Hidup Dara runtuh dalam satu hari.
Pekerjaannya hilang tanpa peringatan. Perusahaan tempatnya kerja kini terancam bangkrut dan harus mem-PHK semua karyawannya termasuk Dara. Kini Dara merasa hidupnya runtuh, karena disaat yang sama Ibunya sedang di rawat di rumah sakit dan butuh biaya yang sangat besar. Di titik terendahnya, Dara hanya punya dua pilihan: bertahan atau menyerah.
Kini Takdir membawanya ke sebuah perusahaan besar, di sana ia menjadi sekretaris pribadi seorang CEO dingin, perfeksionis, dan penuh rahasia.
Pria itu setelah di khianati mantan istrinya tidak lagi percaya pada cinta. Namun sejak kehadiran Dara, sekretaris baru yang berani, tulus, dan penuh tekad, kini hatinya mulai goyah.
Bagaimana kelanjutan kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22 : Kelakuan Aldi
Aldi baru saja selesai bermain voli pantai bersama beberapa staf ketika sebuah suara terdengar dari belakangnya.
"Aldi, ikut saya."
Aldi menoleh. Alexander berdiri beberapa meter darinya dengan ekspresi datar. Sudut bibir Aldi langsung terangkat. "Iya, Bos."
Tanpa banyak bicara, Alexander berjalan menuju area yang lebih sepi. Jauh dari para staf dan suara keramaian. Aldi mengikuti di belakangnya dengan santai.
Beberapa menit kemudian mereka berhenti di sebuah bagian pantai yang nyaris kosong. Suara ombak terdengar jelas. Angin sore berembus pelan.
Aldi memasukkan kedua tangannya ke saku celana. "Ada apa nih?"
Alexander menatap laut di depannya. "Sebenarnya lo mau ngapain kesini?"
Aldi tertawa kecil. "Kan tadi udah gue jelasin, masih nanya aja," Aldi terdiam sesaat. "Oh ya lo mau ngapain ngajak gue ngobrol jauh begini," lanjutnya.
Alexander tidak menjawan, dia hanya terdiam sambil terus memperhatikan air laut.
Aldi mulai mengerti, ia berbicara lagi. "Kalau lo ngajak gue ke tempat sepi begini, berarti ada yang mau dibahas."
Keheningan beberapa saat. Lalu Aldi akhirnya berbicara lebih dulu. "Lex... gue mau jujur, kayanya gue mulai suka sama Dara."
Angin pantai seolah berhenti sesaat. Namun ekspresi Alexander tidak berubah.
"Hm."
Aldi mengangkat alis. "Hm doang?"
"Terus, gue harus ngomong apa?"
Aldi tertawa pelan. "Minimal kaget kek."
Alexander tetap tenang. "Itu perasaan lo bukan urusan gue" Jawaban itu terdengar biasa saja.
Namun Aldi mengenal Alexander terlalu lama. Justru karena terlalu biasa, Aldi tahu ada sesuatu yang disembunyikan.
Pria itu menyipitkan mata. "Menurut lo Dara itu gimana?"
Alexander menoleh. "Maksud lo?"
"Kalau gue serius deketin dia, gimana?"
Tatapan Alexander berubah sedikit lebih dingin. "Dara berhak menentukan pilihannya sendiri." Jawaban diplomatis.
Aldi langsung tertawa. "Astaga."
"Apa?"
"Lo tau nggak?"
"Hm."
"Kalau orang lain yang ngomong kalimat itu, gue bakal percaya."
Alexander tidak menjawab.
Aldi menghela napas panjang. "Lagian jujur aja, Bos." Tatapannya mengarah ke laut. "Gue emang tertarik sama Dara."
Kali ini Alexander tidak langsung merespons. Karena sejak kejadian malam itu, ada satu hal yang terus memenuhi pikirannya. Dan entah kenapa, sekarang ia merasa perlu melindungi wanita itu dari apa pun.
