NovelToon NovelToon
Twin Gus: A Love Story

Twin Gus: A Love Story

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Hantu / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

"Aku yang akan menikahi Zaskia, Abi."
"Apa kamu yakin?"
"Yakin Abi. Hanya Zaskia yang Aryan mau dan Zaskia cuma butuh aku saat ini."
***
"Gus itu terlalu galak!"
"Bukan saya yang galak, tapi kamu yang bebal dan sulit di atur!"

Kisah cinta dua Gus Kembar.
Zaskia diguna-guna oleh seorang laki-laki yang menggilainya, sihir itu akan musnah jika Zaskia menikah dan berhubungan dengan suaminya. Aryan yang menikahi Zaskia meski ia tau bahwa Zaskia tidak mencintai dirinya melainkan sahabatnya-Kafa. Lantaran Kafa mundur bak pengecut.

Sedangkan Kisah Gus Arshaf, yang sudah menyerah dengan sikap nakal santriwatinya, bernama Zayna. Juga tentang Zayna yang sudah kebal dengan kegalakan dan semua hukuman dari Gus-nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kia tau Kondisi Aryan

Zhafran yang baru saja tiba di depan ruangan dokter mendadak dihampiri seorang perawat.

“Maaf, Pak. Dokter yang bertugas sudah pulang dan baru akan kembali besok pagi.”

Informasi itu membuat Zhafran langsung merasa frustasi. Kepalanya mendadak pening. Apa yang harus dilakukan sekarang? Aryan tidak bisa mendengar, bagaimana mungkin?

“Apa gak ada dokter pengganti?” tanyanya lagi, berharap mendapat jawaban lain.

“Maaf, Pak. Tidak ada.”

Zhafran mengangguk pelan sambil mengucapkan terima kasih. Setelah itu ia berbalik dan berjalan gontai menyusuri lorong koridor rumah sakit yang terasa dingin dan sepi. Langkahnya berat, sementara pikirannya terus dipenuhi kecemasan.

Beberapa menit kemudian, Zhafran kembali memasuki ruang ICU.

Namun langkahnya langsung terhenti begitu melihat pemandangan di depan mata.

Zaskia sedang memeluk Aryan erat di atas brankar. Kepala laki-laki itu bersandar di dada istrinya, sementara kedua tangan Zaskia terus mengusap rambutnya lembut.

Hati Zhafran terasa nyeri.

“Kia…”

Zaskia membuka mata lalu menegakkan kepala saat mendengar suara ayahnya. Perempuan itu menatap Zhafran penuh harap.

“Dokternya udah pulang dan baru ada besok pagi.”

Deg!

Jantung Zaskia langsung mencelos. Tatapannya perlahan turun menatap Aryan yang masih memeluknya erat dengan mata terpejam.

Aryan bahkan tidak menyadari keberadaan Zhafran karena pendengarannya yang tidak lagi berfungsi dengan baik.

“Terus gimana, Yah?” tanya Zaskia lirih.

“Suruh Aryan istirahat dulu aja.”

Zaskia mengangguk pelan.

Dengan hati-hati ia mendorong bahu Aryan, melepaskan pelukan mereka perlahan. Gerakan itu membuat Aryan membuka mata. Tatapannya langsung tertuju pada wajah Zaskia, seolah meminta penjelasan kenapa perempuan itu menjauh.

“Kakak istirahat dulu ya,” ucap Zaskia lembut sambil membantu Aryan kembali berbaring.

Aryan akhirnya mengerti maksud istrinya.

Laki-laki itu kembali merebahkan tubuhnya perlahan di atas brankar. Zaskia kemudian mengecup kening Aryan lama sekali dengan hati yang terasa benar-benar remuk. Namun sekuat tenaga ia menahan tangis agar air matanya tidak jatuh mengenai wajah suaminya.

“Jangan tinggalin kakak, Kia…”

Aryan kembali menahan tangan Zaskia sesaat setelah perempuan itu menjauh.

