Ada apa dengan istriku?
Tak seperti biasanya istriku terlihat diam tak banyak bicara lagi, seolah bukan orang yang kukenal selama ini.
Diam bukan berarti tak mengerti apapun - Luna.
Maafkan, sungguh diriku menyesali semua itu - Akbar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MS.Tika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Setelah perdebatan makan malam tadi di meja makan, Luna kembali ke kamarnya dan Akbar lebih memilih berada di ruang kerja menghabiskan waktu dengan banyak minum-minum alkohol yang di koleksinya. Selama ini Akbar akan memilh minum-minum jika dirasa banyak pikiran untuknya.
"Kenapa harus begini Lun, apa kamu akan benar-benar memilih berpisah denganku?"kicauan Akbar yang sudah setengah mabuk diruang kerjanya.
Ruang kerja yang semula rapi dan bersih sekarang sudah menjadi berantakan tak berbentuk, Akbar menggila didalam sana dirinya sungguh gelisah mengetahui besok istrinya lebih memilih tinggal terpisah dengannya.
Lain halnya dengan Luna yang berada di kamar, dirinya lebih memilih menyiapkan beberapa pakaian dan apa aja yang perlu dibawa tinggal di apartemen untuk sementara.
"Semoga ini keputusan yang terbaik saat ini."gumam Luna dalam hati sambil menata pakaian didalam koper.
- -
Didalam kantor, Akbar teringat lagi tentang permbicaraanya dengan Luna kemarin malam. Dia melihat ke arah jam tangan , waktu sudah menunjukkan makan siang Akbar berpikir jika Luna sudah pergi meninggalkan rumahnya.
"Sepertinya Luna sudah pergi ke apartemennya sekarang."gumam Akbar
Pada saat itu Luna memilih pergi ke butiknya lebih dulu, pekerjaannya sudah menunggu.
"Nanti jika ada yang mencariku, bilang aku sedang tak ingin diganggu?"perintah Luna kepada anak buahnya.
"Siap bos."ucap balas Anna.
Luna larut dalam pekerjaannya sampai tak melihat beberapa panggilan masuk dan pesan baru di dalam ponselnya. Setelah Luna dirasa sudah sangat lelah ia melihat ponselnya dan hal pertama nama siapa yang menghubunginya beberapa kali.
"Kak Edward ada apa telpon diriku banyak sekali?'gumam Luna dengan memegang ponselnya ditangannya.
Luna menelpon balik Edward menanyakkan hal penting apa yang ingin disampaikan kakaknya itu.
"Halo kak Edward."sapa Luna.
"Akhirnya kamu ada kabar juga."ucap balas Edward.
"Ada apa kakak menghubungiku banyak sekali ini dari tadi, maaf Luna tadi sedang sibuk dengan kerjaan Luna."kata Luna.
"Kakak tau apa yang sedang menimpamu, lebih baik kamu tinggal dengan kakak jangan tinggal sendiri. Apa kamu mau ikut kakak pulang ke London?"tanya Edward serius.
Yah Edward tau apa yang terjadi dengan Luna diam-diam Edward mengirim mata-mata di rumah suaminya untuk memperhatikan gerak-gerik Luna dan keluarga suaminya.
"Benar yah, aku tak akan bisa membohongi kakak jika aku dapat masalah sebenarnya."ucap sendu Luna.
"Kamu itu udah seperti adik kakak sendiri, jadi hal apapun kakak tau tentangmu. Ikut kakak pulang ke london sementara apa kamu tak ingin bertemu dengan kakek juga."kata Edward.
"Tak ada pilihan lagi kan kak, aku juga tak ada tujuan lagi mau kemana kalau enggak ke apartemenku."kata Luna.
"Oke, nanti malam pulang kerumah kakak. Besok baru kita berangkat ke london."ucap Edward.
"Baik kak, setelah aku menyelesaikan kerjaan di butik nanti langsung ke rumah kakak."kata Luna.
Panggilan itu pun mati, Luna hanya bisa menghela nafas dan memejamkan mata apa ini udah akan benar-benar berakhir sepeti ini.
Edward yang masih berada diperusahaannya, setelah menerima panggilan telpon dari Luna dirinya segera menyelesaikan pekerjaan yang masih menumpuk diatas mejanya. Edward pun memilih mengirim pesan ke Adam untuk segera datang kerumahnya yang berada di jakarta.
{Nanti kamu ke rumah kakak, ada Luna disana.}pesan Edward.
{Oke, siap kak}balas Adam.
Setelah melihat balasan dari Adam, ia melanjutkan kembali tumpukkan dokumen yang sudah menunggu untuk ditanda tangani olehnya.
