NovelToon NovelToon
Titik Nadir: Menyesal Setelah Kau Buang

Titik Nadir: Menyesal Setelah Kau Buang

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Balas Dendam
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Fluffy Dream

Tiga tahun lamanya Andini mencurahkan seluruh pengabdiannya sebagai istri saleha, namun ia justru dihempaskan ke titik terendah dalam hidupnya. Ia diusir tanpa membawa uang sepeser pun oleh Reno, suaminya sendiri, yang lebih memilih Siska karena pengakuan kehamilannya. Setelah kenyang menerima hinaan sebagai perempuan mandul yang sekadar menumpang hidup, Andini bersumpah untuk bangkit dari puing-puing kehancurannya.

Saat Andini akhirnya berhasil bertransformasi menjadi sosok wanita karier yang mandiri, elegan, dan sulit digapai, Reno datang kembali sambil merangkak penuh penyesalan. Namun, sebuah map cokelat yang telah disiapkan Andini siap meruntuhkan sisa-sisa kesombongan pria itu. Sebuah rahasia medis yang mencengangkan akhirnya terungkap: Reno sebenarnya mandul, dan anak yang selama ini ia puja-puja hanyalah buah dari pengkhianatan Siska. Inilah saatnya karma instan mulai bekerja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30: Detik Sebelum Puncak

Malam yang ditunggu-tunggu oleh dunia mode tanah air akhirnya tiba. Ballroom utama Ritz-Carlton Mega Kuningan disulap menjadi ruang pameran megah yang memadukan kemewahan modern dengan kehangatan instalasi seni alam. Ratusan lampu sorot berpendar temaram, menyinari panggung runway berbentuk huruf T yang dilapisi material kaca hitam mengilat. Pantulan dekorasi kelopak bunga melati dan rajutan sutra yang menggantung di plafon menambah kesan dramatis pada ruangan tersebut.

Perhelatan akbar berskala internasional bertajuk “The Metamorphosis of Woman” ini menjadi momen peluncuran koleksi eksklusif terbaru dari Nadir Label, sekaligus perayaan satu tahun berdirinya Andini’s Sanctuary. Barisan kursi terdepan atau front row tampak sesak oleh kehadiran para pesohor, kritikus mode ternama dari Paris dan Milan, pejabat kementerian, hingga pengusaha papan atas kolega bisnis Al-Fatih Group.

Di balik panggung (backstage), suasana terasa sibuk namun tetap teratur. Puluhan model internasional bertubuh semampai sedang dipoles oleh tim penata rias profesional. Aroma parfum premium, semprotan pengeras rambut, dan gesekan kain-kain mahal menyatu, menciptakan atmosfer yang memacu adrenalin bagi siapa pun di sana.

Di sebuah ruangan privat di sudut area belakang panggung, Andini Larasati berdiri tegak di depan cermin besar setinggi langit-langit. Ia tampak sangat memukau dalam balutan gaun haute couture rancangannya sendiri—sebuah gaun malam dari sutra organza putih gading dengan aksen bordir benang emas bermotif sayap kupu-kupu di sepanjang lengan dan punggungnya. Jilbab sutra yang dikenakannya tertata sangat rapi, memancarkan aura kesucian sekaligus ketegasan seorang pemimpin.

Tangan Andini terasa agak dingin, sebuah reaksi alami yang selalu muncul sebelum momen besar dimulai. Namun, kehangatan tiba-tiba menjalar saat sepasang lengan kekar memeluknya dari belakang dengan penuh kasih sayang. Farhan Al-Fatih menumpukan dagunya di pundak sang istri, menatap pantulan wajah Andini di cermin dengan binar mata penuh kekaguman dan cinta. Farhan tampil sangat gagah mengenakan setelan tuksedo hitam pekat dengan dasi kupu-kupu yang melingkar sempurna di kerah kemeja putihnya.

“Kamu adalah wanita tercantik di dunia malam ini, Andini Larasati Al-Fatih,” bisik Farhan dengan suara baritonnya yang lembut sembari mengecup pipi istrinya.

Andini tersenyum manis dan memegang tangan Farhan yang melingkar di perutnya. “Mas Farhan selalu tahu cara menenangkanku. Terima kasih sudah terus mendampingiku sampai di titik ini.”

“Ini adalah takhtamu, Sayang. Kamu sudah melangkah melewati badai yang begitu besar untuk bisa berdiri di sini. Malam ini, biarkan seluruh dunia melihat kekuatan dan keindahan jiwamu,” sahut Farhan dengan nada penuh kebanggaan.

