Lelah dengan kehidupan keras sebagai budak korporat di kota besar dan duka setelah kehilangan kedua orang tuanya, Lin Ye memutuskan untuk pulang ke Desa Qingshui, tempat kakeknya dulu tinggal.
Di sana, ia menemukan ladang dan rumah kakeknya yang sudah terbengkalai, kecuali sebatang pohon raksasa misterius di belakang rumah yang anehnya tetap subur dan hijau.
Saat tangan Lin Ye yang terluka menyentuh pohon tersebut, Sistem Warisan Alam yang terkunci sejak kematian kakeknya mendadak aktif, mengenali garis keturunannya sebagai pewaris sah.
Kini, dengan bantuan sistem yang memudahkan pekerjaan bertani dan kehadiran roh-roh alam fantasi, Lin Ye memulai kehidupan barunya yang santai namun penuh keajaiban untuk membangun kembali kejayaan ladang kakeknya, melawan intrik tetangga yang rakus, dan perlahan menjadi kaya raya di tengah kedamaian pedesaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Paman Chen mengangguk patuh. Dia kembali ke mobil dan mengambil sebuah tas kerja berisi tumpukan uang tunai yang sangat banyak, lalu menyerahkannya kepada Lin Ye. Sementara itu, asisten supir mulai memindahkan barang panen ke dalam truk pendingin dengan sangat hati-hati.
"Kerja sama yang sangat efisien, Direktur Tang. Saya suka gaya berbisnis Anda," kata Lin Ye menerima tas berisi uang tersebut.
"Aku juga tidak suka membuang waktu. Berapa banyak lagi yang bisa kamu panen untuk hari Senin depan?" tanya Tang Wanjin, matanya melirik ke arah ladang yang luas.
"Akan ada lebih banyak lagi. Saya baru saja memperluas ladang. Pastikan Anda membawa lebih banyak uang tunai minggu depan," jawab Lin Ye penuh percaya diri.
"Aku akan menyiapkan berapapun yang kamu butuhkan, asalkan barangnya ada. Kami permisi dulu, Lin Ye. Aku harus segera membawa barang ini ke ruang pendingin hotel," pamit Tang Wanjin, memberikan anggukan singkat sebelum berbalik menuju mobilnya.
Saat konvoi kendaraan itu meninggalkan Desa Qingshui, Lin Ye masuk ke dalam rumah dan duduk di kursi barunya. Dia membuka tas kerja itu. Tumpukan uang tujuh puluh lima ribu yuan adalah jumlah yang sangat fantastis, setara dengan gaji tahunannya di kota dulu.
Sring.
Layar sistem muncul memberikan notifikasi yang paling ditunggu-tunggu.
"Transaksi Komoditas Fantasi Berhasil."
"Mengonversi nilai kualitas superior dan kepuasan absolut ke dalam Koin Alam."
"Anda mendapatkan tambahan 350 Koin Alam."
"Saldo Koin Alam saat ini: 353 Koin."
Lin Ye mengepalkan tangannya puas. Rencana selanjutnya bisa langsung dieksekusi.
"Dengan koin sebanyak ini, aku tidak perlu ragu untuk menjelajahi lapisan kedua tambang malam ini. Peralatanku sudah di tingkat kedua, dan staminaku sedang penuh," tekad Lin Ye.
Sisa hari itu dia habiskan untuk menanam kembali benih-benih biasa di ladang untuk dijual ke pasar lokal, agar warga desa tidak curiga jika ladangnya dibiarkan kosong terlalu lama. Xiao Lu membantu menyiramnya dari bawah tanah sehingga Lin Ye bisa menghemat tenaga.
Malam akhirnya tiba. Kabut tipis mulai turun menyelimuti pekarangan.
Lin Ye mengenakan jaket tebalnya, menyalakan senter kepala, dan mengikatkan sarung parang di pinggang. Di tangannya, dia menggenggam erat Cangkul Tembaga Hitam Level 2. Dia menuruni tali tambang ke dasar sumur yang kini penuh dengan air biru bercahaya dari Batu Inti Air.
Klak.
Pintu batu berukir itu kembali terbuka setelah dia menggunakan kuncinya. Lin Ye melangkah masuk ke Lapisan Pertama Tambang Warisan Keluarga Lin.
Dia berjalan melewati ruangan bundar tempat dia menemukan bijih tembaga tempo hari. Tidak ada lagi Kelelawar Batu yang muncul. Dia terus menyusuri lorong yang semakin menurun ke bawah. Hawa di dalam terowongan terasa semakin dingin, dan kelembaban udara meningkat.
Setelah berjalan sekitar lima ratus meter ke dalam perut bumi, lorong itu buntu. Di depannya berdiri sebuah dinding batu masif yang permukaannya tertutup es tipis. Dinding itu memiliki warna biru kehitaman yang sangat aneh.
Sring.
"Peringatan: Dinding Segel Lapisan Kedua terdeteksi."
"Dibutuhkan kekuatan benturan dari alat Level 2 atau lebih untuk menghancurkan segel pelindung alam ini."
Lin Ye mundur selangkah. Dia mengangkat Cangkul Tembaga Hitam Level 2-nya tinggi-tinggi ke atas kepala. Otot lengannya menegang. Dia memfokuskan tenaga pada mata cangkul tersebut.
"Hancurlah," teriak Lin Ye.
Trak.
Duaaaaaaaar.
