Perang antara manusia dan iblis telah mencapai titik terburuk.
Kerajaan Beltrum berada di ambang kehancuran setelah kalah dari sihir suci Zetobia.
Dalam keputusasaan, mereka melakukan sesuatu yang tabu
memanggil manusia dari dunia lain.
Zeta, seorang mahasiswa biasa, tiba-tiba terseret ke dunia asing yang dipenuhi sihir dan darah.
Bukan sebagai pahlawan manusia…
melainkan harapan terakhir bagi bangsa iblis.
Namun satu pertanyaan besar muncul akankah ia menjadi penyelamat… atau justru kehancuran bagi kedua dunia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agung Noviar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 ZETA MELAWAN BANGSAWAN
Atas izin Raja Beltrum, rombongan kerajaan bergerak menuju halaman belakang istana. Lorong-lorong istana yang megah dengan pilar marmer menjadi saksi bisu ketegangan yang merambat di udara.
Raiga berjalan di depan dengan langkah lebar penuh percaya diri, diikuti oleh para bangsawan pendukungnya yang tersenyum sinis. Di belakang, Lytia dan Putri Stella berjalan beriringan, menjaga jarak agar pembicaraan mereka tak terdengar.
"Lytia," bisik Stella, matanya menatap punggung Raiga dengan cemas. "Apa ini keputusan yang tepat? Aku tahu Zeta bertambah kuat, tapi Raiga... dia bukan lawan sembarangan. Dia jenius dari keluarga Castellan. Kecerdasannya dalam bertarung bahkan hampir setara dengan mu."
Lytia tersenyum tipis, tatapannya tenang namun tajam. "Memang benar, Tuan Putri. Raiga memiliki bakat alami dan teknik pedang yang mengerikan. Tapi..." Lytia melirik sekilas ke arah Zeta yang sedang berjalan santai sambil meregangkan otot lehernya. "...Anda akan terkejut melihat cara Zeta bertarung."
"Terkejut?"
"Apa putri lupa Zeta mengalahkan ku saat latihan di hutan dekat gerbang 3"
Putri Stella menjawab "benar juga waktu itu dia mengalahkan mu tapi bukankah itu karena dia diambil alih oleh mata naha"
"Saksikan saja, Putri. Percayalah padanya."
Stella menghela nafas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya. "Oke... aku percaya padamu, dan pada Zeta."
Mereka tiba di halaman belakang istana. Tempat itu adalah lapangan rumput hijau yang luas, dikelilingi oleh taman bunga yang indah dan pepohonan rindang. Kontras sekali dengan suasana panas yang akan segera terjadi.
Di pinggir lapangan, Raja Beltrum duduk di kursi yang telah disiapkan para pelayan. Disampingnya berdiri Putri Stella, Lytia, dan beberapa penasihat kerajaan dan bangsawan yang duduk di samping raja.
Zeta dan Raiga berdiri berhadapan di tengah lapangan. Angin siang berhembus pelan, menggerakkan ujung jubah mereka.
"Zeta," panggil Lytia dari pinggir lapangan, bertindak sebagai wasit. "Apa kau siap?"
Zeta menoleh, "Tunggu sebentar. Apa duel ini ada aturannya, Jenderal?"
"Tentu saja," jawab Lytia tegas. "Intinya jangan membunuh. Pemenang ditentukan jika lawan menyerah atau tidak bisa bangkit lagi alias pingsan/lumpuh sementara. Mengerti?"
Belum sempat Zeta menjawab, Raiga mendengus kasar. "Sudah, jangan banyak omong! Cepat kita mulai agar aku bisa mengalahkan mu!"
Zeta hanya mengangkat bahu acuh tak acuh. Ia kemudian menoleh ke salah satu penjaga di dekatnya. "Pak Penjaga, boleh pinjam pedangmu? Aku tidak bawa senjata."
Penjaga itu tampak ragu sejenak, namun setelah melihat anggukan Lytia, ia melemparkan pedang standar militer kepada Zeta.
SRING!
Zeta menangkap gagang pedang itu dengan mulus. "Terima kasih."
Lytia mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Suasana hening seketika.
"Tiga... Dua... Satu...MULAI!"
WUSH!
Begitu hitungan berakhir, Raiga tidak membuang waktu sedetik pun. Tubuhnya melesat maju dengan kecepatan yang tak masuk akal, meninggalkan jejak debu di tempat ia berdiri.
