NovelToon NovelToon
Luka Di Balik Janji Semu

Luka Di Balik Janji Semu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Persahabatan / Cinta Murni / Romansa / Cinta Karena Taruhan / Idola sekolah
Popularitas:10.4k
Nilai: 5
Nama Author: Jing_Jing22

Sheila Adalah Gadis Cantik Dengan Kepribadian Bar-Bar Dan Ceria Yang Menjalani Kehidupan Remajanya Dengan Penuh Warna. Namun, Warna Itu Memudar Sejak Ia Mengenal Devano, Seorang Laki-Laki Tampan Bertangan Dingin Yang Memiliki Kendali Penuh Atas Hati Sheila. Selama Dua Tahun Menjalin Hubungan, Sheila Selalu Menjadi Pihak Yang Mengalah Dan Menuruti Segala Keinginan Liar Devano, Meskipun Cara Berpacaran Mereka Sudah Jauh Melampaui Batas Kewajaran Remaja Pada Umumnya.​Selama Itu Pula, Sheila Mati-Matian Menjaga Satu Benteng Terakhir Dalam Dirinya, Yaitu Kehormatan Dan Keperawanannya. Namun, Devano Yang Manipulatif Mulai Menggunakan Senjata Janji Suci Dan Masa Depan Untuk Meruntuhkan Pertahanan Tersebut. Devano Memberikan Pilihan Sulit Menyerahkan Segalanya Sebagai Bukti Cinta Atau Kehilangan Dirinya Selamanya.​

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Devano mencengkeram leher Bayu dengan satu tangan, menekannya ke dinding hingga kaki Bayu sedikit terangkat dari lantai. Mata Devano berkilat merah, memancarkan kebencian murni yang belum pernah dilihat oleh siapa pun sebelumnya.

​"Lo tau apa yang paling bikin gue muak, Bay?" bisik Devano tepat di telinga Bayu yang mulai merintih kesakitan. "Lo gunain perasaan tulus Sheila cuma buat muasin ego lo yang sampah itu! Lo bikin gue jadi monster di mata perempuan yang paling gue cintai!"

Indra hanya bisa berdiri mematung di pojokan, tubuhnya gemetar melihat betapa brutalnya Devano saat ini. Ia sadar, Devano yang sekarang bukan lagi sahabat yang bisa diajak bercanda; ia adalah seorang pria yang kehilangan segalanya dan tidak punya beban untuk menghancurkan orang lain.

​"Dev... udah, Dev... dia bisa mati," ucap Indra dengan suara bergetar.

​"Mati?" Devano tertawa sinis, suara tawanya terdengar kering dan mengerikan. "Mati itu terlalu mudah buat dia, Dra. Dia harus ngerasain gimana rasanya hidup tapi jiwanya mati, sama kayak yang dialamin Sheila selama setahun ini!"

BUGH! BUGH! BUGH!

​"Dan ini untuk rasa sakit yang sudah lo buat untuk Sheila atas kebodohan lo yang sudah lo rencanakan!" Darah mulai mengalir dari sudut bibir dan hidung Bayu. Indra berusaha melerai, namun satu tatapan tajam dari Devano membuat nyalinya menciut. "Jangan ikut campur, Dra! Kalau lo nggak mau nasib lo berakhir sama!" gertak Devano.

Devano melepaskan Bayu yang sudah tidak berdaya di lantai klub yang basah oleh alkohol. Ia berdiri tegak, merapikan jaketnya yang sedikit berantakan, lalu menatap kedua orang yang pernah ia sebut sahabat itu dengan tatapan jijik.

​"Gue nggak akan lapor polisi," ucap Devano dingin. "Karena penjara terlalu nyaman buat sampah kayak lo. Mulai besok, gue pastikan keluarga lo kehilangan semua asetnya, dan nama lo akan di-blacklist dari seluruh jaringan bisnis di negara ini. Lo akan hidup, Bay... tapi lo akan berharap bahwa lo lebih baik mati."

Devano menghempaskan tubuh Bayu yang sudah babak belur ke lantai dengan kasar. Ia mengeluarkan selembar sapu tangan dari sakunya, menyeka noda darah di buku jarinya dengan tenang, seolah baru saja menyelesaikan tugas kecil yang kotor.

​"Dengerin gue baik-baik, Bayu. Dan lo juga, Indra," ucap Devano sambil menatap mereka bergantian. "Mulai detik ini, persahabatan kita mati."

Tanpa menoleh lagi, Devano melangkah keluar dari klub. Udara malam yang dingin menyambutnya, namun hatinya masih terasa panas. Tangannya masih gemetar—bukan karena takut, tapi karena sisa amarah yang menggelegak.

​Ia masuk ke dalam mobilnya dan terdiam sejenak di depan kemudi. Ia tahu, memukuli Bayu tidak akan mengubah fakta bahwa Sheila membencinya. Ia harus melakukan sesuatu yang lebih besar. Ia harus membuktikan pada Sheila bahwa ia siap melawan dunianya sendiri demi menebus kesalahannya.

