Bismillah ....
14 tahun menikah tanpa dikarunia anak dan hari ini aku mendengar kabar jika suamiku menikah siri dengan selingkuhannya yang sudah memiliki anak darinya
Seluruh tubuhku mendadak bergetar nyaris limbung ke tanah. Entah apa yang harus aku lakukan setelah ini.
Namun yang membuat dadaku lebih sakit lagi ternyata wanita yang dinikahi suamiku merupakan rekan kerjaku, perempuan yang dulunya selalu usil dengan kondisiku yang sudah puluhan tahun tidak bisa memberikan anak.
Di saat semua orang menuntutku menerima keadaan, aku memilih bertahan. Bukan untuk mengalah… tapi untuk membuktikan bahwa aku tidak selemah yang mereka kira.
Namun tanpa kusadari, perlahan ada hal lain yang mulai mengusik pikiranku. Mimpi-mimpi aneh, perasaan kehilangan yang tak bisa dijelaskan, hingga sebuah pertemuan tak terduga dengan seorang anak kecil yang memanggilku “Mama”.
Seolah… ada bagian dari hidupku yang selama ini disembunyikan.
Dan semakin aku bertahan di rumah itu, semakin banyak rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Siang menjelang sore, kali ini Adinda meninggalkan gedung itu dengan langkah sedikit cepat tidak terburu-buru hanya saja sesuatu yang barusan ia temukan menuntut agar segera diselesaikan.
Ia masuk ke dalam mobil, tangannya langsung meraih handphone di dalam tasnya, beberapa detik panggilan itu terhubung.
"Nay, sudah siap?" tanyanya.
"Sudah."
Tidak ada lagi penjelasan Telepon terputus. Mobil segera melaju dengan kecepatan sedang cenderung cepat, membelah jalanan sore yang mulai rame.
Adinda menghampiri Naya terlebih dahulu, setelah itu mobil mulai melaju kembali, yang ia tempuh kali ini cukup memakan waktu, dari jalanan utama yang besar dan ramah hingga akhirnya mobil masuk ke jalanan kecil yang sepi pemukiman.
Di dalam perjalanan Adinda hanya fokus mengikuti arahan maps sementara Naya masih fokus dengan handphone-nya lebih tepatnya ia memastikan keadaan agar tetap aman.
Hingga beberapa waktu kemudian. Mobil berhenti di sisi jalan yang cukup jauh dari gudang lama di daerah industri. Tempat itu cukup sepi dan dingin.
Mesin dimatikan. Suasana di dalam mobil langsung hening, hanya suara napas mereka yang terdengar seperti mengatur strategi Naya lebih dulu menoleh.
"Kamu yakin ini tempatnya?"
Adinda menganggukkan kepalanya dengan yakin. "Tidak mungkin mereka akan menaruh Pak Arbani di tempat yang mencolok dan mudah terjangkau."
“Kita langsung masuk atau lihat dulu?”
Adinda tidak langsung menjawab. Pandangannya tertuju ke bangunan di depan. Gelap, tertutup, dan tidak menunjukkan aktivitas mencolok.
“Kita lihat dulu,” ucapnya akhirnya. “Kalau langsung masuk, kita gak tahu kondisi di dalam.”
Naya mengangguk setuju.
“Berarti muter?”
“Iya. Cari sisi yang gak kena lampu.”
Mereka turun bersamaan. Pintu mobil ditutup tanpa suara berlebih. Langkah keduanya menyusuri sisi jalan, menjaga jarak dari area terang. Adinda berjalan sedikit di depan, sementara Naya memperhatikan sekitar.
“Sepi banget,” bisik Naya.
“Justru itu yang bikin aneh,” sahut Adinda pelan. “Gudang aktif pasti ada pergerakan.”
Mereka berhenti di sudut bangunan. Dari posisi itu, terlihat jelas pintu depan dalam keadaan tertutup. Tidak ada penjaga terlihat, tapi beberapa jejak ban masih baru di tanah.
Naya menunjuk ke arah samping.
“Ke sana?”
Adinda mengikuti arah itu. Ada jalur kecil. Tidak lebar, tapi cukup untuk satu orang lewat.
“Kita cek.”
Langkah mereka melambat saat mendekat. Semakin ke belakang, pencahayaan semakin minim.
Suasana berubah, lebih sunyi dan lebih berat Adinda mengangkat tangan sedikit, memberi isyarat berhenti.
“Ada suara.”
Mereka diam beberapa detik. Lalu, suara gesekan terdengar dari dalam bangunan. Disusul langkah kaki yang tidak beraturan.
Naya langsung mendekat sedikit. “Dari dalam.”
Adinda mengangguk pelan. “Iya.”
Ia mendekat ke dinding. Ada celah kecil di bagian samping, cukup untuk melihat ke dalam.
