"Dasar anak Kunti!"
"Aku bukan anak Kunti! berhenti memanggilku anak Kunti! namaku Kalingga Arsana!"
Kalingga sering di panggil anak Kunti oleh teman temannya dan para warga di tempat dia tinggal, bukan tanpa alasan, itu karena dia lahir dari rahim seorang perempuan yang sudah di kubur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali ke kampung cadas
"Untuk apa pangeran? apa pangeran tidak punya uang?" tanya Kalia langsung di tatap datar Liam dan Lintang.
"Kami anak dan cucu pengusaha ekspor impor, pengusaha konstruksi, pengusaha properti, kami tidak kekurangan uang jadi jangan menguji kesabaranku, cukup Sahara yang seperti itu setiap ke sini dengan alasan khawatir pada kami dan Hamka yang sudah pindah kembali ke Jakarta" gerutu Liam
"Maafkan saya pangeran, saya pikir anda butuh uang, ini tiga sisik milikku, apakah cukup?" tanya Kalia
"Insya Allah cukup, Kaelan buka bedongan anakmu" ucap Liam segera menempelkan sisik itu setelah Kaelan membuka bedong dan baju atasan Kalingga yang sudah di penuhi darah, dan seketika itu juga darahnya berhenti dan Kalingga tidak menangis lagi, hanya terlihat gelisah saja.
"Bayi Chakra, hati hati dia di incar karena jantungnya bisa membuat makluk jahat menjadi begitu kuat" ucap Kalia
"Dia keturunanku Kalia" ucap Arsana
"Ya aku bisa lihat dari sehelai rambut putih di atas ubun ubunnya" jawab Kalia menunjuk sehelai rambut putih di kepala Kalingga.
"Tapi dia akan kembali ke kampung cadas nyi" ucap Kaelan
"Di sana dia akan mendapatkan banyak kesulitan, dan ancaman, tapi dia tidak bisa pergi sebelum ari arinya di temukan" ucap Lintang
"Andai aku bisa menolong, aku lebih suka menantang para makhluk sialan itu untuk bertarung daripada menggunakan cara licik seperti ini" ucap Kalia merasa prihatin.
"Setelah ari ari kamu di temukan, kakek buyut berjanji akan melenyapkan makhluk bernama Malak dan Jayandanu itu nak" ucap Arsana mengusap kepala Kalingga yang terus bergerak gelisah.
"Kami harus pergi sebelum malam, ayo ayah akan mengantarkan kamu" ucap Karna
"Tunggu..."
"Aku mungkin tidak bisa membantu banyak, tapi aku bisa membantu kamu menjaga rumah tempat tinggal orang tuamu selama kamu pergi bekerja, terima ini, ini hanya pinjaman saja dan setelah ari ari Kalingga di temukan, kembalikan padaku" ungkap Lintang memberikan cincin miliknya pada Kaelan.
"Lintang itu pasukan tanpa nama milikmu" ucap Liam
"Aku tahu bang, tapi Kaelan untuk saat ini lebih memerlukan ini, Parta!" panggil Lintang dan sama seperti Kalia, Parta muncul di belakang Lintang bersama lima puluh pasukan miliknya yang memakai pakaian kerajaan jaman dulu.
"Astagfirullah" kaget Karna dan Kaelan.
"Saya pangeran" ucap Parta
"Aku perintahkan kalian menjaga bayi ini selama ari arinya belum di temukan, pastikan bayi ini tidak di dekati makhluk halus dan juga makluk bernama Malak juga Jayandanu, biarkan mereka tahu kalau tak hanya mereka yang bisa mengancam, tapi kita juga bisa, perang besar sedang menanti kita setelah peperangan beberapa tahun yang lalu" perintah Lintang
"Baik pangeran!" jawab semuanya kini berpindah ke belakang Kaelan dan Kalingga membuat Karna merinding karena itu pertama kalinya dia melihat pasukan tanpa nama milik Lintang.
"Terima kasih kak Liam, kak Lintang nyi Kalia dan kakek Arsana" ungkap Kaelan
"Jangan sungkan karena kamu juga keluarga kami Kaelan" jawab Liam
"Panggil nama Parta dan dia juga pasukannya akan muncul, saat kamu pergi ke kota, pakaikan cincin itu di tangan Kalingga, cincin itu bisa membesar dan mengecil sendiri" ucap Lintang.
"Baik kak"
"Pergilah dan saat kamu sudah menemukan di mana ari ari bayi kamu ditemukan, beritahu kami dan hari itu juga kita musnahkan makhluk itu kalau perlu Narno juga" ucap Liam dan semuanya setuju.
