NovelToon NovelToon
Sembilan Phoenix Agung : Jalan Kultivasi Terlarang

Sembilan Phoenix Agung : Jalan Kultivasi Terlarang

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha

Lin Chen, seorang pemuda yang dianggap sampah karena memiliki Meridian Spiritual rusak, secara tidak sengaja menyentuh Phoenix bayi yang sedang bereinkarnasi. Pertemuan itu justru memberinya warisan terlarang tertinggi — "Sembilan Ikatan Phoenix Abadi".

Teknik kultivasi ini mengharuskan ia menikahi dan melakukan kultivasi ganda dengan Sembilan Phoenix Agung. Semakin banyak Phoenix yang ia taklukkan, semakin kuat ia. Namun, teknik ini dianggap melanggar tatanan langit, sehingga seluruh dunia kultivasi ingin membunuhnya.

"Dunia bilang aku terlarang? Baiklah… aku akan menikahi semua Phoenix dan membakar langit ini hingga hangus!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 : Hutan Songhua dan Jejak Kuno

Mereka bermalam di sebuah penginapan kecil di kota persinggahan pertama.

Tempat itu tidak terlalu mewah, tetapi juga tidak mencurigakan. Pemilik penginapan hanya menerima pembayaran tanpa banyak bertanya, sementara kamar-kamarnya sederhana namun cukup aman untuk beristirahat.

Malam itu, Lin Chen memanfaatkan waktunya untuk memulihkan Qi sekaligus memikirkan kembali berbagai informasi yang ia peroleh sebelum meninggalkan Klan Lin.

Istana Surgawi.

Orang tuanya dengan misi yang tidak pernah kembali.

Semua potongan informasi itu terus berputar di benaknya.

Ia mencoba menyusun semuanya seperti kepingan-kepingan puzzle yang tersebar. Banyak bagian yang masih kosong, tetapi perlahan sebuah pola mulai terlihat.

Sembilan tahun lalu, kedua orang tuanya menerima misi langsung dari Istana Surgawi dan menghilang tanpa jejak.

Pada periode yang sama, menurut warisan Phoenix yang ia terima, Istana Surgawi sedang berusaha menghapus seluruh jejak keberadaan Phoenix Agung beserta teknik-teknik terlarang yang berkaitan dengan mereka.

Saat berada di perpustakaan klan, Lin Chen juga menemukan sesuatu yang mencurigakan. Beberapa gulungan kuno yang seharusnya tercatat dalam daftar inventaris lama sudah tidak ada. Hilangnya terlalu rapi dan sistematis untuk dianggap sebagai kebetulan.

Ayahnya adalah seorang peneliti teknik kuno.

Ibunya adalah seorang kultivator yang menguasai seni api tingkat tinggi.

Semakin banyak ia memikirkan semuanya, semakin kuat keyakinannya bahwa ada hubungan di balik semua peristiwa itu.

Lin Chen membuka matanya perlahan.

Ia belum memiliki cukup bukti untuk menarik kesimpulan pasti. Namun satu hal sudah jelas.

Masalah ini jauh lebih besar daripada sekadar warisan Phoenix.

Ada sesuatu yang disembunyikan.

Dan semua jejaknya mengarah ke Istana Surgawi.

Untuk mengungkapnya, ia harus menjadi jauh lebih kuat dari sekarang.

Keesokan paginya, ruang makan penginapan mulai ramai oleh para pedagang dan pengembara yang bersiap melanjutkan perjalanan.

Saat menikmati secangkir teh hangat, telinga Lin Chen menangkap percakapan dari meja di dekatnya.

"Kau dengar kabar dari Lembah Angin Merah?"

"Tentang apa?"

"Katanya ada dua anak muda yang berhasil memukul mundur Sekte Tengkorak Perak."

"Sekte Tengkorak Perak? Yang serius?"

"Benar. Bahkan ada Tetua yang ikut turun tangan."

"Mustahil. Dua orang melawan mereka?"

"Yang membuat orang membicarakannya bukan jumlahnya. Mereka menggunakan api yang belum pernah dilihat siapa pun sebelumnya. Ada yang bilang warnanya merah keemasan, ada juga yang bilang biru keemasan."

Lin Chen tetap menyesap tehnya tanpa mengubah ekspresi sedikit pun.

Di seberangnya, Huo Ling'er yang mendengar percakapan yang sama hanya menatapnya sebentar.

Tidak perlu kata-kata.

Keduanya memahami situasinya.

Berita itu sudah mulai menyebar.

Dan begitu sebuah teknik misterius muncul di dunia kultivasi, kabarnya akan bergerak jauh lebih cepat daripada pemilik teknik itu sendiri.

Sekte Tengkorak Perak tentu tidak akan menutupi kekalahan mereka. Mereka akan melaporkannya kepada para tetua yang lebih tinggi. Dari sana, informasi itu akan menyebar ke berbagai sekte, klan, dan jaringan intelijen yang tersebar di seluruh benua.