Zaskia tersenyum manis meski matanya basah. “Iya, Kak. Kia di sini.”

Ia kembali duduk di kursi samping brankar lalu menangkup pipi Aryan lembut. Jemarinya membelai permukaan kulit laki-laki itu penuh kasih.

Aryan tersenyum lega. Tangannya perlahan naik menimpa tangan Zaskia di pipinya.

Di kejauhan, Zhafran memperhatikan semuanya dengan dada yang terasa sesak.

Apa yang harus ia lakukan agar putrinya terlepas dari semua kesedihan ini? Ia tidak tega melihat Zaskia berada dalam keadaan seperti sekarang.

Waktu terus berjalan.

Aryan akhirnya kembali terlelap setelah beberapa kali memastikan Zaskia masih berada di sampingnya.

Perlahan, Zaskia menarik tangannya dari genggaman Aryan. Setelah itu ia bangkit lalu berjalan menghampiri Zhafran yang duduk di sofa ruang tunggu.

“Ayah…”

“Udah tidur?” tanya Zhafran pelan.

Zaskia mengangguk.

“Tadi sebelum dokter pergi… dokter benar-benar gak ngomong apa-apa soal kondisi Kak Aryan?”

Zhafran tampak berpikir sejenak. Hingga akhirnya nama Arshaf terlintas di kepalanya.

Ia baru teringat ucapan Kafa tadi, bahwa Arshaf sempat dipanggil dokter sebelum semua orang masuk ke ruang ICU.

“Gak ada,” jawab Zhafran pelan. “Tapi kemungkinan Arshaf tau.”

“Kak Arshaf tau?”

“Iya. Soalnya tadi Kafa bilang kalau Arshaf dipanggil dokter ke ruangannya. Kemungkinan dokter udah jelasin kondisi Aryan ke dia.”

Wajah Zaskia langsung berubah tegang.

“Ayah tungguin Kak Aryan ya,” ucapnya buru-buru. “Biar Kia yang hubungi Kak Arshaf.”

“Iya.”

Zaskia segera keluar dari ruangan itu.

Setibanya di kursi tunggu koridor, ia langsung membuka ponsel dan menghubungi Arshaf. Jemarinya gemetar saat menunggu panggilan itu tersambung.

Tak lama kemudian telepon terangkat.

“Assalamu’alaikum, Kak. Kakak di mana? Tadi dokter bilang apa soal Kak Aryan? Kenapa Kak Aryan gak bisa dengar suara Kia? Jujur sama Kia sekarang, Kak. Kak Aryan kenapa?” Suara Zaskia terdengar panik dan bergetar.

Sementara itu, di rumahnya, Arshaf yang baru selesai membersihkan diri dan hendak kembali ke rumah sakit langsung membeku di ambang pintu kamar saat mendengar pertanyaan beruntun dari Zaskia.

Jantungnya berdetak keras.

Apa yang selama ini ia takutkan akhirnya benar-benar terjadi.

Zaskia menjadi orang pertama yang menyadari gangguan pendengaran Aryan.

“Jawab Kia, Kak!”

Arshaf tersentak lalu buru-buru menarik napas panjang mencoba menenangkan diri.

“Wa’alaikumsalam, Kia. Kamu tenang dulu ya. Kakak ke sana sekarang.”

“Jawab dulu! Kak Aryan kenapa?” suara Zaskia meninggi di tengah tangisnya. “Kakak ngerti bahasa Indonesia nggak sih? Jawab dulu pertanyaan Kia bisa nggak?!”

Arshaf memejamkan mata sesaat. Tangannya yang memegang ponsel terasa dingin mendadak. Ia tau, seberapa pun ia mencoba menghindar, cepat atau lambat Zaskia memang harus mengetahui semuanya.

“Kia…” suara Arshaf terdengar berat. “Kamu jangan panik dulu, ya?”

