Kalian pasti pernah kan, seenggaknya sekali seumur hidup, rebahan di kamar sambil menatap langit-langit terus ngehayal: "Coba aja tidur doang bisa dapet duit, pasti gue udah jadi orang terkaya di dunia." Nah, hayalan konyol yang sering kita impikan pas lagi capek-capeknya hidup itu, mendadak jadi kenyataan buat Abdul. Pemuda miskin korban PHK ini doanya dikabulkan secara ajaib. Sekali merem, saldo banknya bertambah 10 juta. Makin nyenyak dia ngorok, makin triliunan uang yang masuk ke rekeningnya secara legal! Tapi ternyata, dapet duit cuma modal tidur itu gak sesantai kedengarannya. Karena gak pernah keluar rumah tapi mendadak kaya raya, Abdul langsung dicurigai satu kampung pelihara babi ngepet, digerebek warga pas lagi enak tidur, dikejar-kejar orang pajak, sampai didatangi mantan pacar yang dulu ninggalin pas lagi sayang-sayangnya, Ups!.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 SATU MILIAR DUA RATUS JUTA
Malam harinya, setelah lelah seharian mengawasi peletakan batu pertama dan berdiskusi dengan Cak Imron mengenai pasokan material, Abdul kembali menikmati tidur yang sangat pulas. Tubuhnya yang letih membuat kesadarannya tenggelam begitu cepat ke alam bawah sadar.
Di dalam mimpinya kali ini, Abdul mendapati dirinya berada di dalam sebuah aula hotel bintang lima yang megah dengan lampu-lampu kristal gantung yang mewah. Suasana di dalam ruangan tampak semi-formal, dipenuhi oleh orang-orang berpakaian jas rapi yang duduk menghadap ke sebuah panggung besar.
Di atas panggung, seorang pria paruh baya memegang palu kayu sambil menunjuk ke arah layar proyektor raksasa yang menampilkan foto sebuah kompleks gedung tua bernilai historis tinggi di pusat kota.
"Lelang untuk kompleks properti lama ini dibuka di angka satu miliar rupiah! Apakah ada penawaran?" seru sang pelelang dengan suara lantang gema ke seluruh ruangan.
Abdul, yang di dalam mimpi itu duduk di barisan paling depan dengan setelan jas hitam yang sangat pas di tubuhnya, mengangkat papan nomor pesertanya tanpa ragu sedikit pun. "Satu miliar dua ratus juta rupiah!"
Tok! Tok! Tok!
Pelelang mengetok palunya tiga kali dengan cepat di atas meja kayu. "Sah! Selamat kepada Tuan Abdul, kompleks properti resmi menjadi milik Anda!"
Sementara itu, di dunia nyata, jarum jam dinding di kamar Abdul baru saja menunjukkan pukul 04:50 subuh. Di atas meja kecil tepat di samping bantalnya, layar handphone android baru milik Abdul tiba-tiba menyala dengan sendirinya dan memancarkan cahaya keemasan yang redup. Deretan teks sistem berwarna putih bercahaya mulai mengetik secara otomatis dengan kecepatan tinggi di atas layar ponselnya:
[Sistem Keberuntungan Kaum Rebahan Berhasil Memindai Gelombang Otak Subjek.]
[Mimpi Alami Berunsur Finansial Terdeteksi: Memenangkan Lelang Properti.]
[Nominal Akumulasi Visual dalam Mimpi: Rp1.200.000,00.00.]
[Melakukan Konversi Energi Astral Mimpi Menjadi Saldo Rekening Nyata...]
[Proses Konversi Selesai. Mengirimkan Dana ke Rekening Target...]
Cahaya keemasan itu memudar dengan cepat, disusul suara getaran halus dari SMS perbankan yang masuk ke ponsel Abdul.
Bzzzt.
Abdul langsung terjaga begitu mendengar getaran tersebut. Sisa-sisa ingatan tentang ketukan palu lelang senilai miliaran rupiah masih tergambar jelas di kepalanya. Dengan jantung yang berdegup cepat, ia meraih ponselnya dan membuka pesan masuk yang baru saja tiba.
[Bank Suka: Transaksi Uang Masuk Otomatis Rp1.200.000.000,00. Saldo Akhir Anda:......]
Abdul buru-buru membuka aplikasi mobile banking Bank Suka untuk memastikan total dana keseluruhannya. Begitu angka digital di layarnya muncul, napas Abdul sempat tercekat selama beberapa detik di atas kasur lantainya.
"Hah... saldoku sekarang beneran udah lewat dari satu miliar," bisik Abdul dengan mata membelalak lebar, menatap deretan angka nol yang berjejer panjang di rekeningnya.
Ia terduduk diam, mencoba mencerna keajaiban yang terus-menerus mendatangi hidupnya. "Uang sebanyak ini... Tuhan bener-bener nitipin berkah ini lewat mimpi. Dan aku tahu persis uang ini harus dipakai buat apa sekarang."
Setelah subuh, paginya Abdul langsung menemui Cak Imron di lokasi proyek rumah pribadinya yang baru berjalan dua hari. Di sebuah gubuk darurat tempat para pekerja beristirahat, Abdul mengajak Cak Imron duduk berdua untuk mengobrol serius.
"Cak, proyek rumah sama konveksi kan udah jalan lancar. Sekarang, aku mau minta tolong satu hal lagi yang gak kalah penting. Tolong buatin rancangan desain dan cetak biru baru buat renovasi total Panti Asuhan Harapan Bunda," ucap Abdul tanpa basa-basi.
Cak Imron yang sedang memegang gelas kopi hitamnya langsung tertegun, matanya menatap Abdul dengan pandangan tidak percaya. "Hah? Serius kamu, Dul? Renovasi total panti itu kan butuh biaya besar banget, bisa ratusan juta!"