Ketukan pintu memecah suasana privat mereka. Sarah muncul dengan wajah semringah namun tegang. “Ibu Andini, Pak Farhan, mohon maaf mengganggu. Acara akan dimulai dalam tiga menit. Pembawa acara sudah bersiap membuka panggung.”

“Baik, Sarah. Kami segera ke depan,” jawab Andini.

Farhan melepaskan pelukannya, lalu menuntun Andini keluar menuju barisan kursi VIP. Di barisan depan, Ibu Maryam sudah duduk sembari menggendong Baby Nadir yang mengenakan setelan jas mini yang sangat menggemaskan. Bayi mungil itu langsung mengoceh riang dan menggapai-gapai ke arah ibunya. Andini mengecup kening putranya sejenak sebelum duduk di samping Farhan, menggenggam erat jemari suaminya saat lampu utama ballroom mendadak padam sepenuhnya.

Alunan musik instrumental petikan kecapi yang berpadu dengan gesekan biola simfoni modern mulai mengalun megah, memecah keheningan. Lampu sorot satu per satu menyala, menyoroti langkah anggun model pertama yang membawakan koleksi pembuka Nadir Label. Desain kain yang merepresentasikan transisi dari kegelapan menuju kemurnian sukses memukau para tamu. Tepuk tangan riuh terus terdengar di setiap transisi model, menandakan kesuksesan besar bagi Andini.

Peragaan busana itu berjalan sempurna, sebuah pencapaian tertinggi dalam karier Andini sebagai desainer. Namun, tepat saat model terakhir kembali ke balik panggung dan pembawa acara bersiap memanggil Andini untuk naik ke panggung guna sesi grand finale, ponsel Farhan di saku jasnya bergetar intens.

Farhan merogoh ponselnya secara samar agar tidak mengganggu momentum. Sebuah nomor tidak dikenal dari wilayah hukum London tertera di layar. Meski biasanya ia mengabaikan panggilan saat acara penting, firasat buruk mendorongnya untuk menjawab.

“Ya, Farhan di sini,” bisik Farhan dengan nada sangat rendah.

Di ujung telepon, terdengar suara pria asing yang sangat tenang namun sarat ancaman dingin. Pria itu berbicara dalam bahasa Indonesia dengan logat elite yang kental.

“Selamat malam, Tuan Farhan Al-Fatih. Selamat atas kesuksesan luar biasa peragaan busana istri Anda malam ini,” ujar suara itu, diiringi denting es batu dalam gelas kaca.

Farhan mengernyit, rahangnya mendadak mengeras. “Siapa ini?”

Pria itu terkekeh pelan. “Anda mungkin belum mengenal saya, tapi bibi Anda, Sofia Al-Fatih, sangat mengenal saya sebelum seluruh asetnya disita di Singapura kemarin. Sebelum kehilangan segalanya, dia sempat menjual satu aset terakhir yang paling berharga kepadaku: seluruh draf blueprint pengembangan teknologi serat kain sutra anti-radiasi milik Nadir Label, beserta draf dokumen tender proyek CBD Menteng milik Al-Fatih Group.”

Jantung Farhan seolah berhenti berdetak sesaat. Informasi itu adalah rahasia dagang paling vital bagi masa depan perusahaannya.

“Perkenalkan, nama saya Adrian Wijaya, Direktur Utama Wijaya Corps,” lanjut suara itu, menyebutkan nama konglomerat rival abadi keluarga Al-Fatih. “Sampaikan salam saya pada istri cantikmu, Andini. Katakan padanya bahwa badai yang sesungguhnya baru saja dimulai. Sampai jumpa di ruang sidang korporasi minggu depan, Farhan.”

Sambungan diputus sepihak.

Di saat yang bersamaan, lampu utama kembali benderang. Pembawa acara meneriakkan nama Andini dengan suara gembira yang menggelegar. “Dan inilah dia, sosok jenius di balik keindahan malam ini... Kita sambut dengan tepuk tangan paling meriah, CEO Nadir Label, Ibu Andini Larasati Al-Fatih!”

Seluruh isi ballroom bergemuruh oleh standing ovation. Andini bangkit dengan senyuman paling bahagia, siap melangkah naik ke atas panggung untuk menerima penghormatan. Ia menoleh ke arah Farhan, berharap melihat senyum suaminya.

Namun, Andini tertegun. Di bawah cahaya lampu yang terang, wajah Farhan tampak pias dengan tatapan mata yang menegang penuh kewaspadaan. Sebuah tatapan yang langsung menyadarkan Andini bahwa di balik kemegahan takhta yang baru saja ia raih, sebuah bayangan musuh baru yang jauh lebih besar dan kejam kini tengah mengintai kehidupan mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!