NovelToon NovelToon
Love In The Palace

Love In The Palace

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Fantasi Timur
Popularitas:231
Nilai: 5
Nama Author: naura hasna

Terlempar ke dunia yang sama sekali berbeda, gadis itu harus bertahan hidup sebagai pelayan di istana kerajaan. Takdir mempertemukannya dengan sang Raja—pemimpin yang tampak dingin namun menyimpan hati yang tersembunyi. Di antara aturan ketat dan rahasia istana, cinta tumbuh melampaui batas dunia dan kedudukan. Sebuah kisah bahwa cinta sejati tak pernah memandang siapa dirimu, melainkan hatimu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naura hasna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Ujian Kekuatan Hati

Sosok prajurit cahaya hijau itu berdiri tegak di atas alas batu, memancarkan energi yang begitu kuat hingga dinding-dinding kuil bergetar pelan. Matanya yang menyala seperti zamrud menatap tajam ke arah Valerius dan Elara, seolah bisa menembus hingga ke dalam lubuk hati mereka.

“Ujian ini bukan untuk mengukur seberapa tajam pedang atau seberapa tinggi ilmu sihirmu,” suaranya bergema, lembut namun menggetarkan setiap sudut ruangan. “Ini adalah ujian akan kesetiaan, keikhlasan, dan seberapa kuat ikatan yang menyatukan kalian. Kekuatan Permata Bumi akan mendengar apa yang sebenarnya ada di dalam jiwa, bukan apa yang ingin kalian tunjukkan.”

Tanpa peringatan lebih lanjut, cahaya hijau yang menyelimuti sosok penjaga itu meluas dan menyelimuti seluruh ruangan. Seketika, pemandangan di sekitar mereka berubah total. Dinding batu yang kokoh menghilang, digantikan oleh pemandangan yang terasa sangat nyata — seolah mereka dibawa masuk ke dalam sebuah mimpi yang bisa dirasakan.

Valerius mendapati dirinya berdiri sendirian di tengah halaman istana yang megah. Di sekelilingnya, berkumpul semua bangsawan, penasihat, dan rakyatnya, namun wajah mereka semua terlihat kecewa dan marah.

“Kau memilih orang asing daripada keamanan kerajaannya!” teriak suara-suara itu serentak. “Hubunganmu telah membawa bencana, dan sekarang seluruh negeri terancam hancur karena keputusanmu yang buta cinta!”

Di kejauhan, ia melihat bayangan Elara perlahan menjauh, berjalan menuju gerbang cahaya yang menuju ke dunianya sendiri.

"Aku lebih baik kembali ke tempat asalku,” terdengar suara gadis itu, dingin dan jauh.

“Di sana aku tidak akan menjadi beban atau sumber pertengkaran siapa pun.”

Rasa sesak menyelimuti dada Valerius. Keraguan perlahan merayap masuk: apakah ia memang telah salah memilih? Apakah dengan mendampingi Elara justru membawa kerusakan bagi warisan yang dijaga leluhurnya selama berabad-abad? Ia merasakan tarikan kuat untuk melepaskan, untuk membiarkan Elara pergi agar ia bisa kembali menjadi Raja yang sempurna di mata semua orang.

Namun di saat yang sama, ia teringat tatapan mata Elara saat pertama kali bertemu, ketulusannya saat dituduh, dan janji yang mereka ucapkan di bawah langit bintang. Ia menggeleng keras, mengusir bayangan itu dari pikirannya.

“Tidak!” serunya dengan suara lantang.

“Cinta bukanlah kelemahan, dan dia bukan beban. Jika kerajaanku hancur karena aku berpegang pada kebenaran dan perasaan yang tulus, maka itu bukan kerajaan yang layak dijaga! Aku tidak akan melepaskannya, apa pun risikonya!”

Sementara itu, Elara menghadapi ujiannya sendiri. Ia berdiri kembali di jembatan tua di dunianya sendiri. Di depannya berdiri keluarganya, tersenyum hangat dan memanggilnya untuk pulang selamanya. Di belakangnya, terlihat Kerajaan Aetheris yang perlahan memudar menjadi kabut, dan wajah Valerius memohon agar ia tetap tinggal, namun suaranya semakin lemah seolah akan lenyap selamanya.

“Tempatmu ada di sini, di antara kami yang mengenalmu sejak lahir,” bisik suara ibunya.

“Dunia asing itu hanya ilusi, cinta yang kau rasa hanyalah mimpi. Tinggalkan saja dan kembalilah ke kehidupan yang nyata.”

Hatinya terasa tercabik. Ia sangat rindu pada kehidupan yang tenang dan akrab itu, namun ia juga merasakan kekosongan yang menyakitkan jika harus melupakan semua yang telah ia lalui. Ia teringat perjuangan mereka, tawa dan air mata yang mereka bagi, serta janji untuk melindungi satu sama lain.

“Rumah bukan hanya tempat di mana kita dilahirkan,” ucap Elara dengan suara tegas, meski matanya basah oleh air mata.

“Rumah adalah tempat di mana hati kita merasa damai dan menemukan makna. Di sana, di Aetheris, itulah tempat hatiku berada. Aku tidak akan membiarkan takdir memisahkan kami!”