Cepat atau lambat, lebih banyak orang akan mulai mencari mereka.

"Kita harus bergerak lebih cepat," ujar Lin Chen pelan.

Huo Ling'er menggeleng tipis. "Atau bergerak lebih sulit ditemukan."

Lin Chen mengangkat alis.

"Jalur perdagangan utama sudah tidak aman lagi," lanjutnya. "Terlalu banyak mata yang memperhatikan. Jika kita terus menggunakan rute ini, hanya masalah waktu sebelum ada penyergapan berikutnya."

"Kau punya alternatif?"

"Hutan Songhua."

Lin Chen menatapnya. "Hutan Songhua?"

Huo Ling'er mengangguk.

"Ada jalur yang melewati bagian barat laut hutan itu. Perjalanannya memang lebih lama sekitar dua minggu, tapi jauh lebih jarang dilalui. Sebagian besar orang memilih rute utama karena lebih cepat."

"Kau tahu jalur itu?"

"Ya"

Nada suaranya terdengar santai, tetapi ada sedikit rasa bangga yang berusaha ia sembunyikan.

"Menghabiskan waktu dengan berguna adalah pilihan," lanjutnya. "Tidak semua orang memilih melakukannya."

Lin Chen hampir tersenyum.

Ia mempertimbangkan usulan itu dengan serius.

Jalur utama memang lebih cepat, tetapi juga lebih mudah diprediksi. Jika Sekte Tengkorak Perak atau pihak lain mulai memburu mereka, kemungkinan besar mereka akan menyiapkan jebakan di sepanjang rute tersebut.

Sebaliknya, Hutan Songhua memang akan menambah waktu perjalanan, tetapi memberi mereka ruang untuk bergerak tanpa terus-menerus diawasi.

Setelah beberapa saat, Lin Chen mengambil keputusan.

"Kita lewat Hutan Songhua."

Huo Ling'er mengangguk. "Kupikir kau akan memilih itu."

Lin Chen berdiri dari kursinya dan meletakkan beberapa koin di atas meja. "Mungkin."

"Kau hanya tidak suka mengakuinya."

"Kemungkinan itu juga ada."

Untuk pertama kalinya pagi itu, sudut bibir Huo Ling'er terangkat sedikit.

Mereka meninggalkan penginapan beberapa saat kemudian.

Tujuan mereka tetap sama: menuju utara.

***

Hutan Songhua berbeda dari Gunung Cang Lei.

Jika Gunung Cang Lei terasa tua dan penuh rahasia, maka Hutan Songhua terasa seperti peninggalan masa lampau yang perlahan ditelan waktu. Alam di sini tidak sekadar tumbuh liar, melainkan seolah membungkus dan menyembunyikan sesuatu yang pernah berjaya pada zamannya.

Pepohonan raksasa menjulang tinggi hingga menutupi sebagian besar cahaya matahari. Akar-akar tua merambat di permukaan tanah seperti ular batu yang tak berujung. Udara terasa lembap, sementara aroma lumut dan dedaunan tua memenuhi setiap hembusan napas.

Pada hari kedua perjalanan, Lin Chen mulai menemukan kejanggalan.

Di beberapa tempat, batu-batu besar tersusun dengan pola yang terlalu rapi untuk dianggap terbentuk secara alami. Sebagian tertutup lumut dan akar pohon, tetapi susunannya masih menunjukkan bahwa tangan manusia pernah menyentuhnya.

Tak jauh dari sana, ia menemukan ukiran kuno yang hampir terkikis waktu. Garis-garisnya samar, namun masih cukup jelas untuk menunjukkan bahwa tempat ini pernah memiliki sejarah panjang.

Yang paling menarik perhatian bukanlah batu atau ukiran itu, melainkan aliran Qi alam di sekitarnya.

Qi di Hutan Songhua bergerak dengan pola yang tidak biasa.

Alih-alih mengalir bebas seperti di hutan pada umumnya, energi alam di sini bergerak mengikuti jalur tertentu, membentuk arus-arus halus yang saling terhubung.

Seolah ada sesuatu yang mengarahkannya.

Mereka berhenti di depan sebuah batu besar yang sebagian permukaannya masih menyimpan ukiran kuno.

Huo Ling'er mengulurkan tangan dan menyapu lumut yang menempel di sana.

"Ini peninggalan peradaban kuno," ujarnya pelan. "Usianya sangat tua. Bahkan mungkin lebih tua daripada sebagian besar sekte dan klan yang masih ada sekarang."

Lin Chen memperhatikan simbol-simbol yang terukir di permukaannya.

Beberapa di antaranya terasa familiar.

Warisan Phoenix memberinya sedikit pengetahuan tentang simbol-simbol kuno semacam ini, meskipun tidak cukup untuk memahami seluruh maknanya.

"Era Dewa Kuno," katanya.

Huo Ling'er menoleh. "Kau mengenalinya?"

