NovelToon NovelToon
Jatuh Cintanya Seorang Pendosa

Jatuh Cintanya Seorang Pendosa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta Terlarang
Popularitas:9k
Nilai: 5
Nama Author: Sylvia Rosyta

Di balik dinding suci sebuah pondok pesantren, tersembunyi seorang buronan. Reyshaka El Zhafran atau Shaka—tak pernah membayangkan hidupnya akan berakhir di tempat yang paling ia hindari. Demi lolos dari kejaran polisi, pengedar narkoba itu nekat bersembunyi di pesantren milik Ustadz Haidar, seorang ulama yang dikenal bijak dan disegani.

Awalnya, Shaka hanya ingin selamat. Namun hari demi hari, ketenangan, nasihat, dan ketulusan Ustadz Haidar perlahan meruntuhkan tembok keras di hatinya. Untuk pertama kalinya, Shaka mulai mengenal arti penyesalan dan harapan untuk berubah. Semua menjadi semakin rumit saat ia bertemu Hanindya Daisha Ayu—putri sang ustadz yang berhati lembut dan shalihah. Tanpa disadari, perasaan itu tumbuh diam-diam, menyiksa shaka dalam keheningan.

Tapi bagaimana mungkin seorang mantan pengedar narkoba seperti dirinya pantas mencintai perempuan sebersih Hanindya?
Terlebih, Hanindya telah dijodohkan dengan Ustadz Ilyas—lelaki yang jauh lebih layak dibanding dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Suasana di dalam mushola itu terasa semakin berat setelah kalimat terakhir Ustadz Haidar terucap.

"Jalan yang kamu pilih bukan hanya merusak hidupmu sendiri, nak. Tapi juga menghancurkan kehidupan orang lain."

Kalimat itu seperti menggantung di udara.

Menusuk pelan dan entah kenapa, membuat dada Shaka terasa sesak. Rahangnya mengeras, tangannya mengepal kuat di sisi tubuhnya. Ia ingin membantah dan mengatakan kepada ustadz Haidar,

“Itu bukan salah gue.”

Kalimat itu hampir keluar dari mulutnya, karena selama ini itulah yang selalu ia yakini.

Ia hanya menjual barang. Orang-orang itu yang memilih membeli. Orang-orang itu yang memilih memakai. Bukan urusannya kalau hidup mereka hancur setelahnya dan juga bukan menjadi tanggung jawabnya. Selama ini Shaka selalu menanamkan pemikiran itu dalam kepalanya sendiri agar ia bisa terus berjalan tanpa merasa bersalah. Kalau tidak begitu, mungkin ia sudah gila sejak lama.

Shaka membuka mulutnya.

“Gue gak—”

Namun ucapannya terhenti. Sebuah ingatan lama mendadak muncul begitu saja di kepalanya. Ingatan tentang seorang anak laki-laki yang masih berseragam sekolah dengan wajahnya yang pucat, matanya yang memerah dan tangannya yang gemetar saat menerima barang dari dirinya.

Shaka langsung terdiam. Ingatan itu muncul begitu jelas. Waktu itu sore hari. Di sebuah gang sempit belakang warnet, anak itu datang dengan gelisah sambil terus menoleh ke kanan dan kiri. Usianya mungkin baru enam belas atau tujuh belas tahun dan masih terlalu muda. Namun saat itu Shaka tidak peduli. Yang penting uangnya ada. Transaksi selesai.

Sederhana, cepat dan setelah itu mereka berpisah. Harusnya selesai sampai situ.

Tapi beberapa minggu kemudian, Shaka melihat anak itu lagi. Bukan di gang melainkan di depan sebuah rumah kecil. Anak itu duduk di teras dengan tatapan matanya yang terlihat kosong, tubuhnya kurus, seragam sekolahnya berantakan. Dan di depan rumah itu, seorang perempuan menangis. Perempuan itu tak lain adalah ibunya. Shaka masih ingat suara tangisan itu.

“Kenapa kamu jadi begini, Nak…”

Sementara seorang pria tua berdiri di samping pintu dengan wajah hancur yang tak lain adalah ayahnya. Mereka terus bicara soal anak mereka yang berubah jadi malas sekolah, sering mencuri uang, mudah marah dan mulai kecanduan. Shaka ingat semuanya.

Karena waktu itu untuk pertama kalinya, Ia merasa tidak nyaman. Namun ia pergi begitu saja, mengabaikan semuanya dan sekarang, ingatan itu kembali menghantam kepalanya.

Membuat dadanya terasa berat.

Shaka menunduk. Napasnya berubah tidak beraturan. Ustadz Haidar memperhatikan perubahan wajah pemuda itu dalam diam namun sorot matanya seakan tahu bahwa sesuatu sedang berperang di dalam diri Shaka. Shaka mengusap wajahnya dengan kasar.

Sial.

Kenapa ia mengingat itu sekarang? Ia menggertakkan rahangnya dan berusaha membuang ingatan tersebut. Namun suara tangisan perempuan itu terus terngiang di kepalanya.

"Kenapa kamu jadi begini, Nak..."

