Duan Melahirkan di usia 16 tahun, selama 7 tahun ini ia selalu percaya jika putra yang ia lahirkan dengan mempertaruhkan nyawa malah meninggal di hari kelahirannya, namun siapa yang menyangka saat dirinya kembali ke ibu kota muncul seorang bocah laki laki yang sangat menyebalkan namun Yan Fei merasa dirinya tak bisa membiarkan bocah itu jauh darinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auliya Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nasib dan Kasih Sayang
“Huh… anak itu, benar-benar bernasib beruntung. Mendapatkan kehidupan yang jauh lebih baik dari apa yang sempat kami bayangkan,” Gumam Nyonya Duan pelan, suaranya hanya terdengar di telinganya sendiri.
Ia masih berdiri di ambang pintu utama, menatap ke arah jalanan di mana kereta kuda yang membawa Yan Xumin perlahan bergerak menjauh, semakin kecil dan akhirnya menghilang di balik tikungan jalan yang dipenuhi pohon-pohon rindang.
Angin sore yang lembut menerpa wajahnya, namun tatapannya terasa jauh, seolah sedang menelusuri kembali kenangan bertahun-tahun silam.
Yanfei yang berdiri di samping ibunya memperhatikan ekspresi itu, lalu bertanya dengan nada lembut, “Ibu, apa yang membuat Ibu berkata begitu? Apa yang berubah pada A Min sehingga Ibu sampai mengatakannya seperti itu?”
Nyonya Duan menarik napas panjang, lalu mengalihkan pandangannya ke arah putrinya. “A Min… dia yang kumaksud itu. Lihatlah perjalanannya selama ini. Dari seorang gadis kecil yang sering dipandang sebelah mata hanya karena latar belakang keluarganya, kini berdiri tegak dengan gelar Putri yang dihormati oleh seluruh rakyat dan bangsawan di ibu kota. Dia tumbuh dengan sangat baik, menjaga hatinya tetap bersih dan tidak tergoda oleh kemewahan atau kekuasaan yang baru didapatkannya. Itu bukan hal yang mudah, Fei Fei.”
Mendengar penjelasan itu, Yanfei tersenyum tipis, lalu segera merangkul lengan ibunya dan mengandengnya dengan gerakan yang sangat manja, persis seperti yang ia lakukan saat masih berusia sepuluh tahun. “Kalau begitu, Putri Ibu ini juga tumbuh dengan baik, bukan? Aku juga berusaha menjaga sikap dan hati sebagaimana yang Ibu ajarkan selama ini.”
Melihat tingkah laku putrinya itu, Nyonya Duan hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum kecil yang terasa sangat lega. Selama ini ia sempat berpikir, setelah melalui peristiwa pahit yang membuat putrinya pergi meninggalkan ibu kota selama bertahun-tahun, Yanfei akan kembali dengan sikap yang lebih kaku, dingin, dan hanya menjaga kesopanan serta keanggunan sebagai seorang bangsawan. Ia khawatir kesedihan yang mendalam itu akan mengubah sifat asli putrinya menjadi seseorang yang tertutup dan jauh dari kehangatan. Namun siapa sangka, begitu kembali ke rumah, Yanfei justru terlihat lebih santai, lebih tulus, bahkan menjadi lebih manja dan dekat dengan keluarganya dibandingkan sebelum ia pergi. Rasanya semua kekhawatiran, kesedihan, dan beban pikiran yang selama ini membebani hati Nyonya Duan terasa sia-sia, namun sia-sia dalam arti yang paling membahagiakan.
“Dasar anak ini… selalu saja bisa membuat Ibu lupa dengan segala kekhawatiran,” ujar Nyonya Duan sambil menepuk lembut punggung tangan putrinya yang masih menggenggam lengannya. Matanya memancarkan rasa syukur yang mendalam.
“Ayo kita masuk ke dalam. Angin sore mulai terasa dingin, dan Ibu tidak boleh berdiri terlalu lama di luar,” ajak Yanfei sambil menarik ibunya melangkah masuk kembali ke dalam kediaman.