Saat mata cangkul itu menghantam dinding es tersebut, ledakan energi yang cukup kuat terjadi. Dinding batu itu retak hebat dan hancur berkeping-keping, membuka sebuah terowongan baru yang jauh lebih luas dari sebelumnya.
Lin Ye melangkah masuk menembus kepulan debu es.
Pemandangan di Lapisan Kedua ini sangat menakjubkan. Dinding guanya tidak lagi berupa tanah dan batu kotor, melainkan dipenuhi oleh bongkahan-bongkahan kristal mentah yang memancarkan cahaya perak redup. Di langit-langit gua, stalaktit runcing menggantung seperti gigi monster raksasa.
"Tempat ini luar biasa. Jika semua kristal perak itu bisa ditambang, aku bisa menjadi orang terkaya di provinsi ini," gumam Lin Ye sambil mengarahkan senter kepalanya berkeliling.
Krrrrrrrr. Srek. Srek.
Suara gesekan benda keras yang sangat banyak terdengar bergema dari sudut gelap gua. Suaranya terdengar seperti puluhan kaki berbaju zirah yang sedang berjalan di atas bebatuan.
"Peringatan Darurat: Makhluk Mutasi Tingkat Menengah Terdeteksi."
"Lipan Gua Lapis Baja. Monster agresif dengan cangkang keras dan racun korosif."
Dari balik bayangan pilar kristal yang besar, muncul seekor makhluk mengerikan. Seekor lipan raksasa, panjangnya hampir mencapai tiga meter. Tubuhnya dilapisi oleh pelat-pelat karapas berwarna perak gelap yang terlihat sangat keras. Ratusan kakinya bergerak bergelombang, menghasilkan suara gesekan yang mengerikan. Rahang beracunnya terbuka lebar, meneteskan cairan hijau yang langsung membuat batu di lantai gua berasap dan meleleh.
Makhluk itu mendesis marah karena Lin Ye telah menghancurkan pintu masuk ke sarangnya.
"Bagus. Babi hutan di bukit, gagak di ladang, dan sekarang serangga raksasa di bawah tanah. Kehidupan macam apa yang aku jalani ini?" keluh Lin Ye sarkastis, namun matanya menatap tajam penuh fokus.
Lipan Gua Lapis Baja itu tidak membuang waktu. Makhluk itu meliuk dengan sangat cepat, melesat maju seperti kereta api kecil menuju Lin Ye.
Lin Ye segera mengubah Cangkul Tembaga Hitamnya menjadi mode Kapak. Mata kapak bermata ganda yang berat itu langsung terbentuk.
Srrttt.
Lipan itu menyemburkan cairan racun hijaunya ke arah Lin Ye.
Lin Ye berguling ke samping menghindari semburan tersebut. Cairan beracun itu mengenai dinding gua di belakangnya, mengeluarkan asap berbau busuk.
"Dia memiliki serangan jarak jauh. Aku harus mendekat dari sisi butanya," batin Lin Ye.
Dia berlari memutar, memanfaatkan pilar-pilar kristal sebagai tempat berlindung dari semburan racun berikutnya. Saat lipan itu merayap memutar untuk mengejarnya, Lin Ye melihat celah pada persendian antara lempengan karapas di punggung makhluk itu.
Lin Ye melompat dari atas sebuah gundukan batu kristal, mengangkat kapaknya tinggi-tinggi. Menggunakan Kemampuan Khusus Tebasan Ganda, dia menghantamkan kapaknya ke arah persendian karapas monster itu.
Trak. Crak.
Hantaman pertama meremukkan cangkang perak yang keras, dan tebasan kedua secara otomatis mengikuti momentum, membelah daging di bawahnya hingga tembus ke tanah.
Krieeeeek.
Lipan raksasa itu menjerit melengking, tubuhnya menggeliat hebat memukul-mukul tanah dengan liar sebelum akhirnya terdiam kaku.
Makhluk raksasa itu perlahan hancur menjadi debu perak, meninggalkan dua buah item di atas tanah. Sebuah kristal seukuran bola pingpong yang berwarna hijau beracun, dan sebuah bongkahan bijih logam yang memancarkan kilau perak murni.
Lin Ye turun dari gundukan batu, napasnya memburu. Dia memungut kedua item tersebut.
"Item Diperoleh: Kelenjar Racun Korosif (Dapat dijual seharga 30 Koin Alam) dan Bijih Perak Murni."
"Bijih Perak. Ini pasti bahan utama untuk modifikasi alat level tiga nantinya," kata Lin Ye dengan senyum lebar, memasukkan benda-benda itu ke dalam tas pinggangnya.
Malam itu, Lin Ye menghabiskan satu jam berikutnya menambang batu-batu kristal perak di dinding gua dengan cangkul barunya yang sangat efisien. Setelah mengumpulkan lima buah Bijih Perak, dia memutuskan untuk kembali ke permukaan. Menghadapi monster tingkat menengah sendirian sudah cukup menguras staminanya.
Sesampainya di kamarnya yang nyaman, Lin Ye merebahkan tubuhnya. Ladangnya di atas tanah sudah menghasilkan puluhan ribu yuan, dan tambang di bawah tanahnya kini menjanjikan material logam berharga. Hanya dalam beberapa minggu, Lin Ye telah meletakkan fondasi terkuat untuk mendominasi desa dan kota, siap menyambut tantangan apa pun yang akan dibawa oleh Festival Musim Semi minggu depan.