​"Rumah Sakit Kasih Ibu," gumamnya pada diri sendiri. "Aku akan ceritakan semuanya, Sheila. Meskipun setelah itu kamu mungkin akan menyuruhku mati sekalipun."

Mobil sport itu melaju membelah jalanan malam dengan kecepatan tinggi, namun tidak secepat detak jantung Devano yang berpacu liar. Dadanya terasa sesak, dihantam oleh kenyataan pahit bahwa ia telah menjadi pion dalam permainan dendam Bayu.

​Sial! BUGH! BUGH!

​Devano memukul setir kemudi dengan keras. Buku jarinya yang sudah terluka karena menghajar Bayu kini semakin berdarah, namun rasa sakit fisik itu tak sebanding dengan kehancuran batinnya.

​"Gue bodoh! Benar-benar bodoh!" geram Devano pada dirinya sendiri. Air mata kemarahan mulai mengalir di pipinya.

​Ia teringat betapa sombongnya ia dulu saat menerima taruhan itu, mengira bahwa perasaan adalah sesuatu yang bisa dipermainkan. Ia tidak pernah menyangka bahwa di balik taruhan itu ada kebencian mendalam dari seorang "sahabat" yang ingin melihatnya hancur. Dan yang paling menyakitkan, ia telah menyeret Sheila, wanita yang ternyata sangat ia cintai, ke dalam lubang penderitaan ini.

Sesampainya di parkiran Rumah Sakit Kasih Ibu, Devano tidak langsung turun. Ia mengatur napasnya yang memburu. Ia melihat pantulan wajahnya di spion tengah—wajah yang berantakan, mata yang merah, dan noda darah di kemejanya.

​Ia tahu, jika ia menemui Sheila sekarang dengan kondisi seperti ini, ia hanya akan menambah trauma gadis itu. Namun, ia tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Kebenaran ini harus diungkapkan sebelum Papanya atau siapa pun kembali memutarbalikkan fakta.

Devano berjalan menyusuri koridor rumah sakit yang sunyi. Setiap langkahnya terasa seperti ribuan ton beban. Ia melewati ruang NICU sejenak, menatap putranya dari balik kaca.

​"Tunggu Daddy, Nak. Daddy harus meluruskan semuanya agar kamu tidak perlu menanggung malu atas kesalahan Daddy," bisiknya lirih.

​Ia kemudian melanjutkan langkahnya menuju kamar Sheila. Di depan pintu, ia melihat Risma yang baru saja keluar untuk mencari udara segar. Risma terlonjak kaget melihat kondisi Devano yang mengenaskan.

​"Vano? Kamu habis ngapain? Kenapa tangan kamu berdarah semua?" tanya Risma setengah berteriak dengan wajah pucat.

"Aku harus ketemu Sheila, Ris. Sekarang," ucap Devano dengan suara rendah dan tegas.

​"Tapi kondisinya baru saja stabil, Vano! Kalau kamu masuk dengan muka kayak preman habis berantem begini, dia bisa serangan panik lagi!" Risma mencoba menghadang.

​"Ini tentang Bayu! Tentang taruhan itu! Aku baru tahu semuanya, Ris. Sheila berhak tahu siapa musuh yang sebenarnya, bahkan jika itu berarti dia akan semakin membenciku!"

​Tiba-tiba, pintu kamar terbuka dari dalam. Bunda Rini berdiri di sana dengan wajah yang sangat kecewa. Ia mendengar pembicaraan mereka. "Ada apa lagi ini, Devano? Belum cukupkah kamu menghancurkan putriku? "Kalimat itu pelan, namun efeknya lebih menyakitkan daripada kenyataan Bayu di klub tadi.

Situasi semakin terpojok saat Arkan muncul. Dokter itu berdiri tegak, memancarkan aura perlindungan yang seharusnya menjadi tugas Devano.

​"Saya mohon, Bun... saya ingin meluruskan semuanya," lirih Devano. Ia hampir bersimpuh, lututnya goyah. Harga diri Narendra yang selama ini ia junjung tinggi kini berserakan di lantai rumah sakit bersama tetesan darahnya.

​Arkan melangkah maju, menghalangi pandangan Devano ke arah pintu.

"Devano, besok adalah hari besar untuk Sheila. Dia akan melihat bayinya. Jika kamu membawa badai ke dalam kamar ini sekarang, kamu hanya akan membunuhnya secara perlahan."

​"Tapi Dokter Arkan... Bahwa taruhan itu... Bayu yang—"

​"Apapun kebenarannya, Devano," potong Bunda Rini dingin, "Taruhan itu tetap terjadi. Kamu tetap melaksanakannya. Kebenaran tentang siapa dalangnya tidak menghapus fakta bahwa kamu menyakiti putriku selama tiga tahun ini."

​Devano terdiam. Lidahnya kelu. Benar kata Bunda Rini—niat jahat Bayu memang ada, tapi tangan yang menarik pelatuknya adalah tangannya sendiri. Ia adalah senjata yang digunakan Bayu untuk menghancurkan Sheila.