“Gimana Kia gak panik? Kak Aryan gak bisa dengar suara Kia!” tangis Zaskia pecah lagi. “Tadi Kia ngomong berkali-kali, tapi dia nggak denger apa-apa. Kak… Kak Aryan kenapa?”

Arshaf mengusap wajah kasar. Dadanya terasa sesak. “Dokter bilang… Aryan mengalami gangguan pendengaran sementara.”

Hening.

Zaskia langsung membeku di tempat.

“Apa?” lirihnya nyaris tak terdengar.

“Benturan di kepala waktu kecelakaan bikin bagian pendengarannya terganggu,” lanjut Arshaf hati-hati. “Tapi dokter bilang ini bukan permanen, Kia. Masih bisa diobati. Aryan cuma butuh terapi dan pengobatan rutin.”

Air mata Zaskia kembali jatuh tanpa suara. “Jadi… Kak Aryan sekarang tuli?”

Kata itu terasa sangat menyakitkan untuk diucapkan.

Arshaf langsung menelan ludah.

“Bukan tuli permanen,” jawabnya cepat. “Dokter bilang ini sementara. Masih ada harapan sembuh total. Jadi kamu jangan mikir yang aneh-aneh dulu.”

Namun Zaskia tetap terdiam.

Pikirannya kacau.

Bayangan tentang Aryan yang tadi terus meminta dirinya agar tidak pergi kembali berputar-putar di kepalanya.

“Kia?” panggil Arshaf pelan saat tak mendapat jawaban.

“Dia pasti takut banget ya, Kak…” suara Zaskia pecah. “Kak Aryan pasti bingung kenapa tiba-tiba gak bisa denger…”

Arshaf ikut menundukkan kepala.n“Iya,” jawabnya lirih. “Makanya sekarang jangan sampai Aryan kepikiran macam-macam. Temenin dia terus.”

Tangis Zaskia semakin menjadi. “Kenapa harus Kak Aryan?” isaknya. “Dia bahkan nggak salah apa-apa…”

Arshaf tidak bisa menjawab.

Karena ia pun mempertanyakan hal yang sama sejak tadi.

“Kia,” ucap Arshaf lagi mencoba menguatkan, “dokter bilang kondisi Aryan udah jauh lebih baik. Yang penting sekarang dia selamat dulu. Soal pendengarannya, kita usahain sama-sama buat sembuh, ya?”

Zaskia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat agar tangisnya tidak semakin keras.

“Iya…”

“Nanti Kakak sama Kafa balik lagi ke rumah sakit. Kamu jangan nangis di depan Aryan terus, ngerti?”

Zaskia mengangguk kecil walau Arshaf tidak bisa melihatnya.

“Soalnya sekarang yang paling dibutuhin Aryan itu kamu.”

Kalimat itu langsung membuat dada Zaskia kembali terasa sesak.

Ia menoleh ke arah pintu ruang ICU.

Di balik sana ada Aryan yang sedang berbaring lemah sendirian tanpa benar-benar tahu apa yang sedang terjadi pada dirinya sendiri.

“Kalau Kak Aryan tanya gimana, Kak?” suara Zaskia kembali bergetar. “Kalau dia sadar dia gak bisa denger, Kia harus ngomong apa?”

Arshaf terdiam sesaat.

“Jangan bohongin dia,” jawabnya pelan. “Tapi jangan langsung kasih tau semuanya malam ini. Kondisinya masih lemah. Pelan-pelan aja.”

Zaskia menghapus air matanya kasar. “Iya…”

“Kia.”

“Hm?”

“Kamu kuat, kan?”

Pertanyaan itu justru membuat Zaskia kembali menangis diam-diam.

Namun di tengah sesaknya dada, perempuan itu tetap menjawab lirih— “Kia harus kuat… buat Kak Aryan.”

Panggilan telepon itu terputus.

Arshaf mematung di tempat dengan ponsel yang masih menempel di telinganya. Dadanya terasa sesak setelah mendengar tangisan Zaskia.

