“Jangan harap bisa pergi. Sekali kakimu menginjak rumah ini, selamanya kamu adalah milikku.”
Seorang Juragan yang mempunyai segalanya: kekuasaan, kekayaan, dan wibawa. Hanya satu yang tidak bisa ia miliki yaitu hati anak gadis dari salah satu pekerja buru pabrik miliknya.
Ketika lamaran tulusnya dibalas penolakan, sang Juragan melepaskan topeng kesabarannya. Ia tidak butuh izin untuk memiliki apa yang ia mau. Jika dunia menyebutnya penculik, biarlah. Karena baginya, lebih baik melihat gadis pujaan menangis dalam pelukannya daripada melihat gadis itu tersenyum di pelukan pria lain.
Satu janji suci telah terucap. Ijab kabul telah sah di mata agama. Namun, akankah gadis itu menyerahkan hatinya setelah sang Juragan "mencuri" kebebasannya? lalu bagaimana dengan gadis lain yang ingin menikah dengan sang Juragan tampan itu, akankah ia Terima atau membalaskan dendamnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia Sky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ikatan Suci dan Upacara Panggih
Hari yang dinanti telah tiba. Hari bahagia bagi Aditya dan Kinanti. Pesta pernikahan sederhana namun sakral diselenggarakan di kediaman mempelai wanita.
Aditya duduk bersila di hadapan Pak Wisnu, ayah kandung Kinanti, dan Bapak Penghulu. Udara dipenuhi ketegangan sekaligus haru.
Tangan Aditya terulur, menjabat tangan Pak Wisnu dengan mantap.
"Saya terima nikah dan kawinnya Ayunda Kinanti binti Wisnudhana dengan maskawin tersebut, tunai!"
Suara Aditya terdengar lantang dan jelas, menghapus semua keraguan.
"Bagaimana para saksi? Sah?" tanya Bapak Penghulu.
"SAH!!!" jawab para saksi dan hadirin serentak.
Ijab kabul telah berlangsung dengan lancar, mengikat dua jiwa dalam janji suci.
Dari balik tirai, Kinanti perlahan melangkah keluar. Ia tampil memukau dalam balutan kebaya putih bersih, dihiasi bros bunga rumbai di dada dan kain jarik yang membalut kaki jenjangnya dengan indah. Rambutnya yang biasanya terurai kini tersanggul rapi, lengkap dengan hiasan cunduk mentul dan ronce bunga melati yang menjuntai anggun di sisi dada dan wajahnya. Riasan yang lembut menyempurnakan kecantikan alaminya, dengan paesan yang menghiasi keningnya, simbol kemuliaan seorang pengantin Jawa.
Aditya, pria tampan itu, terlihat gagah dalam balutan beskap sewarna dengan kebaya Kinanti, dihiasi keris yang terselip di punggung serta untaian bunga melati yang dikalungkan di lehernya. Ia mengenakan dodotan (kain batik panjang) dan blangkon yang menghiasi kepalanya.
Aditya menahan haru. Dadanya bergemuruh hebat setelah mengucap ijab kabul. Matanya berkaca-kaca menatap betapa memesonanya sang istri sah. Meski air mata hampir menetes, Aditya masih menyempatkan senyum kecil penuh cinta.
Kinanti membalas tatapan suaminya dengan senyum manis. Pipi Kinanti merona menyadari banyak pasang mata menatapnya. Pujian tak henti terlontar dari bibir para hadirin "Cantik manglingi," katanya, "cocok sekali dengan Aditya yang tampan dan gagah." Dada Kinanti berdebar-debar, hari ini adalah puncak kebahagiaannya.
"Silakan duduk, Nak," ujar Bapak Penghulu mempersilakan Kinanti duduk di kursi samping Aditya.
Kedua pengiring Kinanti telah undur diri. Sepasang pengantin baru itu kini saling tatap dengan pandangan membuncah, yang segera disambut dengan godaan riuh dari para hadirin.