Zeta yang baru saja memasang kuda-kuda terbelalak. 'Cepat sekali?!'
TRANG!
Zeta nyaris terlambat. Ia secara refleks mengangkat pedangnya untuk menangkis serangan vertikal Raiga yang mengarah ke bahu. Benturan logam itu begitu keras hingga getarannya terasa sampai ke tulang lengan Zeta.
Tanpa memberi jeda, Raiga menarik pedangnya dan melancarkan rentetan serangan. Tebasan mendatar, tusukan, sabetan miring semuanya dilakukan dengan kecepatan tinggi.
Zeta terpaksa melompat mundur, menghindar ke samping, lalu menunduk.
"Hah! Lambat!" teriak Raiga.
Saat Zeta mencoba mencari celah, Raiga tiba-tiba melompat tinggi dan menerjang dari atas dengan gaya gravitasi penuh.
BLARR!
Zeta menahan tebasan itu dengan pedang di atas kepalanya. Tanah di bawah kaki Zeta retak akibat tekanan yang kuat.
"Sial... tenaganya juga besar," gerutu Zeta sambil menggertakkan gigi. Dengan hentakan kuat, Zeta menghempaskan pedang Raiga dan melompat mundur untuk menciptakan jarak.
Raiga mendarat dengan anggun, lalu tertawa meremehkan. "Hahahaha! Manusia payah! Ternyata kau jauh lebih lemah dari dugaanku. Hanya bisa bertahan, eh?"
Wajah Putri Stella memucat, tangannya meremas gaunnya dengan erat. Lytia di sebelahnya tetap diam, namun matanya tak lepas dari setiap gerakan Zeta. Para bangsawan kubu Raiga tampak tersenyum puas, menikmati tontonan itu.
Sementara itu, napas Zeta sedikit memburu. Namun, di dalam hatinya, ia tidak panik.
'Jadi begini ya duel dengan bangsawan hebat di kerajaan ini,' batin Zeta menganalisis. 'Dia memang hebat. Gerakannya efisien dan cepat, bukan sekadar bangsawan manja. Tapi tenang, Zeta...Ingat saat latihan kendo dan simulasi VRMMO dulu. Kau sering menghadapi bos tipe speedster seperti ini. Tenangkan dirimu, baca polanya.'
"Kenapa diam saja, Manusia Lemah?!" seru Raiga, tidak sabar. "Apa kau mau menyerah sekarang?"
Raiga mengangkat tangan kirinya ke langit. Mana berwarna kuning berkeretak di sekelilingnya.
Sihir Tingkat Menengah: Hujan Petir
Awan hitam kecil berkumpul di atas lapangan, dan seketika itu juga, puluhan sambaran petir menyambar ke arah Zeta secara acak namun mematikan.
DWAR! DWAR! DWAR!
Zeta melompat zig-zag menghindari sambaran itu. Tanah di sekitarnya hangus terbakar. Namun jumlah petir itu terlalu banyak.
"Cih, merepotkan!"
Zeta berhenti berlari, lalu memusatkan mana di sekujur tubuhnya.
Sihir Angin: Tameng Pusaran Badai
Angin kencang berputar mengelilingi tubuh Zeta seperti tornado mini. Sambaran petir Raiga yang menghantam pusaran angin itu terpecah dan gagal menembus pertahanan Zeta.
Raiga sedikit terkejut, namun seringainya makin lebar. "Boleh juga! Hahaha!"
Melihat celah saat petir berhenti, Zeta membatalkan pelindungnya dan menerjang maju. Pedangnya siap menebas pinggang Raiga.
Namun, tepat saat mata pedang hampir menyentuh baju zirah Raiga, tubuh Raiga itu lenyap secepat kilat.
'Apa?!'
Raiga sudah berada di belakang Zeta, siap menebas balik. Dengan refleks super, Zeta memutar tubuhnya dan menahan tebasan itu.
TRANG! TRANG! TRANG!
Mereka kembali beradu pedang dengan tempo yang gila. Namun kali ini, Raiga melapisi tubuhnya dengan aura listrik.
"Rasakan ini! Gerak Langkah Petir Tarian Pedang Kilat !" teriak Raiga.
Kecepatan Raiga meningkat dua kali lipat. Zeta benar-benar terpojok. Ia hanya bisa melihat bayangan pedang yang datang dari segala arah. Pertahanannya mulai goyah.
