NovelToon NovelToon
Secret Marriage

Secret Marriage

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ifra Sulistya

Bagi dunia luar, Reihan Arta Wiguna adalah sosok "Ice King" di lantai bursa—dingin, tak tersentuh, dan selalu kalkulatif. Namun, di balik kemewahan hidupnya, ia terikat oleh janji konyol kakeknya puluhan tahun silam. Ia dipaksa menikahi Laluna Wijaya, seorang gadis yang ia anggap hanya sebagai "beban" tambahan dalam hidupnya yang sudah sibuk.
Laluna sendiri tidak punya pilihan. Menikah dengan Reihan adalah satu-satunya cara untuk melindungi apa yang tersisa dari nama baik keluarganya. Mereka sepakat pada satu aturan main: Pernikahan ini harus menjadi rahasia. Tidak ada cinta, tidak ada kemesraan di depan publik, dan tidak ada campur tangan dalam urusan pribadi masing-masing.
Namun, tinggal di bawah satu atap perlahan meruntuhkan tembok yang dibangun Reihan. Laluna bukan sekadar gadis penurut yang ia bayangkan; ia adalah api yang hangat di tengah musim dingin Reihan. Saat satu per satu rahasia keluarga dan pengkhianatan bisnis mulai terkuak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifra Sulistya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30: MADU, KAYU MANIS, DAN GANGGUAN TAK DIUNDANG

Satu minggu setelah lamaran, apartemen studio di atas ruko SCBD telah berubah menjadi sarang kemesraan yang membuat Dimas harus memakai penutup telinga dan kacamata hitam setiap kali naik ke atas.

Pagi itu, cahaya matahari musim kemarau Jakarta membasuh wajah Laluna yang masih terlelap.

Namun, ketenangannya terusik oleh sesuatu yang geli di pipinya.

Ia membuka mata perlahan dan menemukan Reihan sedang berbaring miring di sampingnya, menggunakan sebatang kayu manis kering untuk mengelitik hidung dan pipinya.

"Reihan... ini jam berapa?"

gumam Laluna dengan suara serak khas bangun tidur.

"Jam untuk mencium suamimu," jawab Reihan dengan suara rendah yang menggetarkan bantal.

Ia menjatuhkan kayu manis itu dan menggantinya dengan kecupan lembut di dahi, lalu turun ke hidung, dan berakhir di sudut bibir Laluna.

"Kau wangi mentega," bisik Reihan, tangannya melingkar posesif di pinggang Laluna.

"Dan kau wangi kopi mahal," balas Laluna sambil tertawa kecil, melingkarkan lengannya di leher Reihan.

"Bukankah kau ada rapat jam sembilan pagi ini dengan dewan direksi?"

"Aku sudah mengirim pesan pada Dimas. Aku bilang aku sedang ada 'urgensi operasional di dapur'. Secara teknis, mencium koki utamaku adalah urusan operasional, bukan?"

Reihan mulai mengecup leher Laluna, membuat gadis itu merinding.

Tepat saat suasana mulai memanas dan Reihan hampir berhasil meyakinkan Laluna bahwa rapat bisa ditunda selamanya, suara bel pintu bawah berbunyi. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali dengan irama yang sangat menjengkelkan.

"Siapa yang berani mengganggu di jam seperti ini?" geram Reihan sambil menyambar jubah mandinya.

Laluna ikut turun dengan kaos kebesaran milik Reihan dan celana pendek. Mereka membuka pintu depan ruko dan menemukan seorang wanita muda dengan kacamata hitam besar, pakaian desainer yang mencolok, dan koper-koper mewah yang bertumpuk di trotoar.

"Oh, syukurlah! Reihan, kau lama sekali membuka pintunya!" seru wanita itu tanpa permisi langsung menerobos masuk dan memeluk Reihan dengan akrab.

Laluna membeku. Reihan tampak sangat canggung, mencoba melepaskan pelukan itu sambil melirik Laluna dengan wajah pucat.

"Bianca? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Reihan.

"Ibumu meneleponku di London! Dia bilang kau butuh asisten pribadi yang 'mengerti kelasmu' untuk mengelola ekspansi internasional.

