Di balik dinding suci sebuah pondok pesantren, tersembunyi seorang buronan. Reyshaka El Zhafran atau Shaka—tak pernah membayangkan hidupnya akan berakhir di tempat yang paling ia hindari. Demi lolos dari kejaran polisi, pengedar narkoba itu nekat bersembunyi di pesantren milik Ustadz Haidar, seorang ulama yang dikenal bijak dan disegani.
Awalnya, Shaka hanya ingin selamat. Namun hari demi hari, ketenangan, nasihat, dan ketulusan Ustadz Haidar perlahan meruntuhkan tembok keras di hatinya. Untuk pertama kalinya, Shaka mulai mengenal arti penyesalan dan harapan untuk berubah. Semua menjadi semakin rumit saat ia bertemu Hanindya Daisha Ayu—putri sang ustadz yang berhati lembut dan shalihah. Tanpa disadari, perasaan itu tumbuh diam-diam, menyiksa shaka dalam keheningan.
Tapi bagaimana mungkin seorang mantan pengedar narkoba seperti dirinya pantas mencintai perempuan sebersih Hanindya?
Terlebih, Hanindya telah dijodohkan dengan Ustadz Ilyas—lelaki yang jauh lebih layak dibanding dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
“Eh… enggak,” Shaka menggaruk tengkuknya sedikit. “Saya disuruh ustadz untuk ambil kitab fiqih yang ketinggalan.”
“Oh…” Hanindya langsung mengangguk kecil.
“Sebentar ya, biar saya ambilkan.” Ia berbalik masuk ke dalam rumah sementara Shaka berdiri di depan pintu. Entah kenapa jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Beberapa saat kemudian Hanindya kembali.
Beberapa menit kemudian Hanindya kembali.
Di tangannya ada sebuah kitab tebal, Ia mendekat lalu menyerahkan kitab itu pada Shaka.
“Ini.”
Shaka langsung menerimanya.
“Terima kasih…”
Jemarinya sempat menyentuh ujung kitab yang dipegang Hanindya. Dan entah kenapa hal kecil itu cukup membuatnya sedikit gugup. Hanindya memperhatikan Shaka beberapa detik lalu perlahan senyum kecil muncul di wajahnya.
“Kak Shaka…” panggil Hanindya yang langsung membuat Shaka menoleh.
“Iya?”
Hanindya menatapnya dengan lembut.
“Saya senang.”
Shaka sedikit bingung.
“Senang…?”
Hanindya mengangguk.
“Melihat kak Shaka sekarang.” Shaka terdiam. “Perubahannya terlihat sekali." Ia tersenyum tipis. “Dan… itu bagus.”
Entah kenapa kalimat sederhana itu terasa berbeda ketika keluar dari mulut Hanindya. Shaka hanya bisa diam beberapa detik lalu akhirnya ia mengangguk kecil.
“Iya…”
Hanindya menatapnya sebentar lalu berkata pelan,
“Tolong dijaga ya, kak.”
Shaka mengernyit sedikit.
“Dijaga?”
“Maksud saya tolong dijaga istiqomahnya supaya kak Shaka bisa menjadi versi terbaik dari diri kak Shaka sendiri.” jawab Hanindya dengan lembut.
Suasana mendadak hening sejenak. Angin siang berembus pelan dan untuk sekian kalinya Shaka kembali tersenyum, senyum yang benar-benar tulus.
“Iya,” jawab Shaka pelan dan mengangguk lagi. “Iya… insyaAllah.”
Suasana kelas siang itu masih berlangsung tenang ketika Shaka kembali. Beberapa santri sedang sibuk mencatat penjelasan yang diberikan Ustadz Haidar di depan kelas. Aroma kertas kitab dan suara kipas angin memenuhi ruangan sederhana itu. Shaka berjalan masuk sambil membawa kitab fiqih milik Ustadz Haidar. Begitu melihatnya datang, Ustadz Haidar langsung menghentikan penjelasannya sebentar.