Begitu kata-kata itu keluar, kedua ilusi yang mereka hadapi meledak menjadi butiran cahaya yang terbang ke udara. Seketika, mereka kembali berada di dalam ruangan kuil yang sebenarnya, berdiri berdampingan dan saling menggenggam tangan dengan erat. Keringat membasahi dahi mereka, namun tatapan mata mereka semakin mantap dan yakin.

Sosok penjaga cahaya itu masih berdiri di tempatnya, namun kali ini auranya terasa lebih lembut dan ramah. Ia menundukkan kepalanya sedikit sebagai tanda penghormatan.

“Bagus. Kalian telah melewati ujian pertama dengan baik. Kalian tidak tergoda oleh keraguan, rasa takut, atau kenangan masa lalu yang ingin menarik kalian kembali. Ikatan di antara kalian cukup kuat untuk menahan pengaruh energi negatif yang berusaha memecah belah.”

Cahaya hijau di sekelilingnya kemudian bergerak perlahan, mengalir turun menuju Permata Bumi yang tergeletak di atas alas batu. Batu itu mulai bersinar semakin terang, memancarkan gelombang energi hangat yang menyebar ke seluruh ruangan, terasa menyegarkan tubuh dan jiwa mereka.

“Ambillah permata ini,” lanjut suara itu. “Ia akan menjadi kekuatan pertama untuk memperkuat pagar pertahanan kerajaan. Namun ingatlah, kekuatannya hanya akan bekerja maksimal jika tetap dijaga dengan hati yang bersih. Semakin kalian dekat dengan tujuan, semakin kuat pula pertahanan Morgrath. Ia akan mengirimkan rintangan yang lebih berat lagi untuk menghalangi jalan kalian.”

Valerius melangkah maju dengan hati-hati, lalu mengulurkan tangannya. Begitu jari-jarinya menyentuh permata itu, ia merasakan aliran kekuatan yang besar mengalir masuk ke dalam dirinya, terasa hangat dan menenangkan, seolah menyatu dengan detak jantungnya sendiri. Ia meletakkan batu itu ke dalam kotak pelindung yang terbuat dari kulit pohon sakral, agar energinya tidak terbuang percuma selama perjalanan.

Begitu permata diambil, getaran di dalam kuil perlahan berhenti. Cahaya yang menyala redup kembali menjadi terang, dan sosok penjaga itu perlahan memudar menjadi butiran cahaya yang melayang dan menghilang, meninggalkan kesunyian yang damai.

Mereka berjalan keluar dari kuil dengan langkah yang lebih ringan, membawa beban harapan yang lebih besar. Begitu melangkah melewati pintu keluar, mereka melihat perubahan yang menakjubkan di sekitarnya. Tanah yang tadinya keras dan kering perlahan terasa gembur kembali, rumput-rumput hijau mulai tumbuh di antara bebatuan, dan udara yang terhirup terasa segar serta kaya akan kehidupan.

“Kekuatan permata ini mulai bekerja meski kita masih jauh dari istana,” kata Kaelen sambil mengamati perubahan alam di sekelilingnya dengan pandangan kagum. “Artinya, semakin banyak permata yang kita satukan, semakin cepat keseimbangan akan pulih.”

Namun kegembiraan itu tidak berlangsung lama. Tiba-tiba, awan gelap bergerak cepat menutupi langit yang tadi cerah, dan angin dingin yang menusuk tulang kembali berhembus, kali ini terasa lebih ganas daripada sebelumnya. Dari arah utara, jauh di atas puncak gunung tertinggi, terlihat kilatan cahaya merah menyambar-nyambar, disertai suara gemuruh yang terdengar seperti amarah yang sedang meledak.

“Itu tandanya Morgrath menyadari kita telah mengambil salah satu sumber kekuatannya,” kata Valerius sambil menatap ke arah puncak gunung dengan wajah serius. “Ia akan mempercepat usahanya untuk melepaskan diri. Kita tidak punya banyak waktu lagi.”

Elara memandang ke arah cahaya merah itu, lalu merasakan getaran lembut dari kotak yang berisi Permata Bumi di pinggang Valerius. Ia menggenggam lengan kekasihnya dengan kuat.

“Maka kita harus bergerak lebih cepat lagi. Di mana permata berikutnya?” tanyanya dengan nada mantap.

“Menurut catatan kuno, Permata Air tersembunyi di dalam Gua Air Terang, yang terletak di balik Pegunungan Berangin,” jawab Valerius sambil membuka gulungan peta yang ia bawa. “Jalannya lebih terjal dan berbahaya. Namun kita sudah memiliki satu kekuatan, dan kita telah membuktikan kekuatan hati kita. Kita bisa melakukannya.”

Mereka beristirahat sejenak untuk memulihkan tenaga dan mempersiapkan perbekalan, lalu melanjutkan perjalanan menuju arah timur laut. Angin berhembus lebih kencang, seolah ingin mendorong mereka mundur, namun langkah kaki mereka tetap melangkah maju, dipandu oleh cahaya harapan dan kekuatan yang baru mereka miliki.

Di belakang mereka, jejak kehidupan mulai tumbuh kembali, namun di depan terbentang jalan yang semakin gelap dan penuh bahaya. Pertarungan baru saja memasuki babak yang lebih sulit, dan mereka harus terus bergerak sebelum kegelapan itu benar-benar menelan seluruh cahaya di Aetheris.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!