Di hari yang seharusnya menjadi hari bahagianya Sonya Munic terpaksa harus membatalkan pernikahannya dengan Sagara Sardi tepat saat akan mengucapkan janji pernikahan. Batara Moretti datang merampas pengantin atas alasan utang keluarga. Padahal keluarga Munic telah mengatur pernikahan Batara dengan Talitha Munic, adik tiri Sonya. Di bawah ancaman nyawa ketua mafia paling berbahaya, Sagara terpaksa menyerahkan calon istrinya.
Tak mudah bagi Sonya, gadis yang terkenal lemah lembut hidup di lingkungan mafia dan sikap dingin Batara yang hanya menganggapnya sebagai istri pelunas hutang. Selain menagih hak suami istri Batara selalu diam dan acuh, saat Sonia mulai berdamai dengan keadaan, satu persatu kebenaran mulai terkuak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nyawa Yang Dipertaruhkan
Malam yang pekat di Pelabuhan Utara seolah enggan membawa kedamaian. Suara desau angin laut bercampur dengan sisa gema mesiu yang masih menyengat indra penciuman. Batara Moretti baru saja hendak melangkah keluar dari zona perimeter kontainer sambil menopang tubuh Jevan, namun insting predatornya mendadak menangkap anomali udara.
Sret! Tar! Tar! Tar!
Tembakan sporadis kembali menyalak dari arah sudut gelap dermaga nomor empat. Rupanya, masih ada sisa-sisa pasukan musuh yang bersembunyi di balik tumpukan pipa baja raksasa, melakukan serangan putus asa demi menghabisi sang penguasa The Inferno.
Salah seorang anak buah Batara yang berada di garis depan langsung melompat, membalas tembakan dengan senapan serbunya seraya merangkak mendekati salah satu jasad musuh yang terkapar di bawah lampu merkuri yang berkedip mati-matan. Dengan cepat, anak buah itu menarik kerah jaket taktis mayat tersebut dan memicingkan mata di bawah keremangan malam.
"Tuan Besar!" teriak anak buah itu dengan suara parau menembus kebisingan. "Tato di lehernya... ini simbol kepala elang hitam bersayap ganda! Mereka bukan orang-orang Scattershot, Tuan! Ini adalah klan Black Eagle, kelompok mafia dari Kota Cruise!"
Batara mengetatkan rahangnya hingga urat-urat di pelipisnya menonjol tegang. Kota Cruise adalah wilayah netral yang berjarak ratusan kilometer dari Qislan. Beraninya tikus-tikus luar itu menyeberangi perbatasan dan mengacau di tanah kekuasaannya. Namun, Batara tidak memiliki kemewahan waktu untuk memikirkan motif politik malam ini. Kondisi Jevan di dalam rengkuhannya kian memburuk. Kain sobekan kemeja putih yang digunakan untuk membalut bahu Jevan kini telah berubah warna menjadi merah pekat, bahkan darah segar terus menetes, merembes cepat membasahi lengan baju Batara.
Peluru musuh kemungkinan besar telah mengoyak pembuluh darah besar di sekitar klavikula atau aksila Jevan. Pendarahan internal dan eksternal yang masif membuat cairan kehidupan pria itu mengalir tanpa bisa dihentikan oleh tekanan kain biasa.
"Tuan... Tuan Besar..." Jevan berbisik, suaranya terputus-putus, nyaris tak terdengar di antara deru angin. Bibirnya yang biasa mengeluarkan laporan taktis kini memutih, kering, dan gemetar hebat. "Bantuan... bantuan dari markas akan tiba lima belas menit lagi. Carloz... Carloz sudah dalam perjalanan memimpin armada udara..."
"Kita sudah tidak memiliki banyak waktu, Jevan," potong Batara, suaranya berat, sarat akan ketegasan yang tak terbantahkan. Kedua matanya tetap mengawasi sekeliling dengan waspada. "Jika dalam sepuluh menit pendarahan ini tidak dihentikan oleh ahli bedah, kau akan kehabisan darah dan mati sebelum fajar."
