Sekolah SMA Pelita Bangsa terancam tidak bisa mengadakan Pensi tahunan karena masalah dana. Kepala Sekolah memberikan syarat: Pensi boleh jalan kalau rata-rata nilai ujian satu angkatan naik. Julian (Ketua OSIS) terpaksa menjadi tutor privat bagi siswa dengan nilai terendah di angkatan, yang ternyata adalah Alea. Di antara rumus fisika dan lirik lagu rock, mereka menemukan bahwa mereka memiliki luka yang sama tentang ekspektasi orang tua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Persiapan Pensi (Operasi Kuda Troya)
Sabtu pagi. Hari H Pensi "STARLIGHT 2025".
SMA Pelita Bangsa telah berubah wajah. Lapangan basket utama kini tertutup panggung raksasa dengan tata lampu megah yang biaya sewanya setara harga mobil baru. Stand-stand bazar makanan berjajar rapi. Umbul-umbul sponsor berkibar di mana-mana.
Rian berdiri di tengah lapangan, memakai kacamata hitam, berkacak pinggang memandangi kerajaannya.
"Gila, keren banget kan?" tanya Rian pada Doni. "Ini baru Pensi. Bukan kayak konsep Julian yang hemat-hemat kayak orang susah."
"Mantap, Bos. Tiket presale ludes. Tamu undangan VIP udah pada dateng. Bokapnya Julian juga diundang kan?" tanya Doni.
"Diundang. Di kursi paling depan," Rian menyeringai. "Gue mau dia liat betapa suksesnya acara ini di tangan gue, sementara anaknya cuma jadi penonton buangan."
Di balik kemegahan itu, Rian tidak sadar bahwa di gerbang belakang sekolah—jalur loading barang—sebuah truk boks besar baru saja masuk.
Truk itu milik vendor sound system "Glegar Audio" (milik Bang Jago).
Di pos satpam belakang, Pak Ujang memeriksa surat jalan.
"Barang tambahan ya, Bang?" tanya Pak Ujang.
Bang Jago, yang menyetir truk, mengangguk santai sambil merokok. "Iya, Pak. Subwoofer tambahan buat bass-nya biar nendang. Perintah panitia."
"Oke, silakan masuk."
Truk itu melaju masuk ke area loading dock di belakang panggung. Begitu truk berhenti dan pintu belakang ditutup rapat, Bang Jago turun dan mengetuk boks truk tiga kali.
Dug. Dug. Dug.
"Aman. Keluar lo pada," bisik Bang Jago.
Pintu boks truk dibuka dari dalam.
Empat sosok berpakaian serba hitam, memakai topi dan masker hitam, melompat turun satu per satu. Mereka bukan kru sound system.
Mereka adalah Alea, Raka, Dito, dan Beni.
"Gila, engap banget di dalem," keluh Raka, mengibaskan kaos hitam polosnya yang basah keringat. "Gue berasa jadi imigran gelap."
"Ssst! Jangan berisik!" desis Alea. Dia menarik topinya lebih rendah. "Inget, kita di sini statusnya kru Bang Jago. Kalau ada yang nanya, bilang aja kita bagian angkut kabel. Jangan buka masker."
Mereka menurunkan alat-alat musik mereka yang disamarkan dalam hardcase polos tanpa stiker band. Gitar merah Alea, bass Dito, dan snare drum Raka diselundupkan di antara tumpukan kabel dan mic stand.
"Bawa alatnya ke gudang backstage pojok kiri. Itu blind spot yang nggak dijaga panitia, sesuai info Sarah," instruksi Alea.
Mereka bergerak cepat, membaur dengan kru asli yang sedang sibuk wara-wiri. Jantung Alea berdegup kencang setiap kali berpapasan dengan panitia berseragam OSIS. Dia takut dikenali dari postur tubuh atau matanya.
Saat mereka melewati lorong menuju backstage, tiba-tiba suara Rian terdengar membahana.
"WOI! ITU SIAPA?!"
Langkah Alea terhenti. Darahnya membeku.
Rian berjalan mendekat dengan langkah lebar, menunjuk ke arah mereka berempat yang sedang menggotong hardcase besar.
"Kalian kru baru? Kok gue nggak pernah liat pas technical meeting?" tanya Rian curiga. Matanya meneliti mereka dari atas ke bawah.
Alea menunduk, berusaha menyembunyikan mata cokelatnya. Raka di sebelahnya mulai gemetar memegang ujung peti.
"Jawab! Bisu lo semua?" bentak Rian.
Bang Jago tiba-tiba muncul, merangkul Rian akrab (dan sedikit memaksa).
"Eits, santai Bos Ketua! Ini anak-anak magang gue. Baru gue rekrut kemaren buat bantu angkut-angkut doang. Tenaga kuli, Bos. Maklum, barangnya berat."
