NovelToon NovelToon
Ustadzah Pengganti Pengantin

Ustadzah Pengganti Pengantin

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Malam yang seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi Adrian berubah menjadi mimpi buruk ketika ia mendapat kabar bahwa calon istrinya, Liana, mengalami kecelakaan fatal. Saat tiba di lokasi kejadian, Adrian terkejut menemukan Liana meninggal bersama seorang pria bernama Jamie, yang ternyata adalah kekasih Fatma.
Fatma, seorang ustadzah yang salehah, hancur mengetahui pria yang dicintainya telah berselingkuh dengan wanita yang bahkan tidak dikenalnya. Di tengah duka dan amarah, Adrian melampiaskan kesalahannya kepada Fatma dan menuduhnya tidak mampu menjaga Jamie. Meski Fatma menegaskan bahwa dirinya juga korban pengkhianatan, Adrian yang dipenuhi emosi membuat keputusan nekat: pada malam yang sama ia memaksa Fatma untuk menjadi istrinya.
Dari tragedi yang menyatukan dua hati yang sama-sama terluka, dimulailah kisah penuh konflik, luka, dan takdir yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Keesokan paginya, matahari baru saja menyembul di ufuk timur, namun ketenangan pagi itu langsung terkoyak.

Byurrr!

Satu ember air dingin disiramkan Adrian dengan kasar tepat ke wajah Fatma yang masih terikat di tiang ranjang.

Fatma tersentak hebat, terbangun dari pingsan dan tidurnya yang penuh siksaan.

Ia terbatuk-batuk, mengatur napasnya yang tersengal-sengal karena air dingin sempat menyumbat hidung dan tenggorokannya.

Tubuhnya yang penuh luka lebam akibat cambukan semalam seketika menggigil hebat.

Tanpa belas kasihan, Adrian maju dan merenggut tali yang mengikat tangan dan kaki Fatma.

Ia membuka ikatan istrinya dengan gerakan kasar hingga membuat pergelangan tangan Fatma yang lecet kembali terasa perih.

"Ayo bangun! Karena pagi ini kamu harus membersihkan seluruh rumah ini!" perintah Adrian sambil menatap Fatma dari atas dengan pandangan menghina.

Fatma mencoba menggerakkan tubuhnya yang kaku.

Rasa linu menjalar di setiap jengkal kulitnya. Dengan suara parau dan bibir yang masih pecah berdarah, ia mendongak memohon.

"M-Mas, tolong izinkan aku untuk sholat subuh dulu. Waktunya hampir habis..."

Adrian berdecak pinggang, wajahnya berkerut sinis.

"Sholat, sholat saja yang ada di pikiranmu itu!"

"Astaghfirullah, Mas. Sholat itu kewajiban kita sebagai Muslim," lirih Fatma, mencoba mengingatkan suaminya dengan sisa-sisa ketegaran yang ia miliki.

"Kewajiban?" Adrian mencengkeram rahang Fatma dengan kuat, memaksanya menatap mata elangnya yang tajam.

"Kewajibanmu sekarang adalah patuh dengan suamimu! Paham?!"

Drrr... Drrr... Drrr...

Perdebatan kejam itu terputus oleh suara getaran ponsel Fatma yang tergeletak di dalam tas di sudut meja.

Di layarnya, tertera nama yang membuat dada Fatma berdesir perih: Abah.

Adrian langsung menyambar ponsel tersebut, melihat layarnya, lalu menyodorkannya ke depan wajah Fatma.

Tatapan Adrian mendadak berubah menjadi penuh ancaman yang mematikan.

"Angkat. Dan ingat, jangan bicara macam-macam kalau kamu masih sayang dengan nyawa orang tuamu dan pesantren itu," bisik Adrian kejam.

Fatma menahan napas, air matanya menggenang.

Dengan tubuh yang gemetar menahan sakit dan ketakutan, ia menganggukkan kepalanya pasrah.

Fatma menarik napas dalam-dalam, mencoba menormalkan suaranya yang serak agar tidak menimbulkan kecurigaan di hati sang ayah.

