Melina Khairunisa seorang gadis berusia 19 tahun, yang tumbuh di panti asuhan tanpa tahu siapa orangtua kandungnya. Dirinya harus dipaksa menikah dengan putranya---Ishan Ganendra atas desakan Nyonya rumah bernama Adisti Ganendra, tempatnya bekerja sebagai ART.
Ishan Ganendra sebagai Aktor terkenal berusia 30 tahun, dan sudah memiliki kekasih---Livia Kumara seorang model papan atas. Setelah menikahi Ishan----tak sekalipun Melina di perlakukan selayaknya istri, bahkan seringkali mendapatkan KDRT, sikap kasar, dan ucapan yang menyakitkan hati dari mulut Ishan.
Suatu saat Karena Konspirasi dibuat Livia, membuat Melina masuk penjara dan Ishan meragukan anak di kandungannya.
Hidup selalu adil, di saat terpuruk Melina bertemu orangtua kandungnya seorang Perwira TNI dan Dokter berpengaruh, yang memiliki pengaruh besar sehingga Melina bisa bebas dari penjara. Bagaimana reaksi Ishan setelah tahu Melina tak bersalah dan anak yang dikandung Melina adalah anaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Pagi itu kampus pelita bakti, matahari bersinar sangat cerah---seolah mengawali hari yang baru.
Hari yang baru bagi seorang gadis berusia 19 tahun yang baru saja kehilangan mahkotanya, langkahnya lunglai berjalan penuh siksaan.
Melina---gadis yang mengenakan blouse warna coklat muda itu dengan pita cantik di lengan dan lehernya, di padukan dengan celana kulot panjang warna coklat tua.
Rambutnya yang panjang dan lurus tampak diikat kuda dan rapi.
Dirinya berusaha menampilkan diri sebagai citra mahasiswi, meskipun dirinya sudah bersuami.
Meski kenyataannya rasa trauma yang perlahan menghancurkannya dari dalam, Melina merasa jika kemarin bukanlah ibadah ranjang.
Melainkan sebuah neraka---neraka yang sudah menghancurkan impian dan hidupnya.
Setiap gerakan langkah kakinya, terasa nyeri yang menghujani bagian bawahnya.
Kejadian semalam bersama suaminya---Ihsan memaksanya kehendak seolah seperti di nodai.
Dirinya tak bisa melapor polisi, karena hal ini memang sudah seperti seharusnya----jika KDRT mungkin bisa di laporkan.
Trauma yang Ihsan toreh padanya, selain luka fisik, juga luka hubungan badan secara paksa.
Tapi kejadian semalam, malah membuat Adisti---ibu mertuanya merasa senang.
Wanita itu sangat bahagia mendapati sprei dengan bercak darah di kamar Melina, karena mengira hubungan putranya dan Melina sudah membaik.
Namun, nyatanya Melina malah memendam rasa trauma---dan Ihsan melakukan hubungan badan karena keserakahannya tak mau menceraikan Melina----Sekaligus tak mau kehilangan Livia.
Sebenarnya, Adisti tak tahu jika menantunya baru saja memendam rasa trauma yang mendalam.
Wanita paruh baya itu, percaya jika nanti Ihsan dan Melina akan memberikannya seorang cucu.
Di kampus Pelita Bakti.
Melina berjalan tertatih menahan sakit di bagian bawahnya, karena hubungan semalam dengan Ishan.
Ishan selalu memintanya lagi dan lagi, padahal Melina masih muda dan bersegel.
Berbeda dengan Livia yang sudah tak bersegel, yang pasti Livia memiliki banyak pengalaman untuk melayani para pria hidung belang.
Melina berjalan tertatih menuju kelas Digital Marketing, tangannya sesekali memegang bagian bawah perutnya.
"Auhh sakit banget," rintih Melina seolah amat kesakitan.
Tangannya memegang bagian bawa perut di tengah kedua tungkainya, wajahnya meringis menahan rasa sakit.
Mulutnya langsung berdoa pada yang maha kuasa.
"Ya allah, bantulah hamba yang lemah ini...hamba hanya ingin ke kelas demi bisa kuliah," gumamnya dan tangannya terus menahan bagian bawah perutnya.
"Kuatkan kaki hamba ya allah, kurangi rasa sakit ini," lanjutnya.
Melina dalam hatinya terus berdoa saat menaiki tangga kampus, bisa di bayangkan betapa sakitnya.
Pertama kali melakukan hubungan, dan di paksa harus pergi ke kampus----karena Melina memiliki cita-cita yang besar.
Air mata nyaris jatuh, tapi tangannya berusaha menepisnya dengan kasar.
Langkahnya menaiki anak tangga satu per satu, sambil menahan sakit di bagian bawahnya.
