NovelToon NovelToon
THE BRITISH ROYAL FAMILY

THE BRITISH ROYAL FAMILY

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:124
Nilai: 5
Nama Author: Moms Celina

Deskripsi

The British Royal Family karya Moms Celina adalah novel roman kerajaan yang mengisahkan perjuangan cinta, pengorbanan, dan harapan kedua kalinya. Berlatar di istana megah Inggris, cerita ini mengikuti perjalanan Elizabeth yang harus menyeimbangkan hati dan tanggung jawab, serta Taylor yang harus memilih antara takhta dan orang yang dicintainya. Dengan alur yang menegangkan, adegan yang hangat, dan konflik yang menyentuh hati, novel ini cocok bagi pembaca yang menyukai kisah cinta yang melawan aturan, serta ikatan keluarga yang tak tergoyahkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms Celina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertarungan di Padang Rumput Panjang

Sinar matahari yang terang akhirnya menembus sisa-sisa kabut, menyinari seluruh padang yang luas dan membuat ujung-ujung senjata berkilau tajam seperti ribuan bintang yang jatuh ke bumi. Angin berhembus kencang, menerbangkan ujung-ujung bendera yang berkibar tinggi, dan membawa serta suara terompet yang panjang dan nyaring, suara yang menjadi tanda bahwa pertarungan telah dimulai.

Di seberang sungai, Lord Marcus mengangkat pedangnya tinggi-tinggi di atas kepalanya, dan dengan suara yang sekuat suara guntur dia berteriak memerintahkan pasukannya untuk bergerak maju. “Serang! Hancurkan mereka! Jangan tinggalkan satu orang pun yang hidup! Kemenangan dan kekayaan menanti kita di ujung pedang kita!”

Suara teriakan bergema dari ribuan mulut, dan dalam sekejap mata gelombang manusia bergerak maju melintasi sungai yang dangkal, air terciprat ke mana-mana saat kaki dan kuda menerjang masuk ke dalam aliran air. Mereka bergerak dengan cepat dan penuh semangat yang dipaksakan, dipacu oleh perintah para pemimpin mereka dan ketakutan akan hukuman jika mereka mundur. Mereka bergerak seperti ombak besar yang akan menghantam pantai, membawa serta amarah dan kekuatan yang terlihat tak bisa dihalangi.

Namun di sisi lain, pasukan kerajaan berdiri tegak dan tenang, menunggu musuh datang semakin dekat. Mereka tak bergerak maju untuk menyambut serangan, mereka juga tak mundur selangkah pun. Mereka berdiri teguh seperti pohon-pohon tua yang tumbuh di atas batu, akarnya menancap kuat ke dalam tanah, siap untuk menahan badai sekuat apa pun yang datang menghantam. Di barisan paling depan berdiri Taylor, Elizabeth, dan para pemimpin utama, memegang senjata mereka dengan erat, mata mereka tajam dan penuh kewaspadaan, memantau setiap gerakan musuh dengan cermat.

“Tahan posisi kalian!” teriak Taylor dengan suara yang keras dan jelas, terdengar sampai ke barisan paling belakang. “Biarkan mereka datang sampai jarak yang cukup dekat, lalu serang dengan kekuatan penuh! Ingatlah, kita berjuang bukan untuk membunuh, tapi untuk melindungi! Kita berjuang bukan untuk kekuasaan, tapi untuk kebenaran! Dan ingatlah, di dalam barisan mereka ada banyak orang yang telah ditipu dan dipaksa untuk berperang, jika ada di antara mereka yang meletakkan senjata dan menyerah, biarkan mereka hidup dan berjalan ke sisi kita! Jangan tumpahkan darah yang tak perlu!”

Saat gelombang pasukan musuh akhirnya mencapai tepi sungai dan mulai menaiki tebing ke arah mereka, saat jarak antara kedua pihak hanya tinggal beberapa puluh langkah saja, akhirnya perintah untuk menyerang diberikan. Terompet kembali berbunyi, dan dengan satu gerakan yang serentak, pasukan kerajaan bergerak maju, berteriak dengan suara yang bergema sampai ke langit, suara yang penuh dengan semangat dan keyakinan yang membara.

