NovelToon NovelToon
Posesif

Posesif

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lasti Handayani

Kupikir setelah Dev sadar dari koma, dia sudah berubah menjadi seseorang yang tidak lagi mengekangku.
Namun justru, perubahan sikapnya menjadi lebih gila...

"Kita akan menikah hari ini."

"Aku tidak mau!"

"Jika kamu tidak mau, aku akan mengakhiri hidupku sekarang juga."

NB: Season 2 dari Obsession

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lasti Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 22

POV: Nara

Aku menunduk, memperhatikan layangan yang tadi kubeli di pinggir jalan. Warnanya pink dengan bentuk kupu-kupu, dihiasi corak abstrak yang menurutku terlihat cantik. Sayangnya, nasibnya sama seperti hidup percintaanku, gagal terbang.

Aku mengembuskan napas pelan sambil memainkan ujung layangan itu. Mungkin lain kali aku harus request bentuk yang lebih unik.

Bentuk kelamin pria misalnya.

Lumayan, kalau gagal terbang, setidaknya tetap bisa jadi bahan tertawaan warga satu pantai. Kadang aku heran pada isi kepalaku sendiri. Sedih sedikit, langsung kepikiran hal aneh.

"Nara..."

Samar-samar aku mendengar namaku dipanggil. Aku langsung menoleh, mencari sumber suara itu. Dan seketika, senyumku kembali muncul. Dari kejauhan, seorang pria dengan kaos putih oversized dan celana cargo hitam terlihat berlari ke arahku.

Tanpa sadar aku langsung berdiri dari dudukku lalu menghampirinya. “Aku pikir kamu ingkar janji,” kataku sedikit kesal sambil melipat tangan di dada.

Leon berhenti tepat di depanku, masih sedikit terengah. “Maaf,” ucapnya di sela napas. “Baru selesai kerja. Tadi pelanggan lagi banyak banget.”

Aku mengernyit penasaran. “Oh ya? Kenapa sekarang semua orang pengen bikin tato?”

Leon terkekeh kecil. “Entahlah...” bahunya terangkat santai. “Mungkin terinspirasi dari kamu.”

“Aku?” tanyaku sedikit kaget sambil menunjuk diri sendiri.

Ia mengangguk. “Iya. Foto kamu aku pakai buat model iklan marketplace studionya.”

Mataku langsung membulat. “Kalau gitu yang datang bikin tato...”

“Perempuan,” potong Leon cepat, seolah sudah tahu apa yang ingin kutanyakan.

“Dan rata-rata pengennya tato di area sensitif.” Sudut bibirnya terangkat jahil.

Aku langsung memasang wajah tidak suka. “Apaan sih...” gumamku kesal.

Leon malah tertawa kecil, lalu tanpa izin mengacak rambutku hingga beberapa helai kepanganku berantakan. “Lucu banget kalau lagi cemberut,” godanya.

“Udah, ayo...” Tatapannya turun ke benda di tanganku. “Mana layangannya?”

Leon mengambil layanganku tanpa banyak bicara, lalu berlari cepat menyusuri bibir pantai. Aku hanya berdiri sambil memperhatikan dengan wajah penuh curiga. Beberapa menit kemudian, layangan kupu-kupu itu akhirnya terangkat semakin tinggi, lalu benar-benar melayang stabil di udara.

Aku langsung menoleh tidak percaya. “Loh?! Kok gampang banget?!” protesku kesal.

Padahal tadi aku sudah lari ke sana kemari sampai hampir kehilangan harga diri.

Leon tertawa kecil dari kejauhan. “Karena kamu payah.”

“Ih!”

Meski begitu, wajahku tetap tidak bisa menyembunyikan rasa senang. Aku bahkan melompat kecil saat melihat layangan kupu-kupu pink milikku akhirnya terbang tinggi, seolah sedang mengejar langit jingga yang membentang luas di atas laut.

“Sini,” panggil Leon sambil menyerahkan gulungan talinya. “Pegang.”