Pak Wisnu tersenyum lembut melihat wajah Kinanti yang nampak berseri-seri. Ia merasa lega dan turut berbahagia untuk putri semata wayangnya. Air mata haru menetes dari matanya, melihat putrinya terlihat begitu siap mengarungi bahtera rumah tangga, meski usianya masih terbilang muda.
Acara akad nikah ini diselenggarakan di rumah sederhana Pak Wisnu sesuai kesepakatan kedua keluarga, sementara pesta unduh mantu (resepsi di pihak pria) akan dilangsungkan di kediaman mewah Pak Wijaya.
"Silakan ditandatangani dulu buku nikahnya, Mas, Mbak," instruksi Bapak Penghulu.
Sebuah pulpen diserahkan terlebih dahulu kepada Aditya, namun pria tampan itu justru mengangsurkannya kepada sang istri. "Kamu dulu, Sayang."
Sorakan penuh godaan bahkan siulan terdengar menggema di ruang tamu. Akad nikah ini hanya dihadiri sanak saudara, orang tua, kerabat dekat Aditya, dan para tetangga. Tak heran, sepupu-sepupu Aditya segera melancarkan candaan jahil.
"Uhuyyy! Si perjaka lama ini sudah mulai bucin, Pemirsa!"
Gelak tawa pun terdengar semakin meriah. Kinanti mengulum senyum malu, namun tangannya segera meraih pulpen itu, membubuhkan tanda tangannya, lalu mengembalikannya kepada sang suami. Aditya menerimanya dan menunaikan gilirannya. Semua itu tak luput dari pandangan mata sang ayah dan saksi, Paman Aditya, Pak Surya.
"Baik, sudah ditandatangani keduanya. Sekarang, pasang cincin kawinnya," instruksi Bapak Penghulu, meminta Aditya lebih dulu memasangkan cincin cantik itu ke jari Kinanti.
Tangan besar Aditya meraih tangan lentik Kinanti. Pandangannya tak lepas dari paras cantik istrinya. Sambil tersenyum tipis, ia memasangkan cincin tersebut di jari manis istrinya.
Kini giliran Kinanti. Dengan tangan sedikit bergetar karena gugup, Kinanti memasangkan cincin tersebut pada jari manis Aditya yang jauh lebih besar darinya. Senyum Aditya semakin lebar melihat betapa gugupnya tangan Kinanti saat memasangkan cincin itu.
Setelah cincin terpasang sempurna, tanpa menunggu instruksi dari Bapak Penghulu, Kinanti langsung menarik tangan Aditya untuk disalami.
CUP!
Kinanti mencium punggung tangan suaminya dengan penuh takzim. Semua hadirin terdiam sejenak, menatap betapa sakralnya momen sepasang pengantin baru itu. Aditya pun tak tinggal diam, ia membalas dengan mengecup kening sang istri begitu lama, seolah turut melafalkan doa tulus untuk istri kecilnya ini. Fotografer yang berada di sana sejak tadi sibuk mengabadikan setiap gerakan dan kehangatan pengantin.
Bapak Penghulu terkekeh kecil, lalu menoleh ke Pak Wijaya. "Mereka sudah paham betul tanpa saya ajari, Juragan," katanya.
Pak Wijaya tersenyum membalasnya. Ia merasakan hal yang sama. Aditya terlihat begitu mantap dan pantas membina rumah tangga.
*Semoga pernikahanmu sakinah, mawaddah, warahmah, Nak,* batin Pak Wijaya.
Sementara itu, di kursi yang tak jauh, Bu Sarasvati diam-diam meneteskan air matanya. Ia begitu senang dan lega menyaksikan langsung putra sulungnya menikah dengan gadis pilihannya. Di sampingnya, Abyan, sang adik, menatap Abang dan kakak iparnya bergantian. Remaja tampan itu mengenakan beskap dan blangkon yang terpasang rapi di kepalanya, benar-benar tampak seperti duplikat Aditya versi mini.