Saat keduanya melangkah melewati pintu utama yang besar itu, Nyonya Duan sempat berhenti sejenak dan melirik ke arah halaman yang mulai sepi. Dalam hatinya, ia menyadari satu hal: mengingat status dan kedudukan yang kini disandang Yan Xumin sebagai Putri Qingyan, sebenarnya sudah menjadi kebiasaan dan tata krama yang tepat jika ia diantar secara pribadi hingga ke dalam keretanya oleh kepala keluarga atau pemilik kediaman ini. Namun, karena hubungan yang terjalin bukan lagi sekadar hubungan antara tamu dan tuan rumah, melainkan sudah seperti hubungan keluarga sendiri, hal-hal resmi dan kaku itu tidak lagi diutamakan. Xumin sendiri tidak akan merasa terganggu atau tersinggung, justru sebaliknya, ia akan merasa lebih nyaman dengan cara yang sederhana dan akrab seperti ini.
Mereka berjalan menyusuri koridor yang luas dan diterangi oleh cahaya lampu minyak yang sudah dinyalakan. Suasana di dalam kediaman terasa hening namun hangat, berbeda dengan hiruk-pikuk di luar sana. Para pelayan yang berpapasan hanya membungkuk hormat dan melanjutkan pekerjaannya dengan tenang, tidak berani mengganggu momen kebersamaan antara ibu dan anak itu.
Sesampainya di ruang tengah yang lebih pribadi, Nyonya Duan duduk di kursi empuk yang dilapisi kain sutra, sementara Yanfei duduk tepat di sampingnya, tidak lagi mempertahankan jarak yang biasa dilakukan dalam acara resmi.
“Fei Fei, Ibu ingin bertanya satu hal,” kata Nyonya Duan sambil menatap wajah putrinya dengan pandangan yang penuh perhatian. “Selama A Min berkunjung tadi, kau terlihat sangat senang dan bebas. Apakah kehadirannya membuatmu merasa seperti masa-masa sebelum semua hal buruk itu terjadi?”
Yanfei terdiam sejenak, lalu mengangguk perlahan. “Benar, Bu. Bersama A Min, aku tidak perlu berpura-pura menjadi nona muda yang anggun dan tenang sepanjang waktu. Aku bisa tertawa, mengeluh, bahkan bercanda sesuka hati. Dia adalah satu dari sedikit orang yang mengenalku sepenuhnya, baik kelebihan maupun kekuranganku, dan tetap menerima aku apa adanya. Melihatnya tumbuh menjadi wanita yang baik dan kuat, rasanya juga membuat hatiku merasa lebih tenang. Seolah-olah ada satu hal yang tetap berjalan baik di tengah banyaknya perubahan yang terjadi.”
Nyonya Duan menghela napas panjang, lalu merangkul bahu putrinya dengan lembut. “Ibu mengerti. Persahabatan yang terjalin sejak masa kanak-kanak itu memang jarang sekali bisa bertahan hingga dewasa, apalagi di tengah lingkungan ini di mana setiap orang memiliki kepentingan masing-masing. Namun, A Min membuktikan bahwa meski status dan kedudukan berubah, hati yang tulus tidak akan ikut berubah. Dia beruntung memiliki kesempatan untuk membuktikan kemampuannya di hadapan Kaisar, tapi yang lebih penting adalah dia tidak menyalahgunakan kesempatan itu untuk merendahkan orang lain atau melupakan siapa dirinya dulu.”
“Benar kata Ibu,” jawab Yanfei sambil menyandarkan kepalanya di bahu ibunya. “Dulu banyak orang meremehkan dia hanya karena ayahnya seorang pedagang. Mereka mengira dia tidak memiliki sopan santun atau kecerdasan yang cukup. Tapi lihatlah sekarang, dia yang justru mengajarkan banyak orang tentang arti kesabaran, kebaikan, dan ketekunan. Jika saja orang-orang itu bisa melihat hatinya yang sebenarnya, mereka pasti akan malu dengan prasangka buruk yang mereka miliki selama ini.”
Sambil mengobrol, Li Xia masuk membawa nampan berisi teh hangat dan beberapa potong kue yang tersisa dari jamuan makan siang tadi. Ia meletakkannya di atas meja rendah di hadapan mereka, lalu berdiri dengan sopan di sudut ruangan, siap melayani jika diperlukan.
