NovelToon NovelToon
Dua Dunia Rama: Rem Ungu Di Lintasan Wana Asri

Dua Dunia Rama: Rem Ungu Di Lintasan Wana Asri

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Bad Boy / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:70
Nilai: 5
Nama Author: prasfa

Bagi dunia, Rama Arsya Anta adalah definisi anak muda yang sempurna. Ia adalah siswa berprestasi, selalu menempati peringkat pertama, tutur katanya sopan, dan menjadi kebanggaan kedua orang tuanya di rumah. Namun, begitu bel sekolah berbunyi dan matahari mulai condong ke barat, topeng kesempurnaan itu ia lepas.
Di luar pengawasan keluarganya, Rama berubah wujud menjadi pemimpin geng motor yang paling ditakuti di jalanan Bukit Selatan. Malam-malamnya dihabiskan untuk balapan liar, menenggak minuman keras, dan merajai jalanan aspal Wana Asri bersama sahabat-sahabat liarnya: Galang, Bagas, dan Cakra. Rama menikmati kehidupan ganda ini; memuaskan dahaga keluarganya di siang hari, dan memuaskan sisi pemberontaknya di malam hari. Hatinya sedingin mesin motornya, tak pernah tersentuh oleh romansa, menganggap cinta hanyalah omong kosong yang menghambat kebebasan.
Hingga suatu malam, di tengah panasnya balapan liar yang mempertaruhkan harga diri gengnya, seorang gadis muncul membawa cerita baru

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 - Tarian Maut di Bibir Jurang

Angin malam berhembus liar, seolah sekumpulan pisau tak kasat mata yang siap menyayat kulit. Tapi di balik jaket kulit hitam dan helm full-face miliknya, Rama Arsya Anta tak merasakan dingin sama sekali. Darahnya mendidih, dipompa oleh adrenalin murni yang meledak di setiap detak jantungnya. Jarum speedometer digital di panel motornya merangkak naik dengan beringas. Seratus sepuluh. Seratus tiga puluh. Seratus lima puluh kilometer per jam.

Di sebelah kanannya, Tora menempel ketat. Motor sport merah milik ketua Kobra Besi itu meraung-raung, berusaha menyalip di lintasan lurus pertama Jalur Jurang Merah.

Jalanan aspal yang membelah perbukitan ini gelap gulita. Tidak ada lampu penerangan jalan. Satu-satunya sumber cahaya hanyalah sorot lampu utama dari kedua motor yang saling beradu, membelah kegelapan malam bagaikan dua bilah pedang bercahaya. Di sebelah kiri, tebing kapur menjulang angkuh, seolah siap meruntuhkan batuannya kapan saja. Di sebelah kanan, jurang tanpa pembatas menganga lebar, sehitam tinta, menunggu siapa pun yang berani membuat kesalahan walau hanya sepersekian detik.

Wuuusss!

Tora tiba-tiba memotong jalur, memepet motor Rama ke arah kiri, memaksa Rama untuk mendekat ke arah dinding tebing kapur. Licik. Tora sengaja mempersempit ruang gerak Rama agar konsentrasinya buyar. Di kecepatan setinggi ini, bersenggolan sedikit saja dengan tebing batu akan berakibat fatal. Motor bisa hancur berantakan, dan pengendaranya tinggal nama.

Tapi Rama bukan pembalap karbitan. Otak Ketua Klub Sains SMA Taruna Citra itu memproses setiap variabel dengan kecepatan superkomputer. Sudut kemiringan, gesekan aspal, arah angin, semuanya dihitung di luar kepala. Alih-alih panik dan mengerem mendadak, Rama justru menurunkan satu gigi transmisi, menahan putaran mesin di RPM tinggi, dan membiarkan Tora maju setengah bodi motor di depannya.

"Lo pikir gue amatir, anjing?" desis Rama di balik helmnya.

Begitu memasuki tikungan tajam pertama yang mengarah ke kanan, Tora mengambil racing line dari luar untuk memotong ke dalam. Tapi ia meremehkan keliaran Rama. Dengan perhitungan presisi dan insting jalanan yang tajam, Rama justru mempertahankan posisinya di sisi dalam lintasan, sangat dekat dengan bibir jurang.

Ia menekan tuas rem depan yang sudah dimodifikasi oleh Cakra dengan sentuhan ringan tapi tegas. Sesuai janji mekanik jenius The Ghost itu, respons remnya luar biasa galak. Ban depan Rama mencengkeram aspal dengan sempurna, membiarkan bagian belakang motornya sedikit bergeser ke samping dalam gerakan drifting kecil yang sangat terkontrol. Kerikil dan debu aspal terlontar ke udara, beberapa di antaranya mengenai ban motor Tora yang kaget melihat manuver gila Rama.

Rama berhasil mengambil alih posisi terdepan tepat saat keluar dari tikungan.