"Sebagian." Lin Chen mengangguk. "Tempat ini kemungkinan berasal dari masa sebelum Kejatuhan Langit Besar."

Ia menelusuri salah satu simbol dengan ujung jarinya.

"Dahulu wilayah ini bukan sekadar hutan. Tempat ini mungkin merupakan jalur penting yang menghubungkan berbagai wilayah besar."

"Jalur untuk apa?"

Lin Chen menggelengkan kepalanya. "Aku belum tahu."

Ia berdiri dan menatap lebih jauh ke arah utara.

"Tapi ada sesuatu yang menarik."

"Apa?"

"Qi di sini."

Huo Ling'er mengangkat alis.

"Sejak kemarin aku merasakannya. Awalnya samar, tapi sekarang semakin jelas." Lin Chen memejamkan mata sejenak.

Indera Qi miliknya menyebar ke sekeliling.

Ia merasakan aliran energi alam yang bergerak melewati pepohonan, bebatuan, dan tanah di bawah kaki mereka.

Semua arus itu mengarah ke satu tujuan.

Satu titik yang sama.

"Qi di tempat ini tidak bergerak secara acak," lanjutnya. "Ada pola tertentu. Dan semuanya menuju ke arah utara."

Huo Ling'er ikut memandang ke depan.

"Jadi kita ikuti?"

Lin Chen mengangguk. "Tentu."

Mereka kembali melanjutkan perjalanannya.

Semakin jauh mereka masuk ke dalam Hutan Songhua, suasananya semakin sunyi.

Tidak ada suara burung.

Tidak ada suara binatang buas.

Hanya desir angin yang berputar di antara pepohonan tua.

Empat jam kemudian, mereka sudah berada jauh di dalam wilayah yang nyaris tidak pernah dijamah manusia.

Saat itulah Lin Chen tiba-tiba berhenti.

Seluruh tubuhnya menegang.

Di dalam dadanya, Api Phoenix berdenyut kuat.

Karena ia merasakan sesuatu yang terasa sangat familiar.

Seolah ada bagian dari dirinya yang baru saja menemukan sesuatu yang berasal dari sumber yang sama.

Qi Phoenix di dalam tubuhnya beresonansi dengan sendirinya, sangat kuat hingga membuat meridiannya bergetar.

Huo Ling'er langsung menyadari perubahan itu. "Ada apa?"

Lin Chen membuka matanya perlahan.

Tatapannya tertuju ke satu arah.

"Di sana."

Ia menunjuk ke depan.

Tak jauh dari mereka berdiri sebuah formasi batu raksasa yang hampir sepenuhnya tertutup akar-akar pohon purba.

Batu-batu itu berwarna hitam kelabu dan tersusun membentuk lingkaran besar.

Sebagian sudah retak dimakan usia.

Sebagian lagi tenggelam ke dalam tanah.

Namun meskipun telah melewati ribuan tahun, masih ada sesuatu yang bertahan.

Di permukaan salah satu batu yang menghadap ke timur, cahaya redup berkilau sesaat ketika sinar matahari berhasil menembus celah dedaunan.

Kilauan itu sangat lemah.

Hampir tidak terlihat.

Namun cukup untuk membuat Api Phoenix di dalam tubuh Lin Chen berdenyut sekali lagi.

Lebih kuat dari sebelumnya.

Ia menarik napas perlahan.

Tatapannya tidak lepas dari formasi batu kuno itu.

"Ada sesuatu di sana."

Huo Ling'er menyipitkan mata. "Apakah Phoenix?"

Lin Chen terdiam beberapa saat. "Bukan Phoenix."

"Lalu?"

Senyum tipis muncul di wajahnya.

"Tapi sesuatu yang pernah ditinggalkan oleh mereka."

Untuk pertama kalinya sejak memasuki Hutan Songhua, Lin Chen merasa bahwa mereka tidak hanya sedang menuju ke utara.

Mereka sedang berjalan menuju salah satu rahasia yang telah tersembunyi sejak zaman kuno.

1
Green Boy
ayo lanjut lagi thor🙏🙏
Daryus Effendi
bosan bacanya terlalu lambat alzrnya.bertele tele
Hadi Hadi
up up 👍
Hadi Hadi
up up 😍😍
Anonymous
lanjut thor seru ceritanya🙏
Si Suka Baca
Vote meluncur
Ihwan12
mantap lanjut lagi thor💪💪👍👍
Xiao Lin—Gold Author
satu mawar 🌹
Xiao Lin—Gold Author
niceeeee👍👍👍
Xiao Lin—Gold Author
Mantap👍👍👍
Xiao Lin—Gold Author
Suyin mungkin udah ketagihan sama pedang ajaib Wei Hao🤔/Sly//Doge/
Celestial Quill: /Facepalm/
total 1 replies
Xiao Lin—Gold Author
Mantap👍
Shu Qing
Luar biasa
Fatih Al
awal yang bagus👍👍
Green Boy
Bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!