Rania terlahir kembali ke lima tahun sebelum tragedi dalam hidupnya terjadi. Di masa depan setelah ia menikah dengan Arya, Rania dijebak oleh Salsa dan dibunuh tepat di malam pertamanya. Di kesempatan kedua ini, ia akan menghindar dari pernikahan itu agar tidak mengalami nasib yang sama.
Berhasilkah ia kabur dari genggaman sang Tuan Muda dan menghindari takdir kematiannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. Sakit
Rania mengajak Salsa ke taman belakang rumah. Karena menurutnya tempat itu yang paling aman untuk mengobrol. Mereka duduk di sebuah ayunan dengan tempat duduk yang cukup panjang dan bisa diduduki oleh 2 orang dewasa. Disampingnya tersedia sebuah meja kecil. Cocok untuk bersantai menghabiskan waktu sambil menikmati aroma bunga.
Cahaya keemasan yang memenuhi langit senja membuat taman selalu dirawat oleh sang ayah terlihat menjadi semakin cantik. Ditambah dengan angin sepoi-sepoi membuat suasana terasa sejuk dan tenang.
Sang ibu datang membawa nampan berisi camilan dan minuman untuk Rania dan Salsa.
"wahh, nggak perlu repot-repot tante," ucap Salsa yang merasa tidak enak dijamu seperti ini oleh orang tua Rania.
"tidak repot kok, jarang sekali anak ini bawa teman. Tante senang dia ternyata punya teman dekat juga."
Salsa tersenyum menanggapi ucapan ibunya Rania. Dua kali datang ke rumah ini membuatnya semakin tau kalau Rania dan keluarganya adalah orang baik.
Setelah sang ibu masuk ke dalam rumah, Rania langsung berubah menjadi serius dan memposisikan duduknya sedikit menghadap ke arah Salsa. Ia mulai menceritakan semua kejadian hari ini mulai dari pertemuan yang tidak di sengaja di kafe hingga isi percakapannya dengan Bagas barusan.
"serius dia bilang begitu?"
"iya tapi tadi aku tidak terlalu menanggapinya karena tidak tahu dia sama seperti kita atau tidak."
"bagaimana kalau kita bertemu dengannya lagi?" usul Salsa yang ternyata satu pemikiran dengan Rania. Mungkin dari sini mereka benar-benar bisa merubah takdir mereka. Karena meskipun sampai hari ini mereka bisa menghindari setiap takdir buruk itu, tapi takdir itu tetap berjalan di sekitar mereka. Tidak tau sampai kapan mereka bisa terus menghindar.
Tidak terasa hari sudah gelap dan ibunya Rania kembali muncul untuk mengajak Salsa makan malam bersama.
"ayo, tidak usah sungkan," ajak Rania setelah sang ibu masuk ke dalam.
"aku tidak akan sungkan."
Di meja makan berbentuk bulat ini ternyata sudah disediakan empat kursi. Tadi saat masuk, seingatnya hanya ada tiga kursi saja. Mereka memang menyiapkan ini untuknya. Tiba-tiba saja ada rasa bersalah merayap di hati Salsa setelah menerima perhatian yang begitu hangat.
"Salsa satu kelas sama Rania?" tanya Ayah Rania saat baru saja duduk di kursinya.
"enggak om, kita beda jurusan."
"oh ya? kok bisa kenal?"
"yahh... kenal begitu saja hehe."
Ayah Rania mengangguk-angguk dengan wajah yang terlihat puas.
"benar, masih muda harus punya banyak teman tidak peduli satu kelas atau tidak."
Setelah makanan terhidang dengan lengkap, Salsa diperlakukan sama seperti mereka memperlakukan Rania. Saat ayahnya mengambilkan lauk untuk Rania, ibunya mengambilkan lauk untuk Salsa. Mereka juga makan dengan tenang, tidak ada percakapan sedikitpun saat sedang makan. Namun suasana tidak tegang sama sekali.
Tok Tok Tok
"biar ayah yang buka pintu, kalian makan saja," Sang ayah langsung meletakkan sendoknya lalu berdiri. Istri tercintanya sudah susah payah menyiapkan makanan, dan anak kesayangannya juga sedang menikmati makan malam. Jadi ia sendiri yang turun tangan untuk menyambut tamu tidak diundang itu.
Tidak lama kemudian, sang ayah kembali dan diikuti oleh seseorang di belakangnya.
"sebentar, ayah ambilkan kursi lagi."
Rania langsung mendongak dan melihat siapa yang datang setelah mendengar ayahnya memanggil diri sendiri sebagai ayah bukan om. Hanya ada dua manusia yang memanggilnya ayah, yaitu dirinya dan Arya.
"loh Arya, sudah makan nak?" tanya sang ibu.
"belum bu, hari ini bibi libur jadi tidak ada yang masak."
Rania mengernyitkan dahinya sesaat lalu berbicara, "bukannya kamu bisa masak?"