Pertarungan akhirnya meletus, dan dalam sekejap mata suasana yang tadinya hening dan tenang berubah menjadi kacau balau yang penuh dengan suara dan gerakan. Suara benturan besi dengan besi terdengar di mana-mana, suara teriakan perang dan rintihan kesakitan bercampur menjadi satu, suara langkah kaki dan derap kuda bergema di atas tanah yang mulai terinjak-injak dan berubah menjadi lumpur. Darah mulai menetes dan mengalir di antara rerumputan yang hijau, mengubah warna tanah menjadi merah di banyak tempat, dan bau besi dan keringat memenuhi udara yang sebelumnya segar dan bersih.

Pertarungan itu sengit dan berat, dan kedua pihak berjuang dengan segala kekuatan yang mereka miliki. Pasukan musuh memang memiliki jumlah yang lebih banyak dan senjata yang lebih mewah, dan mereka berjuang dengan kejam dan mematikan, dipacu oleh perintah dan ancaman dari para pemimpin mereka. Namun pasukan kerajaan berjuang dengan hati yang jauh lebih kuat dan semangat yang jauh lebih besar. Mereka berjuang untuk rumah mereka, untuk keluarga mereka, untuk negeri mereka, dan untuk masa depan yang lebih baik. Mereka berjuang berdampingan sebagai saudara, saling melindungi dan saling mendukung, dan mereka bertarung dengan keberanian yang takkan bisa dipadamkan oleh apa pun.

Di tengah-tengah kacau balau pertarungan itu, Taylor dan Elizabeth bergerak maju memimpin pasukan mereka, berjuang berdampingan satu sama lain. Mereka bukan hanya pemimpin yang berdiri di belakang memberi perintah, tapi mereka adalah pejuang yang bertarung di barisan paling depan, di tempat di mana bahaya terbesar berada. Taylor bergerak dengan gerakan yang cepat, tepat, dan terlatih, pedangnya berkilau seperti kilat di udara, menangkis serangan demi serangan dan menyerang dengan kekuatan yang terukur, selalu berusaha untuk melumpuhkan musuh tanpa harus membunuh jika itu memungkinkan.

Di sampingnya, Elizabeth juga bertarung dengan keberanian dan keahlian yang luar biasa. Banyak orang yang tak menyangka bahwa wanita yang selama ini dikenal lembut dan penuh kasih sayang bisa bertarung dengan sehebat dan seberani ini. Dia bergerak dengan kelincahan dan kecepatan yang sulit diikuti, matanya tajam dan waspada, selalu melihat setiap gerakan musuh sebelum gerakan itu selesai dilakukan. Dia tak bertarung dengan amarah atau keinginan untuk membunuh, tapi dia bertarung dengan ketenangan dan fokus yang luar biasa, berusaha untuk melindungi suaminya dan orang-orang di sekelilingnya, dan berusaha untuk menghentikan pertumpahan darah dengan cara yang terbaik.

Melihat keberanian mereka berdua, semangat pasukan kerajaan semakin membara. Jika pemimpin mereka sendiri berani berdiri di barisan depan dan berjuang berdampingan dengan mereka, maka tak ada alasan bagi mereka untuk merasa takut atau ragu. Mereka bergerak maju dengan kekuatan yang semakin besar, mendesak barisan musuh mundur selangkah demi selangkah, membuat barisan mereka yang tadinya rapi mulai terpecah dan terganggu.

