Di balik kemewahan dunia gelap, sebuah pelelangan rahasia mempertemukan para elit dengan satu “barang” paling berharga—seorang gadis tak bersalah yang menjadi pusat perhatian.
Semua menginginkannya, namun hanya satu nama yang mampu menghentikan segalanya dalam sekejap.
Rayga Alessandro Virelli, mafia bengis yang dikenal tanpa hati, membelinya tanpa ragu. Baginya, itu hanyalah transaksi biasa—hingga kehadiran gadis yang bernama Aurellia Valensi mulai mengusik sesuatu dalam dirinya yang telah lama mati.
Di dunia Rayga, kelemahan adalah kehancuran.
Namun saat perasaan mulai tumbuh, ia harus memilih—tetap menjadi monster yang ditakuti semua orang, atau mempertaruhkan segalanya demi satu orang yang seharusnya tak berarti apa-apa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhamad Julianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Couvade Syndrome
"Belikan aku Bakso pedas dan es krim rasa coklat."
Baru saja Rayga bangun tidur, dia langsung menelpon Xander untuk membelikan sesuatu yang sangat ingin dia cicipi.
"Apa, Bos?" tanya Xander yang merasa aneh menerima perintah dari Rayga.
Yang dia tahu selama ini Rayga tidak suka bakso dan makanan pedas, itu membuat Xander merasa salah dengar untuk makanan yang dipesan Rayga.
"Apa kau sudah tuli?!" bentak Rayga geram.
"Belikan aku bakso pedas dan es krim coklat! Masih tidak dengar?" Rayga mengulang menyebutkan makanan yang disuruh belikan oleh Xander dengan meninggikan intonasi suaranya.
Xander mengernyit menyadari kalau ternyata dia memang tidak salah dengar.
"Kau ngidam, Bos?" tanya Xander menerka.
"Diam, kau! Mana ada pria ngidam,"bentaknya membuat Xander beneran diam dan tidak mau cari gara-gara dengan Rayga pagi ini.
Lagian, Xander tadi juga asal bicara saja menanyakan Rayga ngidam, dia juga tidak tahu apa pria bisa ngidam juga atau tidak.
"Baik, saya akan segera ke sana membawakan makanannya," jawab Xander, tetapi masih penasaran kenapa Rayga tiba-tiba menyuruhnya membeli makanan yang sangat dihindari Rayga selama ini.
Setelah panggilan telepon berakhir, Xander memegang ponselnya dengan pertanyaan dan rasa penasaran yang terus muncul.
"Apa dia mau membelikan untuk Aurellia? Atau memang Aurellia yang meminta padanya? Ah, gak mungkin. Aku rasa Aurellia tidak seberani itu meminta padanya," Xander berbicara sendiri.
Xander memasukkan ponselnya ke dalam saku celana dan mengambil kunci mobil di laci pada tempat biasa dia menyimpan kunci.
Bukannya langsung membeli makanan yang dipesan bosnya, Xander malah melajukan mobilnya menuju rumah Rayga yang kini ditempati oleh Aurellia.
Dengan langkah terburu Xander masuk ke dalam rumah.
Mengedarkan pandangannya disekitar ruangan yang dilewatinya, berharap bertemu dengan Aurellia.
Namun, di ruang tamu tidak ada tanda-tanda Aurellia berada di sana, hanya ada Rosa yang sedang beberes.
"Aurellia mana?" tanya Xander pada Rosa, sehingga pelayan itu menoleh padanya.
"Di taman belakang bersama Bi Nery," kata Rosa tak suka mendengar nama Aurellia.
Dia juga enggan menyebut nama wanita itu.
"Owh, makasih." Aurellia langsung berjalan cepat keluar dari rumah dan berlari kecil menuju halaman belakang.
Di taman terlihat Aurellia duduk di tepi kolam ditemani Bi Nery.
Wanita hamil itu terlihat makin fresh dan tubuhnya mulai berisi, tetapi perutnya belum memperlihatkan perubahan apa-apa.