Satu tendangan keras berlapis listrik mendarat telak di perut Zeta.
BUAGH!
"Ukh!" Zeta terbatuk, tubuhnya terhempas jauh ke belakang, berguling di atas rumput hingga hampir mencapai batas lapangan.
Keheningan mencekam menyelimuti penonton. Zeta mencoba bangkit sambil memegangi perutnya yang terasa panas.
Raiga tidak mengejarnya. Ia berdiri tegak, lalu menatap Putri Stella dengan tatapan dingin dan penuh kekecewaan yang dibuat-buat.
"Stella..." ucap Raiga lantang, sengaja agar didengar oleh Raja dan semua orang.
"Baru kali ini aku merasa sangat kecewa padamu, Sahabatku. Kau dikenal sebagai putri yang cerdas dan bijaksana. Tapi kenapa..." Raiga menunjuk Zeta yang masih berlutut di tanah dengan ujung pedangnya.
"...Kenapa kau sampai harus repot repot menggunakan dan mencuri gulungan Gulungan Zetobia yang sakral itu, malahan yang muncul hanya ksatria lemah begini? Dia bahkan tidak bisa menyentuh ujung bajuku. Kau telah membuang harapan kerajaan kita pada orang asing yang tidak berguna."
Kata-kata itu menusuk hati Stella lebih tajam daripada pedang manapun. Matanya berkaca-kaca, rasa bersalah dan malu bercampur aduk.
Namun, di tengah lapangan, Zeta yang mendengar ucapan itu perlahan berhenti memegangi perutnya. Kepalanya menunduk, tapi bahunya mulai bergetar. Bukan karena takut, tapi karena ia sudah selesai "main-main".
Zeta masih berlutut di tanah, satu tangannya memegangi perut yang terasa nyeri akibat tendangan Raiga. Namun, di dalam kepalanya, perang batin sedang berkecamuk.
'Ayolah, Zeta... Kenapa aku masih ragu? Kenapa rasa takut ini masih ada?' batinnya memaki diri sendiri. 'Jangan bawa kebiasaan lamamu ke sini. Dulu saat latihan kendo, kau kalah karena kau ragu dan takut terpukul. Tapi ini bukan latihan. Ini menyangkut keselamatanku, harga diriku, dan jalan pulangku.'
Zeta memejamkan matanya sejenak, menarik napas dalam-dalam. Ia membayangkan sensasi yang selalu ia rasakan saat bermain game VRMMO tingkat tinggi. Fokus mutlak. Di dalam game, ia bukan Zeta yang canggung; ia adalah avatar yang mengendalikan segalanya. Ia adalah player yang mengatur ritme.
'Di sini aku punya sihir. Harusnya aku bisa melakukan hal yang sama. Anggap ini game, dan aku yang memegang kendalinya.'
Saat Zeta membuka mata, keraguan itu telah lenyap. Tatapannya berubah total dingin, tajam, dan penuh kalkulasi. Ia bangkit perlahan, mengabaikan rasa sakit di perutnya, dan berdiri tegak menatap Raiga tanpa ekspresi.
Raiga mendengus remeh melihat lawannya bangkit kembali. "Masih kuat juga kau, Manusia Lemah? Tapi baguslah, aku akan lebih puas menghajarmu sampai kau memohon ampun! HAHAHA!"
Raiga kembali menerjang, tubuhnya dilapisi kilatan listrik. Namun kali ini, bagi mata Zeta yang sudah fokus, gerakan Raiga tidak lagi terlihat seperti kilat yang tak terbaca.
'Kiri... lalu serangan atas,' analisis Zeta dalam sepersekian detik.
Saat pedang Raiga mengayun, Zeta tidak menangkis dengan pedang. Ia hanya menghentakkan tangan kirinya.
Dorongan Angin
Sebuah ledakan angin padat menghantam dada Raiga tepat sebelum serangannya sampai.
"Ugh!" Raiga terpental mundur beberapa langkah, keseimbangannya goyah. "Cih! Itu cuma kebetulan!"
Murka, Raiga mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. Puluhan bola petir seukuran kepalan tangan muncul di sekelilingnya. "Rasakan ini! Bombardir Bola Petir !"
Bola-bola listrik itu melesat serentak menuju Zeta. Namun dengan tenang, Zeta merentangkan tangan. Dinding angin transparan terbentuk di depannya, memadatkan udara hingga sekeras baja.