Kafa yang sejak tadi mendengar percakapan mereka ikut terdiam. Ia bisa merasakan bagaimana hancurnya perasaan Zaskia saat mengetahui kondisi Aryan.

Kafa lalu mengetuk pelan daun pintu kamar.

“Shaf…”

“Hm?”

“Kita jadi ke rumah sakit lagi?”

“Jadi, yuk.”

Meski malam sudah semakin larut, mereka tetap harus kembali ke rumah sakit untuk memberikan alat bantu dengar yang tadi diresepkan dokter.

Namun saat keduanya baru tiba di ambang pintu apartemen, langkah mereka langsung terhenti.

“Abi?”

Arshaf dan Kafa sama-sama terkejut melihat Gus Abidzar berdiri di depan pintu.

Bukankah tadi abinya ikut menginap di rumah Zhafran bersama Uma Azzura?

“Abi ngapain di sini? Uma mana?” tanya Arshaf bingung.

“Abi sengaja datang sendiri,” jawab Gus Abidzar tenang, meski wajahnya terlihat sangat lelah. “Abi cuma mau tau… sebenarnya apa yang terjadi sama Aryan. Kamu pasti tau sesuatu, kan?”

Arshaf langsung terdiam. Dadanya kembali terasa berat.

Abinya sampai rela malam-malam begini datang sendiri ke apartemennya… berarti Abi benar-benar tidak tenang.

“Kaf,” ucap Arshaf akhirnya sambil menyerahkan kotak kecil di tangannya, “lo duluan aja ke rumah sakit. Sekalian kasih ini ke Zaskia. Nanti gue nyusul.”

Kafa langsung mengerti situasinya. “Oh… oke.”

Ia menoleh sopan pada Gus Abidzar. “Permisi, Om. Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam.”

Setelah Kafa pergi, Arshaf membuka pintu apartemen lebih lebar.

“Abi, masuk dulu.”

Gus Abidzar tidak menjawab. Ia langsung melangkah masuk dengan wajah yang tampak penuh pikiran.

“Tadi apa yang kamu kasih ke Kafa?” tanyanya pelan namun tegas.

Arshaf menelan ludah. “Abi duduk dulu. Arshaf bikinin minum.”

“Shaf.” Nada suara Gus Abidzar membuat Arshaf kembali duduk. Tidak ada celah untuk menghindar lagi.

“Cepat ceritakan sama Abi,” ucap pria itu sambil menatap putranya lekat. “Apa yang sebenarnya terjadi sama Aryan?”

Arshaf menunduk.

Beberapa detik ia hanya diam sambil mengepalkan kedua tangannya di atas paha.

“Abi janji jangan langsung panik, ya…” suaranya lirih.

Kalimat itu justru membuat wajah Gus Abidzar berubah semakin tegang.

“Aryan kenapa?”

Arshaf menarik napas panjang sebelum akhirnya memberanikan diri bicara. “Tadi dokter bilang… benturan di kepala Aryan ngaruh ke pendengarannya.”

Gus Abidzar langsung terdiam.

Sorot matanya perlahan kosong.

“Maksud kamu?”

“Untuk sementara Aryan gak bisa dengar suara dengan jelas,” jawab Arshaf pelan. “Dokter bilang itu tuli sensorineural sementara. Bukan permanen, Bi. Masih bisa diobati.”

Ruangan itu mendadak terasa sangat sunyi.

Gus Abidzar menatap lurus ke depan seolah sedang mencerna setiap kata yang baru saja ia dengar.

“Jadi…” suaranya melemah, “Aryan sekarang gak bisa dengar?”

Arshaf mengangguk pelan. “Tapi dokter bilang kemungkinan sembuhnya besar. Aryan cuma perlu terapi, obat, dan alat bantu dengar sementara.”

Namun Gus Abidzar tetap diam.