"Mbak senang, Lit, Adi sudah menemukan tambatan hatinya," ucap Bu Sarasvati kepada adiknya, Bu Lita, yang mengangguk setuju. Ia bisa melihat binar bahagia di mata keponakannya itu.
"Mbak harap Kinanti bisa mengimbangi Aditya dalam bahtera rumah tangga mereka, begitupun dengan Aditya, semoga putra sulung Mbak itu bisa membimbing Kinanti nantinya," doa tulus Bu Sarasvati.
"Amin, iya Mbak, semoga pernikahan mereka awet, berkah, dan bahagia," timpal Bu Lita.
🎎 Upacara Adat Panggih
Selesai akad nikah, selanjutnya dilangsungkan upacara Panggih, di mana pengantin yang resmi menikah akhirnya dipertemukan secara adat sebagai sepasang suami istri. Upacara ini berisi serangkaian ritual yang memantapkan kedua mempelai dalam membina rumah tangga.
Tahap pertama adalah Balang Gantal, di mana kedua pengantin saling melempar gantal (bungkus sirih berisi bunga melati) sebagai simbol bakti dan kasih sayang.
Selanjutnya, Nincak Endog, ritual Aditya menginjak sebutir telur ayam mentah sebagai harapan segera mendapatkan keturunan. Dilanjutkan Kinanti yang membasuh kaki suaminya dengan lembut menggunakan air kembang tujuh rupa, sebagai tanda bakti dan kasih sayangnya.
Setelah membasuh dan mengeringkan kaki sang suami, Kinanti berdiri dan mengitari suaminya dari belakang hingga berada di sampingnya. Kemudian dilanjutkan Sinduran, di mana kedua mempelai dibalut menggunakan kain berwarna merah, sembari diantar menuju pelaminan oleh Pak Wisnu dan Bibi Kinanti.
Sesampainya Aditya dan Kinanti duduk di pelaminan, kini dilangsungkan ritual Timbang Bobot. Pak Wisnu duduk dan menimbang sang putri dan menantu yang duduk di pangkuannya. Bibi Kinanti (kerabat dari mendiang ibunda Kinanti) menghampiri pelaminan.
"Bagaimana, Pak? Berat yang mana?" tanya Bibi Kinanti.
"Sama saja," jawab Pak Wisnu tersenyum.
Usai ritual Timbang Bobot, kini ritual Kacar Kucur dilakukan. Aditya, pengantin laki-laki, mengucurkan uang logam beserta kebutuhan pokok seperti beras kuning dan biji-bijian ke pangkuan sang istri, sebagai simbol bahwa ia akan bertanggung jawab dan memberikan nafkah kepada keluarga.
Ritual selanjutnya adalah Dulangan, di mana sebagai pasangan suami istri, Aditya dan Kinanti saling menyuapi sebanyak tiga kali, sebagai simbol bahwa pasangan ini akan selalu tolong-menolong satu sama lain dan saling memadu kasih hingga tua nanti.
Setelah usai prosesi adat Jawa, Aditya dan Kinanti diarahkan oleh dalang (pemandu acara adat) untuk mulai sungkeman kepada orang tua. Dimulai dari orang tua dan Budhe Kinanti.
Pak Wisnu mengusap pelan kepala sang putri. Air matanya berjatuhan, dan Kinanti pun terisak hebat, pundaknya tersengal-sengal. Aditya mengusap-usap pundak istrinya, menenangkan.
"Tanggung jawab Bapak sudah pindah ke suamimu, Nak. Kamu harus nurut sama Tuan Aditya. Jangan sekalipun membantah ucapannya. Kalau dinasihati, dengarkan baik-baik. Jangan sekalipun kamu meninggikan suaramu," nasihat Pak Wisnu.
Kinanti mengangguk, lalu keduanya berpelukan erat.
"Kinan menyayangi Bapak. Kinan mohon restu, Pak," ucap Kinanti.