Duar! Duar! Duar!
Serangan itu sia-sia. Raiga semakin frustrasi. Ia mengumpulkan mana yang lebih besar, menembakkan satu sambaran petir raksasa.
BLARR!
Lagi-lagi, dinding angin itu bergeming. Asap mengepul, tapi Zeta masih berdiri tanpa goresan.
"Kok bisa?!" teriak Raiga tak percaya. "Bagaimana sihir angin rendahan bisa menahan petirku?! Ini pertama kalinya terjadi!"
Wajah Raiga memerah padam. "Baiklah kalau begitu! Rasakan elemen keduaku! Hembusan Api Neraka!"
Raiga menyemburkan gelombang api yang sangat besar dari telapak tangannya, berniat membakar Zeta hidup-hidup. Stella hendak berteriak memperingatkan, tapi ia tercekat saat melihat apa yang terjadi.
Zeta tidak menghindar. Ia justru menggerakkan tangannya seolah sedang memimpin orkestra. Angin di sekitar Zeta berputar, menangkap api itu, dan justru memutarnya mengelilingi tubuh Zeta sendiri tanpa menyentuh kulitnya sedikitpun.
"Apa?!" Raiga, Stella, Lytia, dan seluruh penonton terbelalak.
"Bukankah angin lemah terhadap api?" bisik seorang bangsawan panik. "Kenapa dia malah mengendalikannya?"
Lytia menatap Zeta dengan mata berbinar. Ia menoleh ke arah Putri Stella. "Itulah yang kubilang, Putri. Zeta jauh lebih pintar dari siapapun di sini. Saat betarung melawan Zeta, aku pun kalah karena trik ini. Dia paham konsep yang tidak kita mengerti."
Zeta tersenyum miring di balik pusaran api yang ia kendalikan. "Hahaha... Kalian tidak tahu ya? Api butuh udara untuk menyala. Angin adalah udara yang bergerak. Jika aku menguasai udaranya, aku menguasai apinya."
Zeta menghentakkan tangannya ke depan. "Ini, ku kembalikan apimu."
WUSH!
Api milik Raiga berbalik arah, kini ukurannya dua kali lipat lebih besar karena dipacu oleh oksigen dari angin Zeta.
"Bajingan!" umpat Raiga. Ia melompat ke samping dengan susah payah, jubahnya sedikit hangus.
Belum sempat Raiga menapak tanah dengan sempurna, Zeta sudah melesat secepat angin topan.
TRANG! TRANG! TRANG!
Pertarungan jarak dekat kembali terjadi, tapi kali ini Zeta yang mendominasi. Setiap tebasan pedang Zeta dibantu oleh dorongan angin di sikunya, membuat serangannya sangat berat dan cepat.
"Hyaa!" Zeta memutar tubuhnya, melepaskan gelombang angin yang menghempaskan Raiga terbang melintasi lapangan hingga menabrak dinding istana dengan keras.
BRAK!
"Uhuk!" Raiga merosot, punggungnya terasa remuk. Rasa sakit bercampur dengan penghinaan yang amat sangat membuatnya kehilangan akal sehat.
"Jangan... jangan sombong kau!" Raiga bangkit dengan aura membunuh. Matanya menyala liar. Di tangan kanannya muncul api, di tangan kirinya muncul petir. Ia menggabungkan kedua tangan itu.
"Raiga! Jangan! Itu berlebihan!" teriak Stella panik.
"DIAM STELLA!" bentak Raiga. Aura ungu kemerahan menyelimuti tubuhnya, mirip seperti aura Naga Fulnox.
Lalu Raiga menyemburkan elemen api petir yang di gabung ke arah Zeta sementara Zeta hanya mendengus. Ia mengangkat satu tangan santai. Angin di sekitarnya memadat menjadi perisai berlapis.
"Hahh! Kenapa bisa?!" Raiga melihat serangannya tertahan lagi.
"Angin adalah elemen fleksibel," ujar Zeta dingin. "Dengan kapasitas dan kepadatan yang cukup, menahan elemen dasar itu hal mudah."
Di barisan penonton, Celia, seorang putri bangsawan dari Duke Cedric kota aren. yang terkenal dingin dan pendiam, tiba-tiba menyunggingkan senyum tipis. Matanya menatap Zeta dengan kekaguman.
