Niat hati ingin mengabulkan permintaan adiknya yang sedang sakit, Larasati malah terjebak dengan berondong yang banyak digilai kaum perempuan. Gadis yang biasa dipanggil Laras itu dengan keras menolak kehadiran Aditya, tapi bukan Aditya namanya jika menyerah begitu saja. Bagaimana keseruan kisah mereka? langsung baca aja guyss
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Typ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Dewasa
Tiga setengah tahun berlalu sejak obrolan tegang di apartemen, Aditya memutuskan untuk meninggalkan Laras dan melanjutkan pendidikannya di luar negeri. Keputusan berat harus dilakukan. Di tahun pertama memulai pendidikan, Aditya selalu merepotkan Tommy, meminta mantan asistennya untuk memata-matai Laras. Mengambil foto seperti paparazi demi Aditya bisa melihat kegiatan Laras di luar.
Tidak ada yang aneh dan mencurigakan, kehidupan Laras sangat monoton seperti biasanya. Hanya saja gadis itu sekarang tinggal di apartemennya. Orang tua Laras menolak anaknya yang ingin kembali ke rumah. Sari bahkan memberi nasehat pada Laras agar selalu bersikap baik pada Aditya walaupun mereka berpisah untuk sesaat.
Harto, merasa kini Laras bukan lagi tanggungjawabnya. Tapi sebagai Ayah yang baik, tentu pria itu kadang kala menguntit Laras diam-diam untuk memastikan kehidupan putrinya berjalan dengan baik. Sesekali menginap Harto masih memperbolehkan, tapi kalau untuk tinggal, Harto dengan kejam mengusir Laras dan mengatakan gadis itu harus pulang kerumah suaminya.
Di lain sisi, Aditama yang menggantikan Aditya untuk memberi nafkah pangan dan perlindungan. Pria itu rutin mengirim uang ke rekening Laras. Sedangkan Melani selalu menjenguk dan mengajak Laras berpergian saat wanita paruh baya itu sedang libur kerja. Semua dilakukan secara apik sehingga sampai saat ini banyak orang yang belum tahu akan pernikahan Laras dan Aditya. Bahkan Rani pun belum tahu. Laras sangat menjaga dan merahasiakan statusnya dengan baik.
Di tahun kedua, Aditya mulai jarang meminta Tommy untuk menjadi paparazi. Cowok itu merasa sudah paham dengan keseharian Laras dan tidak perlu yang ada dikhawatirkan. Lagipula Aditya sangat berusaha keras belajar agar dapat lulus dengan tepat waktu.
Ada kalanya Aditya lupa dengan Laras. Cowok itu sibuk memperluas jaringan untuk masa depannya kelak. Berbisnis akan semakin mudah jika kenal dengan banyak orang penting, itu yang Aditama sampaikan pada anaknya. Membangun relasi.
Aditya juga aktif kembali di media sosial, tentu saja dengan postingan yang lebih menawan. Kesehariannya sebagai mahasiswa bisnis. Beberapa kali meng-cover lagu saat sedang jenuh atau party dengan teman-teman sebayanya.
Pada akhirnya, yang dipikirkan Laras mulai terbukti. Sebagai remaja peralihan, Aditya mulai terbawa dengan budaya kehidupan di luar. Pertemanan yang tidak ada batasan, yang meresahkan Melani.
Beberapa kali Melani menelpon dan mengingatkan Aditya akan statusnya. Cowok itu hanya menjawab tenang karena dirinya masih sadar. Tapi nyatanya kelakuannya masih tidak berubah.
"Kita hanya berteman, tidak lebih."
Beberapa kali telepon tidak terangkat karena Aditya merasa maminya terlalu ikut campur.
Jangan tanya perasaan Laras, gadis itu malah tersenyum sinis. "kann, tebakanku tidak salah. Lebih bagus lagi kalau bocah itu memiliki hubungan dengannya, akan semakin mudah untuk bercerai."
Aditama, pria itu tidak berkomentar apapun. Entah apa yang ada dipikirannya. Melani bahkan kerap geram karena suaminya tidak melakukan tindakan sama sekali.
"Apa kakak tidak cemburu?" pertanyaan itu sering kali keluar dari Rara saat bertemu dengan Laras. Tapi Laras hanya terus menggeleng dan mengatakan semua akan baik-baik saja. Bahkan mengatakan dirinya jauh lebih baik tanpa kehadiran Aditya.
Media sosial beberapa kali menyoroti kehidupan Aditya, berasumsi jika pernikahan Aditya telah lama bercerai dan kini cowok itu sedang menjalin asmara dengan teman kuliahnya.
Rani kerap sekali memaki-maki Aditya karena tidak setia. Jika gadis itu tahu yang menjadi istri Aditya adalah sahabatnya. Pasti akan bertambah tantrum dirinya.
"Aku udah mutusin buat enggak ngidolain Aditya," tegas Rani setelah meng-unfollow Aditya.
"Baru sadar dia," ucap Laras.
"Aku jadi kepo sama perasaan mantan istrinya itu." Rani bertongka dagu. Memandang Laras, meminta jawaban dari rasa penasarannya.
Laras mengedikkan bahu. "Entah, bukan urusanku... Mau antar barang dulu." sambungnya.
