Lin Xiaoxi tewas kelaparan, namun jiwanya digantikan oleh Chu Yue, Putri Tabib jenius dari masa kuno. Terbangun di tubuh gadis desa miskin, ia dibekali Ruang Dimensi berisi herbal ajaib untuk mengubah nasibnya.
Di kota, sang penguasa Mo Yan sedang sekarat karena penyakit aneh yang tak tersembuhkan. Takdir mempertemukan mereka di jalanan, di mana satu tusukan jarum Xiaoxi menyelamatkan nyawa sang CEO.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33 三三
Pagi itu, suasana di kantor pusat sebuah sekolah internasional ternama nampak sangat tenang, namun di dalam ruangan kepala sekolah, aura ketegangan sekaligus kekaguman begitu terasa. Tiga orang penguji senior duduk berjajar, menatap lembar jawaban seorang anak kecil bernama A-Chen dengan pandangan yang sulit dipercaya. A-Chen duduk di kursi kayu besar, kakinya berayun pelan, wajahnya tampak tenang seolah baru saja menyelesaikan permainan teka-teki silang biasa, bukan tes masuk standar yang biasanya membuat anak seusianya menangis.
"Ini... ini hampir mustahil." gumam sang Kepala Sekolah sambil membetulkan kacamatanya. "Dia menyelesaikan soal matematika tingkat menengah dan tes logika abstrak hanya dalam waktu empat puluh menit. Dan skornya? Sempurna tanpa satu pun kesalahan."
Seorang pria paruh baya berpakaian rapi yang duduk di samping A-Chen yang dikenal oleh pihak sekolah sebagai Pak Hendra, paman sekaligus wali sah A-Chen hanya mengangguk sopan. Tak ada yang tahu bahwa pria ini sebenarnya adalah mantan intelijen yang disewa khusus oleh Mo Yan untuk menjadi wajah bagi A-Chen di dunia luar.
"Kami menyarankan agar A-Chen langsung masuk ke kelas akselerasi." lanjut Kepala Sekolah dengan nada antusias. "Dia memiliki kapasitas otak yang sangat luar biasa. Menempatkannya di kelas reguler hanya akan menghambat pertumbuhannya. Kami ingin dia segera memulai program khusus bulan depan."
Hendra tersenyum tipis. "Saya akan mendiskusikan hal ini dengan keluarga. Terima kasih atas apresiasinya."
Sementara itu, di kediaman utama keluarga Mo, sebuah badai besar sedang meletus di ruang kerja Mo Yan. Suara gebrakan meja kayu jati bergema hingga ke koridor luar, membuat Zuo Fan yang berjaga di depan pintu hanya bisa menghela napas panjang.
"Apa kau bilang?! Wali palsu?! Kau ingin memisahkan aku dari adikku sendiri di mata dunia?!" teriak Xi'er dengan mata yang memerah karena marah. Jarum perak di tangannya bergetar, seolah siap terbang ke arah Mo Yan kapan saja.
Mo Yan tetap tenang di kursi rodanya, meskipun ia bisa merasakan aura membunuh dari Xi'er. "Xi'er, dengarkan aku dulu. Pakai otak jeniusmu itu untuk berpikir secara strategis, bukan secara emosional."
"Strategis apa?! Aku kakaknya! Aku yang merawatnya sejak dia masih merah! Dan sekarang kau menyuruh orang asing bermarga Hendra itu untuk mengaku sebagai orang tuanya di sekolah?" Xi'er berjalan mondar-mandir dengan sandal cit-cit miliknya yang kini berbunyi sangat cepat, menunjukkan betapa meledaknya emosi gadis itu.
"Justru karena kau kakaknya, kau harus melindunginya!" sahut Mo Yan dengan suara bariton yang tegas. "Kau tahu berapa banyak musuh Mo Group yang mengincarku? Dan sekarang kau, seorang tabib misterius yang membongkar rencana Bramantyo, sudah menjadi target kedua. Jika dunia luar tahu bahwa A-Chen adalah adikmu dan dia tinggal di rumah ini, sekolahnya tidak akan menjadi tempat belajar, melainkan tempat penculikan!"
Xi'er terdiam, napasnya masih memburu, namun kata-kata Mo Yan mulai meresap ke dalam logikanya.
"Hendra adalah orang terlatih. Dia akan menjemput A-Chen setiap hari ke sebuah rumah di kompleks sebelah." lanjut Mo Yan. Ia menekan sebuah tombol di meja kerjanya, dan rak buku besar di belakangnya bergeser, menyingkapkan sebuah layar monitor yang menampilkan denah arsitektur bawah tanah.
"Lihat ini. Rumah nomor 12 di blok sebelah sudah kubeli atas nama Hendra. Di bawah gudang belakang rumah itu, aku sudah membangun terowongan bawah tanah yang tersambung langsung ke basemen rumah ini. A-Chen akan berangkat dari sini, berjalan melalui terowongan aman itu, lalu keluar dari pintu rumah Hendra untuk naik ke jemputan sekolah."
Xi'er mendekat ke layar, matanya menelusuri jalur rahasia yang rumit itu. "Jadi... dia akan tetap tidur di sini? Dia tidak benar-benar tinggal bersama pria asing itu?"
"Tentu saja tidak. Dia tetap adikmu, dia tetap tinggal di kamar dengan istana balonnya." ucap Mo Yan dengan nada melembut. "Hanya saja, di mata para guru, tetangga, dan intelijen musuh, dia adalah anak dari keluarga biasa yang tinggal di rumah nomor 12. Ini adalah satu-satunya cara agar dia bisa memiliki kehidupan normal tanpa harus dikawal sepuluh pria berjas setiap kali ia ingin jajan di kantin."
