NovelToon NovelToon
Kekasihku Datang Untuk Membunuhku

Kekasihku Datang Untuk Membunuhku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikah Kontrak / Anak Kembar / Iblis
Popularitas:478
Nilai: 5
Nama Author: Enzelynn

Lin Xiurong dahulu adalah putri manusia yang mati secara tragis karena dibunuh oleh kekasihnya sendiri, Yao Tian, akibat fitnah dan permainan takdir. Kebencian, cinta, dan luka yang tidak selesai membuatnya jatuh ke Alam Bawah. Di sana, ia tidak mati, tidak hidup, dan perlahan berubah menjadi iblis terkuat.

Ribuan tahun kemudian, Lin Xiurong berhasil membunuh Raja Iblis lama dan menjadi penguasa Alam Kegelapan. Semua makhluk takut padanya, tetapi tidak ada yang tahu bahwa penguasa paling kejam itu hanya menunggu satu orang: Yao Tian.

Namun, saat Yao Tian akhirnya datang, ia tidak datang sebagai kekasih yang mengingat janji lama. Ia datang sebagai murid Kaisar Dewa yang ditugaskan untuk membunuh Lin Xiurong.

Masalahnya, Lin Xiurong masih mencintainya.

Dan Yao Tian tidak ingat bahwa perempuan yang ingin ia bunuh adalah perempuan yang pernah ia cintai sampai mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Darah yang Membuka Segel

Lin Xiurong dibawa ke ruang penyembuhan yang sebenarnya lebih mirip ruang hukuman. Dindingnya terbuat dari batu merah tua yang menyerap jerit makhluk-makhluk tua. Di tengah ruangan ada ranjang batu hitam yang dipenuhi ukiran mantra neraka. Dulu tempat itu dipakai Juan Ling untuk memaksa iblis pemberontak bertahan hidup saat disiksa. Setelah Lin Xiurong mengambil alih takhta, ruangan itu tidak pernah digunakan lagi.

Malam itu, ruangan itu kembali menyala.

Lin Xiurong berbaring dengan wajah pucat. Kulitnya memang selalu pucat seperti giok, tetapi kali ini warnanya hampir transparan. Tanda phoenix di dahinya berkedip, kadang menyala merah, kadang padam seperti bara yang kehabisan napas.

Song Xiaolian menaruh tujuh mangkuk obat di sisi ranjang. Semuanya berbau pahit dan tajam. Qi An berdiri di pintu, tidak membiarkan siapa pun masuk selain mereka bertiga. Sementara Yao Tian berada di ujung ruangan, tangannya masih berlumur darah Lin Xiurong.

“Lukanya tidak tertutup,” kata Song Xiaolian setelah memeriksa dada Lin Xiurong. “Pemutus Roh bukan hanya menusuk tubuh. Ia membuka segel inti jiwa.”

Qi An menoleh tajam ke arah Yao Tian. “Aku sudah bilang harus membunuhnya.”

Yao Tian tidak membantah. Ia tidak punya hak. Pedang itu memang berasal dari tangannya. Sekalipun ia mengembalikannya sekarang, luka itu sudah terjadi.

Lin Xiurong membuka mata. “Berhenti menggonggong, Qi An. Kepalaku sakit.”

Qi An langsung diam. Kemarahan di wajahnya berubah menjadi kecemasan. “Yang Mulia...”

“Aku belum mati.”

“Justru itu yang membuatku khawatir. Jika kau mati, aku bisa menyeretmu kembali. Tapi jika jiwamu pecah, bahkan aku tidak tahu harus mencari potongan mana terlebih dahulu.”

Song Xiaolian menekan jari ke luka Lin Xiurong. Cahaya merah tua keluar dari sana, lalu berubah menjadi simbol-simbol kecil yang melayang di udara. Simbol itu bukan tulisan iblis, bukan tulisan dewa, dan bukan aksara manusia. Bentuknya seperti benang kusut yang terbakar.

Yao Tian melangkah maju tanpa sadar. Begitu melihat simbol itu, kepalanya terasa ditarik ke dalam lubang gelap. Ia melihat potongan gambar singkat: istana manusia, hujan, seorang perempuan berdiri di depan altar, dan dirinya sendiri menghunus pedang.

Ia memejamkan mata, tetapi gambarnya tidak hilang.

“Ini bukan luka biasa,” kata Song Xiaolian. “Ada segel yang sudah lama tertanam di tubuh Yang Mulia. Pemutus Roh membuka kulit luarnya.”

“Segel apa?” tanya Yao Tian.

Qi An menyahut dingin, “Pertanyaanmu terlalu banyak untuk pembunuh.”