Namun di pihak musuh, para pemimpin mereka berusaha dengan segala cara untuk mempertahankan semangat pasukannya. Lord Marcus sendiri bergerak di tengah-tengah pertarungan, berteriak-teriak memerintahkan dan mengancam, menyerang dengan kekuatan yang besar dan kejam, berusaha menunjukkan kepada pengikutnya bahwa dia adalah orang yang berani dan kuat. Namun meski dia berusaha sekuat tenaga, dia tak bisa menyembunyikan kenyataan bahwa pertarungan ini tak berjalan sesuai dengan rencana mereka. Mereka yang tadinya yakin akan menang dengan mudah kini mulai menyadari bahwa lawan yang mereka hadapi jauh lebih kuat dan lebih berbahaya dari apa yang mereka bayangkan sebelumnya.

Yang lebih berbahaya lagi bagi mereka adalah kenyataan yang mulai terlihat semakin jelas di mata banyak orang di antara pasukan mereka sendiri. Saat mereka bertarung berhadapan dengan orang-orang dari pihak kerajaan, saat mereka melihat wajah lawan mereka dengan jelas, saat mereka mendengar kata-kata yang diucapkan oleh lawan mereka di tengah-tengah pertarungan, banyak dari mereka yang mulai sadar dan terbangun dari kebohongan yang selama ini mereka percayai.

Mereka melihat bahwa orang yang mereka lawan bukanlah orang yang jahat, bukanlah orang yang ingin menindas atau menghancurkan mereka seperti yang telah diceritakan. Sebaliknya, mereka melihat orang-orang yang berjuang dengan wajah yang tenang dan hati yang tulus, mereka mendengar kata-kata yang mengajak mereka untuk sadar dan kembali ke jalan yang benar, dan mereka mulai menyadari bahwa mereka telah ditipu dan dipaksa untuk berperang melawan orang-orang yang sebenarnya adalah saudara mereka sendiri.

Satu per satu, orang-orang di antara barisan musuh mulai meletakkan senjata mereka, berhenti bertarung, dan berjalan keluar dari barisan mereka untuk menyerah dan bergabung dengan pihak kerajaan. Mereka berkata bahwa mereka tak ingin lagi berperang, mereka tak ingin lagi menumpahkan darah saudara mereka sendiri, dan mereka sadar bahwa mereka telah dipermainkan oleh orang-orang yang hanya memikirkan kekuasaan dan keuntungan sendiri.

Melihat hal itu terjadi, kemarahan dan ketakutan Lord Marcus meledak tak terkendali. Dia berteriak-teriak dengan suara yang serak dan penuh amarah, mengancam untuk membunuh siapa saja yang berani berhenti bertarung atau menyerah. Dia bahkan membunuh beberapa orang dari pengikutnya sendiri yang terlihat ragu atau berusaha untuk menyerah, berusaha dengan cara yang kejam untuk memaksakan mereka terus berperang. Namun tindakannya yang kejam itu justru membuat keadaan menjadi semakin buruk baginya. Alih-alih membuat orang lain takut dan patuh, tindakannya itu justru membuka mata mereka lebih lebar lagi, dan membuat mereka semakin sadar betapa jahat dan berbahayanya orang yang mereka ikuti selama ini.

“Lihatlah dia!” teriak salah seorang dari mereka dengan suara yang keras, terdengar oleh semua orang di sekelilingnya. “Dia membunuh kita sendiri! Dia membunuh orang yang dia sebut pengikutnya hanya karena kita tak ingin lagi berperang melawan saudara kita sendiri! Dia bukan pemimpin kita, dia hanyalah tiran yang kejam dan berbahaya! Kita telah dipermainkan selama ini!”

Suara itu menjadi pemicu yang melepaskan segala keraguan dan kemarahan yang telah tersimpan di dalam hati mereka selama ini. Dalam waktu singkat, gelombang perubahan menyebar ke seluruh barisan musuh. Ribuan orang meletakkan senjata mereka serentak, berbalik melawan para pemimpin mereka sendiri, dan berteriak menyatakan bahwa mereka takkan lagi mengikuti perintah orang-orang yang kejam dan penipu itu.