"Urusan dana, kamu gak usah pusing, Cak. Donatur misterius yang kemarin ngirim sembako udah nyiapin dana penuh di aku. Tapi inget, syaratnya tetep sama: identitas donatur ini harus dirahasiakan rapat-rapat dari siapa pun, termasuk dari Bu Aminah," jelas Abdul dengan nada serius.
Cak Imron tersenyum lebar sambil menepuk pundak Abdul. "Luar biasa! Siap, Dul. Nanti siang aku panggil arsitek langgananku buat dateng ke panti. Kita ukur diam-diam dari luar dan bikin denah bangunannya yang megah sekalian."
Siang harinya, kendala baru justru muncul di luar perkiraan mereka. Arsitek suruhan Cak Imron yang bertugas merancang denah panti asuhan menemuinya dengan wajah yang tampak bingung sambil membawa beberapa lembar kertas sketsa kasar. Abdul yang ikut memantau dari jauh langsung bergabung dalam obrolan darurat di dekat mobil proyek Cak Imron.
"Gini, Mas Abdul, Cak Imron," buka sang arsitek sambil membentangkan sketsanya di atas kap mobil. "Saya udah coba bikin rancangan terbaik sesuai standar panti asuhan modern. Saya mau bikin kamar tidur terpisah yang luas buat anak laki-laki dan perempuan, ruang belajar, sama ruang makan yang memadai. Tapi masalahnya, lahan asli panti asuhan itu sempit banget dan ngepas. Bentuknya memanjang ke belakang dan mentok sama batas tanah kosong milik tetangga di sisi kanan."
Cak Imron mengerutkan dahinya sambil melihat sketsa tersebut. "Waduh, kalau dipaksain pakai lahan yang ada sekarang, bangunannya jadi sempit dong? Anak-anak gak bakal punya halaman buat main nanti."
"Betul, Cak. Kalau mau dipaksain bangun fasilitas yang lengkap, kita terbentrok aturan batas tanah lama yang datanya agak ribet di kelurahan. Bisa-bisa nanti bangunan barunya memakan jalan umum kalau kita salah hitung," keluh sang arsitek lagi.
Abdul menatap sketsa bangunan tersebut, lalu mengalihkan pandangannya ke arah lahan kosong yang ditumbuhi ilalang tinggi tepat di sebelah kanan bangunan panti asuhan. Lahan kosong itu tampak tidak terurus, namun ukurannya cukup luas, hampir sama dengan luas tanah panti asuhan itu sendiri.
"Kalau lahan kosong di sebelah kanan panti itu ikut digabungin ke dalam desainnya, space-nya bakalan cukup gak?" tanya Abdul tiba-tiba sambil menunjuk lahan ilalang tersebut.
Sang arsitek langsung mengangguk dengan mata berbinar. "Wah, kalau tanah kosong itu ikut digabung, jangankan cuma kamar tidur layak, kita bahkan bisa bikin taman bermain anak-anak sama aula pertemuan yang luas di bagian tengah, Mas! Tapi kan tanah itu bukan punya panti?"
Abdul tersenyum tipis, memikirkan saldo rekening Bank Suka miliknya yang melimpah ruah berkat mimpi subuh tadi. "Urusan tanah itu biar jadi urusan aku. Cak Imron, tolong cari tahu sekarang juga siapa pemilik lahan kosong di sebelah panti itu. Hubungi orangnya, bilang kalau ada pembeli yang mau bayar tunai hari ini juga tanpa nawar. Pakai nama Cak Imron aja pas transaksi biar aman."
Cak Imron langsung bergerak cepat. Menggunakan jaringan kenalannya di kelurahan, hanya butuh waktu dua jam bagi mandor tersebut untuk menemukan sang pemilik tanah, yang ternyata adalah seorang warga luar daerah yang memang berniat menjual tanah tersebut sejak lama tetapi belum menemukan pembeli yang cocok.
Sore harinya, transaksi pembelian tanah kosong di sebelah panti asuhan itu selesai ditandatangani secara kilat melalui perantara Cak Imron dengan pembayaran tunai penuh dari dana yang disalurkan oleh Abdul. Tanah kosong seluas 400 meter persegi itu kini resmi dibeli dan langsung disumbangkan secara hukum ke atas nama yayasan Panti Asuhan Harapan Bunda tanpa ada satu pun orang yang tahu siapa penyandang dana aslinya.
Kembali ke gubuk proyek, sang arsitek tampak menggeleng-gelengkan kepalanya karena takjub melihat bagaimana masalah lahan yang rumit bisa diselesaikan oleh Abdul hanya dalam hitungan jam.
"Luar biasa, Mas Abdul. Sekarang tanahnya sudah meluas dua kali lipat. Saya bisa bebas merancang cetak biru bangunan panti ini jadi seperti istana mini yang sangat layak buat anak-anak," ujar sang arsitek dengan semangat baru yang membara, tangannya langsung lincah menggoreskan pensil di atas kertas gambar yang baru.
Abdul menatap sketsa rancangan panti asuhan yang mulai terbentuk dengan sempurna di atas meja. Rasa puas dan lega mengalir hangat di dalam dadanya. Hambatan ruang sempit yang sempat membingungkan timnya kini sirna seketika berkat keputusan instannya sore ini.
"Rancang yang terbaik, Mas," ucap Abdul sambil menepuk pundak arsitek tersebut. "Bikin tempat itu jadi rumah yang paling aman dan bikin anak-anak di sana bisa tersenyum lebar. Masalah biaya bangunan sama materialnya, semuanya sudah beres."