"Ayah, bawa boneka matanya besar ya? Kinaya nggak mau tidur sendirian!"
Janji itu hancur bersama truk kontainer di perempatan maut. Haidar terbangun di Niskala, dimensi sunyi tanpa manusia. Satu-satunya cara bicara pada dunianya hanya lewat coretan dinding yang muncul secara misterius di depan putrinya, Kinaya.
Namun, Haidar diburu "Penjaga" kegelapan. Ada rahasia kelam di balik boneka itu yang mulai terungkap. Haidar harus berjuang kembali atau terjebak selamanya sebagai gema. Karena batas antara kasih sayang dan kutukan hanyalah setipis hembusan napas.
"Aku tidak mati, Kinaya. Aku hanya tertinggal di balik sunyimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AKSARA NISKALA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: SINKRONISASI DINGIN
Langkah kaki Haidar meninggalkan ambang pintu Sektor Pendinginan terasa jauh lebih ringan, namun setiap pijakannya kini meninggalkan jejak kristal es tipis di atas lantai baja Baron. Rasa panas yang biasanya membakar otaknya—sensasi seolah ada cairan timah mendidih yang dituangkan ke dalam tengkoraknya setiap kali ia mengaktifkan Mata Niskala—kini telah sirna sepenuhnya. Berganti dengan kedinginan yang absolut, sebuah kesunyian yang mencekam yang seolah membekukan seluruh saraf di tubuhnya.
Mata kiri Haidar tidak lagi merah padam. Kini, di balik kelopak mata yang sempat robek itu, terpancar pendar cahaya biru kristal yang dingin. Pupilnya melebar, menangkap setiap partikel debu dan aliran listrik statis di udara seolah-olah seluruh dunia Niskala ini telah berubah menjadi rangkaian kode digital yang transparan.
"Bagaimana rasanya, Eksekutor?" suara Sersan memecah kesunyian lorong transisi. Komandan berbaju merah itu berjalan di sampingnya, pedang komiknya tersarung di pinggang, namun matanya tetap waspada menatap ke arah depan.
Haidar berhenti sejenak. Ia mengangkat tangan kanannya yang masih memegang belati hitam. Senjata itu kini tidak lagi terasa berat karena beban emosi; sebaliknya, uap dingin terus merambat keluar dari telapak tangan Haidar, membungkus bilah belati itu dengan lapisan embun beku yang tajam.
"Aku tidak merasa sakit lagi, Sersan," jawab Haidar. Suaranya terdengar datar, nyaris tanpa intonasi, seolah-olah pita suaranya pun ikut membeku. "Tapi... aku juga merasa tidak merasakan apa-apa. Tidak ada amarah, tidak ada ketakutan. Hanya ada... data."
Sersan mendengus pelan, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan logam. "Itu adalah harga dari integrasi Cryo-Core. Es itu akan melindungimu dari burnout yang bisa menghancurkan otakmu, tapi dia juga akan perlahan mengikis sisa-sisa kemanusiaanmu. Jangan sampai kau menjadi sedingin mesin-mesin yang kita lawan, Haidar. Ingat alasan kenapa kau tetap bernapas di tempat ini."
Haidar terdiam. Ia meraba saku jaketnya, merasakan tekstur kasar dari boneka beruang bermata besar yang ia bawa. Boneka itu terasa kaku, membeku di dalam sakunya. Untuk sesaat, sebuah kilasan muncul: wajah Kinaya yang menangis sambil menunjuk jam dinding yang sudah lewat 30 menit dari janjinya. Rasa bersalah itu mencoba muncul, namun suhu dingin di nadinya segera menekan emosi itu kembali ke titik nol.
Mereka sampai di sebuah jembatan gantung raksasa yang menghubungkan sektor luar dengan kaki Menara Utama Baron. Di bawah jembatan itu, lautan rongsokan besi dari Pasar Karat tampak seperti hamparan bangkai yang tak berujung. Angin bertiup kencang, membawa aroma oli dan karat, namun bagi Haidar, angin itu terasa hangat dibandingkan hawa dingin yang ada di dalam tubuhnya.
"The Welder sudah tahu kita datang," ucap Sersan tiba-tiba. Ia menarik pedangnya. Cahaya merah dari pedang Sersan berkilat di antara kabut uap yang keluar dari tubuh Haidar. "Dia tidak akan membiarkan kita menginjakkan kaki di menaranya begitu saja."
Dari arah kegelapan di ujung jembatan, muncul belasan siluet yang bergerak dengan kecepatan luar biasa. Mereka adalah The Shards, pasukan elit pengejar milik The Welder. Tubuh mereka ramping, terbuat dari paduan logam perak yang memantulkan cahaya merah langit Baron. Tangan mereka bukan lagi jari, melainkan bilah-bilah pedang panjang yang menyatu dengan lengan bawah, mengeluarkan suara berdenging frekuensi tinggi yang menyakitkan telinga.
"Aktifkan Mata Niskala, sekarang! Berikan aku koordinatnya!" perintah Sersan.