“Li Xia, kau juga sudah melihat bagaimana keadaan A Min sekarang, bukan?” tanya Nyonya Duan kepada pelayan setianya itu.
Li Xia mengangguk dengan senyum hormat. “Benar, Nyonya. Saya sudah melihatnya sejak ia masih kecil. Perubahannya sangat mencolok, namun kebaikannya tetap sama. Sebagai pelayan yang melihatnya tumbuh, saya pun merasa sangat bangga. Dia selalu ingat nama-nama pelayan lama, bertanya kabar kami, dan tidak pernah memerintah dengan nada kasar meski kini ia memiliki banyak orang yang bekerja untuknya. Memang benar, keberuntungan saja tidak cukup untuk mencapai posisi itu tanpa diimbangi dengan sikap yang baik.”
Mendengar penjelasan itu, Nyonya Duan dan Yanfei saling berpandangan dan tersenyum. Di ibu kota yang penuh dengan intrik dan persaingan, mempertahankan kebaikan hati sambil menaiki tangga kekuasaan adalah hal yang paling sulit. Banyak orang berubah menjadi sombong, kejam, atau penuh kecurigaan begitu mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan. Namun, Yan Xumin berhasil melewatinya dengan tetap menjadi dirinya sendiri.
“Kau tahu, Fei Fei,” lanjut Nyonya Duan perlahan, “ketika Kaisar menganugerahkan gelar kepadanya, banyak orang mengira itu hanya keberuntungan semata atau karena ada dukungan dari pihak tertentu. Namun, mereka tidak tahu berapa banyak kesulitan yang harus ia lalui. Sebagai putri pedagang yang baru naik pangkat, ia menghadapi banyak cemoohan, ujian, dan tugas-tugas berat yang diberikan kepadanya hanya untuk menguji apakah ia benar-benar layak. Jika ia memiliki hati yang lemah atau mudah tersinggung, ia pasti sudah terjatuh jauh sebelum bisa berdiri tegak seperti sekarang.”
“Karena itulah aku katakan dia beruntung, bukan hanya karena mendapatkan gelar, tapi karena ia memiliki kekuatan hati untuk mempertahankan dirinya sendiri,” tambah Nyonya Duan sambil mengangkat cangkir tehnya dan menyesapnya perlahan.
Yanfei mengangguk setuju. “Dan beruntung juga bagi kami, Bu. Karena meski posisinya kini lebih tinggi, ia tidak pernah melupakan kediaman ini dan orang-orang yang pernah mendukungnya. Kehadirannya membuat rumah ini terasa lebih hidup, dan rasanya seolah masa-masa indah itu kembali lagi.”
Malam mulai turun menyelimuti seluruh kota, dan cahaya lampu semakin terang menyala di setiap sudut ruangan. Di dalam kediaman keluarga Duan, suasana tetap tenang dan damai. Meskipun Yan Xumin sudah pulang, kehangatan yang ia bawa seolah masih terasa menempel di udara.
Nyonya Duan menatap putrinya yang kini terlihat lebih tenang dan bersemangat dibandingkan saat baru tiba beberapa hari yang lalu. Dalam hatinya, ia bersyukur bahwa pertemuan itu membawa dampak yang baik bagi keduanya. Nasib memang sering kali tidak bisa ditebak, namun apa pun yang terjadi, selama seseorang tetap memegang teguh kebaikan dan tidak melupakan asal-usulnya, maka perjalanan hidupnya akan selalu membawa kebahagiaan bagi dirinya dan orang-orang di sekitarnya.
“Sudah larut, Fei Fei. Sebaiknya kau beristirahat lebih awal malam ini. Besok kita akan menyusun rencana untuk mengunjungi kediaman A Min, sebagai balasan atas kunjungannya hari ini,” kata Nyonya Duan sambil menepuk lembut lengan putrinya.
“Baik, Bu. Aku akan mengikuti saran Ibu,” jawab Yanfei sambil berdiri dan membantu ibunya berdiri juga.
Mereka berjalan menuju kamar masing-masing dengan hati yang tenang. Di luar, bintang-bintang mulai terlihat berkelap-kelip di langit malam, seolah menyaksikan bagaimana dua sahabat dan dua keluarga itu menjalin ikatan yang tak terputus oleh waktu, status, atau jarak.