Dengan jemari gemetar, ia menggeser tombol hijau pada layar ponselnya.

"Assalamualaikum, Abah..." ucap Fatma, berusaha menyelipkan nada ceria yang palsu di sela suaranya.

"Waalaikumsalam putriku," terdengar suara teduh dan berwibawa Abah dari seberang telepon, membawa kehangatan yang seketika membuat dada Fatma sesak menahan tangis.

"Bagaimana kabarmu di sana, Nduk? Apakah kamu baik-baik saja?"

Fatma melirik ke arah Adrian yang berdiri angkuh di depannya dengan tatapan mata yang mengunci pergerakannya.

Fatma menelan salivanya, menahan perih di sudut bibirnya yang pecah.

"Inggih Abah, Fatma dalam keadaan baik-baik saja di sini," jawab Fatma berbohong, hatinya menjerit meminta tolong namun logika menahannya demi keselamatan sang ayah.

"Alhamdulillah kalau begitu, Nduk. Begini, Fatma, nanti jam sembilan pagi, tolong gantikan Abah memberikan tausiah di kantor dinas pendidikan ya, Nduk? Abah mendadak harus menghadiri pertemuan ulama dan tidak bisa ditinggal. Kamu bisa, kan?" tanya Abah penuh harap.

Jantung Fatma berdegup kencang. Ia melirik Adrian, mencari isyarat apakah pria itu akan mengizinkannya keluar rumah atau tidak. Namun, mengingat tugas itu adalah amanah dari Abah dan menyangkut nama baik pesantren, Fatma tidak punya pilihan lain.

"I-nggih, Abah. Insya Allah Fatma bisa gantikan Abah," sahut Fatma dengan suara sedikit terbata.

"Terima kasih ya, Fatma. Jaga dirimu baik-baik di sana. Besok atau lusa, Abah dan Umi akan ke rumahmu untuk menjengukmu," ucap Abah memungkasi obrolan.

Mendengar kalimat terakhir Abah, tubuh Fatma seketika menegang. Besok atau lusa? Bagaimana jika Abah dan Umi melihat kondisinya yang penuh luka lebam seperti ini?

Begitu sambungan telepon terputus, Adrian langsung merebut ponsel itu dari tangan Fatma dan melemparnya ke ranjang.

Wajahnya menggelap, dipenuhi rasa curiga yang membakar dadanya.

"Bagus sekali, istriku," desis Adrian sinis.

Tanpa peringatan, tangan kekarnya bergerak maju dan menjambak rambut panjang Fatma hingga kepala wanita itu terdongak paksa.

"Tausiah? Apakah ini rencana busukmu agar kamu bisa keluar dan kabur dari rumah ini, hah?!"

"Demi Allah, Mas. Aku baru tahu sekarang. Abah mendadak memintaku karena beliau ada urusan," rintih Fatma, memegangi tangan Adrian yang mencengkeram rambutnya, mencoba mengurangi rasa sakit yang menjalar di kulit kepalanya.

Adrian menatap tajam mata Fatma, mencari kebohongan di sana.

Setelah beberapa saat, ia menghempaskan kepala Fatma dengan kasar hingga wanita itu terhuyung.

"Aku akan mengizinkanmu pergi," ucap Adrian dengan senyum meremehkan.

"Tapi Bryan harus ikut bersamamu. Dia akan mengawasimu setiap detik. Dan ingat baik-baik, jangan pernah mengatakan kalau aku yang menyiksamu kepada siapa pun di luar sana. Pasang topengmu rapat-rapat. Sekali saja ada kata yang lolos dari mulutmu, aku akan meratakan pondok pesantren gede milik Abahmu itu!"

Ancaman itu membuat dada Fatma terasa sesak, seolah pasokan oksigen di sekitarnya mendadak hilang.

Memikirkan nasib Abah, Umi, dan ratusan santri di sana, Fatma hanya bisa pasrah.

