Aisya harus menelan pil pahit, dua tahun pernikahan, ia belum dikaruniai keturunan. Hal ini membuat mertuanya murka dan memaksa suaminya menjatuhkan talak.
Dianggap mandul dan tak berguna, Aisya dicampakkan tanpa belas kasihan, meninggalkan luka yang menganga di hatinya.
Saat sedang mencoba menyembuhkan diri dari pengkhianatan, Aisya dipertemukan dengan Kaisar.
Penampilan Kaisar jauh dari kata rapi, rambut gondrong, jaket kulit lusuh, dan tatapan liar. Mirip preman jalanan yang tampak awur-awuran.
Sejak pandangan pertama, Kaisar jatuh cinta pada Aisya. Ia terpesona dan bertekad ingin menjadikan Aisya miliknya, memberikan semua yang gagal diberikan mantan suaminya.
Tapi, mampukah Kaisar meluluhkan hati Aisya yang sudah terlanjur hancur dan tertutup rapat? Atau apakah status dan cintanya yang tulus akan ditolak mentah-mentah oleh trauma masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Malam semakin larut. Aisya mondar-mandir di ruang tamu, matanya terus melirik ke arah jam dinding yang detaknya seolah mengejek kegelisahannya.
Waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari, tapi Hendra belum juga pulang. Hati Aisya tidak lagi hanya sekadar sakit, tapi sudah mati rasa.
Aisya tidak sedang menunggu permintaan maaf Hendra atau mengharapkan pelukan penenang. Tidak. Kali ini, ia butuh kebenaran.
Aisya butuh penjelasan mengapa pria yang ia sebut suami itu tega membangun tembok kebohongan setinggi langit, hanya untuk bersanding dengan wanita lain di tempat semewah itu.
"Kenapa kamu tega padaku, Mas? Apa yang kamu cari dari kebohongan ini?" gumam Aisya.
Tiba-tiba, suara pintu kamar yang terbuka dengan kasar mengejutkannya. Marni keluar dengan wajah masih mengantuk. Matanya yang tajam langsung tertuju pada Aisya yang masih berdiri di ruang tamu.
"Belum tidur kamu?! Apa yang kamu lakukan mondar-mandir seperti setrikaan begini? Berisik sekali!" bentak Marni.
Aisya berhenti melangkah. Ia menatap mertuanya dengan pandangan yang tidak lagi menunduk takut.
"Aku sedang menunggu Mas Hendra, Bu. Dia belum pulang," jawab Aisya.
Marni mendengus sinis. "Ya tentu saja belum pulang! Anakku itu pekerja keras. Dia lembur dan mencari uang untuk memberi makan mulutmu itu. Tidak seperti kamu, bisanya cuma mengeluh dan menjadi beban!"
Aisya menarik napas dalam-dalam. Mencoba mengatur amarahnya.
"Mas Hendra tidak sedang lembur, Bu. Tadi malam aku melihatnya di Grand Hotel. Dia sedang bersama wanita lain, bersenang-senang di pesta."
Wajah Marni memerah seketika. Ia melangkah maju, tangannya sudah berkacak pinggang. "Apa kamu bilang?! Kamu menuduh anakku yang sholeh itu selingkuh? Jaga bicaramu, Aisya! Hendra itu anak berbakti, tidak mungkin dia melakukan hal menjijikkan begitu. Kamu pasti berhalusinasi karena kurang waras!"
"Aku tidak halusinasi, Bu," sahut Aisya dengan tenang. "Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Mas Hendra menggandeng Rima, wanita yang memberikan Ibu tas mahal itu. Dia bahkan tidak mengakui aku sebagai istrinya di depan orang banyak."
"Bagus kalau begitu!" teriak Marni tanpa rasa bersalah. "Kalau memang benar dia bersama Rima, itu artinya dia sadar mana wanita yang berkelas dan mana wanita yang cuma bisa menyapu lantai! Mungkin dia malu punya istri sepertimu yang tidak bisa apa-apa!"
Aisya merasakan denyut di pelipisnya. Biasanya, ia akan menangis tersedu-sedu mendengar hinaan itu. Tapi tidak malam ini, air matanya sudah habis di pelukan Kaisar tadi.