Pria itu perlahan menundukkan wajah sambil mengusap mata yang mulai memerah.

“Ya Allah…” lirihnya penuh luka.

Melihat reaksi sang abi, dada Arshaf ikut terasa nyeri.

“Abi…”

“Kenapa kamu gak langsung bilang dari tadi?” tanya Gus Abidzar dengan suara bergetar.

“Arshaf takut Abi sama Uma makin kepikiran,” jawabnya jujur. “Kondisi Aryan juga baru stabil…”

Gus Abidzar mengembuskan napas panjang. Bahunya tampak turun seolah kehilangan tenaga.

“Uma jangan kasih tau dulu."

“Iya Bi.”

"Uma pasti gak bakal kuat. Biar Abi yang kasih tau nanti."

Arshaf hanya mengangguk.

“Kasihan Aryan…” gumam Gus Abidzar lirih. “Dia pasti bingung banget sekarang.”

Dan yang lebih membuat hatinya hancur—

“Kasihan juga Zaskia…” lanjutnya pelan. “Dia lagi hamil malah harus ngalamin ujian seperti ini.”

Arshaf menundukkan kepala semakin dalam. Dadanya terasa sesak melihat abinya yang tampak begitu terpukul.

“Zaskia tadi nangis terus, Bi,” ucapnya lirih. “Dia baru tau pas Aryan bilang kalau dia gak bisa dengar suara Kia dengan jelas.”

Gus Abidzar memejamkan mata sesaat.

Ia bisa membayangkan bagaimana hancurnya perasaan menantunya itu.

“Terus Aryan?” tanyanya pelan.

“Dia mulai sadar ada yang aneh sama pendengarannya,” jawab Arshaf. “Tapi kayaknya dia belum ngerti sepenuhnya.”

Gus Abidzar mengusap wajahnya kasar lalu bersandar lemah di sofa. “Ya Allah…” gumamnya lagi.

Arshaf menatap sang abi dengan hati yang ikut terluka. Selama ini, Gus Abidzar selalu terlihat tenang dalam menghadapi masalah apa pun. Namun malam ini, lelaki itu tampak begitu rapuh.

“Abi…” panggil Arshaf hati-hati.

“Hm?”

“Maafin Arshaf.”

Gus Abidzar langsung menoleh.

“Maafin karena Arshaf gak bisa jaga Aryan.”

Kalimat itu membuat suasana semakin berat.

Arshaf menahan napas yang terasa tercekat.

“Harusnya waktu itu Arshaf di samping dia, bi. Harusnya Arshaf jagain Aryan-"

“Shaf.” Suara Gus Abidzar memotong ucapan putranya.

“Jangan nyalahin diri sendiri.”

“Tapi kalau aja Arshaf—”

“Ini bukan salah kamu.”

Gus Abidzar menatap Arshaf dalam-dalam. “Musibah nggak ada yang tau datangnya kapan.”

Arshaf menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Meski begitu, rasa bersalah tetap memenuhi dadanya.

“Abi juga pasti nyalahin diri sendiri kalau terus mikir ‘harusnya’,” lanjut Gus Abidzar pelan. “Tapi sekarang yang paling penting bukan nyari siapa yang salah.”

“Terus apa, Bi?”

“Kita bantu Aryan sembuh.”

Kalimat itu membuat Arshaf terdiam.

Gus Abidzar lalu bangkit perlahan dari duduknya. Ia berjalan mendekati jendela apartemen, menatap lampu-lampu kota yang masih menyala di tengah malam.

“Besok pagi Abi bakal cari dokter terbaik buat Aryan,” ucapnya tegas meski suaranya masih terdengar lelah. “Kalau memang harus terapi, kita terapi. Kalau harus operasi, kita operasi.”

Arshaf ikut berdiri. “Abi…”

“Abi nggak peduli harus keluar biaya berapa,” lanjut Gus Abidzar tanpa mengalihkan pandangan. “Yang penting Aryan bisa dengar lagi seperti dulu.”