"I-iya, Mas. aku berjanji," sahut Fatma dengan suara bergetar.

Ia menghapus air mata yang menetes di pipinya yang bengkak.

"Sekarang, boleh aku sholat subuh? Waktunya benar-benar sudah mau habis."

Adrian berdecak, menatapnya dengan pandangan muak.

"Hmm," gumamnya ketus sebagai tanda izin.

Namun sebelum melangkah pergi menuju pintu, Adrian berbalik dan menunjuk wajah Fatma dengan telunjuknya.

"Lekas buatkan aku kopi hitam dan bersihkan seluruh rumah ini sebelum kamu pergi entah kemana. Jangan sampai ada setitik debu pun saat aku memeriksanya nanti!"

Setelah menumpahkan perintahnya, Adrian melangkah keluar kamar dan membanting pintu, meninggalkan Fatma yang langsung luruh ke lantai, bergegas mengambil wudhu demi mengejar sisa waktu sholat subuh di tengah sisa-sisa tenaganya yang kian terkuras.

Usai menunaikan sholat subuh dengan penuh air mata, Fatma bergegas ke dapur dengan tubuh yang masih terasa linu.

Ia membuatkan secangkir kopi hitam pekat tanpa gula, persis seperti yang diinginkan suaminya.

Dengan tangan gemetar, ia membawa cangkir tersebut kembali ke kamar atas.

Saat Fatma melangkah masuk, Adrian sudah menunggu di dekat meja rias. Begitu cangkir kopi diletakkan di atas meja, Adrian tidak menyentuhnya.

Pria itu justru meraih beberapa lembar kertas dari dalam lacinya dan melemparnya dengan kasar ke arah dada Fatma.

Lembaran kertas itu berhamburan di atas lantai.

"Tanda tangani itu!" perintah Adrian, suaranya sedingin es.

"Itu adalah kontrak pernikahan kita. Pernikahan ini hanya sebuah panggung sandiwara sampai aku merasa puas membalas seluruh dendamku atas kematian Liana kepadamu."

Fatma berlutut dengan perlahan, memungut lembaran kertas tersebut dengan jari-jemari yang bergetar.

Dengan pandangan yang agak kabur karena sisa air mata, ia membaca baris demi baris poin yang tertera di sana.

Di dalam kontrak tersebut, tertulis dengan sangat jelas bahwa tidak akan ada hubungan kontak fisik (hubungan suami-istri) dalam bentuk apa pun di antara mereka berdua.

Berikut adalah isi 10 poin kontrak pernikahan kejam yang diajukan oleh Adrian:

SURAT KONTRAK PERNIKAHAN

Status Pernikahan Palsu

Pernikahan ini hanya sah di atas kertas dan di depan publik demi menjaga nama baik serta reputasi bisnis keluarga Adrian. Di dalam rumah, hubungan keduanya adalah sebatas tuan rumah dan tawanan.

Larangan Kontak Fisik

Tidak boleh ada hubungan kontak fisik, keintiman, atau hubungan biologis layaknya suami-istri di antara Adrian dan Fatma. Adrian tidak akan sudi menyentuh Fatma sebagai seorang istri.

Masa Berlaku Kontrak

Kontrak ini berlaku tanpa batas waktu yang ditentukan, sampai Adrian merasa puas membalas dendam dan menghukum Fatma atas hancurnya masa depannya bersama Liana.

Kewajiban Menjadi Pelayan

Fatma wajib mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tangga sendirian—mulai dari memasak, membuat kopi, hingga membersihkan rumah—tanpa bantuan asisten rumah tangga.

Kepatuhan Mutlak tanpa Bantahan

Fatma harus mematuhi setiap perintah, makian, ataupun hukuman yang diberikan oleh Adrian tanpa hak untuk membela diri atau membalas.

Pembatasan Ruang Gerak dan Isolasi

Fatma dilarang keluar dari rumah atau bepergian tanpa izin tertulis dari Adrian. Jika diizinkan keluar, Fatma wajib berada di bawah pengawasan ketat oleh Bryan atau anak buah Adrian lainnya.

