Dituduh menjual jasad anak kandungnya sendiri, Raznalira Utami (28 th) tidak hanya kehilangan buah hatinya tetapi juga rumah tangganya. Suaminya menceraikannya tanpa memberi kesempatan untuk menjelaskan.
Dalam keterpurukan hidupnya, Razna menerima tawaran menjadi ibu susu bagi bayi laki-laki milik seorang duda muda konglomerat, Rendra Mahardika (35th). Demi bertahan hidup, ia menekan masa lalunya dan masuk ke dunia baru yang terasa asing, dingin, dan penuh rahasia.
Namun takdir seolah belum selesai mempermainkannya.
Di rumah megah itu, Razna bertemu dengan seorang wanita misterius yang membuat darahnya seketika membeku. Wanita tua yang dulu membeli jasad anaknya.
Apa tujuan sebenarnya wanita itu membeli jasad bayi Razna?
Apa hubungan wanita tua itu dengan Rendra?
Kecurigaan Razna berubah menjadi ketakutan saat perlahan ia menyadari sesuatu yang mustahil, apakah itu?
Happy reading 💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FR Nursy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 Razna Mulai Terbuka
"Maaf Tuan. Tapi saya..." suara itu menggantung di udara.
Razna kembali menunduk, mencengkeram ujung bajunya, menarik napas panjang, berusaha menenangkan dirinya sendiri. Dadanya bergemuruh manakala masa lalunya berkelebat dalam pikirannya. Sungguh sangat menyakitkan. Kini kesempatan baru tiba-tiba hadir di hadapannya, dengan harapan mampu mengobati rasa sakit pada mantan suaminya.
"Saya single parent. Status itu baru semalam saya terima dengan hati yang hancur, kehilangan anak, kehilangan keluarga," tegasnya lirih, bulir bening keluar dari kelopak matanya yang entah ke berapa dia menangis.
Rendra sedikit terkejut, alisnya terangkat tipis. Namun dia hanya diam tidak menyela sedikitpun. Seraya memberi ruang pada Razna untuk melanjutkan ucapannya.
"Saya ditalak suami lantaran dituduh menjual jasad anak sendiri. Padahal itu hanya sebagai tameng agar dia bisa nikah lagi. Saat itu, saya sudah tidak punya siapa -siapa. Saya pasrah dengan keadaan sehingga kaki saya sudah tidak mampu lagi berpijak di atas bumi. Saya terlalu lelah, pada akhirnya saya pun tumbang. Namun keesokan harinya jiwaku bangkit manakala mendengar suara bayi yang membuatku perlahan mampu menyingkirkan bayangan mantan suami yang sudah membuangku seperti sampah. Bayi Finza menjadi penawar rinduku pada anakku yang sudah meninggal. Maafkan saya, Tuan. Saya jadi curhat begini. Saya terlalu lemah menjadi perempuan...." suaranya tercekat di tenggorokan.
Razna mengusap air matanya cepat. Agak lega setelah menceritakan sisi hidupnya yang tidak bahagia.
Suasana menjadi hening.
Rendra menarik napas dalam-dalam. Ada sesuatu yang menyentuh hatinya setelah mendengar cerita rumah tangga Razna. Sehingga ia tahu alasan mengapa Razna terlihat rapuh malam itu. Ada rasa iba melihat wanita yang ada di hadapannya.
"Kalau begitu...apa itu berarti kamu menerima tawaran saya?" tanya Rendra hati-hati, penuh harap.
Razna mengangkat wajahnya yang sembab. Perlahan ia mengusap matanya yang masih basah dengan punggung tangannya. Razna mengangguk pasti. Tidak akan ada penyesalan menerima keputusan ini.
"Saya bersedia, Tuan," jawab Razna tanpa ada keraguan sedikitpun.
Rendra tersenyum sumringah. Dia bahagia dengan jawaban yang diberikan Razna.
"Tapi...."
Rendra terdiam, mengerutkan keningnya.
"Kenapa? Ooh kalau masalah gaji, saya akan berikan sesuai dengan pekerjaan yang dilakukan. Bahkan bisa lebih dari jumlah yang ditetapkan. Karena saya tidak main-main dengan pekerjaan ini. Ini menyangkut kehidupan dan masa depan Finza. Saya ingin Finza disusui oleh orang yang tepat. saya percaya kamulah orangnya. Saya berharap, kamu tidak mengecewakan dan tidak merusak kepercayaan saya,"
Razna menganggukkan kepalanya. Dia sangat paham untuk hal itu.
"Saya tidak menuntut gaji, Tuan. Bagi saya, ASI yang saya miliki tidak dijual pada siapapun. Saya akan berikan cuma-cuma untuk anak Tuan. Tapi tolong berikan saya kesempatan untuk merawat Finza dengan tulus seperti anak saya sendiri," pinta Razna yakin.
Rendra terdiam sejenak, menatap tajam wanita yang menaruh harapan besar. Dia ingin memastikan keseriusannya dalam mengasuh Finza.
"Kamu tahu apa konsekuensinya kalau ternyata kamu lalai terhadap tugasmu?" tanya Rendra tegas.
Razna mengangguk pasti.
"Saya siap kalau sewaktu-waktu saya dikeluarkan dari rumah ini karena kelalaian dalam merawat Finza."
Rendra berjalan perlahan mendekati Razna, lalu berhenti tepat di hadapannya.
"Kalau begitu, mulai hari ini, kamu bukan hanya sekedar menjadi Ibu Susu buat anakku, kamu harus..."
Razna menatapnya serius, menunggu kelanjutan kalimat yang masih menggantung di udara.
"...Tinggal di rumah ini, satu kamar dengan Finza. Saya ingin kamu benar-benar menjaga kesehatan fisik dan mentalmu,"
Rendra berhenti sejenak, mengatur nafasnya. Lalu menambahkan dengan nada yang lebih dalam.