Rian menepis tangan Bang Jago, tapi perhatiannya teralihkan. Dia menatap Alea yang memakai masker hitam.
"Badannya kecil amat buat kuli," komentar Rian meremehkan.
Alea mengeraskan suaranya, membuatnya terdengar berat dan serak. "Kecil-kecil cabe rawit, Bos."
Rian mendengus. "Yaudah sana kerja yang bener. Awas kalau ada kabel yang lecet. Gue potong bayaran lo."
Rian berbalik pergi, kembali sibuk meneriaki seksi konsumsi.
"Huh..." Raka menghembuskan napas panjang sampai kakinya lemas. "Hampir aja gue ngompol."
"Fokus, guys. Fokus," bisik Alea, meski tangannya sendiri dingin. "Ayo masuk gudang."
Sementara itu, di gerbang depan VIP.
Sebuah mobil sedan hitam berhenti. Pak Wahyu turun, membukakan pintu belakang.
Julian keluar.
Dia tidak memakai seragam sekolah, melainkan kemeja batik lengan panjang yang rapi dan formal. Rambutnya disisir klimis. Wajahnya datar, tanpa emosi.
"Ingat pesan Bapak, Den," kata Pak Wahyu sopan tapi tegas. "Bapak Dokter minta saya mengawasi Aden terus. Jangan ke mana-mana. Duduk di kursi VIP nomor 12. Jam 12 siang tepat, kita langsung ke bandara. Pesawat jam 2."
Julian mengangguk pelan. "Iya, Pak."
Julian berjalan masuk melewati pemeriksaan tiket. Dia melihat kemeriahan Pensi. Melihat panggung megah itu. Melihat teman-teman sekelasnya tertawa-tawa.
Dia merasa seperti hantu yang menghadiri pemakamannya sendiri.
Julian duduk di kursi VIP barisan depan. Di sebelah kanannya adalah kursi kosong untuk ayahnya (yang katanya akan datang sebentar lagi). Di sebelah kirinya, guru-guru duduk.
Dia menatap panggung kosong.
Apa lo ada di sana, Le? batin Julian bertanya-tanya. Apa rencana lo berjalan lancar?
Dia memeriksa HP-nya (yang dikembalikan sementara selama acara ini). Tidak ada pesan dari Alea. Grup The Rebels sepi.
Julian merasa putus asa. Mungkin Alea benar-benar menyerah. Mungkin Alea sadar kalau melawan Rian itu sia-sia. Dan mungkin, ini memang akhir ceritanya: Julian pergi ke Magelang, dan Alea kembali menjadi penonton biasa.
Pukul 10.00. Acara dimulai.
MC membuka acara dengan heboh. Penampilan pembuka dari ekskul Tari Tradisional mendapat tepuk tangan meriah. Disusul band kelas 10 yang suaranya masih fals di sana-sini.
Di gudang backstage yang sempit dan gelap.
Alea, Raka, Dito, dan Beni duduk di atas peti sound system. Mereka sudah berganti baju.
Bukan baju kru hitam lagi. Mereka memakai "seragam perang" mereka.
Alea memakai kaos vintage The Ramones, jaket kulit hitam, rok tartan merah, dan stoking jaring sobek-sobek. Riasannya tebal dan garang.
Raka, Dito, dan Beni juga tampil all out dengan gaya punk rock.
"Sarah mana?" tanya Dito gelisah. "Udah jam 10 lewat."
Ceklek.
Pintu gudang terbuka sedikit. Sarah menyelinap masuk. Wajahnya pucat, keringat membasahi keningnya.
"Gawat," bisik Sarah.
"Kenapa? Flashdisk-nya ilang?" tanya Alea panik.
"Bukan. Flashdisk aman," Sarah menunjukkan benda kecil itu. "Tapi Rian nambahin penjagaan. Pintu akses dari backstage ke panggung dijaga sama Doni dan dua temen gengnya. Mereka meriksa ID Card setiap orang yang mau naik panggung."
"Sial," umpat Raka. "Kita nggak punya ID Card penampil."
"Kalau kita maksa nerobos, pasti ribut. Doni bakal manggil satpam sebelum kita sempet nyolok kabel gitar," analisis Beni.
Alea menggigit bibirnya. Rencana mereka buntu di pintu masuk. Mereka butuh pengalihan isu. Sesuatu yang bikin Doni dan kanca-kancanya meninggalkan pos mereka.
"Gue ada ide," kata Sarah tiba-tiba. Gadis pendiam itu membetulkan letak kacamatanya. "Tapi ini agak jahat."
"Sejahat apa?"
"Gue bisa nyalain alarm kebakaran palsu di area dressing room artis. Itu deket posisinya Doni. Kalau alarm bunyi, SOP keamanannya adalah mereka harus evakuasi artis tamu."
