Elisa pikir hari ini adalah hari paling bahagia dalam hidupnya, karena laki-laki yang dia idamkan akan menikahinya. setelah mereka melakukan ta'aruf sebelumnya. Tapi bak disambar petir adiknya datang dan mengatakan jika calon suaminya mengatakan pernikahannya dibatalkan dulu. Tanpa alasan yang pasti.
Elisa merasa malu dan dikhianati, sampai seorang dokter datang dan mengatakan siap menikah dengannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
Pagi itu, matahari baru saja menyapa saat Arka sudah rapi dengan kemeja putih dan jas dokter yang tergantung di lengan kursi. Ia duduk di tepi tempat tidur.
Lilis melesat dari dapur ke kamar, dari kamar ke kamar mandi, bolak-balik tak menentu. Rambutnya yang masih setengah terurai dibiarkan tergerai sementara tangannya sibuk merapikan tas mengajar yang berisi alat peraga untuk murid-murid TK-nya.
"Lis, sarapan sudah?" tanya Arka sambil berdiri.
"Sudah, Mas. Aku masak nasi goreng, tinggal di panci. Aku siap-siap dulu ya, Mas," jawab Lilis terburu-buru sambil mengambil jilbab dari gantungan.
Arka tersenyum kecil melihat istrinya yang bolak-balik seperti kejar setoran. Lilis masuk kamar mandi, lalu keluar lagi karena lupa mengambil sisir. Masuk lagi, lalu keluar membawa handuk kecil.
"Lis, nanti kamu kesiangan," goda Arka pelan.
"Iya, Mas, aku tahu. Ini tinggal pakai jilbab doang," sahut Lilis sambil berdiri di depan cermin.
Ia melipat jilbab segi empatnya menjadi bentuk segitiga dengan gerakan terburu-buru. Namun saat hendak menyematkan jarum pentul di bagian dagu, tangannya yang tergesa-gesa membuat ujung jarum itu menusuk jari telunjuknya.
"Aww!" pekik Lilis spontan. Ia menjatuhkan jarum pentul ke lantai karpet, lalu menggenggam jari tangannya yang berdarah kecil.
Arka yang sedari tadi memperhatikan langsung melangkah cepat mendekat. Ia menunduk, mengambil jarum pentul itu lebih dulu agar tidak terinjak, lalu berdiri di hadapan Lilis.
"Kenapa, sayang?" tanyanya lembut, sambil meraih tangan Lilis untuk memeriksa jari yang tertusuk.
"Ketusuk jarum pentul," jawab Lilis cemberut, menunjukkan titik merah kecil di ujung jari telunjuknya.
Arka menggenggam jari itu dan meniupnya perlahan. "Mana, coba Mas lihat."
"Di sini, Mas. Kecil sih, tapi sakit," ucap Lilis dengan nada manja.
Arka mengamati luka sekecil ujung jarum itu, lalu tersenyum. Ia mengusap ibu jarinya di atas luka tersebut, seolah bisa menyembuhkan dengan sentuhan.
"Biar Mas yang pasangkan jilbabnya. Kamu duduk dulu."
Arka menarik Lilis untuk duduk di tepi tempat tidur. Ia mengambil jilbab yang setengah terlipat itu, lalu dengan cekatan melipatnya kembali menjadi bentuk segitiga yang rapi. Lilis menundukkan kepalanya sedikit agar Arka lebih mudah memasang kain itu di kepalanya.
Jemari Arka yang biasa memegang alat-alat medis itu kini bergerak lembut merapikan lipatan jilbab di dahi Lilis. Ia menarik sedikit ujung kain dari sebelah kanan ke dagu, lalu menahannya sementara tangan kirinya mengambil jarum pentul yang sudah ia letakkan di atas meja rias.
Dengan sangat hati-hati, Arka menyematkan jarum itu di bawah dagu Lilis, memastikan tidak ada ujung jarum yang menyentuh kulit istrinya.
"Lain kali kalau buru-buru, pakai yang sudah dijahit atau pakai bros. Jangan jarum pentul," ujar Arka setengah menasihati.
"Iya, Mas. Tapi yang model gini lebih rapi," jawab Lilis.
Arka menyelesaikan merapikan jilbab Lilis, menata ujung kain yang jatuh ke dada agar simetris. Matanya menatap wajah istrinya yang kini terbungkus sempurna.
"Sudah," ucap Arka puas.
