Mahesa seorang OB culun dan miskin mendapatkan kitab sakti dan merubah hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Bersembunyi di Gudang Tua
Langkah kaki Mahesa terasa begitu berat saat menuruni anak tangga demi anak tangga menuju bagian terdalam Gedung Graha Subroto. Setelah insiden tumpahan kopi di lantai dua yang membuatnya menjadi tontonan dan sasaran makian Pak Bagus, ia merasa perlu mengasingkan diri sejenak. Koridor-koridor utama kantor yang dipenuhi lalu lalang karyawan perlahan terasa mencekik dadanya. Ia butuh ruang di mana ia tidak perlu memaksakan senyum ramah, ruang di mana sepasang mata di balik kacamata tebalnya diizinkan untuk menatap kosong tanpa harus dinilai culun atau tidak berguna.
Pilihan Mahesa jatuh pada gudang arsip lama yang terletak di ujung lorong bawah tanah, berdampingan dengan area parkir logistik yang jarang dilalui orang. Gudang itu sudah bertahun-tahun terbengkalai sejak perusahaan beralih menggunakan sistem digitalisasi data.
Krieeek…
Pintu besi tebal yang catnya sudah mengelupas itu berderit nyaring saat Mahesa mendorongnya perlahan. Bau apak khas kertas tua, debu yang tebal, dan udara lembap langsung menyergap indra penciumannya. Di dalam ruangan luas yang remang-remang itu, tampak ratusan rak besi berkarat yang dipenuhi oleh tumpukan kardus-kardus map odner yang sudah menguning.
"Di sini aman, Sa. Nggak akan ada yang nyariin kamu ke sini," bisik Mahesa pada dirinya sendiri seraya menutup kembali pintu besi itu rapat-rapat.
Ia meletakkan ember dan peralatan kebersihannya di lantai semen yang tertutup debu abu-abu. Mahesa kemudian berjalan mendekati salah satu sudut dinding, lalu menyandarkan punggungnya di sana. Ia perlahan merosot turun hingga duduk berselonjor di lantai. Dilepaskannya kacamata berbingkai hitam tebal itu, lalu ia membenamkan wajahnya di antara kedua lutut yang ditekuk.
Dada pemuda itu bergemuruh hebat. Bayangan makian Pak Bagus, tawa mengejek dari Doni dan Rian, hingga kalimat beracun dari Bu RT tadi pagi berputar-putar di dalam kepalanya bagai kaset rusak. Semuanya terasa menumpuk, menekan ulu hatinya hingga memicu rasa sesak yang teramat sangat. Di dalam keheningan gudang tua itu, Mahesa akhirnya membiarkan satu helaan napas panjang yang gemetar lolos dari bibirnya, melepaskan sebagian beban mental yang sedari tadi ia tahan sekuat tenaga.
Hampir lima belas menit Mahesa terdiam dalam posisi itu, menenangkan badai di dalam pikirannya. Ketika detak jantungnya mulai kembali teratur, ia mendongak dan menatap sekeliling ruangan yang berantakan.
"Daripada melamun nggak jelas, mending aku bersihin tempat ini. Toh, ini memang sudah jadi tugasku," gumam Mahesa pelan, mencoba mengalihkan energi negatifnya menjadi sesuatu yang lebih produktif.
Ia bangkit berdiri, memakai kembali kacamatanya, lalu mulai mengenakan sarung tangan kain yang sudah agak koyak di bagian jempol. Mahesa mengambil kemoceng bulu ayam dan selembar kain lap setengah basah dari dalam embernya. Ia memutuskan untuk mulai membersihkan barisan rak besi yang paling dekat dengan pintu masuk.
Uhuk! Uhuk!
Mahesa terbatuk kecil saat kibasan kemoceng pertamanya menerbangkan partikel debu ke udara. "Debunya tebal banget, kayaknya udah bertahun-tahun nggak pernah disentuh orang," puji Mahesa pada kekuatan debu di tempat itu seraya menyeka dahi dengan punggung lengannya.
Ia melanjutkan pekerjaannya dengan telaten. Lembar demi lembar debu yang menutupi permukaan kardus arsip ia seka menggunakan kain lap. Di sela-sela kegiatannya, pintu gudang tiba-tiba berderit sedikit terbuka. Kepala Haris, salah seorang OB senior yang terkenal cukup netral dan tidak suka ikut campur urusan bully, menyembul dari balik pintu.
"Lho, Sa? Ternyata kamu di sini? Aku cariin ke lantai dasar tadi kagak ada," ujar Haris sambil melangkah masuk beberapa tindak, matanya mengedar menatap kondisi gudang yang penuh debu.
