NovelToon NovelToon
Teratai Di Atas Abu

Teratai Di Atas Abu

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Akademi Sihir
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Teratai Di Atas Abu

Setelah Klan Teratai Suci dihancurkan oleh Menara Darah Hitam, Lian Hua menjadi satu-satunya yang selamat dari malam penuh darah itu. Dengan meridian rusak dan bakat yang dianggap rendah, ia tumbuh di tengah hinaan dunia persilatan.

Namun di balik liontin teratai peninggalan klannya, tersembunyi kekuatan kuno yang mampu mengguncang dunia kultivasi.

Di antara dendam, pengkhianatan, dan perang antar sekte, Lian Hua menapaki jalan kultivasi demi mengungkap kebenaran kehancuran klannya—dan membalas semua darah yang telah tertumpah.

Karena bahkan di atas abu kehancuran… teratai tetap bisa mekar kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 12

Teratai Di Atas Abu

Bab 12 — Gadis dari Paviliun Giok

Setelah insiden di lapangan latihan, Lian Hua kembali ke gubuknya dengan langkah berat. Telapak tangannya terasa berdenyut nyeri, memar besar menjalar hingga ke lengan, dan sisa rasa sakit dari benturan tadi masih tersisa di sekujur tubuhnya. Ia menutup pintu kayu reyot itu rapat-rapat, lalu duduk bersila di atas alas jerami, berniat menyalurkan hawa dalam untuk meredakan rasa sakit dan menyembuhkan luka—seperti yang biasa ia lakukan setiap hari.

Namun sebelum ia sempat memejamkan mata, terdengar ketukan pelan di pintu.

Lian Hua mengerutkan kening. Hampir tak ada orang yang sudi mendekati tempat tinggal murid rendahan ini, apalagi datang berkunjung ke gubuknya. Ia bangkit perlahan, membuka pintu, dan tertegun sejenak.

Di sana berdiri Gu Qing Cheng, mengenakan jubah putih bersih yang kontras dengan suasana gubuknya yang sederhana. Di tangannya ia membawa sebuah bungkusan kain kecil dan sebotol obat cair berwarna cokelat bening. Wajah gadis itu tenang, matanya menatap lurus ke arah tangan kanan Lian Hua yang tergantung kaku di sisi tubuh.

"Boleh aku masuk?" tanyanya pelan, suaranya lembut namun tegas.

Lian Hua mengangguk kaku, menyingkirkan badan memberi jalan. Di dalam ruangan yang remang dan berbau kayu tua itu, Gu Qing Cheng duduk di atas bangku pendek satu-satunya, lalu meletakkan bawaannya di atas meja kayu yang goyah. Ia menunjuk ke arah tangan Lian Hua.

"Ulurkan tanganmu. Luka itu cukup parah. Jika dibiarkan, bisa membengkak dan mengganggu latihanmu nanti."

Lian Hua ragu sejenak. Ia dan gadis ini berbeda dunia—ia murid rendahan yang dianggap sampah, sedangkan Gu Qing Cheng adalah murid berbakat, pujaan banyak orang, dan calon penerus aliran utama sekte. Namun ia melihat ketulusan di mata gadis itu, tak ada sedikit pun rasa jijik atau meremehkan yang biasa ia lihat pada orang lain. Ia pun perlahan mengulurkan tangan kanannya yang berdarah dan kotor itu.

Gu Qing Cheng mengeluarkan kain bersih, membasuh luka itu dengan air hangat yang ia bawa dalam wadah kecil, lalu menuangkan obat cair yang beraroma wangi dan sejuk. Saat cairan itu menyentuh kulit yang terluka, Lian Hua merasakan rasa perih yang tajam sekejap, lalu digantikan rasa dingin yang nyaman, seolah nyeri itu perlahan ditarik keluar dari dagingnya.

"Obat ini ramuan dari Paviliun Giok, khusus untuk memulihkan luka benturan dan memar," ujar Gu Qing Cheng pelan sambil membalut tangan Lian Hua dengan kain perban halus. "Aku melihat apa yang terjadi tadi... Kau bisa saja menghindar atau menangkis dengan lebih kuat, tapi kau malah menahannya."

Lian Hua diam sejenak, lalu menjawab datar, "Aku belum menguasai teknik yang cukup. Menangkis sembarangan hanya akan membuatku terluka lebih parah. Lebih baik menahan, sekaligus merasakan kekuatan dan gerakan lawan."