Aku langsung menerimanya dengan hati-hati, menggenggam erat karena takut terlepas diterbangkan angin. “Anginnya kenceng banget,” suaraku sedikit meninggi, hampir tenggelam oleh suara ombak dan hembusan angin sore.

Leon berdiri di belakangku. “Santai aja,” ujarnya pelan. “Tarik-ulur sedikit biar kupu-kupunya nggak diem doang.”

Tangannya bergerak membimbing jemariku di atas gulungan benang, menunjukkan caranya mengendalikan arah layangan. Gerakanku jadi terbatas, tapi anehnya aku tidak merasa terganggu. Jantungku tiba-tiba berdetak sedikit lebih cepat. Mungkin karena jarak kami yang terlalu dekat, atau mungkin karena sudah terlalu lama aku tidak merasa setenang ini bersama seseorang.

Di depan kami, layangan kupu-kupu itu terus menari mengikuti arah angin, sementara langit perlahan berubah semakin jingga.

Setelah puas bermain layangan, aku dan Leon akhirnya bermain air di bibir pantai. Padahal aku sama sekali tidak membawa baju ganti. Tapi setiap melihat laut, selalu ada dorongan aneh untuk masuk ke dalamnya. Jadi aku tidak terlalu peduli meski nanti harus pulang dengan pakaian basah.

Ombak kecil beberapa kali menghantam kaki kami. Kadang Leon sengaja mencipratiku, lalu berakhir dengan kami saling membalas seperti anak kecil. Anehnya aku menikmatinya. Sudah lama sekali rasanya aku tidak tertawa sebanyak ini.

Tanpa terasa, langit jingga perlahan memudar, digantikan warna gelap yang mulai menyelimuti laut. Angin malam juga terasa semakin dingin. Aku mengusap kedua lenganku pelan. Sepertinya aku harus segera pulang sebelum masuk angin.

“Nara,” panggil Leon tiba-tiba. “Mending ke studio dulu aja. Kita naik motor, aku tahu jalan pintas biar lebih cepet sampai.”

Tatapannya turun ke pakaianku yang masih basah. “Aku takut kamu masuk angin.”

Aku terdiam sebentar, mempertimbangkan ucapannya. “Kayaknya nggak bisa deh...”

Aku memberi kode dengan daguku ke arah ujung jalan. “Kamu nggak lihat pria di sana?”

Leon mengikuti arah pandanganku. Bagas masih berdiri tak jauh dari mobil, menunggu seperti satpam pribadi yang tidak pernah kehabisan baterai.

Leon malah terlihat santai. “Tenang aja,” katanya sambil mengusap rambutnya yang sedikit basah. “Urusan Bagas, biar jadi urusanku.”

Sebelum aku sempat bertanya lebih jauh, ia sudah berjalan menghampiri Bagas. Aku hanya bisa berdiri menunggu sambil memperhatikan mereka berbicara dari kejauhan.

Angin malam mulai menusuk kulitku yang masih basah. Bulu kudukku meremang pelan. Jujur saja, aku suka laut. Tapi aku benci rasa lengket air asin yang tertinggal di tubuh setelahnya. Beberapa menit kemudian, Leon kembali menghampiriku.

“Ayo, pulang sama aku.”

Aku langsung mengernyit bingung. “Loh... Bagas?”

“Udah beres,” jawabnya santai sambil menggenggam pergelangan tanganku pelan dan menarikku menuju motor besarnya.

Aku masih sempat menoleh ke belakang. Bagas justru berjalan kembali ke arah mobil tanpa ekspresi aneh sedikit pun. Aku mengerutkan dahi. Kok bisa semudah ini? Biasanya Bagas bahkan tidak akan membiarkanku membeli minuman di minimarket tanpa persetujuan Devandra.

...***...

Motor besar itu akhirnya berhenti di garasi samping studio tato. Aku langsung turun dengan cepat, tubuhku mulai tidak nyaman karena pakaian yang masih basah dan lengket oleh air laut.

