Mita tidak pernah menyangka, satu ajakan sederhana dari suaminya akan mengubah segalanya.
Reuni sekolah yang seharusnya menjadi malam biasa justru membuka luka yang tak pernah ia sadari sebelumnya. Di tengah keramaian, Mita berdiri di samping Rio--namun terasa seperti tidak pernah ada. Terlebih saat Rio kembali bertemu dengan cinta pertamanya... dan memilih tenggelam dalam masa lalu.
Ditinggalkan tanpa penjelasan, Mita justru dipertemukan dengan Adrian-teman lama sekaligus rekan kerja Rio. Sosok yang dulu hanya sekadar kenangan, kini hadir sebagai satu-satunya orang yang benar-benar melihatnya.
Dan Reuni itu mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rachmaraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Adrian merasa bersalah karena meninggalkan Mita sendirian. Padahal ia sudah berjanji untuk tidak meninggalkan Mita barang sedetik pun.
Permintaan maaf pun terus dilayangkan Adrian pada Mita. Apa lagi setelah tahu bahwa Rio dan Livy mendatangi Mita.
"Aku akan bicara sama Rio besok! Aku akan samperin dia ke rumahnya. Aku akan bicara sama pasangan itu, ngasih peringatan sama mereka berdua." Adrian berusaha untuk membuat semua keadaan menajadi lebih baik. Terutama saat dirinya dan Mita akan melakukan pernikahan.
Adrian tidak ingin semua ini, membuat Mita menjadi berubah pikiran atau memiliki pikiran buruk padanya.
"Udah, Mas... Nggak perlu lah. Ngapain sih! Yang ada nanti mereka makin kepedean aja." Mita mencoba menenangkan Adrian yang agak emosi.
"Tapi, kenapa tadi kamu nggak bilang sama aku, kalau mereka nyamperin kamu? Aku malah tau dari kawanku, kalau kamu dilabrak sama Livy!" Dada Adrian naik turun karena tidak senang.
Mita tersenyum lembut dan mengusap lengan Adrian dengan penuh ketenangan. "Mas Dri, maafin aku ya? Tadi aku nggak mau merusak acara kamu. Apa lagi, aku lihat kamu tuh deket banget sama dirut kamu. Takutnya, malah ganggu acara bos kamu. Terus orang lain tau deh. Aku nggak mau, Mas. Maafin aku ya? Hm?"
Situasi mereka saat ini sudah berada di dalam mobil. Mereka berencana akan pulang, setelah acara usai. Akan tetapi, Adrian merasa dirinya tidak berguna, membuat mereka berhenti di kawasan pantai Ancol.
Adrian sudah menggulung lengan kemejanya sampai siku, jas nya pun sudah ia sampirkan di kursi belakang. Sedangkan Mita, sudah mencepol rambutnya karena tadi kegerahan setelah menghadapi dua manusia pengganggu.
Tidak tega melihat Mita, akhirnya Adrian pun mengangguk pelan. Justru ia yang merasa sangat bersalah, tapi justru Mita yang meminta maaf padanya.
"Maafin aku ya, Sayang. Karena aku nggak bisa jagain kamu. Aku jan--" bibir Adrian dibungkam dengan bibir Mita. Tentu saja Adrian terkejut.
"Mas Dri nggak boleh merasa bersalah terus ya. Karena ini bukan salah kamu. Bukan salah kita. Aku masih mampu menjaga diri. Kalau nanti aku merasa nggak mampu, aku akan bilang sama kamu." Jelas Mita. Mencoba memberikan ketenangan pada calon suaminya.
Wajah mereka masih sangat dekat, bahkan Adrian bisa melihat senyum Mita yang beitu jelas. Napas mereka saling menyentuh kulit satu sama lain.
"Cium aku lagi," pinta Adrian seduktif.
Tubuh Mita yang mencondong ke arah Adrian pun, kini ditarik supaya semakin menempel.
"Boleh," jawab Mita tak kalah lirihnya.
Saat itu juga Mita maju duluan untuk menempelkan bibirnya pada bibir Adrian. Tak mau diam saja, Adrian memagut bibir merah muda milik Mita dan melumatnya lembut. Untuk beberapa saat mereka terus seperti itu. Ciuman hangat tanpa menuntut.
Mita melepaskan duluan karena ia kehabisan napas. Kening mereka tertaut dan mereka tertawa.
"Nggak bisa napas aku, Mas," ucap Mita dengan napas yang agak tersengal.
"Usia memang nggak bisa bohong ya, Sayang," imbuh Adrian yang juga sedang mengatur napas. "Bibir kamu manis. Jadi nggak sabar pengin cepat-cepat nikah. Biar tiap hari bisa nyium bibir ini." Adrian menekan bibir bawah Mita dengan ibu jarinya.
"Sabar ya... Nanti kalau kita udah sah, aku serahin semua yang ada pada diriku untuk kamu." Mita tersenyum dan kembali mencium bibir Adrian lagi. Kali ini lebih lama dan sedikit ada tuntutan. Tetapi, mereka masih bisa mengendalikan diri.
