NovelToon NovelToon
The Lunar Secret

The Lunar Secret

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:297
Nilai: 5
Nama Author: Miarosa

Selena selalu tahu bahwa dia berbeda. Sejak kecil, ia bisa merasakan sesuatu yang mengalir dalam darahnya, sesuatu yang lebih dari sekadar kekuatan seorang werewolf biasa. Namun, hidupnya berubah drastis ketika sebuah serangan brutal menghancurkan kawanan tempatnya dibesarkan.

Ditemani oleh Joan, seorang Alpha misterius yang menyimpan rahasia kelam, serta Riven, seorang pejuang yang setia tetapi penuh teka-teki, Selena harus menghadapi kenyataan pahit bahwa ada seorang pengkhianat di antara mereka. Seseorang yang menginginkannya untuk tujuan yang jauh lebih berbahaya.

Saat rahasia asal-usulnya mulai terkuak, Selena mendapati dirinya terjebak di antara dua pilihan, menerima kegelapan yang mengintainya atau bertarung demi cahaya yang hampir padam. Dengan dunia yang berada di ambang kehancuran dan hatinya yang terombang-ambing di antara kepercayaan dan pengkhianatan, Selena harus memilih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miarosa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

​Selena tidak lagi menapakkan kakinya di tanah yang kotor oleh lumpur dan penyesalan. Ia melayang tinggi di lapisan stratosfer di mana oksigen menipis dan kesunyian menjadi absolut. Dari ketinggian ini, dunia tidak lagi tampak seperti hamparan negara dengan batas-batas politik melainkan sebuah organisme besar yang sedang menggeliat kesakitan.

​Mata peraknya yang sekarang mampu melihat menembus awan dan debu atmosfer, menangkap pemandangan runtuhnya peradaban. Ia adalah penonton tunggal dari teater kehancuran yang ia sutradarainya sendiri.

Di London, menara jam Big Ben berdiri kaku di tengah kepulan asap hitam. Di bawahnya, Jembatan Westminster menjadi saksi bisu saat bus-bus merah terguling dan terbakar. Selena mengamati bagaimana sekelompok serigala berbulu kelabu yang mungkin sebelumnya adalah para pekerja kantoran di distrik keuangan sekarang mencabik-cabik pintu-pintu toko branded di Piccadilly Circus. Mereka tidak mencuri perhiasan, mereka hanya ingin menghancurkan simbol-simbol keteraturan yang selama ini memenjara mereka dalam rutinitas manusia yang membosankan.

​Di New York, Times Square yang biasanya benderang oleh ribuan layar iklan, sekarang berubah menjadi rimba beton yang gelap. Selena melihat layar-layar raksasa itu berkedip dan padam satu per satu seiring dengan sabotase gardu listrik oleh kaum serigala yang merasa terganggu dengan cahaya artifisial. Gelap adalah kedaulatan mereka. Selena bisa melihat puluhan siluet raksasa melompat dari satu atap gedung pencakar langit ke gedung lainnya, melolong menantang helikopter militer yang mencoba melakukan evakuasi.

​"Hukum rimba adalah hukum yang paling adil," bisik Selena pada angin yang menderu. "Hanya yang kuat yang bertahan, dan yang kuat adalah mereka yang berani memeluk sisi buasnya."

​Di Tokyo, ketertiban yang selama ini menjadi kebanggaan bangsa itu runtuh dalam hitungan jam. Di persimpangan Shibuya, kerumunan massa yang panik bertabrakan dengan mahluk-mahluk bertaring yang muncul dari dalam kerumunan itu sendiri. Selena melihat seorang wanita muda berseragam sekolah berubah di tengah trotoar dan bukannya merasa takut, gadis itu tertawa saat cakarnya merobek aspal tidak ada lagi rasa malu, tidak ada lagi norma yang ada hanyalah ledakan euforia kekuatan yang selama ini diredam oleh benang perak milik Selena.

​Pikiran Selena terhubung dengan kesadaran kolektif mahluk-mahluk itu. Ia bisa merasakan adrenalin yang memuncak, rasa haus darah yang manis, dan kepuasan saat otot-otot mereka merobek keterbatasan fisik manusia.

Baginya, ini adalah simfoni. Ia melihat seorang prajurit Dewan lama di pelosok Alpen yang memburu mantan atasannya sendiri. Dendam yang selama ini terpendam sekarang mendapat jalan keluar yang paling brutal.

​Namun, di balik keindahan liar itu, Selena juga melihat sisi lain. Ia melihat manusia-manusia yang mulai membangun barikade. Di setiap sudut dunia, insting bertahan hidup manusia juga terbangun. Mereka tidak lagi menangis, mereka mulai mengasah besi, mencairkan perak dari perhiasan keluarga untuk dijadikan peluru dan membangun kebencian.