Adinda mengintip. Dan detik itu juga napasnya tertahan, di ruangan yang cukup sempit itu bertanya melihat seseorang yang sedang ia cari.
“Pak Arbani…” Suaranya hampir tidak terdengar.
Naya langsung mendekat. “Di mana?”
Adinda sedikit bergeser memberi ruang. Naya ikut mengintip. Di tempat yang redup, seorang pria duduk dengan tangan terikat di kursi. Kepalanya menunduk, tubuhnya tampak lemah.
“Itu dia…” bisik Naya.
Adinda tidak menjawab. Tatapannya masih tertuju ke dalam. Mencermati dan menghitung.
“Ada berapa orang?” tanya Naya.
Adinda menyipitkan mata.
“Tadi aku dengar dua suara. Mungkin lebih.”
Naya menarik napas pelan. “Kita gak bisa gegabah.”
Adinda mengangguk. “Kalau kita masuk sekarang, peluangnya kecil.”
Ia mundur sedikit dari celah itu. “Kita butuh momen.”
“Maksudnya?” tanya Naya.
“Mereka pasti gak terus di dalam semua.”
Naya langsung paham arah pikirannya, ia pun ikut mundur dari celah itu dan kali ini posisinya sejajar dengan adinda.
“Nunggu mereka keluar?”
“Sebagian saja cukup.”
Adinda kembali melirik ke arah dalam sekali lagi, lebih memastikan Pak Arbani masih di sana. Masih hidup. Dan itu cukup untuk membuat langkah berikutnya jadi lebih jelas.
“Kita posisi dulu,” ucapnya pelan. “Cari titik aman buat lihat pergerakan mereka.”
Naya mengangguk. “Aku ambil sisi belakang.”
“Aku di sini.”
Mereka berpisah tanpa banyak kata. Karena sekarang— mereka sudah tahu apa yang harus dilakukan.
Di dalam gudang, suasana tetap tertahan. Pak Arbani masih di kursinya. Napasnya berat, tapi tatapannya belum runtuh.
Pintu kembali terbuka, langkah kaki terdengar beriringan, kali ini seseorang yang berbeda wanita paruh baya yang mungkin sudah diduga sebelumnya.
Sintia.
Ia masuk lebih dulu. Di belakangnya—perempuan yang sejak tadi sudah lebih dulu ada di sana. Wajahnya kini terlihat jelas di bawah cahaya.
Saudara tiri Adinda.
Mereka berhenti di depan Pak Arbani. Tidak tergesa, bibirnya terangkat tipis tidak meledak-ledak. Justru seperti orang yang sedang menyelesaikan urusan lama.
Wanita muda itu melirik ke arah Sintia, sebagai isyarat untuk berbicara dengan pria sepuh di hadapannya itu.
Sintia mengedipkan mata, lalu menatap pria tua itu beberapa detik, dan tersenyum tipis.
“Pak Arbani…” suaranya halus, hampir seperti nada ramah.
“Kita ini sudah kenal lama.”
Ia melangkah sedikit lebih dekat.
“Bapak juga tahu… siapa yang Bapak lindungi.”
Tidak ada jawaban. Pak Arbani hanya menatap lurus. sementara perempuan di samping Sintia akhirnya ikut bicara.
“Saya ini anak sambung dari almarhum Bima Pradana,” ucapnya datar.
“Dan sejak awal… saya juga punya bagian di keluarga ini.”
Sintia mengangguk kecil, seolah menguatkan.
“Dan sekarang,” lanjutnya pelan, “saya yang jadi mertuanya.”
Ia berhenti tepat di depan Pak Arbani.
“Orang yang merawat dia… waktu dia tidak ingat apa-apa.”
Tatapannya turun, menekan tanpa perlu suara keras.
“Masak kami gak dapat apa-apa?”
Kalimat itu tidak tinggi. Tapi berat dan menusuk.
Saudara tiri Adinda melangkah setengah langkah ke depan. Nada suaranya lebih tajam.
“Jangan keras kepala, Pak.”
Ia sedikit menunduk, sejajar dengan wajah Pak Arbani.
“Dokumen itu gak akan menyelamatkan siapa pun kalau tetap disimpan.” Ia tersenyum tipis. “Apalagi dia.”
Deg!
Adinda yang mendengar suara itu, hatinya langsung mencoles. Ia sudah menduganya jika masalah ini ada hubungannya antara adik tiri dan juga ibu mertuanya. Ia tidak heran sama sekali.
Hanya saja sekarang ia lebih siap lagi untuk mengambil jalan berikutnya.
"Sebentar lagi aku akan datang, hari ini dan detik ini semua harus terselesaikan dengan transparan."
Bersambung .....
Selamat pagi dan selamat membaca.