Aline terpaksa menyamar sebagai pengasuh polos demi menyelidiki kematian misterius kakaknya di kediaman seorang leader mafia kejam sekaligus CEO, bernama Adrian. Di sana, ia harus mengurus anak kembar Adrian yang sangat genius namun manipulatif. Masalah rumit muncul ketika anak-anak tersebut justru sengaja menjebak Aline dan Adrian agar menikah, sementara Adrian mulai mencurigai identitas asli Aline yang ternyata memegang kunci rahasia masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Transformasi Nyonya Bayangan
Bab 22: Transformasi Nyonya Bayangan
Lift privat meluncur mulus tanpa suara menuju lantai tiga hotel. Di dalam ruang sempit yang berdinding cermin itu, Adrian masih belum melepaskan cengkeraman tangannya di pergelangan tangan Aline. Aroma maskulin dari jas tuksedo Adrian yang membungkus bahu Aline terasa begitu pekat, membuat sang pengasuh harus mengerahkan seluruh fokus intelijennya agar detak jantungnya tidak berkhianat.
Ting.
Pintu lift terbuka, menampilkan lobi butik haute couture milik desainer terkemuka Perancis yang sengaja disewa eksklusif oleh klan Dirgantara malam ini. Seorang desainer pria paruh baya dengan setelan necis langsung membungkuk hormat begitu melihat Adrian.
"Tuan Besar Dirgantara, sebuah kehormatan. Ada yang bisa saya bantu?"
"Ganti pakaiannya," ucap Adrian pendek tanpa basa-basi, mendorong pelan bahu Aline ke depan. "Sesuatu yang elegan, tertutup, dan tidak menarik perhatian banyak orang. Kita hanya punya waktu sepuluh menit sebelum protokol pengamanan aula utama mendesakku kembali."
"Baik, Tuan Besar. Serahkan pada saya," jawab desainer itu sigap. Matanya meneliti postur tubuh Aline di balik jas besar Adrian, lalu beralih ke kacamata tebalnya yang retak diikat selotip hitam. "Tapi, Nona... mohon maaf, kacamata Anda harus dilepas terlebih dahulu agar kami bisa menyesuaikan riasan wajah dan gaun yang pas."
Aline sempat menegang. Kacamata tebal itu adalah tameng penyamaran utamanya untuk mendistorsi bentuk matanya yang tajam. Namun, di bawah tatapan mengintimidasi dari Adrian, Aline tidak punya pilihan selain melepaskannya dengan ragu-ragu.
Begitu kacamata itu terlepas, desainer tersebut sempat menahan napas sejenak, mengagumi struktur simetris wajah Aline yang tersembunyi selama ini. Aline segera menundukkan kepala, pura-pura canggung dan buru-buru melangkah masuk ke dalam kamar ganti privat yang dipenuhi jajaran gaun malam mewah.
Di luar, Adrian duduk di kursi sofa beludru hitam sambil melirik jam tangan Rolex-nya. Pria itu mencoba fokus pada laporan siber di ponselnya, namun bayangan punggung mulus Aline yang terekspos karena robekan gaun tadi terus melintas di benaknya, memicu rasa posesif yang tidak rasional bagi seorang bos mafia yang biasanya berdarah dingin.
Tepat di menit kesembilan, tirai beludru kamar ganti bergeser terbuka.
"Tuan Besar, silakan lihat," ucap sang desainer dengan nada bangga yang luar biasa.
Adrian perlahan menurunkan ponselnya, mendongak, dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, napas sang mafia tercekat seketika.
Aline berdiri di sana, bertransformasi sepenuhnya. Ia mengenakan gaun malam berbahan sutra hitam pekat yang jatuh dengan begitu anggun mengikuti lekuk tubuhnya yang proporsional. Potongan gaun itu sengaja dibuat tertutup dengan kerah tinggi bergaya klasik dan lengan panjang berenda transparan—potongan yang sengaja dipilih untuk menyembunyikan bekas luka tembak di lengan atasnya. Rambutnya yang biasa diikat asal kini disanggul modern yang menyisakan beberapa helai jatuh di tengkuknya.
Tanpa kacamata tebal yang menyembunyikan wajahnya, mata Aline yang jernih, tajam, namun menyimpan aura misterius terpancar seutuhnya. Wajah itu... karisma pembawaan itu... dalam hitungan detik langsung menghantam memori terdalam Adrian.
Rena Shandika.
Wajah Aline saat ini begitu mengingatkannya pada struktur wajah dan tatapan mata mendiang Rena Shandika, wanita masa lalu yang kematiannya menyisakan lubang hitam di hati Adrian. Dada Adrian bergemuruh hebat; antara ketertarikan visual yang murni, rasa bersalah masa lalu, dan kilatan kecurigaan baru yang mendadak muncul di kepalanya. Apakah ini hanya kebetulan, atau gadis di hadapannya ini memang memiliki hubungan darah dengan Rena?
"T-Tuan Besar..." cicit Aline, buru-buru memecah keheningan yang mencekam itu dengan memasang kembali raut wajah canggung, menyilangkan tangan di depan dada seolah tidak nyaman dengan kemewahan yang ia kenakan. "Ini... apa ndak terlalu berlebihan ya? Saya merasa seperti memakai kain gorden mahal..."
Adrian bangkit berdiri dari sofanya, menyembunyikan keterpakuannya di balik topeng dinginnya. Ia melangkah mendekati Aline, menatap lurus ke dalam manik mata gadis itu dari jarak yang sangat dekat, mencoba mencari retakan dari aktingnya.
"Gunakan kacamata cadangan ini," ucap Adrian datar, mengeluarkan sebuah kotak beludru dari saku celananya—sebuah kacamata dengan lensa anti-radiasi berbingkai emas tipis modis yang tadi sempat disiapkan oleh pelayan di limosin. "Dan ingat tugasmu, Aline. Kau di sini untuk menjaga anak-anakku, bukan untuk menjadi pusat perhatian."
Aline menerima kacamata itu dengan tangan sedikit gemetar dan buru-buru memakainya. Begitu lensa kacamata baru itu terpasang, efek distorsi visual kembali menyamarkan ketajaman matanya, mengembalikan sosok "gadis pengasuh yang lugu" dalam sekejap.
"Baik, Tuan Besar. Terima kasih," jawab Aline pelan.
Namun, tepat saat Adrian berbalik untuk memimpin jalan kembali menuju lift privat, sudut mata Aline yang terlatih menangkap sebuah pergerakan aneh di luar butik. Melalui pantulan cermin besar yang menghadap langsung ke arah koridor pilar kaca lantai tiga, ia melihat siluet seorang pria bertubuh tegap dengan setelan jas abu-abu gelap sedang mengawasi mereka dari balik kegelapan pilar beton.
Pria itu memegang sebatang rokok yang tidak dinyalakan, dan di pergelangan tangannya, tato berbentuk kepala serigala hitam terlihat samar di balik manset kemejanya.
Klan Valerius, batin Aline menegang, insting militernya langsung berteriak waspada. Mereka sudah mulai menyusup ke lantai atas.