Larangan Membuka Aib (Menjaga Rahasia)

Fatma dilarang keras menceritakan perlakuan Adrian, luka fisik, maupun kondisi rumah tangga mereka kepada siapa pun, termasuk kepada Abah, Umi, keluarga pesantren, maupun media.

Sandiwara di Depan Publik

Saat berada di depan keluarga besar Adrian atau di depan umum, Fatma wajib berakting sebagai istri yang bahagia dan patuh, guna menutupi apa yang terjadi di dalam rumah.

Ancaman terhadap Pesantren Abah

Jika Fatma melanggar salah satu poin dalam kontrak ini atau mencoba melarikan diri, Adrian memiliki hak penuh untuk menghancurkan dan meratakan Pondok Pesantren milik Abah Fatma.

Penafian Hak Nafkah dan Finansial

Fatma tidak berhak menuntut nafkah batin, nafkah lahir berupa uang belanja pribadi, ataupun harta gono-gini dalam bentuk apa pun dari kekayaan Adrian selama atau setelah masa kontrak ini.

"Tanda tangani sekarang!" bentak Adrian lagi, menyodorkan sebuah pena ke hadapan Fatma yang masih bersimpuh di lantai.

Fatma menatap surat kontrak yang begitu menindas tersebut.

Mengetahui bahwa poin kedua menegaskan tidak akan ada kontak fisik di antara mereka, ada secercah rasa lega yang miris di hatinya—setidaknya kehormatannya sebagai seorang wanita muslimah tidak akan direnggut oleh pria yang penuh dendam ini. Namun, poin-poin lainnya siap merantai hidupnya dalam penderitaan yang panjang.

Demi melindungi Abah dan pesantrennya, Fatma perlahan meraih pena tersebut dengan tangan gemetar.

1
ahs@
sakit jiwa,c adrian....
ahs@
Adrian stress... melampiaskan kekesalannya kepada fatma yang tidak tahu apa" .Liana sendiri yang selingkuh dengan Jamie..
falea sezi
mau like kasih hadiah yo males
falea sezi
🤣🤣 uda di aniyaya tp di beri kesempatan 🤣🤣 maaf ya thor. pantes like sepi wong goblok
falea sezi
males MC nya oon skip aja😒 emosi q liat cwek bloon lulusan pesantren tp goblok
falea sezi
goblok klo. uda. ketauan belangnya jangan ampe balikan mending crrai😒
falea sezi
🤣 orang gila cari tau dlu calon istri mu yg gatel nyalahin orang😒
Soviani
lanjut up ny
sri hastuti
huuhh goblok banget sih fatma ini, mau mati ya, sdh bongkar aja kejahatan suamimu, bikin jengkel, jd wanita jangan ngalah terus, km gak salah, ayolah thor kelamaan, cepet dibongkar kejahatan Adrian 😡😡😡
sri hastuti
huuh pengen tak bunuh aja adrian thor, bikin jengkel aja, kelamaan thor ,bisa mati itu fàtma, 😡😡😡😡
sri hastuti
pie to ini,sdh gila si adrian,ah jd males aku, orang kok goblok dan kejam spt itu dibiarkan thor , huuhhh bikin 😡😡😡
keynara
si Adrian emang bener bener udah gila nyiksa Fatma tanpa ampun
Himna Mohamad
lanjut kk
keynara
la kasian Fatma nggak tau apa apa jadi sasaran dendam si Adrian duh ujian Fatma berat banget💪
lanjut thor🙏
sri hastuti
konyol ini adrian thor, huuhhh pengen tak pukul aja ,jd laki2 kok spt itu, gak mau trima kenyataan, dasar pengecut , 😡😡😡
bikin jengkel aja thor 😡😡
my name is pho: sabar kak🤭🙏
total 1 replies
sri hastuti
dasar Adrian konyol, yg selingkuh tunangannya kok gak mau trima, dasarr laki2 bego, malah memaksa orang lain, sdh gila dia 😡😡😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!