Di belakangnya, Tora mengumpat keras hingga suaranya samar-samar terdengar menembus bising knalpot. Ia memacu motornya lebih beringas, tak rela harga dirinya diinjak-injak oleh preman berseragam sekolah.

Jalur Jurang Merah semakin menyempit. Kabut tipis mulai turun dari perbukitan, membuat aspal menjadi sedikit lembap dan licin. Tantangan alam ini menuntut fokus level dewa. Satu kedipan mata di waktu yang salah, nyawa taruhannya.

Tepat di trek lurus sebelum titik putar balik di Ujung Pinang, Tora kembali melakukan taktik kotornya. Ia memanfaatkan curian angin dari belakang Rama untuk menambah kecepatannya secara instan. Begitu posisi mereka sejajar, Tora mengangkat kaki kirinya dan mengarahkannya dengan kasar ke arah bodi motor Rama, berniat menendang keseimbangan bos The Ghost itu ke arah jurang.

Sebuah taktik pengecut tingkat dewa yang biasa memakan korban.

Namun, kewaspadaan Rama sedang berada di titik absolut. Ia sudah membaca gerak-gerik Tora dari kaca spion. Detik ketika kaki Tora melayang, Rama menekan tuas gas secara spontan, membuat motornya melonjak ke depan sepersekian detik lebih awal. Tendangan Tora meleset, hanya mengenai udara kosong.

Kehilangan keseimbangan akibat tendangannya yang meleset di kecepatan tinggi, motor merah Tora oleng parah. Ban depannya bergoyang liar tak terkendali. Tora panik luar biasa. Ia terpaksa mengerem mendadak dan menurunkan kecepatannya drastis untuk menstabilkan motornya kembali, membuat jarak antara dirinya dan Rama seketika melebar jauh.

"Makan tuh angin, pecundang," batin Rama tersenyum sinis.

Di depan sana, titik putar balik Ujung Pinang sudah terlihat. Sebuah pelataran aspal lebar yang biasa digunakan truk proyek untuk berputar arah. Rama menurunkan giginya berturut-turut, membiarkan efek pengereman mesin menahan laju motornya. Ia merebahkan motornya hingga lututnya nyaris menyentuh aspal, berbelok mulus membentuk kurva sempurna, dan langsung memuntir tuas gas dalam-dalam untuk kembali ke arah garis start.

Saat ia berpapasan dengan Tora yang baru saja akan memasuki area putaran, Rama sempat mengangkat telunjuk kirinya ke arah helmnya sendiri. Sebuah ejekan universal yang bermakna 'pakai otak lo', yang sukses membakar amarah ketua Kobra Besi itu sampai ke ubun-ubun.

Perjalanan pulang menuju garis akhir terasa lebih memacu adrenalin. Sekarang, Rama dikejar, bukan mengejar. Tora yang kalap dan kehilangan akal sehat menggeber motornya tanpa memedulikan batas aman. Ia benar-benar ingin membunuh Rama malam ini.

"Ayo, Tora. Terus paksa mesin lo. Keluarin semua sisa nyali lo," gumam Rama tenang.

Ia melirik panel instrumennya. Mesin motornya masih merespons dengan sempurna. Di balik jaket kulitnya, tepat di dekat letak jantungnya berdetak, Rama bisa merasakan keberadaan boneka rajut ungu milik Nayla. Sentuhan kasar benang itu seolah terus menyuntikkan energi tak terbatas, mengingatkannya bahwa ada seseorang di perumahan Tirta Kencana yang sedang menunggunya pulang. Gadis cerewet yang selalu mengomelinya untuk tidak mati di jalanan. Gadis yang rela menantang bahaya demi dirinya.

Mengingat Nayla, senyum tipis mengembang di wajah Rama. Cengkeramannya di tuas gas mengerat. Ia tidak akan membiarkan iblis mana pun di Wana Asri mengusik ketenangan gadis itu.

Tiga kilometer menjelang garis akhir. Lintasan menurun dengan tikungan zigzag yang sangat berbahaya. Ini adalah titik di mana nyali dan keahlian diuji hingga batas maksimal. Tora yang terus memaksa masuk dari sisi dalam tikungan mulai kehilangan kontrol emosinya. Ia mencoba menyalip paksa di tikungan buta.

Rama, dengan ketenangan seorang predator alfa, sengaja memancing Tora. Ia membuka jalur dalam sedikit, membiarkan Tora berpikir bahwa itu adalah celah. Tora yang dibutakan oleh ambisi untuk menang, langsung masuk mengambil celah itu tanpa memperhitungkan sisa aspal.

Begitu motor merah itu masuk ke sisi dalam, Rama segera menutup jalurnya dengan manuver yang sangat agresif namun mulus, memojokkan Tora ke arah tebing karang. Tora terjebak. Di sebelah kanannya ada motor Rama yang sekeras baja, di sebelah kirinya ada tebing batu. Pilihan Tora hanya dua: menabrak tebing atau mengerem habis-habisan.