Xander menghampiri mereka dan langsung menyapa ramah.
"Bi," sapa Xander.
Dia sengaja menyapa Bi Nery terlebih dahulu, karena dia masih tahu batasan kalau wanita yang akan dia temui adalah istri sahabat sekaligus bosnya.
Xander tidak mau Aurellia tidak nyaman bertemu dengannya, makanya Xander memilih menyapa Bi Nery terlebih dahulu, agar Aurellia mengetahui
kehadirannya.
"Ada apa, Den?" tanya Bi Nery menoleh pada Xander.
"Boleh saya bicara dengan Non Aurellia?" tanya Xander dengan nada sopan.
Baru saja Bi Nery membuka mulut hendak menjawab, Xander langsung kembali berbicara, sehingga ucapan Bi Nery yang belum keluar menggantung begitu saja.
"Bibi juga boleh di sini mendengarnya. Ini bukan suatu hal yang rahasia juga," kekeh Xander, sedangkan Bi Nery kembali mengatupkan mulutnya sejenak.
"Silahkan, Den," jawab Bi Nery menoleh pada Aurellia.
Aurellia yang mendengar Xander ingin berbicara dengannya, dia berdiri mensejajarkan posisinya dengan Bi Nery.
"Ada apa, Tuan?" tanya Aurellia dengan suara lembutnya yang merdu terdengar di telinga.
"Maaf sebelumnya. Apa Non Aurellia ada meminta bakso pedas dan es krim rasa coklat pada Tuan Rayga?" tanya Xander langsung to the point pada tujuannya menemui Aurellia.
"Enggak," jawab Aurellia menggeleng.
"Owh, iya. Berarti memang makanan itu untuk Bos Rayga. Aku kira itu untuk Non Aurellia," kata Xander kembali direspon dengan gelengan oleh Aurellia.
"Aku tidak memesan makanan apa-apa padanya. Satu minggu lebih aku juga tidak ada komunikasi apapun dengannya, dia juga tidak ada pulang," jelas Aurellia.
Xander menggaruk kepalanya, bingung kenapa Rayga meminta makanan itu padanya.
Xander yang penasaran dan tiba-tiba saja dia berpikiran untuk searching di google, apakah tebakannya benar tentang Rayga yang mengalami masa ngidam.
Apalagi akhir-akhir ini Rayga memang seperti orang hamil yang sering mual dan pusing, dia juga sering memuntahkan makanan yang masuk ke dalam perutnya.
Bahkan sekarang Rayga terlihat pucat dengan badan sedikit kurus dari biasanya.
"Mungkin memang makanan itu untuknya atau untuk wanitanya, Tuan," kata Aurellia, ada rasa sakit di hati Aurellia mengatakan itu, tetapi dia berusaha terlihat biasa saja saat mengatakan makanan itu mungkin untuk wanita Rayga.
"Bos Rayga tidak suka bakso, dia juga tidak menyukai es krim apalagi yang berbau coklat," jawab Xander membuat denyutan di hati Aurellia.
"Berarti untuk kekasihnya," jawab Aurellia.
Xander tidak menanggapi ucapan Aurellia secara langsung, dia hanya menoleh sekilas pada Aurellia, lalu kembali fokus pada layar ponselnya.
"Andai kamu tahu, kamu wanita beruntung yang bisa dekat dengannya. Dia sudah mati rasa pada wanita karena ulah ibunya sendiri. Rayga membenci wanita, tetapi kamu dibiarkan hidup bersamanya. Seberuntung itu hidupmu, Rel. Semoga kamu bisa merubah mindset sahabatku jadi lebih baik. Aku harap kamu secepatnya bisa menguasai hati dia, biar semuanya berubah jadi lebih baik," harap Xander dalam hatinya.
Xander lanjut menulis 'apakah seorang pria bisa ngidam?' pada bagian pencarian di google, hanya hitungan detik banyak artikel muncul tentang kata kunci yang dia searching.
Xander membuka salah satu artikel, matanya melotot saat membaca isi artikel tersebut.