Pak Wisnu mengangguk sambil terisak. "Restu dan doa Bapak selalu menyertai, Nak. Putri kecil Bapak, ingat, Bapak akan selalu sayang padamu."
CUP!
Pak Wisnu mengecup sayang kening putrinya. Kinanti merasa sesak di dadanya. Genap berumur 20 tahun, ia telah menjadi seorang istri dari pria yang tak pernah ia duga.
Gantian Aditya. Pria tampan itu sungkem pada bapak mertuanya, meminta restu dan izin untuk mengambil alih tanggung jawab Kinanti.
"Bapak serahkan anak Bapak padamu, Juragan. Sayangi dan cintai dia. Perlakukan dia dengan baik, sebagaimana Bapak memperlakukan putri Bapak. Jangan pernah kasar dan membentaknya. Tegur dia dengan halus jika ia melakukan kesalahan. Dan jika kamu nantinya sudah tidak sayang lagi dengan anak Bapak, kamu bisa memulangkannya pada Bapak tanpa ada kekerasan," nasihat Pak Wisnu kepada sang menantu, membuat Aditya menitikkan air matanya.
Aditya langsung mendekap tubuh bapak mertuanya.
"Kinanti adalah putri semata wayang Bapak, Tuan. Jaga dan terus sayangi dia," ucap Pak Wisnu, terisak hebat.
Aditya mengangguk berkali-kali. "Janji saya bukan hanya ke Pak Wisnu, tapi juga kepada Allah. Saat ijab kabul kemarin, saya sudah berjanji akan terus menjaga dan melindungi istri saya Kinanti selamanya. Bapak jangan khawatir. Pernikahan ini adalah yang pertama dan terakhir untuk saya, Pak. Sekarang saya sudah jadi menantu Bapak, jadi panggil saya Adi saja, jangan pakai 'Juragan'," ujar Aditya dengan suara serak.
Pak Wisnu pun merasa lega yang mendalam. Semoga Aditya menepati janjinya, karena Kinanti adalah satu-satunya harta berharga yang ia miliki.
Lalu berganti ke orang tua Aditya. Bu Sarasvati mendekap menantunya erat, tangisnya pecah. "Nak, Ibu... Ibu berterima kasih padamu. Kamu..." Wanita paruh baya itu sampai tak bisa berkata-kata. Wajah sembab Kinanti dirangkumnya dengan sayang.
"Sudah bersedia menjadi pendamping putra Ibu. Terima kasih, Nak," lanjut Bu Sarasvati, terisak-isak.
Kinanti mencium tangan ibu mertuanya. "Kinan memohon doa restu, Bu." Kinanti pun tak bisa berkata-kata, tangis keduanya pecah. Bu Sarasvati kembali memeluk tubuh Kinanti.
"Doa dan restu Ibu selalu menyertai kalian. Kamu anak Ibu sekarang, putri Ibu. Sakinah, mawaddah, warahmah pernikahan kalian, Nak," ucap Bu Sarasvati sembari mencium kening Kinanti lama.
Aditya menundukkan kepalanya di pangkuan sang ayah. Pak Wijaya menepuk pundak putranya.
"Mohon doa restunya, Ayah," bisik Aditya.
Meskipun Pak Wijaya sempat dibuat naik turun emosinya oleh perilaku Aditya, Aditya tetaplah putranya. Hari ini adalah hari yang dinanti-nantikannya. Harapan ia dan sang istri sudah terkabul, mereka telah memiliki menantu. Ia pun mendekap tubuh gagah itu.
"Tanggung jawabmu sekarang adalah Kinanti, Nak. Sayangi dan selalu perlakukan istrimu dengan baik. Jangan sekali-kali kamu kasar padanya," nasihat Pak Wijaya.
Aditya mengangguk di dekapan sang ayah. "Kalau kamu berani menyakiti menantu Ayah, Ayah sendiri yang akan memberimu pelajaran, paham?" ancam Pak Wijaya.
Aditya tersenyum kecil dibalik punggung Pak Wijaya. "Adi akan selalu ingat pesan dan nasihat Ayah."
