Demi menjalankan sebuah misi penting, Dinda rela melakukan apa saja untuk mendekati tetangga barunya yang super cuek dan dingin.
Tapi setelah dia mendapatkan yang ia inginkan dan berhenti mengejar lelaki itu, lelaki itulah yang berbalik mendekatinya.
Dan ternyata ada rahasia besar di antara keduanya.
jangan lupa like dan komen 💛
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tinta Kuning, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Mas dokter membaringkan Aku di atas ranjang kamar rahasia yang berada di ruangannya, pelan dan begitu hati-hati.
Aku hanya memperhatikan lelaki itu yang terlihat kebingungan, mungkin bingung harus yang mana dulu yang akan dia kerjakan. Sebab lukaku bertambah lagi. Selain luka yang kemarin kembali menganga, kini Aku mendapat luka baru lagi, yaitu di bawah dagu akibat jarum pentul dan leherku yang rasanya panas juga sakit, Aku yakin pasti meninggalkan bekas lebam di sana. Untuk menarik napas Aku juga sedikit kesulitan.
Dia masuk lagi ke dalam kamar membawa berbagai macam alat kesehatan. Lelaki itu terlihat ragu untuk menyingkirkan jilbabku yang menempel di pipi. Untuk itu Aku berinisiatif untuk membuka jarum pentul di bawah daguku agar mas dokter leluasa mengobatiku, namun dia langsung memalingkan wajahnya.
Dia ingin pergi, tapi dengan kekuatan yang masih tersisa Aku menahan tangannya, Aku mengangguk singkat dan awh! Aku meringis.
Leherku sakit meski digerakkan sedikit saja.
“Sakit?” tanyanya khawatir.
Aku tidak bisa memberikan jawaban ataupun respon. Untuk mengeluarkan suara juga Aku tak bisa, tenggorokanku rasanya seperti ada luka di dalam sana. Jadi Aku memberikan jempolku saja untuk jawaban iya.
“Dokter izin buka jilbabnya ya?” katanya lembut.
Lagi-lagi Aku memberikan satu jempol.
Aku lihat dia menelan ludah berkali-kali terlihat dari jakunnya yang naik turun.
Rahangnya kembali mengeras ketika melihat leherku, namun itu tidak lama karena dia segera mengobati luka-lukaku.
Aku hanya memejamkan mata selama dia mengobatiku. Di mulai dari pipi, sakit bekas cubitan mamanya Bagas lebih sakit dari pada hanya kena pecahan kaca, bahkan kuku panjangnya menusuk kulit pipiku. Selama menunggu salep di pipiku mengering, dia meniup seraya mengusap pelan kepalaku. Aku tahu pasti dia tidak sadar melakukannya, karena jarak kami saat ini sangatlah dekat.
Lalu dia membersihkan darah baret di daguku dengan kapas basah, dan kemudian memberikan salep antibiotik. Tidak terlalu banyak yang diobati mungkin karena hanya luka kecil.
Terakhir dia pasti mengobati leherku, tapi kenapa lama sekali? Aku membuka sedikit mata. Aku menaikkan sebelah alis, sebab dia hanya menatap leherku. Tapi, dia terlihat seperti menahan emosi. Lalu lelaki itu keluar.
Aku membuka mata, memijat keningku karena kepalaku semakin sakit, penglihatanku juga sedikit kabur.
Mas dokter datang lagi membawa kompres ditangannya. “Pusing?” tanyanya.
Aku memberikan jempol.
“Kita kompres dulu memarnya ya? Ini sudah diberi obat untuk mengurangi rasa sakit.” ucapnya lembut.
Aku menggigit bibir bagian bawahku karena menahan sakit.
Mas dokter tidak berhenti mengucapkan kata maaf ketika Aku meringis kesakitan. “Sabar ya, sebentar lagi Jonie datang membawa pakaian gantimu. Setelah ini kita akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut,”
“Wanita itu akan mendekam di penjara bersama anaknya.” sambungnya membuat mataku melebar.
“Tidak usah melotot, jangan nambah penyakit.” katanya.
Aku mencebik, lalu meringis.
Pintu di ketuk dari luar terdengar disusul suara kak Jonie, dan mas dokter pun segera keluar. Tak lama kemudian dia datang lagi dengan membawa plastik berisi baju pasien dan sebuah totebag.
Ah, Aku kira kak Jonie membawakan baju tidur yang kekinian, ternyata Aku salah. Untuk totebag ternyata berisi jilbab instan dan kaos kaki.
“Apa bisa ganti baju sendiri?” dia bertanya.
Aku berusaha bangkit, tapi ternyata susah. Separah itukah efek cekikan?
Mas dokter membantuku untuk duduk. Untuk berganti pakaian Aku usahakan bisa sendiri. Tentu saja Aku malu, suamiku saja belum melihatnya.
“Sudah?” tanyanya yang masih berdiri membelakangiku.