Lin Xiurong menatap simbol yang melayang. Lama sekali ia tidak bicara. Ketika akhirnya bersuara, nada suaranya lebih pelan. “Kutukan.”

Song Xiaolian menoleh. “Yang Mulia tahu?”

“Aku selalu tahu ada sesuatu yang menahanku tetap hidup. Ribuan kali aku hampir mati, tetapi aku kembali. Aku kira itu karena dendamku terlalu keras kepala. Ternyata ada orang yang mengikatku.”

Yao Tian merasakan dada kirinya sakit. “Siapa?”

Lin Xiurong tersenyum samar. “Jika aku tahu, aku pasti sudah membunuhnya sejak dulu.”

Simbol-simbol itu berputar lebih cepat. Tiba-tiba salah satu benang cahaya melesat ke arah Yao Tian dan menempel di pergelangan tangannya. Ia tersentak. Di kulitnya muncul garis merah tipis seperti bekas ikatan.

Qi An langsung menghunus pedang. “Apa yang kau lakukan?”

“Aku tidak melakukan apa pun,” jawab Yao Tian.

Lin Xiurong menatap tanda di tangan pria itu. Wajahnya tidak terkejut, hanya tampak lelah. “Tentu saja. Takdir selalu punya selera humor yang buruk.”

Tanda merah di tangan Yao Tian menyala bersamaan dengan luka di dada Lin Xiurong. Setiap kali Lin Xiurong menarik napas, tanda itu ikut berdenyut. Setiap kali ia menahan sakit, Yao Tian merasakan nyeri yang sama. Ikatan itu bukan sekadar hubungan roh. Ia memindahkan rasa sakit, ingatan, dan emosi yang terlalu kuat untuk ditanggung sendiri.

Song Xiaolian memeriksa tanda itu dengan hati-hati. “Benang kutukan. Bukan benang jodoh.”

Yao Tian menatapnya. “Apa bedanya?”

“Benang jodoh mengikat dua orang agar bertemu. Benang kutukan mengikat dua orang agar saling menghancurkan.”

Ruangan menjadi sunyi.

Qi An menendang kursi batu sampai pecah. “Bagus. Jadi bahkan setelah ribuan tahun, kalian masih dikutuk untuk saling menyakiti. Kenapa tidak kita potong saja tangannya?”

Song Xiaolian menatapnya tajam. “Jika dipotong paksa, kutukan bisa balik menyerang Yang Mulia.”

“Kalau begitu potong kepalanya.”

“Qi An.” Lin Xiurong menyebut namanya dengan suara lemah, tetapi cukup membuat Qi An berhenti. “Aku tahu kau marah. Tapi kali ini, jangan bertindak sebelum aku memberi perintah.”

Qi An menunduk, meski jelas terlihat bahwa ia tidak rela. “Baik.”

Yao Tian menatap Lin Xiurong. “Apa yang harus kulakukan?”

Lin Xiurong memejamkan mata. “Biasanya aku akan menyuruhmu mati.”

“Dan sekarang?”

“Sekarang kalau kau mati, sakitnya mungkin pindah padaku.”

Yao Tian menunduk. “Maka aku akan hidup.”

Kalimat itu sederhana, tetapi terdengar seperti sumpah kecil. Lin Xiurong tidak membuka mata. Ia takut jika melihat wajah pria itu sekarang, sisa hatinya yang sudah ia kubur ribuan tahun akan bergerak lagi. Ia tidak mau percaya. Tidak secepat itu. Tidak hanya karena Yao Tian berkata akan hidup.

Song Xiaolian akhirnya menemukan cara menutup sementara luka Lin Xiurong. Dibutuhkan darah Phoenix Iblis dari tubuh Lin Xiurong dan tenaga dewa dari tubuh Yao Tian. Keduanya harus dicampur, lalu dialirkan kembali melalui mantra penyembuhan.

“Tidak,” kata Qi An langsung.

“Ini satu-satunya cara,” jawab Song Xiaolian.

“Aku tidak akan membiarkan darah Yang Mulia dicampur dengan darahnya.”

Lin Xiurong membuka mata sedikit. “Aku juga tidak suka. Tapi aku lebih tidak suka mati karena keras kepalamu.”

Qi An menggigit bibir sampai berdarah. Ia mundur selangkah. Song Xiaolian menyiapkan pisau kecil. Yao Tian mengulurkan tangan tanpa diminta.

Ketika darahnya bercampur dengan darah Lin Xiurong, cahaya merah dan biru saling menolak. Awalnya keduanya berputar liar, seperti dua binatang buas yang dipaksa masuk ke kandang yang sama. Lalu perlahan, sangat perlahan, mereka menyatu menjadi warna ungu gelap.