"Assalamualaikum"
“Waalaikumsalam, sudah ketemu kitabnya?” tanya ustadz Haidar yang membuat Shaka langsung mengangguk lalu mendekat.
“Sudah ustadz.” jawab Shaka sembari ia menyerahkan kitab itu dengan hati-hati kepada ustadz Haidar dan membuat ustadz Haidar menerimanya sambil tersenyum kecil.
“Alhamdulillah.”
Shaka kembali berkata pelan,
“Tadi Hanindya yang bantu ambilkan kitab fiqih milik ustadz.”
Ustadz Haidar mengangguk kecil.
“Oh iya?”
Namun entah kenapa saat menyebut nama Hanindya, Shaka jadi sedikit salah tingkah sendiri. Beberapa santri yang duduk di dekatnya bahkan sempat saling melirik kecil sambil menahan senyum jahil. Salah satu dari mereka, Farhan, sampai berbisik pelan ke temannya.
“Wih… mukanya kak Shaka beda tuh kalau nyebut kak Hanin.”
“Eh diem,” balas temannya sambil nyengir kecil.
Untungnya Shaka tidak mendengar. Ustadz Haidar lalu membuka kembali kitabnya.
“Baik, kita lanjutkan kembali pelajarannya.”
Shaka langsung kembali ke tempat duduknya.
Ia duduk bersila sambil membuka kitab catatannya sendiri. Namun entah kenapa fokusnya sedikit buyar. Pikirannya masih teringat senyum Hanindya tadi.
“Tolong dijaga istiqomahnya…”
Sial.
Kenapa ucapan itu terus terngiang di kepalanya?
Shaka mengusap wajahnya dengan cepat lalu mencoba kembali fokus pada pelajaran. Dan kali ini ia benar-benar berusaha mendengarkan. Waktu kembali berjalan. Matahari perlahan turun menuju sore. Langit yang tadinya terang mulai berubah sedikit keemasan. Di salah satu ruangan khusus santriwati, suara hafalan Al-Qur’an terdengar bergantian dengan merdu. Ustadz Ilyas duduk di depan sambil menyimak hafalan beberapa santriwati yang sedang setor ayat.
“Sambung ayat berikutnya,” panggilnya dengan tenang.
Salah satu santriwati langsung melanjutkan hafalannya dengan sedikit gugup sementara di sudut ruangan, Hanindya juga duduk sambil memegang mushaf kecil di tangannya.
Sesekali pandangannya diam-diam mengarah pada Ustadz Ilyas. Lelaki itu memang selalu terlihat tenang saat mengajar. Sabar dan sangat dihormati semua santri. Tak terasa kelas tahfidz sore itu akhirnya selesai.
“Baik cukup sampai sini dulu,” ujar Ustadz Ilyas sambil menutup mushafnya. “Besok lanjut hafalan berikutnya.”
Para santriwati langsung mengangguk.
“Baik ustadz.”
Ustadz Ilyas berdiri lalu keluar dari ruangan kelas. Angin sore menyambutnya begitu ia berjalan melewati koridor pondok. Namun baru beberapa langkah,
“Ilyas.”
Suara itu membuatnya menoleh. Ustadz Haidar sedang berdiri tidak jauh darinya.
“Assalamualaikum, Abi.” ucap Ustadz Ilyas dengan sopan sambil mendekat dan membuat Ustadz Haidar tersenyum kecil.
“Waalaikumsalam, Ilyas.... Kalau tidak sibuk, nanti mampir ke rumah Abi sebentar ya.”
Ustadz Ilyas sedikit bingung namun tetap mengangguk hormat.
“Baik abi.”
Sore menjelang maghrib, ustadz Ilyas akhirnya memenuhi permintaan ustadz Haidar untuk datang ke rumahnya. Rumah Ustadz Haidar terlihat tenang seperti biasa. Di ruang tamu sederhana itu, Ustadz Ilyas duduk dengan sopan sambil menunggu kedatangan ustadz Haidar. Tak lama kemudian Ustadz Haidar keluar sambil membawa dua cangkir teh hangat.
