Setelah menikah selama tujuh tahun, Edward tetap saja begitu dingin, Clara hanya bisa menghadapinya dengan tersenyum. Semua karena dia sangat mencintainya. Dia juga percaya suatu hari nanti, dia bisa melelehkan es di dalam hatinya. Akan tetapi pada akhirnya Edward malah jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap cewek lain. Clara tetap bersikeras menjaga rumah tangganya. Hingga di hari ulang tahunnya, putrinya yang baru saja pulang dari luar negeri, dibawa oleh Edward untuk menemani cewek itu, meninggalkannya sendirian di rumah kosong. Dia akhirnya putus asa. Melihat putri yang dibesarkannya sendiri akan menjadi anak dari cewek lain, Clara tidak merasa sedih lagi. Dia menyiapkan surat cerai, menyerahkan hak asuh anaknya, dan pergi dengan gagah, tidak pernah menanyakan kabar Edward dan anaknya lagi, hanya menunggu proses perceraian selesai. Dia menyerah atas rumah tangganya, kembal
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saskiah Khairani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Dani menatap Edward sejenak sebelum menerimanya. "Terima kasih."
Gelas keduanya saling berdenting dan mulai mengobrol sambil minum.
Setelah beberapa saat, Edward tiba-tiba menatapnya.
Dani mengangkat matanya. "Ada apa?"
Gading melanjutkan, "Ada yang aneh denganmu hari ini."
Edward tersenyum.
Artinya dia setuju dengan apa yang dikatakan Gading.
Dani tetap bersikap tenang dan berkata, "Mana ada?"
Gading mengangkat alisnya, "Kamu nggak merasa aneh?"
Dani pun menyesap anggurnya dan tidak berkata apa-apa lagi.
Kemudian, beberapa orang datang untuk menyapa mereka.
Setelah mereka pergi, Dani melihat jam. Dia khawatir Tania merasa lapar, jadi dia ingin pergi melihat Tania. Tapi tepat saat ini, Tania dan Elsa kembali.
Tania bertanya, "Om, apa aku boleh makan kue di sana?"
Dia punya beberapa alergi, jadi ada banyak makanan yang tidak bisa dimakan. Dani pun menjawab, "Kamu duduk di sini dulu, Om ambilkan makanan untuk Tania ya."
"Iya."
Elsa berbeda. Dia terbiasa dengan kebebasan dan memiliki kesehatan tubuh yang baik. Dia bisa mengambil apa pun yang ingin dia makan. Setelah mengambilnya, dia akan bertanya pada Edward, "Apa Ayah mau?"
Edward mengusap kepalanya sambil berkata, "Nggak."
Kedua anak itu lalu duduk
berdampingan dan makan. Setiap kali Vanessa menemukan sesuatu yang lezat, dia akan membaginya dengan Elsa.
Elsa juga dengan senang hati menerimanya, "Terima kasih, Tante."
Tania mendongak ke arah Vanessa dengan bingung, lalu bertanya pada Elsa, "Elsa, apa Tante Vanessa itu mamamu?"
Begitu kata-kata itu diucapkan, semua orang terdiam.
Elsa tertegun sejenak dan menggelengkan kepalanya, "Bukan."
Tania lalu bertanya dengan hati-hati, " Apa kamu juga nggak punya mama?"
Elsa menggelengkan kepalanya, " Nggak, aku punya mama."
"Oh... " Tania terdiam.
Ada beberapa suvenir yang dibagikan di kapal pesiar, dan Tania sangat menyukai gantungan kunci kristal di antara suvenir-suvenir itu, jadi dia memilih dua.
Gantungan kunci kristal itu hanya ada dua.
Elsa sebenarnya juga sangat menyukainya. Melihat Tania mengambil semuanya, dia tidak tahan dan bertanya, "Tania, apa kamu bisa beri aku satu? Aku mau berikan pada Tante Vanessa."
Tania sedikit enggan dan berkata, Aku... aku juga mau berikan untuk tanteku."
Mengingat Clara, Tania tak tahan untuk bercerita, "Hari ini, om dan tante menemaniku main layangan, memancing, mengendarai sepeda, dan mengejar kupu-kupu. Tanteku sangat cantik, dia pasti suka kristal ini."
Dani dan teman-temannya juga ada di sekitar mereka.
Awalnya mereka tidak terlalu memperhatikan apa yang dibicarakan anak-anak.
Tetapi setelah mendengar cerita Tania, Vanessa, Gading dan Edward semua memandang ke arah Dani.
Gading langsung bertanya, "Dani, ada apa ini? Jangan-jangan kamu benaran sudah punya pacar?" Semakin bicara, dia makin gelisah. Tanpa menunggu Dani menjawab, dia bertanya lagi, Kapan itu terjadi? Kenapa kamu nggak beri tahu kami, ya 'kan Edward?"
Edward tersenyum dan menatap Dani, dia juga ingin mendengar apa yang akan Dani katakan.
Ekspresi Dani acuh tak acuh. "Kami cuma nggak sengaja ketemu."
"Yang benar?" Gading tidak mempercayainya, tiba-tiba dia teringat sesuatu. "Jadi, kalian juga makan siang bareng? Pantesan aku heran, gimana mungkin laki-laki sepertimu bisa urus anak dengan mudah? Ternyata ada yang membantumu!"
Dani tidak menjawab.
Edward menatapnya dalam-dalam dan membuat pertanyaan pamungkas, "Kamu tertarik padanya?"
Dani terdiam sejenak, membuka mulutnya, namun akhirnya dia tidak membantah.
Vanessa tertegun, senyumnya memudar.
"Astaga, ternyata benaran?" Gading awalnya hanya bercanda, tetapi dia tidak menyangka kalau itu benar. Dia lanjut bertanya dengan tergesa-gesa, "
Siapa dia? Apa aku mengenalnya?
Kenapa kamu nggak bawa dia ke sini agar kita bisa mengenalnya?"