Lin Xiurong mengerang pelan saat cairan itu masuk ke lukanya. Yao Tian ikut menahan napas, merasakan sakit yang sama menembus dadanya. Rasa itu bukan hanya fisik. Ada kesedihan tua yang ikut terbuka, seperti pintu yang selama ini disegel.

Ia melihat Lin Xiurong di kehidupan manusia. Bukan sebagai Lord Devil, bukan sebagai raja yang kejam, tetapi sebagai gadis muda yang menunggu di tepi danau. Ia melihat dirinya datang terlambat. Ia melihat ketakutan di mata gadis itu ketika pedangnya mengarah ke dada.

Yao Tian tersentak. Darah keluar dari sudut bibirnya.

Lin Xiurong menoleh sedikit. “Kau melihatnya?”

Yao Tian menatapnya dengan mata yang sudah tidak setenang sebelumnya. “Sedikit.”

“Kalau begitu bersiaplah. Ingatan tidak pernah datang untuk menghibur. Ia datang untuk menagih.”

Luka di dada Lin Xiurong akhirnya menutup sebagian. Namun di udara, simbol kutukan masih melayang sebelum lenyap satu demi satu. Tanda di tangan Yao Tian tetap ada.

Di tempat jauh, di balik cermin hitam yang tidak diketahui siapa pun, seseorang tersenyum.

“Bagus,” bisik sosok itu. “Segelnya mulai terbuka.”

Setelah penyembuhan selesai, tidak ada seorang pun yang benar-benar beristirahat. Lin Xiurong tertidur dengan napas pendek, sementara Song Xiaolian duduk di sisi ranjang menghitung perubahan warna pada luka. Qi An berdiri di dekat jendela, mengamati bayangan di luar. Yao Tian duduk di lantai, punggungnya bersandar pada dinding batu, karena Qi An melarangnya memakai kursi.

“Dewa tidak butuh kursi,” kata Qi An sebelumnya.

Yao Tian tidak membantah. Ia terlalu lelah untuk mempertahankan martabat kecil seperti itu. Lagi pula, dibandingkan dengan luka yang baru ia buka pada Lin Xiurong, duduk di lantai adalah hukuman yang terlalu ringan.

Tanda merah di pergelangan tangannya belum padam. Garis itu kadang berdenyut bersama napas Lin Xiurong. Ketika perempuan itu gelisah dalam tidur, dada Yao Tian ikut sesak. Ketika jari Lin Xiurong mengepal, telapak tangan Yao Tian ikut terasa nyeri. Ikatan itu membuat mereka menjadi dua orang yang dipaksa berbagi ruangan di dalam tubuh yang berbeda.

Yao Tian memejamkan mata. Pecahan ingatan masih datang. Lin Xiurong sebagai putri manusia. Lin Xiurong berlari di lorong istana dengan napas ketakutan. Lin Xiurong memandangnya seolah ia adalah satu-satunya orang yang seharusnya percaya. Lalu pedang. Darah. Pertanyaan yang tidak pernah ia jawab.

“Jangan pura-pura tersiksa,” suara Qi An memecah keheningan. “Yang Mulia sudah hidup dengan semua itu jauh lebih lama darimu.”

“Aku tahu,” jawab Yao Tian.

“Kau tidak tahu. Kau baru melihat beberapa gambar dan sudah tampak seperti dunia runtuh. Dia mengalami dunia runtuh berkali-kali, lalu membangunnya sendiri dari tulang musuh.”

Yao Tian membuka mata. “Lalu apa yang kau inginkan dariku?”

Qi An menoleh. “Untuk saat ini? Hidup. Karena kalau kau mati, dia sakit. Setelah kutukan ini putus, aku akan memikirkan hal lain.”

Song Xiaolian menatap mereka. “Kalian berdua melelahkan.”

Di ranjang, Lin Xiurong tiba-tiba bergerak. Bibirnya mengucapkan nama yang nyaris tidak terdengar.

“Mo Yan...”

Tiga orang di ruangan itu langsung terdiam. Nama tersebut jatuh seperti batu ke dalam sumur gelap. Yao Tian merasakan tanda di tangannya terbakar. Qi An menggenggam pedang. Song Xiaolian memucat.

Mereka belum mengetahui siapa Mo Yan sepenuhnya, tetapi tubuh Lin Xiurong sudah mengenal ketakutannya lebih dulu.

1
anggita
ikut kasih like👍, iklan☝aja .
Carina Yuda: Makasih kak🙏
total 1 replies
Carina Yuda
😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!