Barisan pasukan musuh yang tadinya terlihat kuat dan tak tergoyahkan kini hancur berkeping-keping dalam waktu yang sangat singkat. Sebagian besar dari mereka berhenti bertarung dan menyerah, sebagian lain berbalik melawan para pemimpin mereka sendiri, dan hanya sebagian kecil yang tetap bertarung, yaitu orang-orang yang memang benar-benar terlibat dalam rencana jahat dan orang-orang yang telah melakukan banyak kejahatan dan tak punya jalan lain untuk kembali.

Melihat bahwa keadaan telah berbalik sepenuhnya melawan mereka, dan melihat bahwa mereka telah ditinggalkan oleh ribuan pengikut mereka sendiri, para pemimpin pemberontak akhirnya sadar bahwa mereka telah kalah sepenuhnya. Lord Marcus berdiri di tengah-tengah kacau balau itu, napasnya terengah-engah, tubuhnya berlumuran darah dan lumpur, pedangnya tergenggam erat di tangannya yang gemetar, dan matanya menatap sekeliling dengan pandangan yang penuh amarah, keputusasaan, dan kegilaan. Semua rencana, semua ambisi, dan semua harapannya telah hancur berkeping-keping di hadapan matanya sendiri. Kekuasaan yang dia dambakan selama ini kini lenyap seperti kabut tertiup angin, dan dia kini berdiri sendirian, dikelilingi oleh musuh di segala arah, tanpa teman dan tanpa jalan untuk melarikan diri.

Namun meski dia telah sadar bahwa dia telah kalah, sifatnya yang keras dan kejam tak memungkinkannya untuk menyerah dengan tenang. Dia masih memegang pedangnya dengan erat, dan dia masih siap untuk bertarung sampai tetes darah terakhirnya, berusaha untuk membawa serta nyawa orang lain bersamanya ke dalam kematian.

“Jika aku harus mati, aku takkan mati sendirian!” teriaknya dengan suara yang melengking dan tak waras. “Aku akan membawa kalian semua bersamaku ke dalam neraka! Tak ada yang akan menang, dan tak ada yang akan hidup dengan bahagia setelah ini!”

Dengan gerakan yang tiba-tiba dan gila, dia bergerak maju menerjang ke arah Taylor dan Elizabeth, berusaha untuk membunuh mereka berdua dengan satu serangan terakhir yang mematikan, berusaha untuk setidaknya membalas dendam sebelum nyawanya diambil. Dia bergerak dengan kecepatan dan kekuatan yang dipicu oleh kegilaan dan keputusasaan, membuat serangannya menjadi sangat berbahaya dan sulit untuk dihadang.

Namun Taylor dan Elizabeth telah siap menghadapinya. Mereka berdua telah melihat perubahan dalam gerakan dan pandangan orang itu, dan mereka telah bersiap untuk menghadapi serangan terakhirnya. Saat Lord Marcus akhirnya mendekat dan mengayunkan pedangnya dengan kekuatan sekuat tenaga yang tersisa, Taylor dan Elizabeth bergerak bersamaan dengan gerakan yang selaras dan terkoordinasi dengan sempurna. Taylor menangkis serangan pedang itu dengan gerakan yang kuat dan tepat, membuat pedang di tangan orang itu terlempar terbang dan jatuh ke tanah. Pada saat yang sama, Elizabeth bergerak maju dan dengan gerakan yang cepat dia memutar pergelangan tangannya, membuat orang itu terhuyung dan akhirnya terjatuh ke tanah, terbaring tak berdaya di bawah ujung pedang mereka.

Lord Marcus terbaring diam di tanah, napasnya terengah-engah, matanya menatap mereka berdua dengan pandangan yang penuh kebencian dan keputusasaan, namun dia tak lagi memiliki kekuatan untuk bergerak atau berbicara. Kini dia berada di tangan mereka, dan nasibnya sepenuhnya tergantung pada belas kasihan mereka.