Pengecut akan selalu memilih untuk menyelamatkan nyawanya sendiri.

Tora menekan remnya dengan panik. Ban belakangnya terkunci, berdecit keras menciptakan kepulan asap tipis dari gesekan aspal. Motornya berhenti mendadak dengan guncangan hebat, nyaris membuatnya terpental ke depan.

Rama? Ia melesat bebas bagaikan bayangan tak tersentuh, meninggalkan Tora yang mengumpat frustrasi di tikungan maut tersebut. Jarak mereka kini tak lagi bisa dikejar.

Dari kejauhan, kerumunan anak-anak The Ghost mulai terlihat. Sinar lampu motor yang menyala menerangi batas balapan. Galang berdiri di tengah jalan sambil memegang bendera hitam, bersorak kegirangan melihat sorot lampu tunggal yang membelah kegelapan dengan kecepatan gila. Itu bukan lampu motor Tora. Itu lampu sang Hantu Wana Asri.

Wuuuusshhh!

Motor hitam Rama menyambar garis batas dengan gemuruh yang membelah malam. Suara sorak-sorai, peluit, dan geberan knalpot anak-anak The Ghost langsung meledak layaknya perayaan kemenangan di medan perang. Mereka menguasai aspal. Mereka mempertahankan Wana Asri.

Rama memperlambat lajunya, melakukan putaran kecil sebelum akhirnya mematikan mesin tepat di tengah kerumunan anak buahnya. Ia melepas helmnya, menyeka keringat yang membasahi dahinya dengan punggung tangan. Napasnya masih sedikit memburu, tapi wajahnya memancarkan kepuasan yang absolut.

Beberapa belas detik kemudian, Tora baru menyusul melewati batas. Pemimpin Kobra Besi itu terlihat sangat menyedihkan. Begitu ia berhenti, anak-anak The Ghost langsung mengelilinginya, melemparkan tatapan merendahkan yang membuat sisa anggota Kobra Besi yang menunggu di pinggir jalan tak berani berkutik.

Rama turun dari motornya, melangkah pelan membelah kerumunan pasukannya, dan berhenti tepat di samping motor Tora. Ia menatap lawannya yang masih mengatur napas dengan dada naik turun.

"Lo kalah," ucap Rama dengan suara rendah yang mengintimidasi. Tatapannya sedingin es kutub utara. "Sesuai perjanjian. Serahin jaket geng lo, bubarin aliansi kotor lo, dan angkat kaki dari area gue. Kalau gue lihat lo atau kacung-kacung lo berkeliaran di Wana Asri, atau nyoba mendekati area sekolah gue lagi..."

Rama mendekatkan wajahnya, tersenyum mematikan. "...gue pastiin lo bangun besok pagi di ruang ICU."

Tora menelan ludah, seluruh arogansinya menguap tanpa sisa. Ia melepas jaket kulit berlogo ular kobra merahnya dengan tangan gemetar, lalu melemparkannya ke aspal dengan kasar. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia menstarter motornya dan pergi meninggalkan area itu, disusul oleh sisa anak buahnya yang menunduk malu. Kobra Besi resmi hancur malam ini.

Sorakan The Ghost semakin membahana. Galang merangkul bahu Rama dengan bangga, diikuti Cakra dan Bagas.

"Lo emang gila, Bos! Tadi tikungan terakhir manuver lo nyaris bikin jantung gue copot ngelihatnya dari layar pantau pos bayangan!" seru Cakra girang.

Rama hanya tersenyum tipis, menepuk bahu teman-temannya satu per satu. Ia memang gila. Namun kegilaannya malam ini memiliki tujuan yang sangat jelas. Ia melirik jam tangan digitalnya. Pukul sebelas lebih empat puluh lima menit. Masih ada sisa waktu sebelum jam dua belas malam.

"Lang, urus sisa anak-anak. Pesta kemenangan malam ini gue yang traktir, lo atur aja di warung biasa. Gue harus balik sekarang," perintah Rama sambil meraih helmnya kembali.

"Loh, buru-buru amat, Bos? Kan kita baru aja menang besar!" protes Bagas kebingungan.

"Gue ada janji yang lebih penting dari sekadar ngerayain kemenangan sama cowok-cowok bau oli kayak kalian," sahut Rama santai, menstarter motornya kembali.

Ia melesat meninggalkan gerombolan pasukannya yang masih kebingungan. Di bawah rintik embun malam yang mulai turun, Rama tersenyum lebar. Tangannya meraba saku jaketnya, memastikan boneka rajut ungu itu aman di sana. Malam ini, aspal Wana Asri kembali menjadi miliknya, namun hati dan pikirannya sudah sepenuhnya menjadi milik seorang gadis cerewet yang sedang menunggunya di ujung telepon.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!