Mahesa menghentikan usapannya pada rak besi, lalu menoleh sambil tersenyum tipis. "Eh, Mas Haris. Iya, Mas. Sengaja ke sini, pengen bersihin gudang arsip lama aja. Mumpung kerjaan di lantai dasar sudah beres semua tadi subuh," jawab Mahesa dengan nada suara yang diusahakan sehangat mungkin.
Haris menghela napas panjang, berjalan mendekat lalu bersandar pada salah satu sisi rak yang belum dibersihkan. "Halah, Sa, nggak usah bohong sama aku. Aku tadi lihat sendiri kejadian di koridor lantai dua. Si Bagus maki-maki kamu kencang bener. Kamu nggak apa-apa, kan?" tanya Haris dengan nada bicara yang menyiratkan rasa simpati tersembunyi.
Mahesa sempat tertegun mendengarnya, namun sedetik kemudian ia kembali mengayunkan kain lapnya ke permukaan rak. "Nggak apa-apa kok, Mas. Pak Bagus kan wajar marah, baju mahalnya kena tumpahan kopi hitam. Salah saya juga kurang hati-hati pas jalan di tikungan," sahut Mahesa lirih, mencoba meredam suasana agar tidak terkesan mengeluh.
"Kamu tuh ya, terlalu sabar jadi orang, Sa! Kadang aku gemas sendiri lihatnya. Si Bagus itu yang keluar ruangan main nubruk aja, malah kamu yang disalahin habis-habisan sampai dipotong gaji pula," keluh Haris sambil menggeleng-gelengkan kepalanya kesal menatap kepasrahan juniornya itu.
"Ya mau bagaimana lagi, Mas? Posisi saya di sini kan cuma pekerja kontrak paling bawah. Melawan pun nggak akan merubah keadaan, yang ada malah langsung dipecat hari ini juga," tutur Mahesa dengan nada suara yang terdengar sangat realistis dan dewasa, mencerminkan pemahamannya yang mendalam tentang pahitnya roda kehidupan korporasi.
Haris terdiam sejenak, meresapi kebenaran dari ucapan Mahesa. Ia menepuk pundak kurus pemuda itu dengan pelan. "Iya sih, posisi kita emang lemah banget di sini. Tapi tetap aja, hati kecilku nggak tega lihat kamu digituin terus sama anak-anak lain, apalagi si Doni sama Rian yang hobi banget cari muka," kata Haris lagi dengan desahan gusar.
"Sudah biasa, Mas. Anggap saja itu latihan buat mempertebal kulit muka. Yang penting bagi saya sekarang itu kerja tenang, dapet upah, bisa buat beli obat Nenek di rumah. Urusan omongan orang, saya masukan telinga kanan, keluar telinga kiri saja," ucap Mahesa dengan seulas senyum tulus yang kali ini benar-benar terbit dari bibirnya. Fokusnya pada kesembuhan sang nenek selalu berhasil menjadi jangkar yang kokoh untuk emosinya.
"Ya sudah kalau kamu mikirnya begitu. Baguslah kalau mentalmu nggak ambruk," puji Haris merasa lega melihat keteguhan batin Mahesa. Ia kemudian membalikkan badannya menuju pintu. "Aku balik ke atas dulu ya, Sa. Takut dicariin supervisor. Kamu jangan lama-lama di sini, udaranya pengap, nggak bagus buat paru-paru."
"Siap, Mas Haris. Terima kasih banyak ya sudah nengokin saya ke sini," balas Mahesa penuh rasa hormat.
"Sama-sama, Sa. Santai saja," sahut Haris sebelum melangkah keluar dan menutup kembali pintu besi gudang dengan rapat.
Setelah kepergian Haris, Mahesa kembali melanjutkan aktivitasnya menembus keheningan ruangan. Suasana membersihkan gudang yang sepi ini perlahan-lahan memberikan rasa damai yang ia cari sejak pagi. Setiap gerakan menyeka debu dan menata kardus-kardus tua seolah-olah ikut menyapu bersih sisa-sisa rasa sakit hati dan amarah yang sempat mengendap di dalam dadanya.
Ia bergerak semakin jauh ke area bagian dalam gudang, melewati barisan rak-rak besi yang semakin rapat dan gelap. Senter kecil yang sengaja ia pasang di saku kemejanya menjadi satu-satunya sumber cahaya yang membelah kegelapan sudut ruangan. Mahesa terus menggosok, membersihkan, dan menata lembar-lembar kertas usang itu dengan penuh ketelatenan, tanpa menyadari bahwa di balik keheningan dan tumpukan barang-barang terbengkalai di bagian paling belakang gudang tua ini, takdir hidupnya yang baru tengah menanti untuk segera dimulai.