Haidar tidak membantah. Ia membiarkan frekuensi biru dari matanya menyapu medan tempur. Seketika, gerakan The Shards yang tadinya nampak seperti kilatan cahaya di mata manusia biasa, kini melambat secara drastis dalam pandangannya. Ia bisa melihat aliran energi yang berdenyut di setiap persendian robot-robot itu. Ia melihat titik lemah pada sirkuit pusat yang terletak di balik pelat leher mereka.
"Sektor depan, tiga unit. Kecepatan 80 knot. Titik lemah di engsel lutut kiri dan sambungan leher," lapor Haidar. Kalimatnya keluar dengan presisi sebuah komputer.
"Diterima. Tetap di belakangku dan bekukan mereka jika mereka mendekat!"
Sersan melesat seperti garis merah yang membelah kegelapan. Dengan satu putaran pedang yang kuat, ia menghantam lutut kiri salah satu unit Shard tepat seperti koordinat yang diberikan Haidar. Robot itu goyah, dan sebelum ia bisa menyeimbangkan diri, Haidar sudah ada di depannya.
Haidar tidak menggunakan banyak tenaga. Ia hanya mengayunkan belati hitamnya dalam satu gerakan pendek yang efisien. Begitu ujung belati yang membeku itu bersentuhan dengan dada robot tersebut, kristal es langsung merambat dengan kecepatan eksponensial. Sirkuit internal robot itu membeku secara instan, menyebabkan ledakan energi internal yang mengubah logam perak itu menjadi serpihan es yang hancur berantakan di lantai jembatan.
"Satu jatuh," ucap Haidar dingin.
Ia terus bergerak di antara kerumunan musuh. Gerakannya tidak lagi canggung. Dengan data dari Mata Biru, ia tahu kapan harus menghindar meski hanya beberapa milimeter. Ia seolah menari di antara tebasan pedang The Shards. Setiap musuh yang mencoba menyentuhnya justru akan merasakan hawa dingin yang mematikan dari auranya.
Namun, di tengah hiruk-pikuk pertarungan, frekuensi Haidar kembali terdistorsi. Ia melihat bayangan dirinya sendiri berdiri di sebuah perempatan jalan yang basah karena hujan. Ia melihat lampu depan sebuah truk yang menyilaukan mata, bergerak semakin dekat.
"Ayah... Ayah janji akan pulang..."
Suara Kinaya bergema, bukan di telinganya, melainkan langsung di dalam saraf optiknya. Mata biru Haidar berkedip liar, mengeluarkan cairan biru jernih yang menyerupai air mata namun terasa sangat dingin.
"Haidar! Fokus! Jangan biarkan memori itu merusak sinkronisasi!" Sersan menebas dua robot sekaligus yang nyaris menjepit posisi Haidar.
Haidar menggelengkan kepalanya dengan keras, mencoba mengusir bayangan truk itu dari pikirannya. Ia memegang belatinya dengan kedua tangan, lalu menghantamkannya ke lantai jembatan. Sebuah gelombang kejut es terpancar keluar, membekukan seluruh permukaan jembatan dalam sekejap. Sisa-sisa pasukan The Shards yang tertangkap dalam gelombang itu langsung kaku, berubah menjadi patung-patung perak yang membeku di tempat.
"Selesai," bisik Haidar. Napasnya tersengal, meninggalkan gumpalan uap yang banyak.
Sersan menyarungkan kembali pedangnya, menatap Haidar dengan tatapan yang sulit diartikan. "Sinkronisasi berhasil. Tapi ingat, Haidar, semakin kuat matamu, semakin kuat pula tarikan dari dunia nyata. Niskala tidak akan membiarkanmu pergi dengan mudah."
Haidar tidak menjawab. Ia menatap ke depan, ke arah gerbang raksasa Menara Welder yang kini berdiri tegak di hadapan mereka. Menara itu nampak seperti raksasa besi yang menembus langit, dengan asap hitam yang mengepul dari puncaknya.
Ia tahu, di balik gerbang itu, ia tidak hanya akan menghadapi ribuan mesin produksi. Ia akan menghadapi manifestasi dari tempat di mana seluruh rencana hidupnya hancur. Pabrik suku cadang yang menjadi alasan kenapa ia harus terburu-buru di hari itu.
"Gerbangnya terbuka," ucap Sersan.
Suara geraman logam yang berat terdengar saat pintu menara mulai terangkat. Haidar mencengkeram boneka beruang di sakunya sekali lagi. Dingin di tubuhnya tidak bisa menghilangkan fakta bahwa ia hanya punya satu tujuan: menembus lantai demi lantai, mengalahkan sang pencipta besi, dan menemukan jalan pulang yang dijanjikan—meskipun ia mulai curiga bahwa "rumah" itu tidaklah sehangat yang ia ingat.
"Ayo, Sersan. Mari kita lihat seberapa panas tungku The Welder untuk es di mataku ini," ucap Haidar datar.
Keduanya melangkah masuk ke dalam kegelapan menara, meninggalkan jembatan yang kini sepenuhnya dilapisi es, menandakan bahwa sang Eksekutor Telah tiba untuk menjemput takdirnya di jantung Kota Baron.