Termasuk dari situasi yang bisa menyakitinya. Bahkan jika itu melibatkan sahabatnya sendiri. Aldi memperhatikan ekspresi Alexander beberapa saat.
Lalu tiba-tiba bertanya, hal lain padanya. "Ngomong-ngomong... gimana hubungan lo sama Sabrina?"
Keheningan kembali turun.
Aldi melanjutkan. "Bukannya Sabrina masih nolak buat pisah?"
Tatapan Alexander langsung berubah dingin. "Iya."
"Terus?"
"Gue akan tetap mengugat dia."
Aldi sedikit terkejut. Alexander jarang berbicara tegas soal kehidupan pribadinya. Namun kali ini berbeda.
"Gue udah ngumpulin cukup banyak bukti."
"Bukti?"
"Hm."
"Buat dipengadilan?"
Alexander mengangguk pelan.
Aldi terdiam. Untuk pertama kalinya sejak tadi senyumnya menghilang. Karena ia tahu Alexander bukan tipe pria yang membuat keputusan tanpa alasan. Jika sampai membawa semuanya ke pengadilan. Berarti masalahnya jauh lebih besar daripada yang ia bayangkan.
Beberapa saat kemudian Aldi menghela napas. "Oke. Kalau itu keputusan lo." Ia tersenyum tipis. "Gue sebagai sahabat cuma bisa dukung yang terbaik buat lo."
Keheningan kembali hadir.
Namun kali ini terasa jauh lebih ringan. Lalu Aldi kembali teringat sesuatu. "Oh iya. Gimana sama Tante Sandra?"
Rahang Alexander sedikit mengeras.
Aldi melanjutkan. "Bukannya Tante Sandra dukung Sabrina banget?"
Pertanyaan itu memang benar. Selama ini Ibu Sandra selalu menganggap Sabrina sebagai menantu terbaik. Bahkan jauh sebelum semua masalah muncul. Alexander menatap ombak yang menghantam bibir pantai.
Lalu menjawab dengan tenang. "Masalah itu biar gue yang urus."
Aldi mengangguk pelan. "Tante Sandra pasti nggak akan gampang nerima semua ini."
"Gue tahu."
"Dan Sabrina pasti nggak bakal tinggal diam," lanjut Aldi.
Tatapan Alexander berubah dingin. "Gue tahu itu resikonya."
Aldi menatap sahabatnya beberapa detik. Kemudian tersenyum tipis. "Kadang gue heran."
"Apa?"
"Lo keliatan tenang banget." Aldi tertawa kecil. "Padahal hidup lo lagi berantakan."
Kali ini Alexander justru tersenyum tipis. Namun cukup membuat Aldi terkejut. Karena senyum seperti itu sudah lama tidak ia lihat.
"Tapi..." Aldi melirik ke arah keramaian pantai di kejauhan.
Tatapannya berhenti pada sosok Dara yang sedang berbicara dengan Rina. Lalu ia kembali menatap Alexander.
"Kayaknya alasan lo menceraikan Sabrina udah mulai muncul ya."
Alexander mengikuti arah pandangannya. Dan tanpa sadar, matanya kembali berhenti pada Dara. Beberapa detik, cukup lama. Lalu ia berbalik.
"Jangan cari masalah, Aldi."
Aldi langsung tertawa keras. Karena itu bukan bantahan. Dan bagi Aldi, itu sudah menjadi jawaban yang sangat jelas. Aldi masih tertawa pelan setelah melihat Alexander berjalan beberapa langkah menjauh.
Namun rasa penasarannya belum hilang. "Lex!"
Alexander tidak berhenti.
"Lex, tunggu bentar."
Akhirnya Alexander menoleh dengan ekspresi datar.
"Apa lagi?"
Aldi menyeringai. "Jadi beneran nih? Lo nggak bolehin gue ngajak Dara jalan?"
Tatapan Alexander langsung berubah dingin.