Mata Arshaf kembali memanas.

Ia tau betul, di balik ketenangan abinya sekarang, ada hati seorang ayah yang sedang hancur.

Sementara itu, Kafa yang baru saja tiba di depan ruang tempat Aryan dirawat, mendapati Zaskia sedang duduk sendiri di kursi tunggu sambil menangis.

Hatinya langsung mencelos.

Ada rasa nyeri yang kembali menyeruak saat melihat perempuan yang diam-diam masih tinggal di hatinya itu tampak sehancur ini.

“Kia…” panggil Kafa pelan sambil menghampiri.

Zaskia mendongak. Cepat-cepat ia mengusap air matanya dengan kasar.

“Kakak ngapain ke sini?”

“Ngasih ini.” Kafa menyodorkan kantong berisi obat dan alat bantu dengar yang tadi ditebusnya.

“Kak Arshaf mana?”

“Nanti dia nyusul. Di rumah ada Om Abidzar.”

“Oh…”

Suasana kembali hening beberapa detik.

Kafa menatap wajah sembab Zaskia dengan rasa iba yang sulit dijelaskan.

“Kakak gak tau harus ngomong apa buat ngurangin sedih kamu,” ucapnya lirih. “Tapi semua orang berharap kamu kuat, Kia. Aryan butuh kamu.”

Zaskia kembali menunduk.

“Dan kamu juga harus mikirin bayi yang ada di kandungan kamu,” lanjut Kafa lembut. “Kasihan keponakan kakak.”

Refleks, tangan Kafa terangkat hendak mengusap sisa air mata di pipi Zaskia menggunakan ujung bajunya.

Namun Zaskia langsung menghindar.

“Gak perlu, Kak,” ucapnya pelan namun tegas. “Kak Kafa gak bisa sentuh Kia sembarangan lagi kayak dulu.”

Kafa langsung tersadar lalu menarik tangannya cepat-cepat. “Maaf… refleks.”

Zaskia mengulas senyum tipis yang terlihat begitu rapuh.

“Sekarang kamu masuk aja,” ujar Kafa lagi sambil menyerahkan alat bantu dengar itu sepenuhnya. “Pasangin ini buat Aryan.”

“Iya. Terima kasih. Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam.”

Sepeninggal Zaskia, Kafa berdiri diam di depan ruang ICU.

Dari balik kaca kecil di pintu, ia melihat Zaskia menghampiri Zhafran. Keduanya tampak berbicara serius, kemungkinan Zhafran sedang menjelaskan kondisi Aryan yang tadi disampaikan Arshaf lewat telepon.

Kafa mengembuskan napas panjang.

Dadanya terasa sesak.

Pada akhirnya, perempuan itu memang tidak pernah bisa menjadi miliknya.

Kafa pun memutuskan untuk pulang.

Namun baru beberapa langkah berjalan, ia tiba-tiba dikejutkan oleh seseorang yang berdiri tak jauh di depannya.

“Astaghfirullah…” Kafa spontan berhenti.

“Lo Kafa, ya? Sahabatnya Aryan sama Arshaf?” tanya gadis berambut panjang yang tampak sedikit terkejut.

“Iya,” jawab Kafa sambil memperhatikan wajahnya sesaat. “Lo Giska?”

“Iya.”

Giska menggenggam tali tasnya gugup. “Gimana keadaan Aryan?”

“Alhamdulillah, Aryan udah sadar,” jawab Kafa. “Kondisinya juga pelan-pelan mulai stabil. Sekarang dia lagi istirahat dan belum bisa ditemui dulu.”

“Oh… syukur deh kalau gitu.”

“Lo ke sini malam-malam begini cuma buat tau kondisi Aryan doang?”

Giska mengangguk pelan. “Iya. Gue baru sempat. Tadi habis dari pemakaman Andre.” Wajahnya langsung berubah sendu. “Sedih banget gue lihat keluarganya.”