Arya tidak langsung menjawabnya, ia hanya berdiri sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"sudah sudah, ayo duduk nak," sang ayah kembali sambil membawa kursi untuk Arya.
Ibunya meraih tangan Arya lalu menariknya dengan lembut agar duduk di sampingnya. Tapi ekspresinya langsung berubah saat merasakan suhu yang begitu menyengat saat memegang tangan Arya. Setelah dilihat lagi, wajahnya juga terlihat sangat pucat.
"kamu sakit?"
"sakit?" ucap Rania dan Salsa secara bersamaan sambil menoleh ke arah Arya.
"hanya sedikit pusing."
"ya sudah malam ini tidur di sini saja ya, biar ada yang jagain," usul ibu Rania yang diangguki oleh suaminya. Melihat dua orang tuanya yang sudah mengambil keputusan, Rania pun tidak bisa menolaknya. Apalagi dia terlihat benar-benar sedang sakit.
Setelah selesai makan dan mengantar Salsa ke depan rumah, Rania kembali masuk lalu menyiapkan kamar tamu untuk dipakai oleh Arya sesuai perintah sang ibu. Kamar tamu ini sudah biasa ditempati Arya sejak kecil, jadi ia hanya perlu mengganti seprei dan membawakan selimut saja. Bahkan baju ganti hingga dalaman pun sudah tersedia di dalam lemari.
Tepat setelah ia selesai membereskan kamar, ibunya datang bersama dengan Arya.
"ambilkan kompres sana."
"dia sudah minum obat bu?"
"sudah barusan habis makan."
Rania keluar mengambil air dan handuk kecil untuk mengompres. Saat kembali ke kamar, dia sudah tidur bergelung di bawah selimut tebal. Ia menempelkan handuk yang sudah dibasahi itu ke kening Arya. Jika dilihat dalam kondisi seperti ini, Arya terlihat seperti anak kecil yang masih polos.
Rania menggelengkan kepalanya saat mengingat apa yang sudah dilakukannya. Katakanlah jika masa lalu itu hanya mimpi, tapi aplikasi pelacak dan alat penyadap suara itu benar-benar dilakukan olehnya. Itu merupakan sesuatu yang sangat mengerikan.
Saat Rania merasa tugasnya sudah selesai, ia berniat untuk segera kembali ke kamarnya dan beristirahat. Tapi Arya menahan tangannya dengan mata setengah terbuka. Pipinya terlihat kemerahan karena suhu tubuhnya yang cukup tinggi.
"jangan pergi," pintanya dengan suara lemah.
"aku harus istirahat."
"jangan tinggalkan aku," pintanya lagi kali ini genggaman tangannya semakin kuat.
Rania menghela nafas dan kembali duduk di tepi ranjang. Menepuk pelan tangan Arya agar ia kembali tenang dan tertidur. Setelah memastikan Arya tertidur pulas, Ia mencoba melepaskan tangannya secara perlahan lalu keluar dari kamarnya.
Setelah Rania keluar, kedua mata Arya kembali terbuka. Bibir keringnya terbuka dan mengatakan sesuatu dengan suara yang begitu lirih.
"maafkan aku, jangan pergi," ucapnya saat melihat bayangan Rania yang terus menjauh darinya.
Lalu ia kembali tertidur pulas hingga pagi. Meskipun sesekali mengigau tidak jelas, tapi kondisinya semakin membaik dan demamnya terus turun.
Pagi harinya, pintu kamarnya terbuka menampilkan Rania yang sudah rapih dengan kemeja dan celana jeansnya.
"bagaimana kondisimu?"
"baik."
Rania masuk ke dalam sambil membawa nampan berisi makanan, minuman dan obat untuk Arya. Lalu ia meletakkannya di atas nakas di samping tempat tidur.
"ibu memintaku membawakan sarapan untukmu, makan dan istirahat lagi jangan lupa minum obatnya. Aku harus berangkat sekarang."
Setelau menyampaikan apa yang perlu disampaikan, Rania berbalik dan hendak pergi.
"apa kamu pernah mati?"
Langkah kaki Rania terhenti dan jantungnya sedikit berdebar. Tanpa menoleh, ia menjawab pertanyaan gila dari Arya.
"kalau aku pernah mati, bagaimana mungkin sekarang aku berdiri di sini. Lagipula aku bukan kucing yang punya sembilan nyawa."
Arya terkekeh mendengar jawaban Rania. Ia hanya merasa dirinya telah menjadi lelucon karena menanyakan pertanyaan seperti itu kepada Rania.
"tidak usah dipikirkan, anggap saja aku belum sadar dari demam."
"aku juga menganggapnya begitu, kalau tidak aku pasti sudah menelfon rumah sakit jiwa."
Setelah mengatakan itu, Rania kembali melangkah keluar dari kamar Arya. Perasaannya pagi ini hancur karena kejadian itu kembali terputar dengan jelas akibat dari pertanyaan Arya barusan.