NovelToon NovelToon
Api Di Brantas: Kisah Jatuhnya Singhasari

Api Di Brantas: Kisah Jatuhnya Singhasari

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Agung Nirwana

Di lembah Brantas yang tenang, Wira hidup sebagai pemuda desa biasa, tanpa nama besar, tanpa warisan, dan tanpa tahu bahwa darah yang mengalir di tubuhnya menyimpan rahasia berbahaya. Ketika desa tempat ia tinggal dibakar dalam pusaran perebutan kuasa antara Gelang-Gelang, Singhasari, dan para penguasa yang saling mengkhianati, Wira kehilangan segalanya dalam satu malam. Dari reruntuhan itu, ia dipaksa melarikan diri, bertahan hidup, dan perlahan menapaki jalan yang mengubahnya dari anak desa menjadi pendekar yang disegani.

Di bawah bimbingan Ki Rangga, bersama sahabat setianya Panca, Wira melewati latihan keras, perburuan, pengkhianatan, dan pertarungan hidup-mati. Sementara itu, Jayakatwang dan kekuatan-kekuatan besar lain bergerak di atas panggung sejarah, menjatuhkan kerajaan dan membangun tatanan baru.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Tanah yang Retak

Mereka tiba di rumah lama itu menjelang siang.

Jalan menuju ke sana tidak panjang, tetapi terasa jauh karena mereka harus memutar lewat kebun mati dan batas ladang yang sudah ditinggalkan. Ki Rangga memimpin tanpa banyak bicara, sementara Jaya sesekali berhenti untuk memeriksa arah. Raden Seta membawa naskah ibu Wira dengan hati-hati, seolah lembaran tua itu bisa hancur jika diguncang terlalu kasar. Panca berjalan paling belakang dengan wajah letih dan langkah seret, namun tetap memaksakan diri bertahan. Wira sendiri nyaris tidak berbicara sejak keluar dari rumah kecil tadi. Kunci tua dalam genggamannya terasa lebih berat daripada seharusnya.

Di depan mereka, rumah lama itu tampak seperti bangunan yang sudah hampir kalah oleh waktu.

Atapnya miring di satu sisi. Dinding kayunya menghitam karena usia dan lembap. Beberapa papan di bagian bawah menganga, memperlihatkan rongga gelap di baliknya. Namun rumah itu masih berdiri. Bahkan dari jauh, Wira bisa melihat bahwa bangunannya berbeda dari rumah kosong biasa. Letaknya sengaja dipilih di tempat yang agak menurun, tersembunyi oleh rumpun bambu liar dan pohon besar yang akarnya menjulur ke tanah retak di belakang rumah.

Raden Seta berhenti dan menunjuk ke arah tanah itu. “Di sana.”

Panca langsung menyipit. “Yang retak itu?”

“Ya.”

Wira menatap area di belakang rumah. Dari kejauhan, tanah di sana memang tampak tidak rata, seperti pernah digeser atau pecah lalu dibiarkan. Garis retak memanjang dari sisi rumah ke bawah lereng kecil. Ia tidak tahu apa yang harus diharapkan, tetapi ada perasaan aneh bahwa tempat itu memang sengaja dibuat menonjol agar hanya mata tertentu yang mengenali.

Ki Rangga mengamati sekeliling. “Tidak ada jejak baru.”

Jaya mengangguk. “Untuk saat ini.”

Mereka mendekat dengan hati-hati. Wira merasakan udara di sekitar rumah lama itu berbeda. Lebih dingin, lebih sunyi, dan ada bau tanah yang lembap bercampur kayu tua. Seakan tempat ini tidak sekadar rumah kosong, melainkan benda yang sengaja dibiarkan melupakan dirinya sendiri.

Panca berjalan pelan sambil menatap pintu depan yang setengah terbuka. “Aku tidak suka rumah yang menunggu.”

Jaya menatapnya sekilas. “Rumah tidak menunggu. Orang yang menyembunyikan sesuatu yang menunggu.”

Panca mendengus. “Kalau begitu aku makin tidak suka.”

Ki Rangga tidak menanggapi. Ia justru melangkah lebih dulu ke arah tanah retak di belakang rumah. Wira mengikuti di belakangnya, sedangkan Raden Seta dan Jaya menjaga sisi kiri dan kanan. Saat mereka sampai di dekat retakan, Wira berjongkok dan melihat lebih jelas.

Tanah itu memang aneh.

Bukan hanya retak karena kering. Retaknya tersusun dalam garis melingkar yang tidak alami, seperti ada pintu besar di bawah permukaan. Beberapa bagian bahkan tampak lebih gelap daripada tanah sekitarnya, seolah pernah dibuka lalu ditutup kembali.

Wira menelan ludah. “Ini pintunya?”

