NovelToon NovelToon
PACAR PALSU, JODOH ASLI

PACAR PALSU, JODOH ASLI

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Romansa / Perjodohan
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Althea Shalmaira

Pacar Palsu, Jodoh Asli

Almira Valencia Pradipta, pewaris Pradipta Corporation, selalu menolak gagasan perjodohan. Baginya, cinta harus dipilih sendiri. Namun hidupnya berubah ketika ia terus-menerus dipertemukan dengan Reynard Arsenio Mahardika, pewaris Mahardika Holdings yang arogan, menyebalkan, dan selalu berhasil memancing emosinya. Lelah menghadapi tekanan keluarga dan gosip yang beredar, mereka sepakat berpura-pura menjadi pasangan agar semua orang berhenti ikut campur. Awalnya hanya sandiwara tanpa perasaan, tetapi semakin lama bersama, batas antara pura-pura dan kenyataan mulai menghilang. Saat benih cinta tumbuh, sebuah rahasia besar terungkap: keluarga mereka ternyata telah menjodohkan mereka sejak lahir. Kini Almira dan Reynard harus memilih, melawan takdir yang telah diatur atau mengikuti suara hati yang tak lagi bisa berbohong.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12. Perjalanan yang Terlalu dekat

Bandara Soekarno-Hatta selalu ramai.

Bagi sebagian orang, keramaian itu terasa menyenangkan. Ada aroma petualangan, kesempatan baru, dan perjalanan yang menunggu di depan.

Bagi Almira Valencia Pradipta pagi itu?

Bandara hanyalah tempat yang mengingatkannya bahwa selama tiga hari ke depan, ia harus menghabiskan waktu bersama satu orang yang terlalu sering muncul dalam hidupnya.

Dan orang itu sedang berjalan ke arahnya sambil membawa koper hitam.

Reynard Arsenio Mahardika.

Almira melirik jam tangannya.

Pukul enam lewat lima menit.

"Terlambat lima menit."

Reynard mengangkat alis.

"Pesawat masih satu jam lagi."

"Itu bukan alasan."

"Kamu selalu seperti ini?"

"Kamu selalu terlambat seperti ini?"

Reynard menghela napas.

"Aku baru datang lima menit."

"Dan itu tetap terlambat."

"Baiklah."

Pria itu mengangguk pasrah.

"Aku minta maaf kepada negara, maskapai penerbangan, dan seluruh umat manusia."

Almira memutar mata.

Namun anehnya, sudut bibirnya bergerak sedikit.

Reynard melihatnya.

"Barusan kamu mau tertawa?"

"Tidak."

"Bohong."

Mereka berjalan menuju area check-in.

Kunjungan ke Makassar ini merupakan bagian dari proyek kerja sama pertama antara Valencia Group dan Mahardika Holdings.

Sebuah program distribusi dan pengembangan UMKM yang akan diuji coba di Sulawesi Selatan.

Secara bisnis, proyek itu sangat penting.

Secara pribadi?

Almira belum memutuskan.

Selama beberapa minggu terakhir, hubungan mereka memang membaik.

Mereka tidak lagi bertengkar setiap lima menit.

Tidak lagi saling menyerang setiap kali berbeda pendapat.

Namun itu tidak berarti semuanya menjadi mudah.

Justru sebaliknya.

Karena sekarang mereka mulai terbiasa satu sama lain.

Dan itu terasa jauh lebih berbahaya.

Setelah melewati pemeriksaan keamanan, mereka duduk di ruang tunggu.

Untuk pertama kalinya sejak berangkat, tidak ada pekerjaan yang harus dibahas.

Tidak ada rapat.

Tidak ada presentasi.

Tidak ada dokumen.

Hanya waktu luang.

Dan itu membuat suasana menjadi sedikit canggung.

Almira membuka ponselnya.

Reynard membuka tablet.

Keduanya berpura-pura sibuk.

Lima menit berlalu.

Sepuluh menit berlalu.

Akhirnya Reynard menutup tabletnya.

"Aku punya pertanyaan."

Almira tidak mengalihkan pandangan dari ponselnya.

"Itu terdengar berbahaya."

"Hobi."

Almira berkedip.

"Hobi?"

"Aku baru sadar aku tidak tahu apa pun tentangmu selain kamu suka mengoreksi orang."

Almira menatapnya datar.