Namun tangannya belum melepaskan ujung jilbab di bahu Lilis. Ia menunduk, mendekatkan wajahnya ke pipi Lilis, lalu mengecup singkat di sudut bibir istrinya.
Lilis tersenyum malu. "Mas..."
Arka tersenyum puas, lalu mengambil cadar yang tergantung di samping cermin.
"Sekarang Mas pasang cadarnya."
Dengan gerakan yang sudah biasa, Arka memasang cadar hitam tipis itu, mengaitkan talinya di telinga Lilis dan merapikan lipatannya di bawah mata. Lilis hanya terdiam, membiarkan suaminya menyelesaikan tugas kecil yang justru membuatnya merasa sangat diperhatikan.
"Kalau sudah begini, Mas jadi pengen nemenin kamu seharian," gumam Arka sambil mengelus rambut Lilis yang tersembunyi di balik jilbab.
Mobil Arka berhenti tepat di depan gerbang TK tempat Lilis mengajar. Beberapa orang tua murid tampak sudah berdatangan mengantar anak-anak mereka. Suara riang bocah-bocah kecil terdengar dari dalam halaman.
Lilis membuka pintu mobil dan turun dengan hati-hati, menyesuaikan rok panjangnya. Ia membungkuk ke dalam mobil tempat Arka masih duduk di kursi kemudi.
"Mas, aku duluan ya," ucap Lilis sambil mengulurkan tangannya.
Arka menyambut tangan istrinya, lalu mencium punggung tangan itu dengan lembut. Matanya menatap Lilis dengan senyum tipis di bibirnya.
"Semangat mengajar hari ini, Sayang," ucap Arka.
"Iya, Mas. Mas juga semangat di rumah sakit."
"Lis," panggil Arka sebelum Lilis sempat melepaskan tangannya.
Lilis mengerjapkan mata. "Iya, Mas?"
"Nggak usah terlalu capek. Kalau ada yang memberatkan, langsung cerita ke Mas. Jangan dipendam sendiri."
"Iya, Mas. Aku kan sudah janji."
Arka menghela napas sejenak, seolah mempersiapkan kata-kata berikutnya. "Soal laki-laki yang sering kamu ceritakan itu. Anak dari kepala yayasan."
Lilis spontan mengernyit. Tangannya yang hampir lepas dari genggaman Arka kembali ia eratkan.
"Mas, aku nggak sering cerita," sanggah Lilis dengan nada keberatan.
"Cuma sekali aku sebut dia. Itu pun karena Mas yang tanya.''
Arka terdiam sesaat, lalu sudut bibirnya naik tipis. "Oh, cuma sekali?"
"Iya, Mas. Cuma sekali. Aku bahkan nggak pernah nyebut namanya lagi setelah itu. Mas yang tiba-tiba hafal dan ngasih label 'sering cerita'," jawab Lilis setengah kesal, setengah gemas.
"Baik, Mas salah," ucap Arka dengan nada merendah. "Tapi meskipun cuma sekali kamu sebut, Mas sudah cukup untuk bisa membaca orang itu."
Lilis mendesah pelan. "Apa lagi sekarang, Mas?"
Arka menatap mata Lilis lewat jendela mobil yang masih terbuka. "Mas minta, jangan dekat-dekat sama laki-laki itu. Apalagi kalau kamu sendirian di kantor."
Lilis menatap Arka. "Mas Arka cemburu? Padahal baru sekali aku cerita?"
"Bukan cemburu," Arka menggenggam jari Lilis lebih erat.
"Ini antisipasi. Mas punya firasat nggak enak sama orang itu. Dan kamu tahu sendiri, firasat Mas selama ini nggak pernah salah."
"Baik, Mas. Aku akan jaga jarak."
"Janji?"
"Janji, Mas."
Arka menghela napas lega. "Kalau dia cari gara-gara atau ganggu kamu, langsung telepon Mas. Mas bisa ke sana dalam waktu sepuluh menit."
Lilis tersenyum. "Iya, Mas. Sekarang Mas duluan berangkat, nanti keburu telat."
Arka mengangguk, lalu mengangkat tangan Lilis ke bibirnya sekali lagi. "Hati-hati di sekolah, Sayang."
"Mas juga. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Lilis menarik tangannya perlahan dan membalikkan badan menuju gerbang. Arka menunggu sampai istrinya benar-benar masuk ke dalam. Baru setelah itu ia mengganti gigi mobil ke mundur, melaju perlahan meninggalkan area TK.