Jadi, aku langsung terbang ke sini!" Bianca menoleh ke arah Laluna, menatapnya dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan pandangan merendahkan.

"Dan... siapa ini? Pelayan tokomu? Seragamnya sangat... santai ya?"

Laluna menaikkan sebelah alisnya. Ia melirik Reihan, lalu kembali ke Bianca.

"Aku istrinya. Dan 'seragam' ini sebenarnya milik Reihan yang kupinjam karena kami baru saja bangun tidur. Ada masalah?"

Bianca tersedak ludahnya sendiri. Reihan segera berdehem kencang.

"Bianca, ini Laluna. Istriku. Dan Laluna, ini Bianca... putri dari rekan bisnis ibuku di London. Dia dulu sering... membuntutiku saat aku kuliah."

Konflik kecil itu berlanjut hingga sore hari. Bianca bersikeras tetap berada di ruko, memberikan komentar menyebalkan pada setiap donat yang dibuat Laluna.

"Reihan, kau tahu kan di London kita biasanya makan scone dengan krim clotted, bukan adonan goreng berminyak seperti ini," keluh Bianca sambil mencoba menyentuh lengan Reihan yang sedang membantu Laluna menata rak.

Laluna yang sedang memegang botol selai cokelat cair hanya tersenyum tipis.

"Oh, Bianca, kau benar. Ini memang berminyak. Mungkin kau harus menjauh sedikit agar gaun mahalnya tidak terkena noda."

Plesyut!

Laluna "tidak sengaja" menekan botol selai terlalu kuat saat Bianca mendekat ke arah Reihan. Setitik selai cokelat mendarat tepat di atas sepatu putih mahal milik Bianca.

"Aww! Sepatuku!" jerit Bianca.

"Ops, maaf. Tanganku sedikit licin karena... minyak," ucap Laluna dengan wajah paling polos yang pernah ia miliki.

Reihan harus menggigit bibir dalamnya kuat-kuat agar tidak tertawa meledak. Ia mendekat ke arah Laluna, berdiri di belakangnya, dan membisikkan sesuatu yang hanya bisa didengar istrinya.

"Kau sangat seksi saat sedang cemburu, Nyonya Arta Wiguna."

Laluna menyikut perut Reihan.

"Diam dan bersihkan selainya sebelum wanita itu pingsan."

Malam harinya, setelah Bianca akhirnya setuju untuk pindah ke hotel (atas ancaman Reihan bahwa ia akan mengirimnya kembali ke London malam itu juga), ruko kembali sunyi.

Reihan sedang duduk di lantai dapur, kepalanya bersandar di kaki Laluna yang duduk di kursi. Laluna sedang mengusap rambut Reihan perlahan.

"Maaf soal Bianca," ucap Reihan pelan.

"Ibu sepertinya masih mencoba melakukan 'serangan terakhir' dari jauh."

"Tidak apa-apa," jawab Laluna.

"Lagipula, melihatnya ketakutan saat aku membawa pisau roti besar tadi cukup menghibur."

Reihan tertawa, lalu menarik tangan Laluna dan mencium telapak tangannya.

"Kau tahu kan, mau berapa banyak Bianca yang datang, hanya ada satu orang yang memegang kunci dapur dan hatiku."

Laluna tersenyum, membungkuk untuk mencium dahi suaminya.

"Aku tahu. Tapi besok, kalau dia datang lagi, aku akan menyuruh Dimas untuk memberinya donat dengan isian wasabi."

"Ide bagus," gumam Reihan.

Ia menarik Laluna turun ke lantai, memeluknya di tengah dapur yang beraroma kayu manis.

"Tapi untuk sekarang, bisakah kita kembali ke 'urgensi operasional' kita yang tertunda tadi pagi?"

Laluna tertawa, membalas pelukan Reihan dengan erat. Di luar, hujan mulai turun membasahi Jakarta, namun di dalam toko, kehangatan itu tetap terjaga, manis seperti madu dan sekuat akar kayu manis.

1
Rini Hasmira
keren thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!