Arkan menatap Devano dengan tatapan yang sulit diartikan. Sebagai seorang dokter, ia harus melindungi pasiennya, namun sebagai seorang pria, ia bisa melihat kehancuran yang nyata di mata Devano.

​"Pergilah ke ruang IGD dan obati tanganmu," ucap Arkan dingin namun manusiawi. "Jangan sampai Sheila melihat ayah dari anaknya tampak seperti seorang kriminal. Datanglah besok setelah dia menemui bayinya. Itu adalah kesempatan terakhirmu untuk berbicara secara baik-baik."

​Devano menarik napas panjang, mencoba meredam amarah dan kecewa pada dirinya sendiri. Ia tahu Arkan benar. Ia tidak boleh egois. Jika ia masuk sekarang, ia hanya akan merusak momen paling bahagia Sheila besok pagi.

​"Baik," ucap Devano lemah. Ia menatap pintu kamar Sheila untuk terakhir kalinya malam itu. "Saya akan pergi. Tapi tolong... jaga dia. Jangan biarkan siapa pun menyakitinya lagi."

​Devano berbalik dan melangkah pergi dengan bahu terkulai. Di belakangnya, Arkan menatap punggung Devano yang menghilang di belokan lorong, menyadari bahwa badai dalam kehidupan Sheila baru saja memasuki babak baru yang lebih rumit.

​Devano akhirnya melangkah menjauh dengan hati yang hancur. Namun, ia tidak benar-benar meninggalkan rumah sakit. Ia menuju ke taman yang terletak tepat di bawah jendela kamar rawat Sheila. Di sana, ia duduk di bangku kayu yang dingin, membiarkan luka di tangannya mengering tanpa diobati. Pikiran tentang pengkhianatan Bayu dan penderitaan Sheila terus menghantamnya secara bergantian.

​Sementara itu, di dalam kamar, Sheila terbangun karena mendengar suara sayup-sayup di depan pintunya tadi. Ia menatap langit-langit kamar dengan perasaan gelisah.

​"Bun, tadi ada siapa di depan?" tanya Sheila saat melihat Bunda Rini masuk kembali ke dalam ruangan.

​Bunda Rini sempat ragu sejenak, namun ia memilih untuk tidak menambah beban pikiran putrinya. "Hanya dokter dan suster yang sedang mengecek jadwal untuk besok pagi, Sayang. Kamu harus tidur lagi ya, biar besok punya tenaga untuk menggendong jagoan kecilmu."

​Sheila tersenyum tipis, meski ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan darinya. Ia memejamkan mata, membayangkan wajah putranya yang selama ini hanya bisa ia lihat melalui foto dari suster.

1
putri bungsu
mulut kamu bisa berkata baik-baik saja shei, tapi sahabat kamu tau kalau kamu sedang tidak baik-baik saja
☕︎⃝❥Haikal Mengare
Infokan duel di ring sekarang /Curse//Curse/

Dia pakai tangan kosong aku pakai kapak/Doge/
☕︎⃝❥Haikal Mengare
Sumpah Devano, kamu bakal menyesal main wanita kayak gini/Curse/
☕︎⃝❥Haikal Mengare
Aku pingin jerit Ya Allah 😭😭
☕︎⃝❥Haikal Mengare
cukup aku gak kuat 😭😭, ini bertolak belakang sama prinsip ku🤣
Peri Cecilia
risma baik banget
☕︎⃝❥Haikal Mengare
Sejauh mana obsesimu 😭
Peri Cecilia
nah kan, aku sangat puas awoakwoka
Ani Suryani
Sheila trauma
Stanalise (Deep)🖌️
Pergaulan gila macam apa ini. Masih sekolah padahal Udh kayak gini. nanti dikasih bayi beneran, nangesss/Hey/
Jing_Jing22: pergaulan anak muda masih mengutamakan ego...
total 1 replies
Wida_Ast Jcy
thor kalimat yang huruf kapital ini dirubah mungkin lebih baik dech🙏🙏🙏 saran ya thor
Jing_Jing22: ok siap kacan! thanks sarannya😊
total 1 replies
Mingyu gf😘
Andai bundanya tahu, anaknya sudah melakukan kesalahan yang sangat fatal
Mingyu gf😘: iya kak
total 2 replies
Herman Lim
aduh sapa lagi yg mau jahat sama Sheila
Jing_Jing22: masa lalunya yang sakit hati sama sheila
total 1 replies
Ikiy
kenapa baru nyesel sekarang/Scream/
Nadinta
DEVANO ASTAGAAA KATA GUE LU MINTA MAAF, SHEILAAA UHUUUU
CACASTAR
kecintaan sih Sheila..makanya
CACASTAR
emang kadang perempuan itu dibutakan oleh cinta,, udah bagus punya teman kayak Risma
CACASTAR
jangan Sheila..jangan...
CACASTAR
di mana-mana memang yang namanya Devano dalam karakter cerita sering banget jadi ketua gank, anak nakal, gitu ya
Ani Suryani
Vano orang baik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!