Napasnya tersengal, karena tak punya pilihan lain selain melangkahkan kakinya menuju kelas digital marketing.
Di dalam kelas, Melina duduk di kursi---sementara teman-teman yang lain tak melihat ada yang salah dari Melina.
Setelah kelas selesai.
Melina juga sudah absen dengan menggunakan kode QR.
Para mahasiswa dan mahasiswi yang sudah selesai, dengan suara koridor yang cukup ramai.
Alvaro, yang mengenakan hoodie biru dan ransel warna hitam, sedang berbincang mengenai klub basket.
Terlihat pemuda itu berbincang dengan rekan mahasiswa lainnya, namun perhatiannya teralih saat melihat sosok Melina.
Matanya melihat Melina yang berjalan dengan hati-hati saat menuruni anak tangga, seperti menahan sakit.
"Bro bentar yaa," ucap Alvaro.
"Eh mau kemana lu?" tanya temannya.
"Bentar nanti gua kesini lagi," kata Alvaro langsung berlari menuju Melina.
Teman-teman yang lain melihat bagaimana Melina berjalan, dan kakinya seperti menahan sakit.
"Hmm pantesan aja," ucap si Juan.
"Kenapa?" tanya Aldo,
"Noh," tunjuk Juan.
Beberapa teman-teman melihat Melina.
"Woilah move on dong!"
"Tahu! udah tahu si Mel jadi istri orang, malah di deketin terus."
"Tapi hati nggak pernah salah sih bro."
"Maksud lo?" tanya Aldo menatap Juan dengan menyelidik.
Mereka semua menatap Juan, karena yang paling dekat dengan Alvaro adalah Juan----mereka mengira jika Juan membela Alvaro karena teman dekat.
"Al...pernah cerita ama gua, kalo Mel itu ada luka lebam di pipi dan tangannya."
"Hah kena KDRT kali dari suaminya," ucap Aldo yang mulutnya kaya lambe turah.
"Nah itu lu tahu," jawab Juan.
Alvaro dengan inisatif mendekati Melina dan memanggilnya dengan lembut.
"Mel...," panggil Alvaro dengan lembut.
Tak ada jawaban, Melina terus berjalan karena dirinya tak mau mencari masalah karena suaminya yang posesif.
Karena tak dapat respon Alvaro mengejarnya dan berhasil menahan lengan sahabatnya.
"Mel...," panggil Alvaro.
"Al?" ucap Melina menoleh dengan wajah yang pucat.
"Lu oke? muka lu pucet banget?" tanya Alvaro dengan penuh perhatian pada Melina.
Melina hanya tersenyum dan menjawab.
"Gua oke kok," jawabnya.
"Lu sakit? jalan lu kenapa begitu?" tanya Alvaro kepada Melina.
Namun belum sempat Melina mengatakan sepatah kata, sebuah bayangan gelap muncul dari balik punggung keduanya.
Sret!
Tanpa peringatan, tiba-tiba tangan Melina di tarik dengan kasar oleh suaminya.
Tubuh Melina tersentak ke belakang nyaris terjungkal jika tak di tahan oleh Ishan.
Ishan berdiri dengan mata yang judes dan dingin, dengan mengenakan kaos hitam yang ketat, memperlihatkan otot lengannya dan celana jeans biru tua.
Matanya yang dingin berkilat marah, menatap Alvaro seolah-olah mau menerkamnya hidup-hidup.
"Mas! sakit!" rintih Melina saat tangannya di cengkram oleh Ishan.
"Diam!" ucapnya datar.
Melina dan Alvaro menjadi terdiam, dan merekam mengatup bibirnya seolah ketakutan dengan ucapan datar dari Ishan.
"Mas kamu-----" ucapan Melina terhenti.
"Kamu diam!" bentaknya, membuat Melina tersentak kaget.
Ishan tadinya menatap Melina, lalu menatap Alvaro.
"Dia istri saya. Jangan berani sentuh milik saya," desis Ishan pada Alvaro.
Tanpa menunggu jawaban yang terlontar dari bibir Alvaro, Ishan segera menarik Melina menjauh secara paksa.
Ishan menarik tangan Melina menjauhi Alvaro, tak peduli bagian bawah Melina yang masih kesakitan.
Alvaro diam terpaku, mengepal kedua tangannya menatap kepergian gadis yang di cintainya saat diseret paksa oleh suaminya.
Di tengah keramaian kampus, Melina di seret paksa oleh suaminya.
Melina bisa merasakan amarah dari sang suami hatinya berharap tak minta berhubungan lagi, karena bagian tungkainya masih sakit.
*
*
*
*
*
*
*
*
*