Raden Seta mengangguk. “Kemungkinan besar.”

Panca memerhatikan dari belakang dengan ekspresi tak percaya. “Pintu tanah?”

“Kalau kau menyebutnya begitu, ya,” jawab Jaya.

Ki Rangga membungkuk di sisi lain retakan dan memeriksa satu batu kecil yang tertanam di tepi tanah. Di atas batu itu ada lubang bundar kecil, cukup untuk memasukkan kunci tua yang mereka temukan.

Wira langsung mengeluarkan kunci dari saku kain. “Ini?”

Raden Seta mengangguk. “Coba.”

Wira mendekat dan memasukkan kunci itu ke lubang kecil di batu. Awalnya tidak bergerak. Ia memutar sedikit, lalu sedikit lagi. Ada bunyi klik pelan, lalu suara dalam dari bawah tanah seperti mekanisme lama yang mulai bangun dari tidur panjang.

Panca menahan napas. “Itu berhasil.”

Tanah di tengah lingkaran retakan bergerak perlahan ke samping.

Bukan runtuh, bukan juga terbuka seperti pintu biasa, melainkan bergeser dengan gerakan berat yang membuat seluruh permukaan bergetar halus. Debu tipis naik dari celah, dan dari dalam muncul udara yang lebih tua dari rumah di atas mereka. Wira merasakan bulu kuduknya berdiri.

Di bawah tanah itu terbuka sebuah ruang gelap.

Ki Rangga menyorotkan mata ke dalam. “Ada tangga.”

Wira menatap lubang itu. Tangga batu sempit turun ke bawah, hilang dalam kegelapan. Dari dalam keluar bau lembap, tanah tua, dan sisa asap yang nyaris tak terasa. Ia mengencangkan genggaman pada kain berisi cincin tua dan lembaran ibunya.

Raden Seta memandang Wira. “Kau yang harus pertama turun.”

Wira menoleh. “Aku lagi.”

Ki Rangga menjawab singkat, “Karena ini menyangkutmu.”

Panca memutar mata. “Kalimat itu sudah terlalu sering dipakai.”

Jaya menepuk bahu Panca ringan. “Tetap saja benar.”

Wira menarik napas panjang. Ia tidak suka diperlakukan seperti kunci berjalan, tapi bagian dari dirinya sudah menerima bahwa semua ini memang memintanya ke depan. Ia menuruni tangga pertama, lalu kedua. Batu tangga itu lembap dan agak licin. Di belakangnya, langkah Ki Rangga menyusul, lalu yang lain.

Lorong bawah tanah itu sempit, lebih sempit dari ruang bawah sebelumnya. Dindingnya dari batu kasar, tetapi di beberapa bagian ada ukiran kecil yang makin jelas saat mereka turun. Ukiran itu serupa dengan pola yang selama ini muncul di kunci, cincin, dan peta. Semuanya saling terhubung.

Setelah beberapa langkah, lorong itu berbelok dan membuka ke sebuah ruangan kecil.

Wira berhenti.

Ruangan itu tidak luas, tapi rapi. Di tengahnya ada sebuah meja batu rendah, di atasnya terdapat cekungan bulat yang sangat mirip dengan bentuk kunci. Di sisi kanan ruangan ada rak kayu yang sudah hampir rapuh, namun masih berisi beberapa gulungan kain dan kotak kecil. Di dinding belakang, ada satu panel batu yang tampak berbeda dari yang lain.

Panca mengernyit. “Masih ada ruangan lain?”

Raden Seta mengangguk perlahan. “Dan mungkin ini inti yang terakhir.”

Jaya menatap panel batu di belakang. “Ada sesuatu di sana.”

Ki Rangga mendekat dan mengamati cekungan di meja. “Kuncinya harus dipakai di sini.”

Wira mengambil napas lalu menyerahkan kunci tua itu. Ia menempatkannya ke cekungan bulat di permukaan meja batu. Begitu kunci masuk, ada getaran kecil di bawah telapak tangan. Suara gesekan terdengar dari balik dinding, lalu panel batu di belakang perlahan bergeser ke samping.

Di baliknya, terbuka celah menuju ruang yang lebih dalam lagi.

Wira merasakan jantungnya berdetak sangat cepat. “Masih ada lagi?”

Raden Seta menatap celah itu dengan wajah tegang. “Ya.”

Panca menghela napas panjang. “Aku benar-benar berharap setelah ini kita bisa berhenti turun tanah.”

Jaya hanya menjawab, “Mudah-mudahan.”

Mereka masuk melalui celah itu satu per satu. Ruang di baliknya lebih kecil, tetapi jauh lebih aneh. Di tengah ruangan ada satu peti batu pendek yang tertutup kain putih pudar. Di sekelilingnya terdapat empat tiang kecil dengan simbol yang berbeda pada setiap ujung. Udara di ruangan itu lebih dingin dan terasa seperti disegel sangat lama.