“Nih silahkan diminum dulu teh nya Ilyas.”
“Terima kasih abi.”
Ustadz Ilyas langsung menerimanya. Untuk beberapa detik suasana di rumah ustadz Haidar terasa tenang sampai akhirnya Ustadz Haidar duduk di kursinya lalu berkata pelan,
“Ada yang ingin abi bicarakan.”
Ustadz Ilyas langsung memperhatikan dengan serius.
“Iya abi?”
Ustadz Haidar tersenyum kecil.
“Abi sudah menentukan tanggal pernikahan kalian.” Kalimat itu langsung membuat Ustadz Ilyas sedikit terdiam. Ia bahkan merasakan detak jantungnya berhenti untuk sesaat.
“Pernikahan…?” tanya ustadz Ilyas pelan dan membuat Ustadz Haidar mengangguk.
“Iya.”
Tatapan ustadz Haidar terlihat hangat.
“Pertunangan kalian juga sudah berjalan selama dua bulan.”
Ustadz Ilyas menunduk perlahan. Dan untuk pertama kalinya sejak lama, wajah lelaki muda itu terlihat benar-benar bahagia. Bahagia yang sangat sulit disembunyikan. Selama ini ia memang menunggu pembicaraan itu, namun tetap saja saat akhirnya benar-benar mendengarnya langsung dari Ustadz Haidar, Ilyas merasakan dadanya terasa penuh dan hangat. Bahkan matanya sedikit berkaca-kaca tanpa sadar dan membuat Ustadz Haidar yang memperhatikan ekspresinya, hanya bisa tersenyum kecil.
“Apa kamu merasa senang?”
Pertanyaan itu membuat Ustadz Ilyas langsung tersadar lalu tertawa kecil karena malu.
“Iya abi…”
“Alhamdulillah, Abi tahu kamu sudah tidak punya orang tua lagi.” Tatapan ustadz Haidar terlihat penuh pengertian. “Jadi untuk semua urusan pernikahan ini, biar abi yang urus.”
Kalimat itu membuat Ustadz Ilyas benar-benar terdiam. Dadanya mendadak terasa sesak, bukan karena sedih tapi karena terlalu terharu setelah mendengarnya. Sudah bertahun-tahun ia hidup sendiri setelah kedua orang tuanya meninggal dan sejak tinggal di pesantren ini, Ustadz Haidar memang sudah ustadz Ilyas anggap seperti ayahnya sendiri.
“Terima kasih abi…” ucap ustadz Ilyas dengan suaranya yang sedikit bergetar. “Ilyas… Ilyas serahkan semuanya sama abi.”
Ustadz Haidar tersenyum hangat lalu ia berkata,
“Tenang saja.” ia lalu melanjutkan, “InsyaAllah akad nikah Ilyas dan Hanindya akan dilangsungkan satu minggu lagi.”
Kadang, niat baik kita disalahpahami, usaha kita diremehkan, atau bahkan dihalangi oleh mereka yang tidak peduli dan membenci.
Namun, satu hal yang perlu kita garis bawahi adalah bahwa kebaikan tidak akan pernah sia-sia.
Berbuat baik, terutama untuk kemaslahatan orang banyak, adalah bentuk perjuangan yang membutuhkan keteguhan hati.
Tidak semua orang akan langsung memahami atau menghargai apa yang kita lakukan, tetapi itu bukan alasan untuk berhenti.
Setiap langkah kecil yang kita ambil untuk membantu sesama, sekecil apa pun, memiliki dampak yang besar di mata mereka yang menerimanya.
Mungkin terkadang kita merasa lelah, merasa perjuangan kita tidak berarti, tetapi ingatlah bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah-langkah kecil yang konsisten.
Dunia ini membutuhkan lebih banyak orang yang tidak menyerah dalam menebarkan kebaikan.
Jadi, jangan pernah lelah berjuang. Teruslah menjadi cahaya di tengah gelap, tetaplah menjadi penggerak perubahan, dan yakini bahwa setiap kebaikan yang kita tanam akan berbuah pada waktunya...👍🤭