"Ibu... apakah bagi Ibu kehormatan sebuah pernikahan hanya sebatas harta, harga tas dan gaun?" tanya Aisya pelan nan tegas.
"Jangan sok bijak kamu!" Marni mengangkat tangannya, hendak menampar Aisya. Namun di luar dugaan, Aisya menangkap pergelangan tangan Marni dengan cepat.
Marni membelalak, tidak percaya menantunya yang lemah ini berani melawan.
"Cukup, Bu," ucap Aisya dengan tatapan mata yang sangat tajam. "Aku diam selama ini bukan karena aku takut, tapi karena aku masih menghargai Ibu sebagai orang tua suamiku. Tapi jika Ibu terus membela kebohongan mas Hendra dan merendahkan martabatku, jangan salahkan aku jika aku tidak lagi bisa bersabar."
Aisya melepaskan tangan Marni dengan sentakan pelan lalu menuju ke kamarnya.
Mira terpaku, mulutnya menganga tanpa kata. Keberanian Aisya malam ini benar-benar di luar dugaannya.
*
*
Sementara itu, di sebuah kamar kediaman Adhitama, sang pemilik imperium bisnis justru sedang bergulat dengan dilema yang sangat konyol.
Kaisar duduk bersila di atas ranjang king size-nya, menatap sebuah ponsel jadul dengan layar retak yang tergeletak di atas bantal.
"Buka... tidak... buka... tidak..." gumam Kaisar sambil memutar-mutar ponsel milik Aisya.
Ia tahu ponsel itu tidak memakai kata sandi. Jarinya sudah gatal ingin menekan tombol galeri. Ia ingin melihat foto-foto Aisya, ingin tahu bagaimana kehidupan wanita itu melalui lensa kamera ponselnya.
"Aduh, Kaisar! Apa-apaan sih kamu ini?!" ia menjambak rambutnya sendiri dengan frustrasi. "Kamu ini miliarder, Bos besar! Masa jadi seperti penguntit begini? Ini namanya melanggar privasi orang lain!"
Ia meletakkan ponsel itu menjauh.
Sedetik kemudian, ia mengambilnya lagi.
"Tapi kan aku cuma mau memastikan apakah dia punya foto yang membuat dia sedih? Iya, itu alasannya! Untuk tujuan riset kebahagiaan!"
Kaisar mencoba meyakinkan dirinya sendiri dengan alasan yang paling tidak masuk akal sedunia.
Ia menekan tombol tengah, layar itu menyala memperlihatkan wallpaper foto bunga matahari yang sederhana.
Kaisar tersenyum kecil. "Bahkan pilihan bunganya saja sangat menggambarkan dirinya. Hangat dan sederhana."
Ia hampir saja menyentuh ikon galeri saat tiba-tiba ia teringat wajah sedih Aisya tadi.
"Argh! Bodoh! Kalau aku buka, aku tidak ada bedanya dengan preman pasar yang aku perankan sendiri!" seru Kaisar pada dirinya sendiri. Ia melemparkan ponsel itu ke sisi ranjang yang lain, lalu menjatuhkan tubuhnya dengan kasar.
"Kenapa jadi begini sih?! Kenapa otakku isinya cuma dia, dia, dan dia? Padahal dia istri orang, Kaisar! Istri orang!" ia berteriak pada langit-langit kamar. "Bisa gila aku kalau begini terus. Besok aku harus kembalikan ponsel ini secepat mungkin sebelum aku benar-benar jadi kriminal karena mencuri data hatinya!"
Kaisar menutup wajahnya dengan bantal, mencoba mengusir bayangan senyum Aisya, tapi yang muncul justru bayangan Hendra yang sedang membentak wanita itu.
"Sialan pria itu. Berani sekali membuat Aisya-ku menangis!" bisik Kaisar di balik bantal, suaranya berubah menjadi dingin dan penuh ancaman.
Kaisar menyambar ponselnya lalu menghubungi Dhani. Ia akan menyuruh asistennya itu untuk menggali informasi soal Rima.
apa Sarah nama tengah belakang atau samping 🤣