NovelToon NovelToon
Dua Garis Waktu

Dua Garis Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Putri Shalima

Sebuah kecelakaan tragis menimpa Lin Xinyu, Tuan Putri Kerajaan Beiyan. Pamannya yang haus kekuasaan ingin melengserkannya dari takhta dan mengambil alih Kerajaan Beiyan. Terdesak oleh bahaya yang mengancam nyawanya, Lin Xinyu terpaksa melarikan diri. Dalam keputusasaan, ia akhirnya melompat dari tebing tinggi yang curam.

Namun, ia tidak mati. Jiwanya justru melintasi waktu, terlempar jauh ke masa depan, dan memasuki tubuh Yu Anqi, seorang gadis muda di dunia modern. Di sana, ia bertemu rekan-rekan baru dan berhasil memecahkan banyak kasus yang terjadi di zaman itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Shalima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: Mission Succesfull

Di dalam mobil yang masih terjebak kemacetan, Eric segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi orang tua bayi yang hilang itu. Begitu telepon terhubung, ia menyampaikan kabar penting dengan nada lega. “Hallo, Ibu? Ini Eric dari Lembaga Perlindungan Perempuan dan Anak. Saya ingin menyampaikan kabar baik. Bayi kalian sudah berhasil ditemukan dan dalam keadaan selamat. Tolong segera datang ke kantor polisi pusat untuk proses pengambilan dan verifikasi, ya.”

Dari dalam telepon, terdengar suara isak tangis campur syukur dari kedua orang tua itu. “Benarkah? Terima kasih banyak, Pak! Kami akan segera berangkat secepatnya!” jawab mereka dengan penuh haru, lalu segera mempersiapkan diri menuju lokasi.

Setelah menutup telepon, wajah Eric kembali berkerut khawatir. Ia mencoba menghubungi Anqi berkali-kali, namun panggilannya selalu tidak terhubung. “Kenapa ponselnya tidak bisa dihubungi, ya?” gumamnya cemas.

Di depan, arus kendaraan masih sama sekali tidak bergerak. Ia mencoba membunyikan klakson berkali-kali berharap ada jalan yang bisa dilewati, namun yang didapat justru keributan dan suara klakson dari kendaraan lain tanpa ada perubahan apa pun.

Melihat situasi yang tidak memungkinkan, Eric pun mengambil keputusan. Ia memarkirkan mobilnya di tempat yang aman di pinggir jalan, lalu turun dan berjalan agak jauh untuk memanggil taksi yang lewat.

“Pak, tolong antarkan saya ke kantor polisi pusat secepatnya!” pintanya kepada sopir taksi.

“Baiklah, silakan masuk,” jawab sopir itu.

Mereka pun segera pergi meninggalkan area kemacetan.

# Kantor Kepolisian Pusat

 Eric segera membayar ongkos taksi dan bergegas masuk ke dalam kantor polisi. Begitu melangkah masuk, ia terkejut melihat pemandangan di hadapannya, Anqi sedang duduk di ruang pemeriksaan dengan kedua tangannya terborgol.

Tanpa berpikir dua kali, Eric segera mendekat dan berdiri di sampingnya. Ia menyentuh bahu Anqi dengan cemas. “Anqi, kenapa kau bisa seperti ini? Mengapa tanganmu diborgol?” tanyanya dengan nada khawatir.

Anqi hanya menggeleng pelan, seolah ingin mengatakan bahwa ia pun tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

Eric kemudian menoleh ke arah petugas yang ada di sana, lalu memperkenalkan diri dengan sopan namun tegas. “Perkenalkan, saya Eric Tan dari Lembaga Perlindungan Perempuan dan Anak. Tadi saya dihubungi dan diminta datang ke sini. Ini adalah rekan kerja saya, Yu Anqi.” Sambil berbicara, ia mengeluarkan kartu tanda pengenalnya dan menyerahkannya untuk diperiksa.

Setelah memastikan keaslian identitas Eric, para petugas segera meminta maaf. “Maafkan kesalahpahaman ini,” ucap salah seorang petugas sambil membuka borgol yang melingkar di pergelangan tangan Anqi.

Eric segera memeriksa keadaan Anqi, membolak-balikkan lengannya dengan hati-hati. “Kau tidak terluka, kan?” tanyanya lagi memastikan.

Anqi menggeleng, lalu langsung bertanya dengan nada mendesak. “Di mana bayi itu? Saya ingin melihatnya.”

Mendengar permintaan itu, petugas itu memanggil rekannya yang menggendong bayi tersebut dan menghampiri mereka.

“Serahkan bayinya kepada mereka. Ternyata kita hanya salah paham,” kata rekannya kepada petugas tersebut.

Petugas yang bernama Jin Zhao itu tersenyum canggung. “Benar, maafkan saya. Saya tidak tahu siapa Anda, jadi saya berhati-hati. Saya kira Anda salah satu dari kelompok penculik itu tadi,” ucapnya sambil menyerahkan bayi itu ke dalam gendongan Anqi.

