Lin Xiaoxi tewas kelaparan, namun jiwanya digantikan oleh Chu Yue, Putri Tabib jenius dari masa kuno. Terbangun di tubuh gadis desa miskin, ia dibekali Ruang Dimensi berisi herbal ajaib untuk mengubah nasibnya.
Di kota, sang penguasa Mo Yan sedang sekarat karena penyakit aneh yang tak tersembuhkan. Takdir mempertemukan mereka di jalanan, di mana satu tusukan jarum Xiaoxi menyelamatkan nyawa sang CEO.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34 三四
Sore itu, cahaya matahari yang kemerahan masuk melalui jendela besar laboratorium, memantul di botol-botol ramuan Xi'er yang tertata rapi. Mo Yan duduk di kursi rodanya, memandangi A-Chen yang sedang asyik bermain dengan miniatur bangunan di sudut ruangan. Suasana terasa tenang, namun ada sebuah keputusan besar yang harus segera diputuskan.
"Xi'er, ada satu hal lagi mengenai sekolah A-Chen." buka Mo Yan, suaranya tenang namun mengandung bobot yang serius. "Pihak sekolah secara resmi menawarkan kelas akselerasi. Mereka ingin A-Chen melompati beberapa tingkat karena kurikulum standar hanya akan membuang-buang waktunya."
Xi'er berhenti menumbuk akar jamu di tangannya. Ia menoleh, menatap Mo Yan dengan dahi berkerut. "Akselerasi? Maksudmu dia akan belajar bersama anak-anak yang jauh lebih besar darinya? Bukankah itu akan membuatnya merasa terasing?"
"Secara intelektual, dia setara dengan mereka, bahkan mungkin lebih tinggi." balas Mo Yan. "Tapi pilihannya ada di tanganmu. Atau lebih tepatnya, di tangan A-Chen. Aku tidak ingin memaksanya jika dia merasa tertekan."
Xi'er meletakkan alat penumbuknya, lalu berjalan mendekati adiknya. Ia berjongkok di depan A-Chen, merapikan helai rambut anak itu dengan penuh kasih. "A-Chen, Tuan kaku bilang kau bisa belajar di kelas yang lebih sulit dan lebih cepat. Kau akan bertemu kakak-kakak yang lebih besar. Apakah kau ingin melakukannya, atau kau lebih suka belajar bersama teman sebayamu?"
A-Chen menatap kakaknya dengan mata yang jernih dan penuh tekad. "Apakah di kelas itu aku bisa belajar lebih cepat tentang bagaimana cara mengelola gedung dan angka-angka seperti Tuan mo?"
Xi'er tersenyum tipis, meski ada sedikit rasa sesak di dadanya melihat adiknya tumbuh terlalu cepat. "Ya, kau akan belajar hal-hal yang jauh lebih rumit di sana."
"Kalau begitu, aku mau Kak." jawab A-Chen tanpa ragu. "Aku ingin cepat besar. Aku ingin membantu Tuan mo bekerja agar Kakak tidak perlu lelah meracik obat sepanjang malam. Aku ingin menjadi tangan kanan Tuan mo yang paling hebat."
Xi'er tertegun. Ia menatap Mo Yan, yang juga nampak sedikit terenyuh mendengar jawaban jujur dari anak sekecil itu. Xi'er akhirnya mengangguk pelan ke arah Mo Yan. "Baiklah. Jika itu yang dia inginkan, aku setuju. Tapi ingat janji kita, keselamatannya tetap nomor satu."
Hari-hari pun berlalu, dan tiba saatnya A-Chen memulai hari pertamanya di sekolah internasional tersebut. Sesuai strategi kamuflase yang telah disusun, A-Chen berangkat melalui terowongan bawah tanah menuju rumah nomor 12 di blok sebelah. Di sana, Pak Hendra sudah menunggu dengan mobil keluarga yang nampak sederhana namun terawat sangat kontras dengan deretan mobil mewah yang biasanya terparkir di garasi utama Mo Yan.
"Ingat A-Chen." bisik Xi'er di depan pintu rumah kamuflase itu, sambil membenarkan kerah seragam adiknya. "Di sana, kau adalah keponakan Pak Hendra. Jangan bicarakan tentang laboratorium, jangan bicarakan tentang Tuan mo, dan jangan bicarakan tentang jarum perak Kakak. Jika ada yang bertanya tentang rumahmu, katakan saja ini rumahmu."
A-Chen mengangguk patuh. "Aku mengerti Kak. Aku akan menjadi anak yang pendiam dan rajin belajar."
Namun, realitas di sekolah internasional ternyata jauh lebih dingin daripada yang dibayangkan. Sekolah itu adalah tempat di mana status sosial diukur dari merek sepatu, jenis mobil yang menjemput, dan posisi jabatan orang tua. A-Chen, yang datang dengan mobil biasa dan diantar oleh seorang pria yang nampak seperti pegawai kantoran menengah, langsung dicap sebagai orang luar.
Meskipun Mo Yan membayar penuh seluruh biaya sekolah A-Chen tanpa meminta diskon sepeser pun, pihak administrasi merahasiakan identitas donatur aslinya. Hal ini membuat desas-desus beredar di kalangan orang tua murid dan siswa bahwa A-Chen adalah murid beasiswa yang masuk hanya karena belas kasihan atas kecerdasannya.
Di dalam kelas akselerasi, A-Chen duduk di barisan paling depan. Di sekelilingnya adalah remaja-remaja berusia dua atau tiga tahun lebih tua darinya yang menatapnya dengan pandangan sinis.
"Lihat anak beasiswa itu." bisik seorang anak laki-laki bertubuh tinggi yang mengenakan jam tangan mahal. "Kenapa sekolah ini mulai menerima orang-orang dari kalangan rendahan hanya karena mereka bisa berhitung? Ini merusak reputasi kita."