Gu Qing Cheng mengangkat wajah, menatap matanya lekat-lekat. "Kau memang berbeda dari yang lain. Semua orang mengejekmu, menganggapmu tak berguna. Tapi aku tahu... orang yang bisa menaiki Seribu Anak Tangga dalam keadaan penuh darah, orang yang tetap berdiri tegak meski senjatanya patah, tak mungkin sekadar orang lemah."

Suasana hening sejenak. Di luar, angin sore berdesir menembus celah dinding kayu. Di dalam sana, untuk pertama kalinya, Lian Hua merasakan ada orang yang tak melihatnya sebagai sampah, melainkan melihat dirinya apa adanya. Rasa dingin yang selama ini ia bangun di hatinya perlahan meleleh sedikit.

"Terima kasih," ucapnya pelan, hanya dua kata, namun penuh ketulusan yang mendalam.

Gu Qing Cheng tersenyum tipis, senyum yang indah dan hangat bagai cahaya matahari sore. Ia membereskan peralatan obatnya, hendak berpamitan. "Sudah selesai. Ganti perban ini besok pagi. Jangan gunakan tangan itu untuk mengangkat beban berat dulu beberapa hari ini."

Saat ia hendak beranjak, angin dari celah jendela bertiup masuk, menyibakkan sedikit jubah biru tua Lian Hua yang terbuka karena robekan bekas benturan tadi.

Di dada kiri pemuda itu, tepat di bawah tulang selangka, terlihat jelas kulitnya yang putih bersih namun penuh bekas luka halus. Namun apa yang membuat Gu Qing Cheng tertegun kaku di tempat, matanya terbelalak tak percaya, adalah tanda berwarna hijau samar yang kini tampak jelas di sana.

Saat ini, karena tubuh Lian Hua masih bereaksi menyebarkan khasiat obat dan tenaga dalamnya bergerak perlahan memulihkan luka, pola itu terlihat sangat nyata: ukiran bunga teratai yang sedang mekar sempurna, kelopak demi kelopak tergambar jelas, berwarna hijau lembut yang memancarkan cahaya samar, persis sama dengan ukiran di liontin giok yang dulu pernah ia dengar kisahnya, pusaka legendaris Klan Teratai Suci yang sudah musnah.

Gu Qing Cheng menatap lekat-lekat pola itu, napasnya tertahan di kerongkongan. Ia tahu betul arti lambang itu. Sejak kecil, ia sering mendengar kisah dari ayahnya tentang klan kuno yang sangat kuat, yang hancur diserang organisasi jahat bertopeng hitam. Lambang teratai itu adalah lambang kebesaran yang sudah hilang dari dunia persilatan selama bertahun-tahun.

"Kenapa... kenapa ada tanda ini di dadanya?" batin Gu Qing Cheng gemetar. Ia menatap wajah Lian Hua dengan pandangan yang berubah sama sekali—campuran antara keterkejutan, kekaguman, dan pemahaman baru yang perlahan terbuka.

Lian Hua menyadari tatapan aneh gadis itu. Ia buru-buru merapikan bajunya, menutupi dada itu kembali, ragu-ragu. "Ada apa?"

Gu Qing Cheng menggeleng pelan, berusaha menenangkan diri, namun suaranya masih terdengar sedikit bergetar. "Tidak... tidak ada apa-apa. Aku hanya... terkejut melihat banyaknya bekas luka di tubuhmu."

Namun di dalam hatinya, satu keyakinan kuat kini tertanam dalam: pemuda bernama Lian Hua ini bukan sekadar anak kampung atau murid rendahan biasa. Ia adalah pewaris satu-satunya warisan klan kuno yang legendaris. Dan nasib dunia persilatan, mungkin akan berubah besar-besaran karena kehadiran pemuda ini.

"Aku pergi dulu," ucap Gu Qing Cheng tergopoh sedikit, lalu berjalan keluar gubuk itu dengan pikiran yang berkecamuk hebat, meninggalkan Lian Hua yang masih berdiri bingung di ambang pintu.

1
Devilgirl
Thor, kebanyakan bahasa modern ya..suara cempreng bisa diganti Suara yang melengking tajam karena vibesnya wuxia lho
Devilgirl: udah bagus,cuma kata yang modern ganti ke versi kuno biar lebih bagus gitu
total 2 replies
Devilgirl
Thor ,kalau bikin genre wuxia kata kompleks bangunan gak sesuai...bisa diganti tempat sekte Qing Yun berada...kompleks bangunan terlihat modern ,kak
wiwi: terimakasih🤭
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!