Jevan tersenyum tipis, sebuah senyuman pasrah dari seorang ksatria yang telah menyerahkan seluruh hidupnya pada sang iblis Moretti. "Tak perlu memikirkan nyawaku, Tuan... Saya hanya seorang pelayan. Yang paling penting... Anda harus selamat dan kembali ke mansion. Inferno tidak boleh kehilangan kepalanya."
"Jangan banyak bicara! Simpan tenagamu jika kau masih ingin melihat matahari terbit!" bentak Batara dingin, mengunci tubuh Jevan lebih erat pada bahunya.
Adu tembak di sekitar mereka semakin memanas. Sisa-sisa pengawal Inferno yang berada di lokasi mulai terdesak hebat. Mereka kekurangan suplai amunisi karena pertempuran yang tak terduga ini berlangsung terlalu lama. Di dalam genggaman Batara sendiri, pistol Beretta hitam miliknya terasa semakin ringan. Dia memeriksa magasinnya dengan satu sentakan ibu jari, hanya tersisa dua butir peluru. Dua peluru, sementara musuh masih memiliki beberapa senapan otomatis yang terus memuntahkan timah panas.
Dor! Dor! Dor!
Tiba-tiba, rentetan tembakan berat terdengar dari arah belakang perimeter musuh. Suara senapan mesin kaliber besar membelah malam, disusul oleh suara ledakan dari mobil-mobil klan Black Eagle yang sengaja ditabrak dari belakang.
Itu adalah Carloz. Sang kepala divisi penyerang Inferno tiba lebih cepat dari perkiraan bersama dua helikopter tempur dan belasan SUV hitam yang langsung merangsek masuk ke dalam area dermaga seperti air bah.
"Tuan Besar! Posisi clear! Seluruh area barat dan utara sudah kami amankan!" teriak Carloz yang melompat turun dari mobil dengan senjata laras panjang masih berasap.
Batara tidak membuang waktu. Dia langsung keluar dari celah persembunyian kontainer sambil memapah tubuh lemas Jevan yang separuh terseret di atas lantai beton.
Saat tubuh mereka terkena sorot lampu sorot dari helikopter yang berputar di atas kepala, Jevan yang masih setengah sadar menurunkan pandangannya. Matanya yang sayu mendadak membelalak ketika melihat rembesan noda merah yang sangat besar dan basah di bagian samping kemeja hitam milik Batara, yang kini berubah warna menjadi merah pekat akibat tercampur darah segar.
"Tuan... Anda... Anda terluka!" rintih Jevan, mencoba melepaskan diri dari papahan agar tidak membebani suaminya. "Darah itu... itu bukan darah saya, Tuan Besar!"
"Tidak apa-apa. Hanya luka sayatan kecil dari pisau keparat tadi. Saya tidak akan mati hanya karena goresan seperti ini," jawab Batara datar, wajahnya tetap sedingin es tanpa memperlihatkan rasa sakit sedikit pun.
"Ta-tapi Tuan..."
Carloz datang berlari menghampiri mereka dengan wajah panik. Dia segera mengulurkan kedua tangan kekarnya, hendak membantu memapah tubuh Jevan agar Batara bisa bergerak lebih bebas. Namun, Jevan dengan sisa tenaganya justru mendorong tangan Carloz, menunjuk ke arah perut Batara.
"Carloz... prioritaskan Tuan Besar... Tuan Besar terluka di bagian perut... bawa dia terlebih dahulu..." ucap Jevan parau.
Belum sempat kalimat itu selesai, kesadaran Jevan benar-benar runtuh. Matanya terpejam rapat, kepalanya terkulai lemas di dada Batara, dan seluruh bobot tubuhnya jatuh sepenuhnya. Jevan pingsan akibat syok hipovolemik karena kehilangan terlalu banyak cairan tubuh.
Melihat asisten setianya tak lagi bernapas dengan teratur, seulas kepanikan yang sangat langka mendadak melintas di wajah kaku Batara Moretti. "Carloz! Angkat dia ke dalam helikopter sekarang! Kita kembali ke mansion!"
Dengan raungan mesin helikopter yang memekakkan telinga, armada udara The Inferno langsung melesat membelah langit malam Qislan, berusaha melawan waktu yang terus bergulir demi menyelamatkan nyawa orang kepercayaan sang ketua.