Suasana di padang akhirnya menjadi hening, dan suara pertarungan perlahan mereda sampai tak terdengar lagi. Ribuan orang berdiri diam menatap ke arah mereka, menunggu untuk melihat apa yang akan terjadi selanjutnya. Pertarungan yang panjang, sengit, dan berdarah akhirnya telah berakhir. Kemenangan telah berada di tangan mereka yang berjuang untuk kebenaran dan keadilan, dan mereka yang berjuang untuk keserakahan dan kebohongan akhirnya telah dikalahkan.

Namun meski kemenangan telah diraih, hati mereka semua tak terasa penuh dengan sukacita atau kebanggaan, melainkan terasa berat dan penuh kesedihan. Di sekeliling mereka terhampar tanah yang penuh dengan jejak pertarungan, terbaring tubuh-tubuh orang yang telah gugur, baik dari pihak mereka maupun dari pihak musuh, dan banyak dari mereka yang gugur hanyalah orang biasa yang terjebak di dalam pertikaian yang bukan milik mereka. Mereka telah menang dalam pertarungan, tapi mereka juga telah melihat betapa mahal harga yang harus dibayar untuk kemenangan itu, dan mereka sadar bahwa perang tak pernah membawa sesuatu yang baik, melainkan hanya membawa kesedihan, penderitaan, dan kehilangan.

Taylor menatap orang yang terbaring tak berdaya di hadapannya, lalu dia berbicara dengan suara yang tenang namun terdengar jelas oleh semua orang yang hadir. “Perang telah berakhir, dan pertarungan telah selesai. Kemenangan bukanlah milik kami semata, tapi kemenangan ini adalah milik seluruh rakyat negeri ini, milik mereka yang berjuang untuk kebenaran, dan milik mereka yang akhirnya sadar dan kembali ke jalan yang benar. Orang-orang yang telah memulai pertikaian ini, orang-orang yang telah menyebarkan kebohongan dan memecah belah negeri ini, akan diadili sesuai dengan hukum dan keadilan, agar seluruh rakyat bisa melihat bahwa kejahatan takkan pernah bisa menang, dan bahwa siapa pun, setinggi apa pun kedudukannya, takkan bisa lepas dari tanggung jawab atas perbuatan mereka.”

Dia berhenti sejenak, lalu melanjutkan kata-katanya dengan suara yang lebih lembut dan penuh perasaan. “Namun ingatlah, kita tak berperang untuk membalas dendam atau untuk menghukum. Kita berperang untuk menyatukan, untuk menyembuhkan, dan untuk membangun masa depan yang lebih baik. Mulai hari ini, tak ada lagi perbedaan antara orang utara dan orang selatan, tak ada lagi perbedaan antara orang yang dulu bersama kita dan orang yang dulu melawan kita. Kita semua adalah satu rakyat, satu keluarga, dan satu negeri. Luka yang telah dibuat akan kita sembuhkan bersama-sama, dan tanah yang telah ternoda darah akan kita bersihkan dan kita kembalikan menjadi tanah yang penuh dengan kedamaian dan kebahagiaan.”

Suasana yang tadinya hening kini pecah menjadi suara teriakan dan sorak-sorai yang bergema di seluruh padang, suara yang penuh dengan rasa syukur, kelegaan, dan harapan. Orang-orang dari kedua pihak, yang beberapa saat yang lalu masih saling bertarung dan saling membunuh, kini berdiri berdampingan dan berpelukan satu sama lain, menangis karena haru dan sukacita, menyadari bahwa mereka telah kembali bersatu, dan bahwa kedamaian yang telah lama mereka dambakan akhirnya telah datang kembali ke tanah mereka.

Matahari mulai terbenam di ufuk barat, mewarnai langit dengan warna merah keemasan yang indah, seolah-olah langit sendiri sedang tersenyum dan menyambut kedamaian yang telah kembali. Di Padang Rumput Panjang, tempat di mana darah pernah mengalir dan pertarungan pernah terjadi, kini hati-hati yang dulu terpecah telah bersatu kembali, dan benih kedamaian akhirnya telah tertanam kuat di dalam tanah dan di dalam jiwa seluruh rakyat negeri ini.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!