“Aku ke toilet dulu,” kataku sambil berjalan lebih dulu masuk ke dalam studio.

Beberapa pegawai yang sedang sibuk melayani pelanggan langsung menyapaku ramah saat aku lewat.

“Halo, Kak Nara.”

“Malam, Kak.”

Aku membalas sapaan mereka dengan senyum kecil sambil terus melangkah. Studio malam itu terlihat cukup ramai. Suara mesin tato berdengung samar bercampur musik pelan dari speaker, sementara aroma antiseptik khas ruangan langsung terasa begitu masuk ke dalam.

Saat aku hendak membuka pintu toilet di lantai bawah, tiba-tiba sebuah tangan menahan lenganku pelan. Aku menoleh, Leon berdiri di sampingku sambil sedikit menggeleng.

“Pakai toilet atas aja,” ujarnya santai. “Sekalian aku siapin baju ganti buat kamu.”

Aku menurut tanpa banyak protes lalu langsung menaiki tangga menuju lantai atas. Berbeda dengan lantai bawah yang ramai, suasana di atas terasa jauh lebih sunyi. Hanya ada satu ruangan, satu pintu. Dan itu jelas kamar milik Leon.

Aku mendorong pintunya perlahan. Seketika pandanganku menyapu seluruh isi kamar yang jauh lebih luas dari perkiraanku. Nuansanya terasa hangat dengan gaya interior eropa modern yang simpel namun tetap nyaman dipandang. Jendela besar membentang hampir memenuhi satu sisi dinding, langsung menghadap ke halaman studio di bawah.

Tepat di bawah jendela itu terdapat ranjang besar dengan seprai berwarna gelap yang terlihat rapi, seolah jarang benar-benar dipakai untuk tidur dengan tenang. Sebuah sofa abu-abu berada tak jauh dari pintu masuk. Di sudut ruangan berdiri lemari pakaian berukuran besar, sementara sisi lainnya dipenuhi meja gaming lengkap dengan komputer, headset, keyboard, dan berbagai barang khas laki-laki yang tersusun cukup rapi.

Kursi gaming berwarna putih terlihat mencolok di tengah dominasi warna gelap kamar itu. Aku berjalan pelan ke tengah ruangan sambil memperhatikan sekitar. Anehnya kamar ini terasa sangat Leon, sangat tenang. Dan entah kenapa, dibanding rumahku sendiri, tempat asing ini justru terasa lebih mudah membuatku bernapas lega.

Setelah puas memperhatikan seluruh isi kamar, kini mataku mulai mencari letak kamar mandi. Ternyata pintunya berada tepat di samping ranjang, tersembunyi di balik sekat tembok. Aku langsung masuk ke dalam tanpa pikir panjang. Pakaian basah yang menempel di tubuh segera kulepas satu per satu. Setelah itu, aku memutar keran shower. Seketika air hangat mengalir deras, membasahi kulitku yang sejak tadi terasa lengket oleh air laut dan pasir halus.

Setelah selesai mandi, aku meraih handuk yang tergantung di dinding. Namun saat kubuka, aku langsung mengernyit, ternyata sangat kecil. Mau tidak mau, aku tetap melilitkannya ke tubuh meski ukurannya nyaris tidak cukup. Beberapa detik aku hanya berdiri bengong di depan cermin, tunggu.

Aku lupa tidak membawa baju ganti. Dengan sedikit ragu, aku akhirnya memutar gagang pintu kamar mandi perlahan. Dari celah pintu, aku melihat Leon sedang duduk di sofa tepat di depan kamar mandi. Kepalanya sedikit menunduk, fokus pada layar ponselnya.

"Leon," panggilku dengan suara kecil, ia langsung menoleh.

"Baju gantinya mana?" tanyaku, namun pria itu tidak langsung menjawab, matanya menatapku dari bawah hingga atas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!