Sementara itu, di dalam kamar utama Mansion Moretti yang megah namun sunyi, Sonya Munic bergerak gelisah di atas ranjang king size-nya. Selimut sutra yang membungkus tubuh mungilnya terasa mendingin.
Dia melirik ke arah jam dinding perak yang berdetak konstan, waktu sudah menunjukkan pukul empat pagi, namun sisi ranjang di sebelahnya masih kosong, menyisakan seprai yang rapi tanpa tanda keberadaan Batara. Selama beberapa hari ini, kenyamanan tidur di dalam dekapan hangat dan protektif dari lengan kekar Batara rupanya telah membuat tubuh Sonya terbiasa. Kini, saat pria itu tak berkunjung karena urusan klan, Sonya justru tidak bisa memejamkan matanya sama sekali. Jantungnya berdegup dengan ritme yang aneh, seolah-olah ada firasat buruk yang sedang meremas dadanya.
Merasa tidak tenang, Sonya memutuskan untuk turun dari tempat tidur. Dengan mengenakan gaun tidur satin tipis berwarna putih gading yang panjangnya mencapai mata kaki, dia melangkah keluar kamar dengan bertelanjang kaki, menuju ke lantai dasar untuk mengambil segelas susu hangat di dapur demi menenangkan saraf-sarafnya yang tegang.
Di dapur mansion yang luas, Sonya terkejut melihat Ibu Yooka sudah berada di sana. Wanita tua itu baru saja terbangun dan sedang bersiap menyalakan kompor untuk menyiapkan menu sarapan pagi bagi penghuni mansion.
Ibu Yooka menoleh, wajah tuanya tampak terkejut melihat kehadiran sang nyonya muda. "Nyonya Sonya? Kenapa Anda sudah terbangun? Hari masih sangat gelap dan dingin, Nyonya. Apakah Anda membutuhkan sesuatu?"
"Aku... aku hanya tidak bisa tidur, Ibu Yooka," jawab Sonya dengan senyuman tipis yang dipaksakan. "Jantungku terasa sangat tidak tenang sejak tengah malam tadi. Aku ingin membuat susu hangat..."
Belum sempat Sonya menyelesaikan kalimatnya, dari arah halaman luar mansion mendadak terdengar suara gemuruh yang sangat bising dan memekakkan telinga. Suara putaran baling-baling helikopter yang mendarat darurat di tengah-tengah halaman rumput luas terdengar begitu dekat, disusul oleh suara decitan ban dari beberapa mobil SUV hitam yang berhenti secara kasar di depan lobi. Suasana ketenangan subuh itu seketika pecah berantakan oleh teriakan-teriakan panik para pengawal.
Sonya berjalan mendekati jendela dapur besar yang menghadap ke halaman depan. Melalui kaca bening, matanya membelalak lebar. Di bawah sorotan lampu taman dan fajar yang belum menyingsing, Sonya melihat Batara turun dari pintu helikopter. Jantung Sonya seolah berhenti berdetak saat melihat kemeja hitam yang dikenakan suaminya kini sudah robek di beberapa bagian, dan seluruh bagian depannya basah berlumuran noda darah yang pekat. Dari pintu mobil yang lain, beberapa pengawal diturunkan dengan kondisi terluka parah, memegangi lengan dan kepala mereka yang bersimbah darah.
"Nyonya Sonya! Tolong masuk ke dalam kamar Anda sekarang juga!" perintah Ibu Yooka dengan panik, mencoba menarik lengan Sonya menjauh dari jendela. "Suasana di luar sangat berbahaya, terjadi pertempuran di luar sana! Tolong masuk, Nyonya!"
Namun, untuk pertama kalinya sejak dia tinggal di mansion ini, Sonya membantah perintah Ibu Yooka. Nalurinya sebagai seorang istri, dan rasa khawatir yang teramat sangat melihat kondisi Batara yang berlumuran darah, mengalahkan seluruh rasa takutnya terhadap dunia mafia.
kasihan Sonya gx pnrh bahagia ,,
lgan si Sonya lemah amat kak ,,
kasih kekuatan super kek si Sonya ,, 🤭🤭🤭🤭