Rani mengangguk. "Hati-hati ya," ucapnya sembari menatap kepergian Laras dengan tas berisi buket bunga pesanan dari seseorang.
Laras mengendarai motor matic-nya menyusuri jalan utama. Menuju restoran cina yang terlihat mewah. Setelah memarkirkan motornya, Laras menarik ponsel untuk memastikan alamatnya sudah benar. Gadis itu juga bertanya pada satpam untuk mempermudah urusannya bertemu dengan si pemesan bunga.
"Saya mau mengantar pesanan bunga pak, atas nama Pak Raihan."
"Oh Pak Raihan." Satpam tersebut memanggil pelayan restoran untuk mengantarkan Laras pada seorang bernama Raihan, awalnya Laras ingin menitipkan saja pesanan itu karena sudah dibayar lunas. Tapi Satpam mengatakan Laras harus bertemu langsung untuk menyerahkan pesanan.
Di depan pintu bertuliskan VIP room, Laras mengetuk pintu sebanyak 3 kali dan beberapa saat kemudian seorang lelaki membuka pintu. Setelan jas yang terlihat mewah di mata Laras. Gadis itu menyakini cowok di depannya bukan orang sembarangan. Laras memasang senyum tipis, kemudian menyerahkan buket bunga dengan sopan.
"Pesanan atas nama pak Raihan." Entah pikiran daripada, Laras merasa perlu memelankan suaranya agar tidak membuat penasaran orang-orang yang ada dibalik pintu tersebut.
Cowok di depannya dengan sopan mengambil buket dari tangan Laras. "Terimakasih ya... ."
Laras mengangguk. "Baik, semoga bisa menjadi langganan. Saya pamit dulu Pak." Laras membungkuk sedikit memberi hormat pada pemesan bunga. Cowok di depannya mengangguk, menatap kepergian Laras sebelum menutup kembali ruangan tersebut.
Di perjalanan, Laras menebak-nebak alasan cowok itu membeli bunga. Awalnya Laras tidak peduli, tapi karena terlalu gabut dan tidak memiliki beban hidup, secara otomatis otaknya mencari kesibukan. Mungkinkah untuk kekasih? atau ibu? Ah, Beruntung sekali bisa dirayakan seperti itu. "Semoga keduanya selalu bahagia." doa tulus yang terucap tanpa sadar.
Dering ponsel menghentikan aktivitas Laras, gadis itu menyimpan key-less motornya untuk mengambil ponsel di saku. Sebuah panggilan dari adiknya Rara.
"Kak, nanti malam nonton yuk. Mumpung malem Minggu."
"Maless" Laras menjawab dengan cepat.
"Kak pleaseeee, Zootopia udah tayang dari lama. Kalo besok-besok keburu abis. Kakkk, aku gratisin dehh." Rengekan Rara terdengar menyebalkan. Tapi Laras tidak bisa mengabaikan Zootopia, dirinya juga suka kartun tersebut. Apalagi mendapat gratis tiket dari adiknya. Kesempatan tidak boleh di sia-siakan.
"Oke.
"Tapi kakak yang bonceng pulang pergi yaa."
"Yaaa."
"Ehehe, nanti malam abis magrib pokoknyaa!"
Panggilan terputus. Laras menghela napas sejenak sebelum akhirnya menaiki motornya. Gadis itu akan pulang lebih awal untuk beristirahat.
Setelah menempuh 15 menit perjalanan, Laras memarkirkan motornya didepan ruko. Menaruh tas buket di tempatnya begitu masuk ke dalam toko. Rani menyambut dengan semangat, gadis itu terlihat lebih segar daripada terakhir kali Laras perhatikan.
"Kenapa?" tanya Laras.
Rani memamerkan bukti transferan senilai 500 ribu kepada Laras. "Dapet tip banyak, kamu ngapain aja sama pembeli tadi?" Pandangan Rani begitu menyelidik, sedetik kemudian sebuah senyum jahil muncul. "Jangan-jangan pembeli itu naksir sama kamu ya? Kamu bikin dia 'inikah my wife?' gitu pasti."
Tangan Rani terus mendorong-dorong lengan Laras, menuntut jawaban. Tapi Laras hanya mengedikkan bahu. "Biasa aja sih, mungkin dia lagi pengen sedekah ke toko kecil ini."
"Bisa jadi sih."
"Oh iya, aku mau pulang lebih awal ya, Rara pengen ke bioskop nonton Zootopia."
"Eh, ikuttttt." Rani mencari perhatian pada dua pegawainya yang lain. "Kalian mau ikut enggak? aku gratisin!"
Siapa yang tidak mau gratisan? Tentu saja kedua orang itu mengangguk antusias. Mereka akhirnya beberes lebih awal agar bisa tutup toko lebih awal pula.
Sebagai pengusaha kecil-kecilan. Rani sangat dekat dengan pegawainya dan sering mengtraktir mereka. Gadis itu jarang sekali berbicara untung rugi, karena memang dari awal dirinya membuka toko hanya untuk mencari kesibukan. Sebenarnya tidak membuka toko pun tidak akan membuat Rani miskin, keluarganya sudah kaya. Tiap bulan selalu ada transferan rutin dari Ayah dan kedua kakak lelakinya.
"Akhh enggak sabar malem mingguan."