Pak Wijaya tersenyum lega. "Ini baru putra kebanggaan Ayah. Ibumu dan Ayah selalu menyayangimu, Nak." Pak Wijaya mengecup ubun-ubun putranya sekilas. Keduanya saling melempar senyum.
Lalu berganti ke Kinanti. Wanita muda itu menyalami punggung tangan ayah mertuanya. "Kinan mohon doa restunya, Ayah," ujar Kinanti.
Pak Wijaya tersenyum lembut. Ia mendekap hangat tubuh menantunya. "Ayah titip putra sulung Ayah. Kalau dia bandel, kamu arahkan dia. Tapi kalau dia berani kasar sama kamu, langsung kasih tahu Ayah, hmm?" nasihat Pak Wijaya.
"Baik, Ayah," ucap Kinanti terkekeh, namun tetap mengangguk sopan.
"Kamu sekarang putri Ayah. Jangan sungkan kalau ada apa-apa, bilang sama Ayah," ucap Pak Wijaya.
Kinanti menangis dan langsung didekap Pak Wijaya. Beliau mengecup kening menantunya sayang. Tak pernah merasakan mempunyai seorang putri, kini ia bisa merasakan bahagianya memiliki anak perempuan. Kinanti, menantu sekaligus putri pertama di keluarga Wijaya.
"Nak, Ibu tidak pernah mengajarimu kasar sama perempuan. Jadi, dengan istrimu, jangan sesekali kamu kasar padanya. Dia adalah satu-satunya harta paling berharga untuk ayahnya, jadi kamu harus menjaganya dengan baik," pesan Bu Sarasvati.
Aditya mengangguk mantap. Bu Sarasvati membelai wajah putranya. Aditya sudah dewasa, sudah memimpin keluarga sekarang. Rasanya baru kemarin ia mengantar Aditya ke sekolah TK dan menyuapinya sarapan.
"Jangan ulangi lagi menculik anak orang. Sekarang Kinanti sudah jadi istrimu. Ke depannya, kamu harus lebih baik menjaga emosimu, jangan nekat lagi," lanjut Bu Sarasvati.
"Iya, Bu. Adi janji sama Ibu," ucap Aditya, membuat Bu Sarasvati tersenyum. Ia mendekap dan mengecup sayang wajah tampan putranya.
📸 Sesi Foto dan Ucapan Selamat
Setelah benar-benar usai dengan semua rentetan prosesi adat pernikahan, tibalah resepsi dengan sesi foto bersama pengantin. Teman-teman Kinanti, serta beberapa teman dan juga rekan bisnis Pak Wijaya dan Aditya turut hadir. Mereka saling melempar senyum, pelukan, dan candaan yang terdengar geli di pendengaran Kinanti.
"Langsung tancap gas aja, gak sih, nanti malam, Di?" ucap salah satu teman Aditya. Aditya tertawa kecil, sementara Kinanti mengulum senyum malu.
"Hati-hati, Dek Kinanti. Adi ini 'beringas' soalnya sudah melajang lama, hahahah..." sahut teman Aditya yang lain.
"Husssst!" tegur Aditya pada teman-teman karibnya.
Mereka berfoto bersama dengan berbagai gaya. Kinanti tersenyum memandang wajah sumringah suaminya.
"Kinanti..." suara teman-teman Kinanti terdengar.
Bu Sarasvati telah mengatur semua daftar tamu undangan, bahkan bos di toko bunga pun turut diundang. Mereka, para gadis, saling peluk bergantian.
"Sakinah, mawaddah, warahmah pernikahan kamu! Aku ikut senang banget!" ucap Laras, salah satu teman kerja Kinanti. "Mas Adi, selamat, ya, Mas."
Kinanti terkekeh kecil mendengar suara temannya yang terdengar malu-malu. Ia beralih menatap sang suami yang hanya mengangguk dengan senyum sangat tipis. Laras dibuat kikuk sendiri, Wulan langsung tertawa mengejek.
