdapat jalan setapak yang harus ia lewati untuk menuju rawa.

​Namun, jalan itu tidak kosong.

​Tiga sosok kultivator berjubah sutra biru sedang memojokkan seorang pemuda gemuk yang penuh luka. Lambang awan hijau di dada tiga kultivator itu membuat mata Lin Tian sedikit menyipit. Mereka adalah elit Murid Dalam dari sisa-sisa Sekte Awan Hijau.

​"Tuan Muda Wang, tidak usah repot-repot lari lagi," salah satu murid Awan Hijau menyeringai licik, memainkan belatinya yang berlumuran darah. "Serahkan Kunci Perunggu itu pada kami, dan kami mungkin akan memberimu kematian yang cepat."

​Pemuda gemuk itu, Wang Bao, adalah kultivator pengembara beruntung yang secara tak sengaja menemukan salah satu kunci untuk membuka aula harta karun tingkat rendah di dalam lembah. Ia terengah-engah, memegang lengannya yang tersayat dalam.

​"Kalian dari Sekte Awan Hijau sungguh tak tahu malu!" kutuk Wang Bao. "Sektemu baru saja diporak-porandakan oleh seorang mantan murid di malam purnama, dan sekarang kalian mencoba memeras kultivator pengembara sepertiku?!"

​Mendengar sindiran itu, wajah ketiga murid Awan Hijau seketika berubah merah karena malu dan marah. Kejadian di malam itu adalah aib terbesar sekte mereka, yang kini menjadi bahan tertawaan di seluruh wilayah.

​"Tutup mulut babi gemukmu!" bentak murid yang bertindak sebagai pemimpin. Matanya menyala membunuh. "Lin Tian si cacat itu hanya beruntung memiliki artefak peledak kuno! Jika dia berani muncul di depan kami hari ini, aku akan mengiris dagingnya hidup-hidup! Sekarang mati kau!"

​Ketiga murid itu melesat maju secara serentak, pedang spiritual mereka berlapis energi Qi, siap mencincang Wang Bao.

​Wang Bao memejamkan mata, menunggu kematian.

​TAP.

​Sebuah langkah pelan terdengar di atas bebatuan, sangat pelan, namun anehnya menutupi suara deru angin jurang.

​WUSH!

​Sebelum pedang ketiga murid Awan Hijau itu menyentuh leher Wang Bao, sesosok tubuh berbaju abu-abu mendarat tepat di antara mereka. Kecepatannya sangat tak masuk akal, seolah-olah ia memotong jarak menembus ruang itu sendiri.

​Tiga pedang yang sedang menebas terhenti di udara, ditahan oleh sebuah caping bambu yang diangkat oleh sosok tersebut.

​KRAK! PRANG!

​Sosok itu bahkan tidak menggunakan senjata. Ia hanya menggunakan tangannya untuk mematahkan ketiga bilah pedang spiritual tingkat rendah itu layaknya mematahkan ranting kering.

​Ketiga murid Awan Hijau terbelalak kaget. Kekuatan fisik murni tanpa Qi?

​Sosok itu perlahan menyingkirkan caping bambunya ke belakang, memperlihatkan wajah yang tenang, dingin, dan tatapan mata yang lebih tajam dari pedang mana pun di dunia.

​"Kalian mencariku?" suara Lin Tian datar dan pelan, menyapu telinga ketiga murid itu.

​Ketiga murid Awan Hijau mematung seketika. Jantung mereka serasa diremas oleh tangan raksasa kasat mata. Wajah yang malam itu menjadi teror absolut dalam mimpi terburuk sekte mereka kini berdiri berjarak kurang dari satu meter di hadapan mereka!

​"I-Iblis Lin Tian!" pemimpin murid itu berteriak histeris, nyalinya menciut seketika. "Lari! Lari beri tahu Tetua!"

​Tanpa mempedulikan nasib teman-temannya atau harta yang baru saja mereka perebutkan, ketiga murid itu berbalik dan lari tunggang langgang dengan kecepatan maksimal. Ketakutan akan kekuatan fisik Lin Tian membuat mereka kehilangan akal sehat.

​Namun, di dunia Lin Tian, musuh yang menunjukkan punggungnya adalah musuh yang meminta kematian.

​Lin Tian tidak mengejar. Ia perlahan merogoh sesuatu di tanah. Tangannya memungut tiga keping patahan pedang spiritual milik mereka yang baru saja ia hancurkan.

​Ia menjepit kepingan logam itu di antara jari-jari perunggunya, mengambil napas sejenak, dan menyentikkannya dengan kecepatan mematikan.

​SWISH! SWISH! SWISH!

​Tiga patahan pedang itu melesat menembus udara, menembus penghalang suara dan memercikkan bunga api akibat gesekan udara yang ekstrem.

​JLEB! JLEB! JLEB!

​Tiga teriakan terpotong bersamaan. Kepingan pedang itu menembus tepat di bagian belakang leher ketiga murid Awan Hijau tersebut, menghancurkan tulang belakang dan merobek tenggorokan mereka hingga tembus ke depan. Tubuh mereka berguling-guling tak bernyawa di tanah berdebu, mati tanpa sempat melawan.

​Lin Tian menepuk debu dari tangannya dengan santai, seolah baru saja menyingkirkan serangga pengganggu.

​Di belakangnya, Wang Bao si pemuda gemuk duduk dengan mulut menganga lebar, wajahnya lebih pucat dari orang mati. Ia baru saja menyaksikan legenda teror yang menghancurkan sekte hegemoni.

​"K-Kau... Lin Tian..." Wang Bao tergagap, mundur perlahan, takut dirinya akan menjadi korban berikutnya.

​Lin Tian berbalik menatap Wang Bao. Matanya kosong, tak memancarkan hawa membunuh ke arah pemuda gemuk itu. Ia melirik Kunci Perunggu yang dipegang erat oleh Wang Bao, lalu memalingkan pandangannya dengan tak acuh.

​"Kunci itu tidak ada artinya bagiku. Ambillah," kata Lin Tian pelan, lalu kembali mengenakan caping bambunya. "Tapi sebagai gantinya, ke arah mana Rawa Darah Pedang berada?"

​Wang Bao menelan ludah, buru-buru menunjuk ke arah barat laut dengan tangan gemetar. "K-Ke sana, Tuan! Tapi berhati-hatilah... kudengar dari murid Paviliun Angin Musim Gugur, area rawa itu sangat berbahaya. Banyak ahli pedang berkumpul di sana karena rumor adanya Teratai Darah kuno yang akan mekar malam ini!"

​Mata Lin Tian menyipit. Biji Teratai Pedang yang ia cari ternyata akan mekar menjadi teratai utuh? Ini di luar dugaannya. Ia harus mendapatkannya sebelum jatuh ke tangan sekte lain.

​"Terima kasih," ucap Lin Tian singkat.

​Ia melesat ke udara, menghilang ke dalam rimbunnya hutan berduri, meninggalkan Wang Bao yang masih merenungi keberuntungannya selamat dari mulut harimau hanya untuk diselamatkan oleh raja iblis.

1
yos helmi
💪💪💪💪💪💪
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣💪💪💪💪💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪
yos helmi
😄😄😄🤣🤣🤣🤣💪💪💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍👍
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😄💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣💪👍💪👍💪
yos helmi
👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪🤣🤣🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!