Wira menatap peti batu itu. “Itu apa?”

Raden Seta tidak langsung menjawab. Ia justru mengeluarkan naskah ibu Wira dan membukanya pada halaman tertentu. Lalu ia menunjuk tulisan kecil di bagian bawah.

“Ini yang dimaksud.”

Wira membaca cepat. Tulisan itu cukup singkat.

“Tanah retak adalah penutup. Rumah lama adalah penjaga. Bila kunci telah tiba, buka peti dan lihat siapa yang dulu disembunyikan.”

Wira menatap tulisan itu dan kemudian peti batu di tengah ruangan. “Disembunyikan?”

Ki Rangga menatapnya. “Bukan benda.”

Wira mengerutkan dahi. “Maksudmu?”

Raden Seta menatap Wira lama sekali, lalu berkata pelan, “Yang disembunyikan bisa jadi nama, asal-usul, atau bahkan seseorang yang tidak boleh diketahui keberadaannya.”

Wira merasakan tengkuknya dingin. “Seseorang?”

Jaya mengangkat tangan seolah meminta semua diam. “Tunggu.”

Dari luar ruangan, samar terdengar suara.

Langkah.

Satu orang.

Lalu dua.

Tidak jauh, tetapi jelas ada yang datang.

Ki Rangga langsung menegakkan tubuh. “Mereka menemukan jalan ini.”

Panca pucat. “Serius?”

Jaya mengangguk. “Kalau mereka sudah tahu rumah lama ini, mereka akan menyisir semua jalur bawah.”

Raden Seta menatap peti batu dengan napas cepat. “Kita harus buka sekarang.”

Wira menatapnya. “Sekarang?”

“Ya,” jawab Raden Seta. “Kalau tidak, mereka akan masuk duluan.”

Ki Rangga mengangguk pendek. “Buka.”

Wira menatap kain putih di atas peti. Ia tidak tahu apa yang ada di dalam, tetapi ia tahu semuanya telah membawanya ke titik ini. Dengan tangan gemetar, ia menarik kain itu perlahan. Kainnya rapuh dan berdebu, tetapi masih utuh. Di bawahnya tampak tutup peti batu berukir, dengan satu cekungan kecil di tengah.

Bentuknya persis seperti cincin tua.

Wira mengangkat cincin itu dari kain dan mendekatkannya. Begitu cincin menyentuh cekungan, bunyi kecil terdengar. Lalu peti batu mengeluarkan suara gesekan berat.

Semua diam.

Tutup peti itu terbuka perlahan.

Udara tua yang tersimpan di dalamnya langsung keluar, membawa bau kertas lama, minyak kering, dan sesuatu yang membuat Wira tertegun. Bukan bau benda mati. Melainkan bau ruang yang lama dijaga.

Di dalam peti, tergeletak satu bundel kain kecil, beberapa lembar naskah tambahan, dan sebuah kalung tua dengan liontin logam bulat.

Wira menatap liontin itu. Ada tanda yang sama di permukaannya.

Raden Seta langsung berbisik, “Itu milik garis lama.”

Panca menatap dengan mata besar. “Jadi ibu kamu menyembunyikan perhiasan?”

Wira tidak menjawab. Ia justru meraih liontin itu dan membukanya. Di dalamnya ada lukisan kecil yang telah pudar, hampir tak terlihat. Namun garis wajah di situ cukup membuat Wira membeku.

Wajah ibunya.

Dan di sampingnya, wajah seorang pria yang belum pernah ia lihat.

Ki Rangga menatap lukisan kecil itu. Wajahnya berubah sangat tipis, hampir tak terlihat, tetapi cukup untuk membuat Wira sadar bahwa gurunya mengenali pria itu.

Wira menatapnya cepat. “Siapa dia?”

Ki Rangga diam lama.

Lalu ia berkata, “Ayahmu.”

Ruangan seketika sunyi.

Panca menoleh cepat. “Apa?”

Raden Seta mengalihkan pandangannya ke lantai, seolah kalimat itu memang sudah lama ditunggu tetapi tetap berat diucapkan. Jaya menatap pintu ruangan, sementara Wira sendiri merasa seluruh tubuhnya kaku. Ayah. Kata itu seperti membuka ruang kosong yang selama ini tidak pernah benar-benar punya bentuk.

Wira memandang potret kecil itu dengan jari gemetar. Wajah pria itu buram, tetapi garis rahangnya, cara berdirinya, dan letak tubuhnya di samping ibunya terasa sangat nyata. Jadi benar. Ia pernah punya ayah. Dan seseorang di depannya mengetahuinya.