"Karena sekarang, kamu sudah termasuk bagian terpenting buat anak saya," ujarnya pelan namun pasti.
Deg.
Jantung Razna kembali berdegup karena sebuah harapan baru akan mulai hari ini.
Razna mengangguk hormat. Tangannya kembali bertaut di pangkuan, tapi kali ini bukan karena gugup, melainkan mencoba menahan perasaan bahagia yang membuncah.
"Terima kasih Tuan, saya akan berusaha menjadi ibu susu yang baik buat Finza. Saya tidak akan merusak kepercayaan yang Tuan berikan pada saya,"
Rendra mengangguk singkat, namun sorot matanya masih meneliti dengan seksama wajah cantik itu, seolah ia sedang memastikan bahwa keputusan ini benar-benar tidak akan dia sesali.
"Bagus. Tapi ingat, ini tidak hanya tentang perasaanmu yang menjadi penawar rindu pada anakmu. Saya butuh orang yang komitmen dan loyal terhadap tugasnya. Sekarang boleh kembali ke kamar Finza. Pastikan dua jam sekali Finza dibangunkan untuk diberi ASI."
"Baik Tuan, saya permisi," ujar Razna berdiri.
"Hemmm..."
Baru saja Razna hendak keluar, terdengar suara pintu diketuk tiga kali. Langkah Razna terhenti.
"Masuk," sahut Rendra tanpa mengalihkan pandangan dari Razna.
Pintu terbuka, Surti masuk dengan langkah hati-hati sambil menggendong bayi. Di belakangnya, seorang anak perempuan kecil yang lucu, rambutnya dikuncir dua berlari masuk lebih dulu dengan riang.
"Papa!" teriak Moana dengan wajah ceria. Suara cemprengnya memecah suasana.
Rendra menyambutnya dengan gembira. Wajahnya yang tadi serius berubah menjadi hangat.
"Moana..." ucapnya sambil membuka tangan.
Anak kecil yang berumur lima tahun itu langsung digendong Papanya.
"Aku udah rapi. Kata mbak Surti, aku mau diajak jalan-jalan sama Papa! Cium Pa, aku wangi kan?" katanya manja sambil menarik bajunya agar Papanya mencium aroma baju yang ia kenakan.
Rendra tersenyum, mengusap kepala putrinya dengan lembut.
"Mmmmm wangi banget putri Papa. Sekarang Papa mau ajak Moana jalan-jalan. Moana mau kan?"
"Moana mau banget Papa. Mbak Surti diajak ga Pah?"
Rendra tersenyum sambil melirik ke arah Surti yang sedang menggendong Finza.
"Kita pergi berdua saja. Mbak Surti harus menemani Mbak Razna, mengurus adik bayi,"
"Yaaa jadi ga seru dong, Pa..."
"Nanti Papa ajak Moana di tempat yang lebih seru, mau?"
"Mau...mau..."
Moana memeluk Papanya dengan erat, menghujani ciuman hangat.
Razna memperhatikan interaksi keduanya dari tempatnya berdiri. Ada sesuatu yang terasa hangat sekaligus perih melihat pemandangan itu. Yang tidak bisa ia dapatkan dari mimpi-mimpinya terdahulu.
Surti tersenyum senang melihat keduanya bisa bertemu kembali setelah beberapa Minggu Papanya tugas ke luar negeri.
"Tuan, ini Finza sudah bangun, makanya Surti bawa ke sini," ucapnya pelan.
Reflek pandangan Razna langsung tertuju pada bayi tersebut. Jantungnya berdegup lagi, tapi kali ini kerinduannya sangat dalam.
Rendra menurunkan Moana. Lalu mendekat ke arah Surti. Dia menatap Finza sejenak lalu melirik ke arah Razna.
"Razna," panggilnya lembut.
"Iya Tuan?"
"Mendekatlah!
Dengan sedikit ragu, Razna mendekati Surti yang masih menggendong bayi. Setiap langkahnya terasa berat namun penuh harapan yang pasti.
Saat posisi Razna sudah cukup dekat, Surti dengan hati-hati menyerahkan bayi itu kepada Razna.
"Beri ASI lagi. Setiap dua jam sekali harus tercukupi. Kalau kamu ingin merawatnya dengan baik, kamu harus terbiasa," kata Rendra singkat.
"Baik Tuan,"
Dengan tangan sedikit gemetar, dia menerima Finza ke dalam pelukannya. Bagitu bayi itu berada di lengannya, dunia seolah berhenti sejenak. Tangis, luka dan kehilangan yang ia rasakan selama ini, seolah menemukan obat penawar untuk menyembuhkan rasa itu.
Bayi itu tidak menangis. Justru terlihat tenang berada dalam pelukan Razna.
Surti tersenyum kecil melihatnya.
"Sepertinya Finza sangat nyaman bersama Mbak Razna, Tuan,"
Rendra tidak langsung menjawab. Dia hanya memperhatikan interaksi Razna lebih dalam.
Di sisi lain, di balik pintu yang tidak tertutup sempurna. Danara berdiri dalam diam, tatapannya tajam, penuh ketidakpercayaan , seraya mengeratkan giginya, tangannya mengepal pelan.
"Ini tidak boleh dibiarkan begitu saja, aku harus melakukan sesuatu...." gumamnya lirih.
.
raz.. kan dia kerja.. tp kmcemburu .. dan km yg berharap sama Rendra
padahal Rendra ngk suka ma km.. dia ngangap km adik .. pahamm!
udah jadi adek ipar masih aja ngelunjak pgen jdi istri... ngk tau diri
Degar sendiri kan dra klakuan adek ipar mu...