"Itu bukan hobi."

"Bisa jadi."

Wanita itu menghela napas.

"Lukis."

Kini Reynard yang terkejut.

"Kamu melukis?"

"Iya."

"Kanvas?"

"Iya."

"Serius?"

Almira mulai kesal.

"Kenapa semua orang selalu kaget?"

"Karena kamu terlihat seperti orang yang menghabiskan waktu luang dengan membuat laporan keuangan."

Untuk pertama kalinya pagi itu, Almira benar-benar tertawa.

Pendek.

Namun nyata.

Dan Reynard mendadak merasa puas karena berhasil membuatnya tertawa.

Kesadaran itu datang terlambat.

Dan cukup mengganggu.

Perjalanan menuju Makassar berlangsung sekitar dua jam.

Karena pemesanan tiket dilakukan oleh tim administrasi perusahaan, kursi mereka kebetulan berada berdampingan.

Sebuah "kebetulan" lain yang mulai terasa mencurigakan.

Almira memilih kursi dekat jendela.

Reynard tidak protes.

Pesawat lepas landas dengan mulus.

Awalnya mereka sama-sama sibuk.

Namun setelah beberapa saat, percakapan kembali mengalir.

Tentang pekerjaan.

Tentang kuliah.

Tentang pengalaman hidup.

Dan untuk pertama kalinya, mereka mulai membicarakan masa kecil.

"Ayahku sangat disiplin."

Reynard menatap keluar jendela.

"Aku belajar naik sepeda dengan cara yang cukup ekstrem."

"Seperti apa?"

"Ayah melepas pegangan lalu bilang aku harus belajar sendiri."

Almira tertawa.

"Lalu?"

"Aku menabrak pohon."

"Itu memang terdengar seperti dirimu."

"Kamu sedang menghina aku?"

"Sedikit."

Giliran Almira yang bercerita.

"Aku pernah kabur dari les piano."

Reynard menoleh.

"Kamu?"

"Iya."

"Aku sulit membayangkannya."

"Aku juga pernah jadi anak kecil."

"Menarik."

"Aku tidak suka gurunya."

"Lalu?"

"Aku bersembunyi di gudang rumah selama tiga jam."

Reynard tertawa keras.

Dan untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, percakapan terasa benar-benar ringan.

Tidak ada pertahanan.

Tidak ada gengsi.

Tidak ada kompetisi.

Hanya dua orang yang sedang saling mengenal.

Mereka tiba di Makassar menjelang siang.

Udara hangat langsung menyambut begitu mereka keluar dari bandara.

Tim lokal proyek sudah menunggu.

Beberapa perwakilan UMKM juga hadir untuk menyambut mereka.

Hari pertama berjalan cukup sibuk.

Mereka mengunjungi lokasi distribusi.

Bertemu pelaku usaha.

Melakukan evaluasi lapangan.

Dan seperti biasa, kerja sama mereka berjalan sangat baik.

Bahkan beberapa anggota tim mulai memperhatikan hal itu.

"Pak Reynard dan Bu Almira kompak sekali."

"Sangat."

"Mereka seperti sudah bekerja bersama bertahun-tahun."

Komentar itu membuat salah satu staf tersenyum.

Kalau saja mereka tahu.

Menjelang sore, agenda resmi akhirnya selesai.

Mereka kembali ke hotel untuk beristirahat sebelum makan malam bersama tim proyek.

Begitu memasuki lobi hotel, seorang resepsionis tersenyum ramah.

"Selamat datang."

Petugas itu memeriksa data reservasi.

Kemudian wajahnya berubah sedikit bingung.

"Sebentar, Pak."

Reynard mulai curiga.

"Ada masalah?"

Petugas memeriksa layar komputer lagi.

Lalu tersenyum canggung.

"Sepertinya ada kesalahan pemesanan."

Almira langsung menoleh.

"Kesalahan apa?"

Petugas menelan ludah.

"Hotel sedang penuh karena ada konferensi nasional."

"Dan?"

"Hanya tersisa satu suite yang sudah disiapkan atas nama perusahaan."

Hening.

Sangat hening.

Almira merasa jantungnya berhenti selama dua detik.

Reynard menatap petugas itu.

"Lanjutkan."

Petugas tampak semakin gugup.

"Itu... suite dengan dua kamar tidur."

Beberapa detik berikutnya berjalan lambat.