"Ini ada kado dari kita-kita, semoga suka, ya, Kinan..." ucap Wulan.
"Apa ini, Mbak Wulan? Aduh, kalian kok repot-repot, sih..."
"Tidak, tidak repot, kok. Semoga bermanfaat, ya," bisik Indah, salah satu dari mereka yang menyerahkan kado tersebut.
Mereka berfoto bersama sang pengantin. Akhirnya, semuanya turun dari pelaminan.
"Capek, Sayang?" tanya Aditya dengan lembut.
Kinanti menoleh menatap sang suami, ia mengangguk apa adanya. "Sedikit, tapi masih lama, kan? Tamunya saja belum ada separuhnya," cicit Kinanti.
Aditya memandangi wajah lelah istrinya. Ia tak tega, tapi memang acara belum usai. "Sebentar lagi. Kamu masih kuat, kan?" bisik Aditya.
Sebenarnya Kinanti sudah letih dan ingin istirahat, tapi ia merasa tidak enak pada keluarga ayah mertuanya dan para tamu. Kinanti tahu keluarga suaminya adalah keluarga yang cukup terpandang, jadi ia harus menjaga martabat keluarga suaminya.
"Masih, Mas," bisik Kinanti.
"Duduk dulu, Sayang. Mas ambilkan minum, ya," ucap Aditya penuh perhatian.
"Boleh," ujar Kinanti yang memang merasa haus.
Aditya melihat bibinya yang kebetulan lewat, ia pun meminta tolong agar segera diambilkan minum untuk istrinya.
"Makasih, Mas."
Segelas es kopyor sudah dipegangnya. Aditya mengangguk. Kinanti meminumnya perlahan.
"Mas mau?" tawar Kinanti.
Aditya langsung meminum tepat di bekas bibir istrinya. Kelakuan manis sepasang suami istri baru itu tak luput dari pandangan para undangan, bahkan teman-teman Kinanti sampai menggigit sendok masing-masing.
"Mau begitu juga, duh Gusti, kapan giliranku ini?" ucap Laras.
Tawa pun terdengar geli. Laras terlihat memasang wajah memelas.
"Kamu tadi ambil bunga melatinya Kinanti, tidak?" tanya Wulan.
"Ambil, Mbak, nih! Katanya kan kalau ambil diam-diam cepat nyusul," ucap Laras polos.
"Semoga, ya," ucap Wulan.
"Iya, sih, tapi harusnya yang lebih akurat itu bunganya tadi, tapi malah teman Mas Adi yang dapat," ucap Laras cemberut.
Laras sedikit kesal. Tubuh kecilnya mana bisa beradu dengan orang-orang bertubuh tinggi di sana saat rebutan bunga.
"Ya sudah, sabar. Kalau sudah waktunya, pasti datang, kok, jodohmu," ucap Indah.
"Hemmm, semoga saja seganteng dan semapan Mas Adi, Aamiin..." doa Laras.
"Wooo! Permintaanmu ini ketinggian, dasar Laras!" ucap Wulan.
"Aku kan seledri, Mbak," ucap Laras santai.
"Apa itu?" tanya Indah yang penasaran.
"Selera tinggi, tidak tahu diri, hehehe..." jawab Laras terkekeh.
Tawa pun kembali menguar di kelompok gadis-gadis itu.
Hari ini meriah sekali. Sesi makan siang untuk pengantin, Aditya dengan manjanya meminta disuapi Kinanti.
"Iya, iya, yang sudah punya istri, makan saja disuapin," ejek sepupu Aditya yang melihat sikap mesra itu.
"Sirik saja," ucap Aditya dengan wajah sinis.
Waktu terus berjalan hingga pukul dua siang. Para tamu akhirnya pulang ke rumah masing-masing.
Bersambung__
___
NB: setiap prosesi pernikahan adat tidak semua sama yaa dan maaf jika didalam cerita ini banyak yang salah untuk alur prosesi nikahnya🙏🏻