Tak puas dengan satu penjelasan artikel saja, Xander sampai membuka puluhan Artikel untuk meyakinkan ternyata apa yang dia katakan pada Rayga itu bisa saja terjadi pada pria.
"Owh... berarti benar ada yang seperti itu ternyata," gumamnya kembali menutup artikel terakhir yang dibacanya.
"Namanya couvade syndrome," kekeh Xander, dia memasukkan ponselnya ke dalam saku celana dengan senyum sumringah, seolah itu kabar baik yang dia terima.
"Bi, aku mau bicara berdua saja. Di sana, ya." Tunjuk Xander ke arah kayu besar yang ada kursi taman di bawahnya.
"Boleh," jawab Bi Nery.
Bi Nery juga penasaran tentang couvade syndrome yang disebutkan Xander tadi, setahu Bi Nery itu terjadi pada pria saat istrinya hamil.
Rupanya Bi Nery sama seperti Xander, mereka menginginkan itu terjadi pada Rayga, agar dia tahu gimana sakitnya
perempuan saat hamil.
Aurellia kembali bermain di kolam ikan, selama hamil dia sangat senang menghabiskan waktunya di tempat itu.
Melihat ikan berenang cepat saat dia mau menangkapnya membuat Aurellia tertawa sendiri, ada kepuasan dan kesenangan yang dia dapat dari sana.
"Apa Tuan Rayga mengalami hamil simpatik, Den?" tanya Bi Nery saat mereka sudah sampai di kursi taman dan duduk di sana.
"Sepertinya, Bi. Aku juga baru tahu istilah itu setelah membaca beberapa artikel tadi," jawab Xander.
"'Apa Den Xander melihat tanda-tandanya terjadi pada Tuan Rayga?" tanya Bi Nery.
"Iya, Bi. Dia mengalaminya. Sekarang kondisi Rayga semakin memburuk, tetapi tidak mau dibawa ke rumah sakit. Apa yang dia makan selalu kembali dimuntahkan setelah beberapa detik masuk ke dalam perutnya, dia juga sering mengeluh kan pusing dan sakit kepala. Kadang dia menangis tak jelas," ungkap Xander.
Bi Nery mendengar Xander berbicara dengan seksama.
Sebenarnya dia kasihan mendengar kabar Rayga mengalami kondisi buruk, apalagi Rayga sudah sepuluh hari tak pulang ke rumah menemui istrinya, tetapi Bi Nery lebih bersyukur Rayga mengalami hal tersebut.
Biar dia tahu perjuangan perempuan sedang hamil seperti apa.
"Bujuk lah dia pulang, mana tahu dekat dengan istrinya bisa menghilangkan syndrom itu," saran Bi Nery.
"Sudah ku suruh pulang ke sini, tetapi dia tidak mau. Traumanya di masa lalu membuat egonya terlalu tinggi, Bi. Aku berharap Aurellia bisa menyembuhkan lukanya." Xander menghela
nafasnya berat.
Bi Nery dan Rayga saling diam beberapa saat.
Mereka bergulat dengan pikiran masing-masing, yang jelas pikiran mereka sama-sama tertuju pada Rayga.
"Kemarin aku sempat dengar kalau dia merindukan istrinya, Bi. Karena egonya yang terlalu tinggi itu, dia tidak mau menghubungi Aurellia dan mengakui perasaannya. Dia lebih memilih menanti Aurellia menghubunginya," kata Xander setelah dia mendapat sesuatu ide setelah termenung beberapa menit.
"Kalau begitu, nanti Bibi suruh Non Aurellia menghubungi Tuan Rayga" kata Bi Nery mengusulkan idenya.
"Eum.." Xander berpikir sejenak, karena dia juga punya ide yang lain.
"Bagaimana kalau Aurellia aku bawa ke apartemen Rayga, Bi?" tanya Xander meminta pendapat Bi Nery, tetapi Bi Nery terlihat ragu pada ide yang diusulkan Xander.