Sangat lambat.

Almira mencoba memproses informasi tersebut.

Suite.

Dua kamar.

Satu unit.

Bersama Reynard.

Tidak.

Sama sekali tidak.

"Ada hotel lain?"

Petugas menggeleng.

"Hampir semuanya penuh."

"Tidak mungkin."

"Saya sudah memeriksa sebelum Bapak dan Ibu datang."

Almira menatap Reynard.

Reynard menatap balik.

Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu terakhir, mereka terlihat sama-sama panik.

Satu jam kemudian, mereka berdiri di dalam suite tersebut.

Dan kenyataannya memang tidak seburuk yang dibayangkan.

Suite itu besar.

Sangat besar.

Terdapat ruang tamu, ruang makan kecil, balkon, serta dua kamar tidur terpisah di sisi yang berbeda.

Masalahnya bukan fasilitas.

Masalahnya adalah prinsip.

"Ini tidak nyaman."

"Itu kalimat pertama yang kita sepakati hari ini."

Almira meletakkan tasnya.

"Aku serius."

"Aku juga."

Hening.

Kemudian keduanya tertawa kecil.

Karena situasi ini memang terlalu absurd.

Malam harinya, mereka menghadiri makan malam bersama tim proyek.

Suasana santai.

Penuh cerita dan diskusi ringan.

Sampai salah satu staf lokal bertanya tanpa dosa,

"Pak Reynard dan Bu Almira sudah lama bersama?"

Almira langsung tersedak air minumnya.

Reynard hampir menjatuhkan garpu.

"Maaf?"

"Eh?"

Staf itu terlihat bingung.

"Kami kira kalian pasangan."

Seluruh meja langsung hening.

Kemudian beberapa orang mulai mengangguk.

Ternyata banyak yang memiliki asumsi serupa.

Almira menutup wajahnya.

Reynard memijat pelipisnya.

Mereka sudah terlalu sering mengalami ini.

Larut malam, setelah kembali ke hotel, suasana akhirnya tenang.

Masing-masing masuk ke kamar.

Namun entah kenapa, Almira tidak langsung tidur.

Ia berdiri di balkon suite sambil memandang lampu kota Makassar.

Udara malam terasa sejuk.

Beberapa menit kemudian pintu balkon terbuka.

Reynard muncul membawa dua cangkir kopi.

"Aku membuat terlalu banyak."

Almira menerima salah satunya.

"Terima kasih."

Mereka berdiri berdampingan.

Diam.

Menikmati malam.

Tidak ada perdebatan.

Tidak ada sindiran.

Tidak ada kompetisi.

Dan anehnya, keheningan itu terasa nyaman.

"Menurutmu ini semua kebetulan?" tanya Almira tiba-tiba.

Reynard tidak langsung menjawab.

"Pertemuan kita?"

Almira mengangguk.

Pria itu memandang langit malam.

Lalu tersenyum tipis.

"Aku tidak tahu."

"Jawaban yang buruk."

"Aku tahu."

"Biasanya kamu punya pendapat tentang segalanya."

"Aku memang punya."

"Lalu?"

Reynard menoleh ke arahnya.

Untuk sesaat, ekspresinya terlihat lebih serius daripada biasanya.

"Lalu aku mulai berpikir bahwa mungkin ada alasan kenapa kita terus dipertemukan."

Almira terdiam.

Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.

Dan ia tidak tahu kenapa.

Di saat yang sama, ratusan kilometer dari sana, empat orang tua sedang melakukan panggilan video rahasia.

Arman tersenyum puas.

"Laporan terbaru."

Vania tertawa kecil.

"Mereka sekarang menginap di suite yang sama."

Raina langsung menutupi wajahnya.

"Aku mulai merasa kita ini penjahat."

Gilang mengangkat cangkir kopinya.

"Penjahat yang visioner."

Keempatnya tertawa.

Sementara dua korban utama mereka sama sekali tidak mengetahui bahwa hidup mereka sedang diarahkan perlahan menuju satu tujuan yang telah direncanakan jauh sebelum mereka lahir.

Dan tanpa mereka sadari, perjalanan ke Makassar baru saja membuka babak baru dalam hubungan mereka.

Babak yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar rapat dan kerja sama bisnis.

Karena untuk pertama kalinya...

Mereka mulai menikmati kebersamaan itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!