Xi'er terduduk lemas di kursi. Amarahnya perlahan menguap, berganti dengan rasa sedih yang mendalam. Ia menyadari betapa kejamnya dunia modern ini bagi orang-orang yang memiliki kekuatan. "Kenapa harus serumit ini hanya untuk bersekolah? Di masaku, pendidikan adalah hal yang suci, tidak ada yang berani mengusik anak-anak yang belajar."
Mo Yan memutar kursi rodanya mendekati Xi'er. Ia memberanikan diri menyentuh tangan Xi'er yang masih menggenggam jarum perak. "Karena A-Chen terlalu berharga Xi'er. Kejeniusannya adalah berkah, tapi di tangan orang salah, itu adalah bencana. Dengan cara ini, kita memberinya perisai yang tak terlihat."
Xi'er menghela napas panjang, ia menatap Mo Yan dengan tatapan pasrah. "Baiklah. Aku setuju. Tapi dengan satu syarat! Aku harus tetap bisa memantau perjalanannya melalui benda sihirmu itu. Dan jika pria bernama Hendra itu berani membentak A-Chen sedikit saja, aku akan memastikan seluruh saraf di wajahnya kaku seumur hidup!"
Mo Yan terkekeh pelan. "Aku jamin dia tidak akan berani. Dia sangat menghargai nyawanya."
Keesokan harinya, pengerjaan terowongan rahasia itu diselesaikan dengan efisiensi luar biasa oleh tim khusus Mo Yan. Sore harinya, Mo Yan membawa Xi'er dan A-Chen untuk mencoba jalur tersebut. Mereka turun ke ruang bawah tanah yang dulunya hanya gudang anggur, yang kini telah berubah menjadi lorong futuristik dengan dinding baja yang kokoh dan pencahayaan sensor otomatis.
"Wah! Kakak, ini seperti markas pahlawan di kartun!" seru A-Chen kegirangan saat ia berlari di sepanjang terowongan yang bersih dan luas itu.
"Ya A-Chen. Mulai besok, kau adalah pahlawan rahasia. Kau harus menjaga rahasia rumah ini, oke?" ucap Xi'er sambil mencoba tersenyum, meski hatinya masih sedikit berat.
Mereka sampai di ujung terowongan dan menaiki sebuah tangga spiral yang menuju ke sebuah pintu rahasia di balik rak perkakas sebuah gudang. Begitu pintu terbuka, mereka berada di sebuah rumah minimalis yang tampak sangat biasa dan hangat. Pak Hendra sudah menunggu di sana dengan pakaian santai, nampak sangat ramah.
"Selamat datang di rumah barumu untuk publik Tuan Muda A-Chen." sapa Hendra dengan hormat.
Xi'er langsung berkeliling rumah itu, memeriksa setiap sudut seolah-olah ia adalah pemeriksa keamanan kerajaan. Ia memeriksa dapur, kamar mandi, hingga halaman depan untuk memastikan tidak ada tempat persembunyian musuh.
"Ingat Tuan kaku." ucap Xi'er sambil menunjuk Mo Yan yang masuk melalui terowongan menggunakan kursi roda cadangan. "Jika sistem keamanan terowongan ini gagal, aku akan menuntutmu dengan ribuan jenis racun yang belum ada penawarnya!"
Mo Yan hanya bisa menggelengkan kepala. "Keamanan di sini setara dengan bank sentral Xi'er. Kau bisa tenang."
Malam itu, saat mereka kembali ke rumah utama melalui jalur bawah tanah, A-Chen nampak sangat semangat menceritakan tentang sekolah akselerasi yang akan ia masuki. Ia tidak tahu bahwa demi kejeniusannya itu, dua orang dewasa di sampingnya sedang mempertaruhkan segalanya untuk menjaga kerahasiaan jati dirinya.
Xi'er menatap punggung kecil adiknya yang berjalan di depan. Ia menyadari bahwa strategi Mo Yan memang sangat diperlukan. Dunia luar mungkin hanya akan melihat A-Chen sebagai anak pintar dari keluarga biasa, namun di dalam terowongan ini, A-Chen adalah harta karun yang paling dilindungi.
"Terima kasih Mo Yan." bisik Xi'er saat mereka sudah sampai di basemen rumah utama.
Mo Yan menoleh, sedikit terkejut dengan ucapan terima kasih yang tulus itu. "Untuk apa?"
"Untuk menjadi tiran yang sangat teliti." jawab Xi'er dengan senyum miringnya. "Kau memang kaku, tapi kau punya cara yang aneh untuk menunjukkan kepedulianmu."
Mo Yan terdiam, menatap punggung Xi'er yang menyusul A-Chen naik ke lantai atas. Ia menyadari bahwa meski terowongan ini dibangun untuk melindungi A-Chen, secara tidak langsung, ia juga sedang membangun jembatan kepercayaan yang semakin kokoh dengan sang Tabib Agung. Dan bagi Mo Yan, kepercayaan Xi'er adalah sesuatu yang jauh lebih sulit didapatkan daripada seluruh saham perusahaan pesaingnya.
jangan biarkan mereka menyerang fisik A-Chen
karena aku juga bangga, aku beri gip bibir, nih 🫦🫦🫦🫦🫦🫦🫦🫦🫦🫦🫦🫦🫦🫦🫦🫦🫦🫦🫦🫦🫦🫦🫦🫦🫦🫦🫦🫦🫦🫦🫦🫦🫦🫦🫦🫦🫦🫦🫦🫦🫦🫦🫦🫦🫦🫦🫦🫦🫦🫦🫦🫦🫦🫦🫦🫦🫦🫦🫦🫦🫦🫦🫦🫦🫦🫦🫦🫦🫦🫦🫦🫦