Aldi malah semakin semangat. "Kenapa?"
"Nggak apa-apa."
"Bohong."
Alexander mengabaikannya.
Namun Aldi terus berjalan di sampingnya. "Lex."
Alexander hanya terdiam.
"Lex."
Ia masih diam.
"Lex," panggil Aldi lagi.
"Apa?" jawab Alexander akhirnya.
Aldi langsung tertawa puas karena akhirnya mendapat respons. "Dara itu cantik ya."
Alexander menatapnya.
"Dara itu baik ya," lanjut Aldi terlihat mengejeknya.
Tatapan Alexander semakin dingin.
"Dara juga lucu." Aldi masih melanjutkan, tanpa rasa takut pada Bos sekaligus sahabatnya itu.
"Aldi."
"Iya?"
"Diam!" tegas Alexander.
Aldi malah tertawa semakin keras. "Oke, berarti gue benar."
Alexander berhenti berjalan. "Apa yang benar?"
"Lo cemburu."
Keheningan langsung turun. Angin pantai berembus pelan.
Beberapa detik kemudian Alexander kembali berjalan seolah tidak mendengar apa pun.
Namun Aldi sudah mengenalnya terlalu lama. Jika Alexander benar-benar tidak peduli, pria itu pasti sudah membiarkannya sejak awal. Tidak akan ada aturan baru, tidak akan ada laporan mendadak. Dan yang paling penting, tidak akan ada percakapan pribadi seperti ini.
Aldi memasukkan kedua tangannya ke saku celana. "Jujur aja, Lex."
Alexander tetap berjalan.
"Dara itu tipe gue."
"Hm."
"Nah." Aldi menunjuk Alexander. "Itu respon yang bikin gue curiga."
Alexander menghela napas pelan. "Dara masih baru bekerja di perusahaan."
Aldi mengangkat alis. "Terus?"
"Jadi lo jangan macam-macam sama dia," suaranya terdengar sangat tegas.
Deg.
Kali ini senyum Aldi sedikit menghilang. Karena nada suara itu berbeda. Bukan suara seorang atasan yang sedang melindungi bawahannya. Melainkan suara seorang pria yang tidak ingin seseorang mendekati wanita yang dianggap penting.
Aldi memperhatikan wajah sahabatnya beberapa saat. Lalu perlahan tersenyum. "Oke."
Alexander menoleh. "Oke?"
Aldi mengangguk. "Kalau itu yang lo mau."
Keheningan kembali turun. Namun beberapa detik kemudian Aldi kembali membuka mulut.
"Walaupun begitu..."
Alexander langsung memiliki firasat buruk.
"Kalau Dara yang suka sama gue gimana?"
Rahang Alexander mengeras.
Aldi hampir tertawa melihat reaksinya. "Kan nggak mungkin gue nolak perasaan wanita secantik Dara."
"Aldi."
"Iya?"
"Lebih baik lo diem!"
"Hahaha!" Aldi langsung tertawa keras.
Sedangkan Alexander berbalik dan mulai berjalan meninggalkannya.
"Eh, Bos!"
Tidak ada jawaban.
"Lex!"
Alexander tetap berjalan.
"Bos!"
Masih tidak ada respons.
Aldi akhirnya menggeleng sambil tertawa sendiri. "Astaga..."
Ia menatap punggung sahabatnya yang semakin menjauh. "Bos yang satu itu memang ngeselin."
Namun beberapa detik kemudian senyumnya berubah tipis. Karena untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun. Ia melihat Alexander benar-benar tertarik pada seorang wanita. Dan entah kenapa, hal itu justru membuatnya merasa lega.
"Semoga aja lo nggak telat sadar, Lex," gumamnya pelan.
Sementara di kejauhan, Alexander kembali mengarahkan pandangannya ke arah Dara yang sedang tertawa bersama Rina. Dan tanpa disadari siapa pun, tatapannya bertahan jauh lebih lama daripada yang seharusnya.