Alea menatap Sarah takjub. "Sarah... lo belajar nakal dari siapa?"
"Dari kalian," Sarah tersenyum tipis. "Gimana?"
"Lakuin," perintah Alea. "Pas alarm bunyi dan Doni panik, kita lari ke panggung. Kita cuma punya waktu mungkin 30 detik buat setup alat sebelum mereka sadar itu alarm palsu."
"Oke. Gue ke ruang kontrol sekarang. Tunggu aba-aba gue di grup chat," kata Sarah, lalu menyelinap keluar lagi.
Alea berbalik menghadap teman-temannya.
"Guys, ini dia," kata Alea. Dia mengambil gitar merahnya. "Mungkin ini terakhir kalinya kita manggung. Mungkin abis ini kita dikeluarin dari sekolah. Tapi seenggaknya, kita bakal bikin sejarah."
"Demi Julian," kata Raka, mengulurkan tangannya ke tengah.
"Demi keadilan," sahut Dito.
"Demi gorengan gratis," tambah Beni (mencoba melucu meski tangannya gemetar).
"Demi The Rebels!" tutup Alea.
Mereka menumpuk tangan.
Di layar HP Alea, notifikasi dari Sarah masuk:
Sarah: Alarm nyala dalam 3... 2... 1...
Di kejauhan, sirine meraung nyaring.
WIIUUU... WIIUUU...
"KEBAKARAN! KEBAKARAN DI RUANG GANTI!" teriak seseorang (mungkin Bang Jago yang ikut akting).
Kekacauan terjadi di backstage. Doni dan teman-temannya panik, berlari meninggalkan pintu panggung menuju sumber suara.
"SEKARANG!" teriak Alea.
Mereka berempat berlari keluar dari gudang, membawa alat musik, menerobos lorong yang kosong, dan melompat naik ke tangga panggung yang gelap.
Di panggung, MC sedang bersiap memanggil penampil berikutnya (Band Jazz Kelas 12).
Tiba-tiba, Alea dan kawan-kawan menyerbu masuk. Raka langsung melompat ke set drum yang sudah ada. Dito mencolokkan bass-nya ke ampli. Beni menyalakan keyboard-nya. Alea menyambar mic dari tangan MC yang kaget setengah mati.
"Minggir, Mas," kata Alea dingin pada MC.
MC itu mundur ketakutan melihat aura gelap Alea.
Alea berdiri di tengah panggung yang megah. Cahaya lampu sorot menyilaukan matanya. Di depannya, ribuan penonton terdiam, bingung melihat band "ilegal" tiba-tiba muncul.
Alea memandang ke barisan depan VIP.
Matanya langsung menemukan Julian.
Julian duduk terpaku di kursinya, mulutnya sedikit terbuka, menatap Alea tak percaya.
Alea mendekatkan mic ke bibirnya.
"Selamat siang, SMA Pelita Bangsa," sapa Alea. Suaranya bergema ke seluruh penjuru sekolah. "Maaf mengganggu jadwal acara kalian yang mahal ini. Tapi ada satu kebenaran yang harus didenger."
Di pinggir panggung, Rian berlari mendekat dengan wajah merah padam. "MATIIN SOUNDNYA! TURUNIN MEREKA! DONI! MANA DONI?!"
Terlambat. Sarah di ruang kontrol sudah mengunci akses sound engineer. Mic Alea tetap menyala.
Alea menatap Julian. Tatapannya berkata: Ini buat lo, Jul.
"Kami The Rebels. Dan lagu ini... untuk seseorang yang dipaksa diam."
Alea mengangkat tangannya tinggi-tinggi, memberi kode pada Raka.
ONE. TWO. THREE. FOUR!
Musik menghentak. Bukan lagu sedih. Tapi lagu rock dengan tempo super cepat.
Tapi ada satu yang kurang.
Suara gitar lead. Melodi utama yang seharusnya mengisi kekosongan lagu itu.
Alea memetik gitarnya, mengisi bagian rhythm. Tapi rasanya kosong. Hampa.
Julian di kursi penonton merasakannya. Dia tahu bagian itu. Itu bagian dia. Itu bagian Phantom.
Tanpa sadar, Julian berdiri. Tangannya mengepal.
Di atas panggung, Alea berteriak dalam nyanyiannya, tapi matanya terus menatap Julian. Memanggilnya. Menantangnya.
Ayo, Julian. Sini. Tempat lo di sini.
Dan di detik itu, logika Julian patah. Ketakutan akan ayahnya hilang. Janji pada Pak Burhan terlupakan.
Yang ada hanya panggilan distorsi itu.
Julian melompati pagar pembatas VIP.
...****************...
Bersambung.....
Terima kasih telah membaca💞
Jangan lupa bantu like komen dan share❣️