。◕‿◕。
Keesokan harinya, Mita masih harus kerja. Ia dan Adrian sampai di kosan tengah malam. Tetapi, tanggung jawab harus tetap dikerjakan. Meskipun kerja dalam keadaan mengantuk.
Seperti biasa juga, meskipun lelah, Adrian tetap mengantar Mita sampai di tempat kerjanya. Lalu, langsung pamit pulang untuk tidur.
Menjelang siang, saat mendapatkan jam istirahat. Mita memanfaatkan waktu untuk memejamkan mata setelah melakukan sholat zuhur. Setidaknya 20 menit cukup untuk menghilangkan rasa kantuknya.
"Mbak... Mbak Mita, bangun!"
Mita membuka mata dengan rasa terkejut. Rasanya ia baru lima menit memejamkan mata atau rasanya seperti itu.
"Astaga! Jam berapa sekarang Din?" Tanya Mita sambil melipat mukenanya.
"Jam setengah dua, Mbak." Dina terkekeh melihat Mita yang terkejut campur bingung.
"Hah? Kenapa nggak ada yang bangunin?" Mita bersiap-siap untuk kembali ke toko. Kebetulan tempat kerja mereka berupa ruko.
"Kata ibu jangan dibangunin. Soalnya Mbak Mita nyenyak banget. Kecapean banget ya?"
Mita menghela napas panjang dan menggaruk kepalanya. Karena ia merasa telah lalai dalam bekerja. Seharunya ia sudah kembali ke toko tepat pukul satu.
"Ibu nggak marah?" Tanya Mita dengan rasa takut.
"Nggak, Mbak. Beneran ibu yang nyuruh supaya nggak usah dibangunin. Tapi, Mbak..." Dina menjeda ucapannya.
"Kenapa?" Mita penasaran.
"Ada yang nyari tuh. Cowok, tapi bukan calon suami Mbak. Ibu sih nyuruh aku bilangin ke Mbak aja. Katanya terserah, Mbak Mita mau nemuin apa nggak."
"Siapa? Cowok?" Mita ingat ponselnya ia tinggal di loker. "Duh, handphoneku di tas."
"Mau nemuin nggak?"
Teman-teman kerja dan owner dari pemilik toko roti tempat Mita bekerja sudah tahu kalau ia akan segera menikah. Karena hampir tiap hari, Adrian antar jemput dirinya. Jadi, wajar kalau ada pria lain selain Adrian yang datang mencarinya menjadi pertanyaan besar.
"Aku mau lihat siapa sih!" Akhirnya Mita dan Dina turun ke lantai bawah untuk melihat siapa tamunya.
Bos nya Mita langsung menoleh saat Mita keluar dari pintu. "Orangnya nunggu di luar. Dia bilang mantan suami kamu," bisiknya supaya tidak terdengar dengan rekan yang lain.
Tidak terlalu terkejut, karena Mita sudah ada feeling dan tinggal menunggu waktu saja. Namun, ia tidak menyangka kalau akan secepat ini. Karena malam itu, sepertinya Rio belum puas untuk bicara dengannya.
"Aku izin ketemu dulu ya, Bu." Izin Mita dengan rasa sungkan.
"Iya, tapi hati-hati ya. Takut kamu dijahatin."
Mita mengangguk. Beruntungnya Mita adalah dikelilingi oleh orang-orang yang baik, salah satunya adalah bosnya.
Tungkainya bergerak mantap. Ia rasanya tidak tahan juga jika harus terus berlarut-larut. Ia ingin masalah ini beres saat ini juga.
Tunggu! Ini bukan masalah Mita. Ia merasa tidak memiliki masalah sama sekali dengan mantan suaminya. Justru mantannya lah yang mencari masalah dengannya.
"Kamu ngapain kesini?" Mita bertanya tanpa basa basi lagi.
"Hai... Eh... Jangan galak gitu dong. Aku cuma pengen ngobrol sama kamu."
"Soal apa?" Tidak ada kata manis yang keluar dari mulut Mita.
"Jangan ketus dong..." Rio mencoba tersenyum dan maju selangkah. Tapi, Mita mundur selangkah darinya. "Kamu beda banget sekarang, Ta."
Kening Mita mengerut dalam. Ia belum ingin membuka mulutnya, hanya ingin mendengar apa yang keluar dari mulut bajingan yang ada di depannya.
"Makin cantik. Oya, Kamu serius ya mau nikah sama Adrian?"
"Udah jelas banget lho!"
Rio mencoba mendekati lagi, tapi Mita semakin mundur. Rio agak frustasi juga melihat Mita yang terus menjauh.
"Ta, jangan nikah sama Adrian. Aku mohon!"
{}
*hai... Aku Raa 👋
terima kasih ya, untuk kalian yang sudah mau memberikan support untuk karya ku ini ☺️
Mohon maaf bila ada typo dan kekurangan lainnya. Juga mohon dukungannya sampai akhir 🙏🥰