Jam makan mulai berantakan untuk Luna, dirinya lupa belum memakan apapun sedari siang tadi. Dilihatnya sudah pukul tiga sore perutnya sudah meronta-ronta untuk di isi makanan.
"Ternyata sudah jam segini, jadi telat makan begini. Lapar sekali aku."gumam Luna.
"Anna..."teriak Luna
"Iya bos, ada apa?" ucap balas Anna.
Anna yang mendengar teriakan bos Luna bergegas masuk kedalam ruangan Luna, dilihatnya bosnya masih larut akan pekerjaannya.
"Tolong pesankan aku makanan yang sedikit pedas, sedari siang tadi aku belum makan apapun."perintah Luna pada Anna.
"Baik bos, apa ada lagi?"tanya Anna.
"Sudah itu aja, cepetan yah aku sudah sangat lapar sekarang."kata Luna sambil mengibaskan tangannya kearah Anna agar segera keluar dari ruangannya.
Setelah itu Anna keluar dari ruangan Luna.
Luna menghembuskan nafas kasar, lagi-lagi dia harus mengingat kembali apa yang sudah Akbar lakukan dibelakangnya selama ini. Ingatannya kembali saat pertengahan dua bulan lalu dirinya dan suaminya sempat makan siang bersama di sebuah restoran.
Luna yang memang berjalan lebih dulu masuk kedalam restoran dirinya tak sengaja bersenggolan dengan Dita, wanita yang dianggapnya hanya bawahannya sebelum mengetahui kalau ada hubungan di antara mereka berdua tiba-tiba Dita seperti terhuyung dan hampir saja jatuh kalau saat itu Akbar tidak menahannya.
"Dita, hati-hati kalau jalan. Kenapa kamu ada disini juga?"tanya Akbar sambil membantu Dita berdiri tegak lagi.
"Sepertinya pak tadi saya tersandung kaki Luna."tuduh Dita dengan melirik sedikit ke arah Luna yang sedang memperhatikan suami dan juga bawahannya.
Luna langsung melotot tak terima dengan tuduhan dari Dita.
"Tidak mas, aku tidak melakukan itu."sangkal Luna mengibaskan kedua tangannya di depan.
"Luna, apa yang kamu pikirkan sampai tega berbuat seperti itu. kamu sengaja melakukan itu!"amarah Akbar sudah mulai meningkat.
"A..aku..tidak.."bantah Luna
"Sudah jangan membela diri jika memang salah kamu, apa ini tabiat aslimu selama ini Luna. Aku tau kita berdua tak seperti pasangan suami istri lainnya tapi kamu jangan seperti melampiaskan kepada para pekerjaku." Akbar memotong perkataan Luna.
"Terserah mas saja lah..!" Luna akhirnya memilih pergi meninggalkan Akbar dan Dita, tapi tangan Akbar lebih dulu mencegahnya.
"Mau kemana kamu?"suara mereka berdua tidak terlalu keras hingga tidak ada seorang pun selain mereka bertiga yang mendengar perdebatan di antara Luna dan Akbar.
"Kenapa mas? mas urus saja pekerja mas itu tidak usah sok pedulikan aku. Awalnya aku berpikir rencana makan siang kita berdua sebagai tanda bahwa awal hubungan kita yang akan semakin baik tapi ternyata semua hanya khayalanku saja tetap dimata kamu kalau aku ini hanya membawa masalah yang suka menghambur-hamburkan uangmu dan hanya memiliki sikap buruk saja." Luna mencoba melepaskan cengkraman tangan Akbar yang terasa semakin kencang.
"Apa kamu bilang? sudah berani kamu sekarang! Dulu kamu tak seperti ini Luna, kamu selalu menurut denganku dan bersikap sebagai istri idaman meskipun dirimu suka banyak menghabiskan waktumu diluar dari pada dirumah." mata Akbar sudah memerah, amarahnya yang sudah-benar terpancing.
Niatnya ingin makan siang dengan damai bersama Luna, malah apa yang didapatkan sekarang kekacauan perihal hal sepele begini.
"Terserah, aku udah mood makan siang dengan mas!"kata Luna menghempaskan kuat tangan Akbar yang terasa sedikit melemah.
- -
Luna memejamkan matanya, menahan rasa sesak yang ada di dalam dada, bulir air mata mulai turun membasahi wajahnya. Dengan kasar Luna menghapus air mata itu.
"Jangan menangis Luna, jangan menangisi mereka lagi."gumam Luna dalam hati.
Tok..tok..
"Permisi bos, ini makanan yang bos pesan tadi."ucap Anna yang sudah membawa bungkusan makanan yang telah dipesan Luna.
se BADAS apa kamu luna
apa mau berbagi lendir dengan mereka lun OMG
biar kamu ga sama Kaya yg lain cuma mewek doang 🤦