Shaka memejamkan matanya kuat-kuat. Dadanya terasa semakin sesak dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama— Ia mulai mempertanyakan dirinya sendiri. Apakah selama ini ia benar-benar tidak bersalah?

Keheningan memenuhi mushola, hanya suara angin malam yang terdengar pelan dari luar.

Lalu Ustadz Haidar kembali bicara.

“Berhentilah nak.”

Shaka perlahan membuka matanya. Tatapannya langsung bertemu dengan mata Ustadz Haidar.

“Berhentilah menjual barang haram itu.” Suara lelaki paruh baya itu terdengar tenang namun terasa begitu tegas. “Kamu masih bisa kembali.”

Kalimat itu membuat Shaka tertawa kecil tapi tawanya terdengar hampa.

“Kembali?” Ia menggeleng pelan. “Lo pikir hidup semudah itu?” Ustadz Haidar diam mendengarkan sementara Shaka kembali bicara. “Kaki gue udah terlalu jauh masuk ke dunia itu. Gue udah ngelakuin terlalu banyak dosa.” Tatapannya kosong. “Dan orang kayak gue…” ia tertawa pahit, “Sudah gak bisa diselametin lagi.”

Kalimat itu keluar dengan penuh keyakinan seolah ia benar-benar percaya bahwa dirinya sudah rusak sepenuhnya. Ustadz Haidar menatapnya lama lalu beliau berkata pelan,

“Tidak ada manusia yang terlalu kotor untuk kembali kepada Allah.”

Shaka terdiam.

“Tuhan selalu menerima tobat hamba-Nya.”

Suara Ustadz Haidar terdengar begitu tenang.

“Hamba yang benar-benar ingin berubah.”

Shaka langsung menggeleng cepat.

“Lo gak ngerti.”

“Apa yang tidak aku mengerti?”

“Gue bukan orang baik.” Nada suara Shaka kembali meninggi. “Gue penjual narkoba. Gue udah nyakitin banyak orang. Gue pembohong, dan bahkan ngancem lo pake pisau tadi!” Napasnya memburu sementara matanya memerah. “Dan lo masih ngomong soal tobat?” Shaka tertawa lagi namun kali ini suaranya terdengar rapuh. “Lucu banget.”

Ustadz Haidar tetap menatapnya dengan tenang lalu ia berkata,

“Kalau Allah hanya menerima orang baik maka untuk apa ada pintu tobat?” Kalimat itu membuat Shaka terdiam. “Justru orang yang penuh dosa lah yang paling membutuhkan ampunan Tuhan. Masa lalu yang buruk bukan berarti masa depanmu harus tetap buruk.” Tatapan Ustadz Haidar begitu dalam. “Kamu masih hidup, nak. Itu artinya Allah masih memberimu kesempatan.”

Jantung Shaka berdetak keras. Entah kenapa kata-kata itu terasa begitu berat di dadanya.

Kesempatan.

Sudah lama sekali tidak ada orang yang berbicara padanya tentang harapan. Orang-orang selalu melihatnya sebagai sampah, kriminal, penjahat, dan tidak berguna. Namun laki-laki di depannya ini masih bicara seolah dirinya masih bisa berubah. Dan itu justru membuat pertahanan Shaka perlahan retak.

Ustadz Haidar melangkah sedikit lebih dekat.

“Aku akan membantumu.”

Shaka langsung menatapnya dengan terkejut.

“Apa?”

“Aku akan membantumu keluar dari jalan itu.” kata ustadz Haidar dengan pelan. “Aku akan membantumu supaya kamu tidak kembali ke jalan yang salah.” Shaka membeku. “Aku juga akan menuntun mu kembali kepada Allah.”

Kalimat itu membuat dada Shaka terasa sesak. Sangat sesak. Ia menatap Ustadz Haidar dengan tidak percaya. Kenapa? Kenapa orang ini mau melakukan itu untuk dirinya? Padahal mereka baru bertemu. Padahal dirinya hampir melukai beliau tadi.

Padahal dirinya seorang pengedar narkoba.

Namun laki-laki itu masih berkata akan membantunya.

Shaka menunduk cepat, napasnya mulai bergetar.

Sial.

Kenapa dadanya terasa seperti ini? Ia mencoba bertahan, mencoba kembali memasang tembok yang selama ini melindunginya namun semuanya terasa melemah. Terlalu lemah. Dan tanpa ia sadari—

Matanya mulai panas. Shaka langsung mengusap wajahnya dengan kasar. Tidak. Ia tidak boleh menangis. Ia bukan anak kecil. Namun rasa sesak di dadanya semakin besar.

Semua luka, semua rasa sepi, semua kelelahan yang selama ini ia pendam sendirian, seolah runtuh malam itu. Kakinya mendadak terasa lemas dan sebelum ia sadar,

Bruk.

Tubuh Shaka jatuh berlutut di atas karpet mushola. Napasnya berantakan. Tangannya gemetar. Tas itu terlepas dari genggamannya dan jatuh di samping tubuhnya. Ustadz Haidar menatapnya dalam diam. Sementara Shaka menunduk dalam. Bahu laki-laki muda itu bergetar pelan. Dan akhirnya setetes air mata jatuh lalu disusul yang lainnya.