“Kenapa baru sekarang bilang?” suara Wira nyaris tak terdengar.

Ki Rangga menatapnya dengan wajah tenang namun berat. “Karena aku tidak yakin kau siap mendengarnya.”

Wira menelan ludah. “Siap untuk apa?”

Raden Seta akhirnya berkata, “Untuk tahu bahwa ayahmu tidak hilang begitu saja. Ia juga dipaksa masuk ke dalam rahasia ini.”

Wira memejamkan mata sejenak. Dadanya terasa sesak, penuh oleh emosi yang belum punya nama. Marah, bingung, lega, dan sakit bercampur jadi satu. Selama ini ia hanya mengejar bayangan ibunya. Sekarang ia tahu ada bayangan lain yang ikut mengiringinya.

Namun sebelum ia sempat bicara, suara dari lorong luar terdengar lebih dekat.

“Di sini!”

Semua langsung menegang.

Jaya menoleh cepat ke arah suara. “Mereka masuk.”

Panca mencabut napas keras. “Kita tidak punya waktu.”

Ki Rangga menyambar kain berisi naskah dari tangan Wira. “Ambil liontinnya.”

Wira menutup liontin itu dan menggenggamnya erat. Raden Seta segera mengambil beberapa lembar naskah dari peti, lalu menutup sisanya kembali. Jaya bergerak ke arah celah masuk. Langkah kaki di luar makin jelas. Orang-orang itu hampir tiba.

Raden Seta menatap Wira. “Ada satu hal yang harus kau ingat.”

“Apa?”

“Kalau ayahmu benar yang ada di lukisan kecil itu, maka orang yang mengejarmu sekarang mungkin juga sedang mengejar sisa nama yang ditinggalkan.”

Wira menatapnya. “Sisa nama?”

Raden Seta mengangguk. “Karena sesuatu yang sengaja dihapus tidak hilang begitu saja. Ia menunggu dipanggil kembali.”

Wira menatap liontin di tangannya lalu ke lorong gelap di depan. Ia belum sepenuhnya mengerti semuanya, tapi satu hal mulai jelas: jalan ini bukan hanya mengungkap ibunya. Jalan ini juga membuka kembali seseorang yang selama ini hilang dari hidupnya.

Ki Rangga berdiri di depan celah. “Kita keluar sekarang.”

Panca mengangguk cepat. “Setuju. Sangat setuju.”

Mereka bergerak cepat meninggalkan ruang bawah tanah itu. Dari belakang, suara pintu batu digedor keras. Musuh sudah tiba terlalu dekat. Wira berlari di tengah rombongan, liontin ayahnya di genggamannya, dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, ia merasa bukan hanya sedang mencari masa lalu. Ia sedang dikejar masa lalu yang telah hidup kembali.

Di atas, rumah lama masih berdiri diam.

Tetapi di bawah tanahnya, sesuatu yang sangat lama baru saja dibangunkan.

1
baca yg gue suka
nyampe chap ni isinya cuman kabur mlulu.
bukin pusing aja
baca yg gue suka
kalimat yg sama diulang2 terus
Filan
yang panggil itu bertentangan sama orang-orang yang datang kan?
Filan
kejam juga. mereka yang bakar kan?
Elisabeth Pasaribu
seru banget Thor, jangan lupa mampir ya di karya ku
B. Toon
Wah, mantap. Cerita baru lg, ini gak kalah seru sama 'Badai Pusaka di Tanah Gadhing'. Yang ini cerita fiksi di campur sejarah Kerajaan Nusantara. Smangat thor, ditunggu bab-bab selanjutnya /Good//Good/
Restu Agung Nirwana: Makasih bang, siap. Saya usahakan, ikutin trs petualangan Wira sama Panca bang. Jgn sampe ketinggalan 😄😄🙏🙏
total 1 replies
B. Toon
Wah, si Wira udah mulai nunjukin benih-benih calon pendekar 👍👍
Restu Agung Nirwana: Hehehe... iya donk 😄
total 1 replies
B. Toon
Makin menarik, dibikin penasaran trs 😄
Restu Agung Nirwana: makasih bang, baca sampai tamat ya 👍👍
total 1 replies
B. Toon
Seru thor, baru bab 1 udah di suguhi tragedi di desanya MC . Penasaran giman nasibnya Wira sama Panca nanti. Lanjut, jgn berhenti di tengah jalan thor 😄😄👍👍
Restu Agung Nirwana: iya bang, sat-set 😄😄😄😄
total 1 replies
Slow ego
wira... panca👍
Restu Agung Nirwana: 😄😄😄 terimakasih dukungannya,
ini komen pertama. Gimana kak ceritanya? minta pendapatnya. Kalau ada yg kurang, sebisa mungkin saya perbaiki 🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!