A-Chen mendengar semua itu. Telinganya yang tajam menangkap setiap cemoohan dan kata-kata pedas yang dilemparkan kepadanya. Di kantin, tidak ada yang duduk di mejanya. Di perpustakaan, mereka sengaja menjauh seolah-olah kemiskinan bisa menular.
Namun, A-Chen tidak menangis. Ia tidak merasa sedih atau ingin mengadu pada kakaknya. Setiap kali ia merasa terasing, ia hanya akan membuka buku catatannya dan mengingat wajah Mo Yan yang duduk dengan wibawa di kantornya. Ia mengingat janjinya untuk menjadi orang yang berguna bagi Mo Yan dan Xi'er.
Bagi A-Chen, dikucilkan bukanlah masalah besar. Ia justru merasa lebih tenang karena tidak perlu berpura-pura ramah pada orang-orang yang hanya peduli pada harta. Ia menggunakan waktu istirahatnya untuk membaca buku-buku ekonomi tingkat lanjut di pojok perpustakaan yang sepi.
Sore hari saat pulang sekolah, Mo Yan sudah menunggu di ruang bawah tanah, tepat di ujung terowongan rahasia. Ia memperhatikan A-Chen yang berjalan masuk dengan langkah yang sedikit lelah namun matanya tetap bersinar.
"Bagaimana hari pertamamu A-Chen? Apakah ada yang mengganggumu?" tanya Mo Yan saat mereka sudah kembali ke dalam kemewahan rumah utama.
A-Chen meletakkan tasnya dan tersenyum tipis. "Semua lancar Tuan mo. Pelajaran matematikanya sedikit terlalu mudah, tapi aku suka perpustakaannya. Sangat lengkap."
Xi'er yang baru keluar dari dapur segera menghampiri. "Apa kau punya teman baru? Apakah ada yang mengajakmu bermain?"
A-Chen terdiam sejenak, lalu menggeleng pelan. "Tidak ada Kak. Tapi itu tidak apa-apa. Mereka lebih suka bicara soal mobil dan liburan ke luar negeri. Aku tidak tertarik dengan itu. Aku lebih suka belajar agar cepat bisa bekerja di kantor Mo Group."
Mo Yan mengerutkan kening. Instingnya mengatakan bahwa ada sesuatu yang tidak diceritakan oleh A-Chen. "Apakah mereka mengejekmu karena penampilanmu?"
A-Chen mengangkat bahu dengan dewasa. "Mereka mengira aku murid beasiswa rendahan. Mereka bilang aku tidak pantas berada di sana. Tapi menurutku, mereka yang tidak pantas berada di kelas akselerasi jika hanya bisa bicara soal jam tangan tapi tidak bisa menyelesaikan soal kalkulus dasar."
Xi'er seketika meledak. "Apa?! Berani sekali mereka menghina adikku! Beri tahu aku siapa nama mereka, aku akan pergi ke sana dan memastikan lidah mereka kelu saat ingin menghina orang lagi!"
Mo Yan menahan tangan Xi'er. "Tenanglah Xi'er. Lihat A-Chen. Dia tidak terganggu oleh mereka."
Mo Yan menatap A-Chen dengan pandangan penuh rasa hormat. "A-Chen, kau benar-benar memiliki mental yang kuat. Ingatlah ini berlian tetaplah berlian meskipun ia terkubur di dalam lumpur. Biarkan mereka meremehkanmu sekarang. Karena suatu hari nanti, mereka akan memohon untuk bisa bekerja di bawah kakimu."
A-Chen mengangguk mantap. "Aku tahu Tuan mo. Aku tidak butuh teman yang hanya melihat baju. Aku hanya butuh Kakak dan Tuan mo."
Malam itu, Xi'er menemani A-Chen belajar di kamar istana balonnya. Meskipun ia bangga pada kedewasaan adiknya, hatinya tetap terasa perih. Ia menyadari bahwa di dunia ini, kejeniusan seringkali datang dengan harga berupa kesepian. Ia berjanji dalam hati, meski A-Chen tidak memiliki teman di sekolah, ia akan memastikan rumah ini selalu menjadi tempat yang paling hangat dan menyenangkan bagi adiknya.
Sambil memandangi A-Chen yang tertidur lelap dengan buku di pelukannya, Xi'er berbisik pelan, "Tumbuhlah dengan kuat Naga Kecil. Kakak dan Tuan kaku akan selalu menjadi perisaimu, tak peduli seberapa dingin dunia di luar sana."
Di ruang kerja sebelah, Mo Yan sedang menatap layar monitor CCTV sekolah yang diam-diam ia akses. Ia melihat rekaman A-Chen yang duduk sendirian di bangku taman saat jam istirahat. Rahang Mo Yan mengeras. Meskipun ia setuju dengan strategi kamuflase, ia tidak akan membiarkan siapa pun benar-benar melukai A-Chen secara fisik.
"Zuo Fan." panggil Mo Yan melalui interkom.
"Ya Tuan?"
"Cari tahu siapa saja keluarga dari anak-anak yang satu kelas dengan A-Chen. Jika ada dari perusahaan mereka yang bekerja sama dengan Mo Group, berikan mereka sedikit tekanan di proyek berikutnya. Aku ingin mereka belajar bahwa kesombongan selalu ada harganya."
Malam itu, di bawah atap kediaman Mo, perlindungan bagi sang jenius kecil semakin diperketat, bukan hanya dengan tembok beton, tapi dengan kekuatan yang sanggup mengguncang ekonomi kota tanpa ada yang menyadarinya.
menunggumu sampai akhir hidupku...
apapun kan ku lakukan, cinta dan kerinduan... 🎧
Aku sedang nyanyi, maap🎼