Shaka langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya seolah malu menunjukkan dirinya yang hancur. Suara tawanya keluar pelan namun kali ini bercampur isak yang tertahan.

1
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
Ya Shaka jadi Pebinor yah udh perbaiki diri aja terus yah 💪💪
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
Ada yang sama nggak sih, aku klw di tempat kaya gini terus ada info kaya gitu, org lain mah pada excited ya kaya dialog kaya gini. Tapi gw mah nggak ah bodo amat nggak ikut berisik gitu kaya hidup ku ya hidupku hidup org lain ya hidup orglain.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
Udh kasep ikhlas aja yah.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
Cing sabar kasep, ikhlas tekengeng emut Kanu teu penting, sok we perbaiki diri, seur belajar ngaosnanya insyaallah nu namina jodoh mah ku Gusti Oge di pendaken pami anjena tos leres dunia akhiratna 😌
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
untungnya ustadz Ilyas udh bicara, klw nggak pasti makin dalam itu hati.💙
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
uluh² 🤭 anu ker bungah pasti ker bunga² kiw kiw ah selamat ya tad Ilyas moga lancar sampai hari H.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
iya tad lebih cepat lebih baik.
Suhadi Mulyo
karena itulah tuhan sudah mengingatkan kita untuk mencintai sewajarnya saja.
Suhadi Mulyo
jangan membandingkan diri kamu dengan ustadz Ilyas, Shaka. kl jodoh kamu adalah Hanin, insyaallah tuhan akan menyatukan kalian di waktu yang tepat, namun kl bukan, maka kamu harus menerima semuanya dengan ikhlas.
Suhadi Mulyo
sekarang kamu akhirnya tahu Shaka, kl Hanin itu udah tunangan sama ustadz Ilyas.
Khumaira Nur Rahma
lanjut kak
Khumaira Nur Rahma
jadi ikut merasakan sakit hatinya shaka/Scowl/
Khumaira Nur Rahma
yang ikhlas ya shaka💪
✦͙͙͙*͙❥⃝🅚𝖎𝖐𝖎💋ᶫᵒᵛᵉᵧₒᵤ♫·♪·♬
Mencintai seseorang yang bukan milik kita adalah pengalaman yang menyakitkan namun manusiawi, seringkali dipandang sebagai ujian keikhlasan, kedewasaan emosi, dan takdir.
Ini mengajarkan untuk mencintai tanpa harus memiliki, melepaskan keterikatan, serta memahami bahwa cinta sejati tidak menuntut balasan.
Cinta tak harus memiliki memang terdengar sangat pedih.
Bahkan jika dituangkan dalam sebuah lagu akan sangat menyayat hati.
Cinta memang harus diperjuangkan. Namun, ketika dia tidak bisa membalas dan menerima, kita harus terima dengan lapang dada.
Mencintai seseorang itu memang hak kita, namun memiliki seseorang yang sudah menjadi milik orang lain itu bukan hak kita, jangan pernah takut untuk melepas sesuatu yang belum menjadi milikmu karena Tuhan pasti akan menggantinya dengan sosok yang lebih baik...😅😂🤣
✦͙͙͙*͙❥⃝🅚𝖎𝖐𝖎💋ᶫᵒᵛᵉᵧₒᵤ♫·♪·♬: Betuulllll itu Thor...👍
Karena apapun yang kita rasakan hanya bisa kita simpan sendirian. Sedihnya, sakitnya, bahagianya, tak bisa kita tunjukkan...😰
total 2 replies
✦͙͙͙*͙❥⃝🅚𝖎𝖐𝖎💋ᶫᵒᵛᵉᵧₒᵤ♫·♪·♬
Kata-kata mencintai orang yang bukan milik kita sering kali digunakan untuk mengutarakan kesedihan seseorang karena cintanya bertepuk sebelah tangan.
Mencintai orang yang bukan milik kita sering memberikan cerita sedih sehingga dibutuhkan hiburan.
Orang yang sedang mengalami kesedihan karena hal tersebut membutuhkan penguat karena cinta yang tidak terbalaskan.
Kekuatan bisa diperoleh dari dukungan orang terdekat atau dengan kata-kata mencintai orang yang bukan milik kita...😨😰
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
Tenang Shaka terik napas pelan² saja, lalu keluarkan dari belakang 🤣🙏maaf author komen ku asbun.
Putri_a_s
meskipun bakalan patah hati, tapi yang semangat ya Shaka, perempuan diluar sana masih banyak kok.
Yuni Avita
dilema banget bab kali ini, di satu sisi udah cocok banget Hanin sama ustadz Ilyas, disisi lain juga dukung Shaka sama hanin🤭
Suhadi Mulyo
kira kira Shaka bakal menyerah nggak ya sama perasaannya ke hanin
Khumaira Nur Rahma
wah bakalan patah hati nih Shaka /Brokenheart/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!