Karna dan Kaelan segera pergi dari sana bahkan pakaian Kalingga juga belum di ganti karena Kalingga terus gelisah dalam gendongan Kaelan seperti sedang merasa sakit yang begitu menyiksa.
Dia dan Karna bergantian menggendong Kalingga tanpa berhenti karena mereka ingin cepat sampai dan membuktikan ucapan Kalana yang mengatakan kalau Kalingga akan baik baik saja setelah sampai di kampung cadas.
"Sabar ya nak, sebentar lagi kita sampai" bujuk Kaelan yang sudah dua jam berjalan dari kampung Mahoni
"Itu perbatasan kampung kita nak, berikan uang koin emas ini, ini untuk pajak yang akan di berikan pada Narno" ucap Karna
"Tidak perlu yah, Kaelan tidak mau memberikan sepeserpun untuk bajingan itu" jawab Kaelan menatap tajam para penjaga d perbatasan kampung.
"Tapi nanti ayah tidak akan di ijinkan masuk nak, ayah ingin memastikan kamu dan Kalingga masuk dengan selamat" jawab Karna
"Bisa yah, percaya padaku, mereka pasti takut melihat Kalingga, mereka pasti sudah di hasut Narno tentang Kalingga yang lahir di dalam kubur Maryani" jawab Kaelan
"Kaelan benar tuan" ucap Kalana
Benar saja, penjaga perbatasan kampung langsung menatap tajam Kaelan yang sedang menggendong Kalingga, mereka bahkan meludah karena merasa jijik melihat bayi yang berasal dari dalam kubur itu di bawa Kaelan pulang ke kampung cadas.
"Pengkhianat kampung! Sudah mengotori kampung dengan bekerja di kota sekarang melanggar hukum adat dengan menggali makam Maryani untuk mengeluarkan anaknya!" sinis penjaga itu
"Kampung kita akan semakin mencekam sekarang dengan keberadaan anak Kunti itu, si Maryani sudah jadi kuntilanak sekarang" sinis yang lain membuat langkah Kaelan terhenti karena merasa marah bayinya di panggil anak Kunti.
"Sabar nak, ini bukan waktunya kamu marah, lihat sekarang Kalingga sudah mulai tertidur" bisik Karna
Kaelan menatap Kalingga, bayi itu memang tertidur sekarang bahkan wajahnya yang pucat sekarang sudah kembali berseri dengan pipi yang begitu merah, nafasnya juga terlihat teratur dan Kalingga tak lagi gelisah.
"Astagfirullah, kamu benar benar tidak bisa keluar dari kampung ini nak" lirih Kaelan.
Mereka berdua kembali berjalan, tak ada sapaan seperti biasanya karena Kaelan sudah terbiasa dengan itu, bahkan Karna juga menatap tajam semua orang yang menggunjing kedatangan Kaelan juga Kalingga ke kampung itu.
"Dasar pembawa sial!" teriak seorang warga melemparkan batu ke arah Kaelan tapi langsung di tepis Karna.
"Jangan berani menyakiti anak ku!" bentak Karna
"Dia membuat kampung ini terkena sial! Semalam kami tidak bisa tidur karena si Maryani terus menangis dalam kuburnya bahkan mengganggu kami di setiap rumah dengan mengetuk pintu semua rumah warga!" bentak warga lain
"Jangan menuduh istriku! Dia sudah tenang di alam sana!" bentak Kaelan
"Tahu apa kamu! kamu kan tidak ada di sini!" bentaknya
"Lempar dia dengan batu dan minta mereka pergi dari sini!" teriak warga lain yang sudah menegang batu besar untuk di lemparkan pada Kaelan, Karna dan Kalingga.
"Jangan! anakku masih bayi!" bentak Kaelan
Mereka tidak peduli dengan ucapan Kaelan, batu batu itu mereka lemparkan ke arah Kaelan yang sudah bersiap melindungi anaknya begitupun dengan Karna yang sudah menggenggam golok miliknya untuk dia gunakan untuk mengusir orang orang itu, tapi.....
Bukh. Bukh. Bukh.
"Aakhhhh!"
Batu batu yang di arahkan mereka pada Kaelan justru berbalik dan melesat ke arah orang orang di sana yang langsung memekik karena kesakitan terkena lemparan batu.
"Aakhh! Anak Kunti! dia pasti yang melakukan ini, ayo kita pergi sebelum anak itu memakan kita!" teriak salah seorang warga yang kabur dan yang lain juga ikut kabur karena takut.
"Ayah, apa ini ulah ayah Kalana?" tanya Kaelan
"Tidak, Kalana tadi justru baru bersiap akan keluar" jawab Karna
"Apa ini ulah kamu nak?" tanya Kaelan tapi Kalingga yang masih terpejam itu hanya tersenyum saja.