Kafa ikut menghela napas pelan.n“Iya,” gumamnya. “Orang tuanya pasti terpukul banget. Nggak bakal nyangka anaknya pulang tinggal nama doang.”

“Iya…”

“Dan alhamdulillah Aryan masih diselametin.”

Giska menunduk sesaat sebelum kembali menatap Kafa.

“Mungkin karena Aryan masih punya tanggung jawab sama Kia dan calon anak mereka,” lanjut Kafa pelan. “Makanya Allah masih kasih dia kesempatan.”

Kalimat itu membuat dada Giska terasa nyeri.

Ia tersenyum tipis, tapi sorot matanya menyimpan kecewa yang samar.

Begitu pula dengan Kafa.

Keduanya sama-sama sedang menyukai seseorang yang tidak mungkin mereka miliki.

“Kayanya Aryan sayang banget ya sama Kia?” tanya Giska mencoba terdengar biasa saja.

Kafa terkekeh kecil, meski sebenarnya dadanya terasa perih.

“Iya. Aryan gak pernah pacaran,” jawabnya. “Dan ternyata dia udah suka sama Zaskia dari kecil. Gue baru tau itu dari Arshaf.”

Giska tersenyum pahit.

“Zaskia orang yang tepat buat Aryan,” lanjut Kafa lirih. “Makanya Aryan bucin banget sama dia.”

Hening kembali tercipta.

Untuk sesaat, Kafa dan Giska hanya saling diam.

Dua orang dengan nasib cinta yang sama—mencintai seseorang yang hatinya sudah dimiliki orang lain.

1
anakkeren
kocsk bgt merrka brtiga🤭
Syti Sarah
ya Allah kia 🤣🤣🤣🤣
Nifatul Masruro Hikari Masaru
🤣🤣🤣🤣🤣 nggak kebayang kalo video nya sampai viral
syora
pasti lahir bulan jadi cucu kesayangan nih apa lagi kalau pr,cucu dan cicit pertama lagi
Syti Sarah
fix,dara ini mah bar bar bnget kturunan Oma sama TENTE Zura nya bnget 😂😂

pusing gak tuh abi nya 😅
Nifatul Masruro Hikari Masaru
wah jodoh kafa masih sd
Ayu Oktaviana
ya alloh anknya azzam bar2nya gak ketulungan.. keturunan omanya kayaknya😁😁😁😁 apakah dimasa akan dtang jodohnya kafa adl andara kak... msih teka teki ini
Fegajon: masih SD kak, masih jauh😭
total 1 replies
Siti Java
yah Allah anak y azam bar2 parah 🤭🤭🤭🤭nurun siap ni😍
Syti Sarah
ras trkuat di bumi mau di lawan ,aplgi Skrang lgi hamil.yg sbar ya yan 🤣🤣🤣
Syti Sarah
eeh bukan lh kli thor.jdoh nya arshaf itu nanti santri nya sendiri yg slalu bikin dia naik drah 😂😂😂
Syti Sarah
semoga Aryan scpatnya smbuh 😭😭😭
Anak manis
aryan😭
syora
ya allah/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/
Nifatul Masruro Hikari Masaru
Judulnya kondisi arshaf/aryan
Fegajon: udah aku ganti, huhu maap lagi ngantuk banget siang ini😭
total 1 replies
Nifatul Masruro Hikari Masaru
kayaknya ada yang menabur bawang deh
Syti Sarah
😭😭😭😭
Syti Sarah
ya Allah Arya KIA 🥺🥺
just a grandma
ya allah🥺
Syti Sarah
semoga Aryan cpat sadar dan smbuh .sumpah nyesek bnget 😭😭😭
Nifatul Masruro Hikari Masaru
kok ada aksi tembakan sih. bisa panjang nih urusannya
Nifatul Masruro Hikari Masaru: kasian andre cuma berapa episode tuh🤭
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!