NovelToon NovelToon
SENIOR,I LOVE YOU!

SENIOR,I LOVE YOU!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:289
Nilai: 5
Nama Author: Danisa Danish

Di usianya yang menginjak 30 tahun, Arini hanya ingin fokus pada kariernya sebagai Manajer Pemasaran dan menghindari drama kehidupan. Namun, ketenangannya terusik sejak kedatangan Rian (24 tahun), staf baru dari generasi Gen Z di timnya.

Berbeda dengan anak muda lain, Rian adalah cowok yang efisien: kerjanya selalu satset, santai, hasilnya rapi, tapi sikapnya super dingin dan kaku kepada Arini. Rian bahkan secara terang-terangan menunjukkan prinsip hidupnya yang kaku: "Not love at work"—baginya, mencampuradukkan pekerjaan dan perasaan adalah hal konyol.

Sikap dingin dan misterius Rian justru membuat Arini penasaran setengah mati. Arini tidak tahu bahwa di balik wajah datarnya, Rian sengaja membangun benteng tinggi demi menutupi debaran jantungnya setiap kali berdekatan dengan sang manajer. Rian tahu risiko profesional di kantor mereka, namun pesona dewasa Arini perlahan meruntuhkan logikanya.

Akankah Rian melanggar prinsipnya demi Arini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Masalah Usia dan Hormat yang Salah Tempat

"Kakak-adik? Kakak perempuan?! Sialan si Rian, dia pikir gue setua itu apa?!"

Arini mondar-mandir di ruang tengah apartemennya seperti singa lapar. Piyama kartunnya yang tadi terlihat lucu kini malah membuat dirinya makin naik pitam. Ia menyambar bantal sofa yang tadi sempat dilemparkannya ke Rian, lalu memukul-mukulnya ke sofa dengan gemas.

Sebagai wanita milenial berkepala tiga awal yang selalu rajin perawatan skincare anti-aging, dipanggil "kakak perempuan" oleh cowok yang sudah membuatnya salah tingkah setengah mati adalah sebuah penolakan paling sadis. Gengsinya terluka parah.

"Lagian gue juga yang bodoh! Ngapain juga pake berharap dia mau ngomong yang lain? Sadar, Rin, dia cuma staf bawahan lu yang masih piyik!" umpat Arini pada dirinya sendiri, langsung memutuskan untuk membuang semua sisa sup ayam dari Rian ke tempat sampah, walau akhirnya tidak tega dan malah memasukannya lagi ke kulkas.

Sementara itu, di belahan kota lain, di atas motor matic-nya, Rian berkendara dengan pikiran yang ruwet. Sepanjang jalan dari apartemen Arini sampai ke arah kostan, otaknya terus berputar memikirkan perubahan sikap sang Kepala Staf yang secepat kilat.

“Gue salah ngomong di mana, ya? Perasaan tadi bicaranya udah sopan banget,” batin Rian bingung, nyaris melewatkan lampu merah saking tidak fokusnya.

Begitu sampai di kostan, Rian langsung membanting tubuhnya ke kasur busa tanpa sempat melepas jaket. Bagas yang sedang asyik bermain game di ponsel sambil selonjoran di lantai, langsung menoleh.

"Lah, udah balik lu? Cepet amat. Gimana? Sukses gak misi penyelamatan Ibu Bos dari kelaparan?" tanya Bagas jahil.

Rian menghela napas berat, menatap langit-langit kamar kost yang berjamur. "Gas... cewek itu emang makhluk paling misterius di alam semesta ya?"

Bagas langsung menurunkan ponselnya, insting gosipnya menyala. "Wah, bau-baunya ada yang gagal total nih. Cerita sini, lu diapain sama Bu Arini?"

Rian mengubah posisinya menjadi duduk, lalu mengacak rambutnya frustrasi. "Tadi tuh awalnya udah enak banget, Gas. Kita makan sup bareng, ngobrol santai, gak kaku kayak di kantor. Terus gue bilang lah ke dia, kalau di luar jam kantor, kita gak usah formal-formal banget. Gue ngerasa kita lebih cocok kayak kakak-adik, biar dia bisa bagi beban kerjanya ke gue kayak ke adiknya sendiri."

Bagas langsung melongo. Ponsel di tangannya nyaris terlepas. "Lu... lu beneran ngomong gitu ke Bu Arini?"

"Iya. Kenapa emang? Bener kan?"

Bagas menepuk jidatnya sendiri dengan keras sampai menimbulkan suara plak. "Goblok! Rian goblok! Lu beneran mentally sekuriti ya, polosnya kebangetan! Terus respon Bu Arini gimana?"

"Ya itu dia! Mukanya langsung berubah dingin banget kayak es batu, terus gue langsung diusir pulang. Hari Senin disuruh ngumpul laporan jam delapan teng. Gue salahnya di mana coba? Kan gue cuma menghormati dia, Gas!" bela Rian dengan nada tidak terima.

"Menghormati gimana maksud lu?"

"Ya kan dari segi usia, Bu Arini emang lebih tua dari gue! Dia itu Kepala Staf, mandiri, matang, makanya gue sangat menghormati posisi dan usianya. Gue ngerasa gak sopan kalau langsung sok akrab atau nganggep dia seumuran. Makanya gue pakai istilah kakak-adik biar posisinya gue tetep sopan tapi akrab. Logis, kan?" Rian menjelaskan dengan wajah tanpa dosa.

Bagas menarik napas dalam-dalam, menatap sahabat sekamarnya itu dengan tatapan kasihan yang amat dalam.

"Rian, dengerin gue baik-baik," kata Bagas sambil mencengkeram pundak Rian. "Pantangan nomor satu di dunia perkopian dan percintaan: JANGAN PERNAH mengingatkan cewek mapan soal umur mereka, apalagi dengan label 'kakak'. Di telinga Bu Arini, kata 'kakak perempuan' itu bunyinya bukan lu hormat, tapi bunyinya: 'Ibu udah tua, jadi saya anggap tante sendiri'. Paham gak lu?!"

Rian tertegun. Matanya mengerjap panik. "M-masa sih, Gas? Tapi kan maksud gue bukan gitu..."

"Maksud lu emang baik, tapi cara lu itu namanya bunuh diri sebelum perang, Yan! Hari Senin nanti, siap-siap aja lu dapet meja kerja baru di samping toilet!" ledek Bagas puas, kembali rebahan sambil tertawa terbahak-bahak melihat wajah Rian yang mendadak berubah pucat pasi membayangkan hari Senin di kantor nanti.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!