​Selena mengalihkan pandangannya ke arah Washington D.C. Di sana di sebuah bunker bawah tanah yang tidak tertembus, Unit H.A.R.T sedang bekerja. Selena bisa merasakan detak jantung para prajurit itu dingin, terukur, dan penuh kalkulasi.

Mereka bukan lagi manusia yang ketakutan, mereka telah bertransformasi menjadi predator jenis lain. Predator yang menggunakan teknologi dan kebencian sistematis sebagai taringnya.

​Jenderal Reed yang tadi suaranya mengguncang dunia sedang menatap layar radar yang menunjukkan penyebaran infeksi di seluruh dunia. Selena tersenyum tipis saat melihat Reed memerintahkan peluncuran satelit pelacak termal yang dirancang khusus untuk mendeteksi radiasi energi serigala.

​"Manusia akan selalu berusaha menjadi Tuhan di dunianya sendiri," gumam Selena. "Dan itu membuat permainan ini menjadi lebih menarik."

​Ia bisa merasakan energi antivirus yang mulai bangkit dari pegunungan utara, energi Joan. Ada getaran hitam yang mencoba mengimbangi cahaya peraknya. Joan sedang mencoba menyerap rasa sakit dunia. Selena merasakan tarikan itu. Setiap nyawa yang hilang dan setiap jeritan keputusasaan sekarang dialirkan oleh Joan ke dalam dirinya sendiri melalui koneksi yang dibuka oleh Lucian.

​Untuk sesaat, air mata perak kembali mengalir di pipi Selena. Ada secercah memori tentang Jessy, jiwa manusianya yang berteriak di dalam kepalanya.

“Hentikan ini, Selena! Ini bukan kebebasan, ini adalah pemusnahan!”

​Namun, Selena segera menekan suara itu. Ia melihat ke bawah kembali ke arah kota Paris yang mulai membara. Menara Eiffel tampak seperti tombak raksasa di tengah lautan api. Di sana kaum serigala dan manusia sedang berperang di gang-gang sempit, mengubah kota cinta itu menjadi jagal raksasa.

​Selena menyadari bahwa dengan melepaskan ikatan perak, ia tidak hanya memberikan kebebasan, ia memberikan cermin pada dunia. Ia ingin dunia melihat betapa busuknya ciptaan yang selama ini dianggap teratur. Ia ingin melihat manusia dan serigala saling menghancurkan hingga tidak ada lagi yang tersisa selain debu, sehingga ia bisa membangun tatanan yang benar-benar baru di atas kehampaan itu.

​"Jika kalian ingin menjadi binatang, jadilah binatang yang paling murni," desis Selena.

​Ia mengangkat tangannya ke langit dan bulan merah darah itu seolah merespons panggilannya. Cahaya merahnya menguat dan memberikan energi tambahan bagi kaum serigala di bawah sana yang memicu kegilaan yang lebih dalam. Di seluruh dunia, serigala-serigala itu melolong serentak, sebuah suara yang melampaui frekuensi pendengaran manusia, dan sebuah lagu pujian bagi Sang Pencipta yang sedang menonton kehancuran mereka dari tempat yang tak terjangkau.

​Di pegunungan utara, Joan yang sedang dalam proses penyatuan dengan Lucian merasakan lonjakan energi jahat Selena. Ia tahu bahwa Selena bukan lagi hanya sekadar mengamati, Selena sedang menikmati setiap detik keruntuhan ini.

​Dunia benar-benar telah masuk ke dalam era hukum rimba, tidak ada lagi pengadilan, tidak ada lagi hak asasi, dan tidak ada lagi belas kasihan. Yang ada hanyalah taring, perak, dan seorang dewi yang menangis perak sambil tersenyum melihat karyanya yang indah dan berdarah runtuh menjadi abu.

​Selena menutup matanya dan membiarkan harmoni jeritan dunia menjadi nina bobo bagi jiwanya yang sekarang kian menjauh dari kemanusiaan. Ia menunggu titik nadir itu tiba, saat di mana Joan akan datang padanya dengan seluruh beban rasa sakit dunia dan saat itulah ia akan menunjukkan bahwa penderitaan hanyalah awal dari keabadian yang ia janjikan.

1
Astiana 💕
aku dah kirim bunga kak, semangat ya💪
Miarosa: terima kasih 😊
total 1 replies
Astiana 💕
aku mampir ya kak, baru awal baca seperti nya menarik, semangat 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!