Anqi segera memeriksa seluruh tubuh bayi itu dengan teliti, memastikan tidak ada luka atau tanda-tanda kekerasan. Bayi itu justru terlihat tenang, bahkan secara tidak sadar menggenggam jari Eric dengan tangan mungilnya. Melihat pemandangan itu, seolah-olah mereka adalah satu keluarga yang sedang menikmati kebersamaan.

Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki tergesa-gesa diikuti suara isak tangis. Orang tua bayi itu tiba, dan begitu melihat anaknya dalam keadaan selamat, sang ibu langsung memeluknya erat-erat.

“Minho, anakku sayang... Ibu sangat khawatir. Syukurlah kau tidak apa-apa,” ucapnya sambil mencium seluruh wajah anaknya dengan penuh rasa syukur.

Ayah bayi itu juga tidak kalah haru. “Terima kasih banyak, Bapak, Ibu, dan seluruh petugas di sini. Kami tidak tahu harus berbuat apa jika anak kami tidak ditemukan.”

Setelah suasana sedikit reda, mereka melengkapi proses verifikasi data untuk memastikan semuanya berjalan lancar. Setelah itu, orang tua dan bayi itu berpamitan untuk pulang.

Eric kemudian mendekati Jin Zhao dan mengulurkan tangan untuk bersalaman. “Saya Eric Tan. Senang bisa berkenalan dengan Anda. Ini rekan saya, Yu Anqi.”

Jin Zhao menyambut uluran tangan itu dengan senyum ramah. “Saya Jin Zhao, anggota Bareskrim. Senang juga bisa bertemu dengan kalian berdua.”

Setelah semua urusan selesai, mereka berniat meninggalkan kantor polisi. Namun, sebelum pergi, Anqi tiba-tiba menghampiri Jin Zhao. Dengan senyum yang sedikit penuh teka-teki, ia berkata, “Saya tahu rahasiamu.” Tanpa menunggu jawaban, ia segera berbalik dan melangkah pergi bersama Eric.

Jin Zhao tertegun sejenak, merasa sedikit penasaran. Rahasia apa yang ia maksud? batinnya.

Begitu Anqi dan Eric benar-benar pergi, rekan kerja Jin Zhao mendekat sambil menyenggol lengannya. “Sepertinya wanita cantik itu tertarik padamu, ya?” godanya sambil tersenyum.

Jin Zhao tertawa santai sambil mengusap wajahnya dengan percaya diri. “Tentu saja. Siapa yang tidak tertarik melihat ketampananku ini?” jawabnya bercanda, disambut tawa ringan dari rekan-rekannya.

Di dalam mobil yang melaju meninggalkan kantor polisi, suasana sempat hening sejenak. Namun rasa penasaran di hati Eric tidak bisa ia tahan lagi. Ia menoleh ke arah Anqi yang duduk di sampingnya, lalu bertanya. “Anqi, tadi kau sempat mendekati polisi itu dan berkata sesuatu yang membuatnya sedikit terkejut. Sebenarnya apa yang kau katakan padanya? Dan kenapa sikapmu begitu?”

Anqi menatap ke luar jendela sebentar, lalu menoleh perlahan ke arah Eric. Wajahnya tampak serius saat ia menjawab.

“Aku tidak berbohong. Saat aku berdiri di dekatnya, aku bisa merasakan sesuatu yang berbeda. Ada aura yang tidak biasa memancar dari tubuhnya... rasanya tidak seperti aura manusia biasa.”

Eric mengerutkan keningnya, semakin bingung mendengar penjelasan itu. “Tidak seperti manusia? Lalu apa maksudnya? Apakah dia hantu?” tanyanya lagi dengan nada setengah bercanda namun masih penasaran.

Anqi hanya mengangkat bahu santai. “Bisa jadi. Aku belum bisa memastikannya, tapi yang jelas, ada sesuatu yang tersembunyi dalam dirinya. Itu firasatku.”

Melihat Anqi tidak ingin membahasnya lebih jauh, Eric memutuskan untuk tidak memaksanya. Ia menghela napas pelan dan tersenyum tipis.

“Baiklah, kalau begitu kita lupakan saja dulu. Lagipula kita sudah lelah seharian. Bagaimana kalau kita makan siang dulu? Aku tahu ada restoran yang masakannya enak dan nyaman di dekat sini.”

Anqi mengangguk setuju. “Boleh juga. Aku juga mulai merasa lapar.”

Akhirnya Eric membelokkan kendaraannya menuju restoran yang dimaksud, meninggalkan topik aneh itu sejenak dan berniat mengisi perut mereka yang sudah mulai keroncongan.

1
Putri Shalima
Mohon dukungannya ya teman-teman 😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!