Aku ingin turun dari ranjang, tapi...
Bruk!
Aku terduduk di lantai yang dingin. Kakiku juga tidak bisa menopang tubuhku. Mas dokter langsung berbalik saat mendengar Aku terjatuh, dia kembali mengangkatku ke atas ranjang.
Lelaki itu merapikan pakaianku, dan memakaikan jilbab instan juga kaos kaki baru.
“Kita akan melakukan CT-scan dan lanjut pemeriksaan di poli THT, kamu yang kuat ya.” ucapnya dan mencium dahiku sekilas sebelum menggendongku.
Tidak usah ditanya bagaimana reaksiku. Tentu Aku mematung seperti batu. Kalau kondisiku semakin parah, itu berarti karena Kim Taehyung kw yang sudah menciumku sembarangan.
\*
Serangkaian pemeriksaan sudah di jalani, kini Aku sudah berada di kamar rawat inap. Sedangkan mas dokter tidak tahu lagi dia ke mana.
Ceklek!
“Ya Allah, Dinda.” ibu langsung berlari mendekati dan memelukku.
Awh!
“Bu, pelan-pelan.” Ayah mengingatkan.
“Maaf, Nak. Ibu lupa.” ucap ibu, kanjeng ratuku itu tidak berhenti menangis. Sedangkan Ayah hanya mengusap kepalaku dan sesekali menciumnya. Aku tahu Ayah juga menangis, bisa di lihat dari matanya yang merah.
“Ya Allah Dinda, padahal minggu depan acara resepsi pernikahanmu, sekaligus akad nikah ulang.”
Deg!
Alhamdulilah. Sebab Aku belum siap bertemu suami antah berantahku itu.
“Tega sekali demit itu memperlakukanmu, Nak. Ibu saja meskipun sering memarahimu, ibu nggak pernah main tangan. Apalagi membuat kamu cedera parah seperti ini.” lanjut ibu, beliau menangis lagi.
“Sudah, Bu.” tegur Ayah. “Sekarang kita fokus saja kesembuhan Dinda, urusan bu Ajeng biar Aydan yang menyelesaikannya.”
Apa?
Aku menatap Ayah menuntut penjelasan, tapi Ayah tidak paham.
Ah, Ayah mah.
“Tapi Ibu nggak terima Yah kalau dia langsung di penjara, ibu mau membalas dulu dengan mencekik demit itu sampai keadaannya minimal sama seperti Dinda.” kata Ibu menggebu.
“Kalau ibu mau melakukan hal yang sama, itu berarti Ibu akan satu sel dengannya.”
Ibu memukul kuat lengan Ayah.
“Awh! Sakit Ayang!”
Wow fakta baru macam apa ini? Dua puluh lima tahun umurku, baru kali ini Aku mendengar Ayah menyebut ibu, Ayang. Ternyata selama ini Ayah diam-diam romantis juga! Sayangnya Aku tidak bisa menggodanya saat ini.
“Makanya jangan asal bicara, Ayah! Ibu ‘kan cuma mau membalas, lagian balasnya juga jangan di depan kamera CCTV biar ibu nggak di penjara biar nggak ada bukti.” seloroh ibu.
“Hukum yang didapat bu Ajeng sudah cukup, Bu. Kita nggak perlu mengotori tangan kita. Video CCTV dia menyerang Dinda sudah viral, itu sudah cukup mempermalukan mereka.”
Apa?
Secepat itukah?
“Ayah, Ibu?” mas dokter datang. Dia langsung mencium tangan kedua orang tuaku. “Sudah lama?”
“Belum terlalu lama.” jawab Ayah. “Jadi bagaimana, Dan?”
“Bicara di luar aja, Yah.” Kim Taehyung kw pun keluar bersama Ayah.
Mau ngomongin apa sih? Kenapa nggak di sini aja? Aku juga mau tau.
“Dinda, kamu tau. Untung mas Aydan gercep. Jadi seharian ini selain mengurus kamu, dia juga mengurus bukti untuk menuntut demit itu loh!”
Mataku membola. Lalu Aku menatap ibu dengan seksama, itu berarti pembicaraan semakin seru. Tentu ibu langsung melanjutkan.
“Jadi nih ya, baju dan jilbab yang kamu pakai tadi jadi barang bukti,”
Aku memberi reaksi seolah berkata, Oh ya?
“Iya! Terus hasil visum memperkuat agar hukuman demit itu semakin berat.”
Aku menutup mulut dengan kedua tangan.
“Makanya kamu harus berterima kasih banyak-banyak dengan mas Aydan, Din.” lanjut ibu.
Aku memberikan jempol.
“Kenapa jempol?” tanya ibu. Lantas dia memberikan jari kelingkingnya, “Ibu menang.”
Ah, ibu!
\*\*\*
kim dinda minggu depan akan ada resepsi ngak ada bantahan kah, jadi sudah sangat legowo
double up dong😍