Lytia yang berdiri tak jauh dari Celia terkejut. 'Celia tersenyum? Padahal dia jarang sekali menunjukkan emosi.'
Raiga yang merasa diremehkan habis-habisan meraung marah. Uap panas mengepul dari tubuhnya akibat gabungan api dan petir. "Aku akan mengalahkan muuuu!"
Keduanya kembali beradu. Kali ini pertarungan level tinggi.
Zeta: Tombak Angin!
Raiga: Tombak Petir!
Kedua sihir bertabrakan di udara, menciptakan ledakan mana yang mengguncang taman.
"Duel yang hebat..." gumam Celia pelan. "Ini kedua kalinya aku melihat Raiga kewalahan seperti ini setelah melawan Lytia."
"Benar, Celia," sahut Lytia setuju.
Saat sedang beradu pedang, Zeta tiba-tiba melakukan sesuatu yang gila. Tanpa mulutnya berkomat-kamit merapal mantra, ia menggerakkan tangan kirinya dari atas ke bawah.
Seketika, sebuah lingkaran sihir hijau menyala muncul tepat di atas kepala Raiga.
Silent Cast: Penjara Tornado
Angin ribut turun dari lingkaran sihir itu, menyayat-nyayat kulit Raiga dengan bilah angin tak kasat mata.
"ARGHHH!" Raiga berteriak kesakitan.
"Hah?! Tanpa mantra?!" Lytia dan Stella ternganga. Para bangsawan berdiri dari kursi mereka karena syok. Merapal sihir tanpa suara adalah teknik tingkat tinggi yang hanya bisa dilakukan penyihir agung.
"Zeta! Kenapa kau bisa...?" tanya Stella tak percaya.
"Sudahlah, tonton saja! Tidak ada waktu untuk menjelaskan teori sihir!" sahut Zeta sambil menangkis serangan putus asa Raiga.
Raiga mundur dengan tubuh penuh luka sayatan halus. Ia menggigit bibirnya hingga berdarah. Harga dirinya sebagai bangsawan kasta tertinggi hancur lebur.
"Cih... Manusia sampah... Berani-beraninya kau mempermalukan Bangsawan Suci Iblis dari keluarga Arvando sepertiku!"
Raiga memusatkan seluruh sisa mananya. Ia menggabungkan api dan petir menjadi satu kesatuan persis seperti teknik gabungan Lytia dan Laksamana Airon saat melawan Fulnox.
"Dia meniru teknik itu?" gumam Zeta waspada.
Raiga melesat. Kali ini kecepatannya menembus batas suara. Zeta mencoba menghindar, namun satu tembakan sihir dari ujung pedang Raiga berhasil mengenai bahu kirinya.
"Akh!" Zeta meringis. Bahunya terasa terbakar dan tersengat listrik sekaligus. "Sakit... gila, seram juga kalau kena telak."
Raiga sudah berada di depan wajahnya, siap menebas leher.
Zeta bereaksi instan. Ia melepaskan konsentrasi angin di telapak tangannya. Ledakan Bola Angin !
BOOM!
Keduanya terpental berlawanan arah karena ledakan jarak nol itu.
Zeta mendarat dengan satu kaki, napasnya memburu. Ia melirik bahunya yang terluka. 'Cukup main-mainnya. Aku harus mengakhirinya sekarang sebelum dia benar-benar membunuhku.'
Zeta memegang pedangnya dengan dua tangan. Ia memejamkan mata sejenak, lalu mengalirkan seluruh mana anginnya
ke dalam bilah pedang besi itu. Pedang biasa itu kini bersinar hijau terang, bergetar dengan suara mendengung yang mengerikan.
Stella menutup mulutnya dengan tangan. "Zeta... Kau... Bagaimana bisa? Pedang yang dikelilingi sihir murni? Itu kemampuan langka Jenderal Tharos sang ksatria suci zetobia!"
Zeta menatap pedangnya. "Oh? Jadi aku juga bisa seperti jendral Tharos itu yah? Lumayan."
Raiga yang sudah muak melihat Zeta terus mengeluarkan kejutan, berteriak histeris dan berlari menerjang membabi buta.
Zeta melangkah maju, tenang namun mematikan. Ia mengayunkan pedangnya.
SLASH!
Sebuah gelombang angin berbentuk bulan sabit melesat dari ayunan pedang, membelah tanah dan menghantam pertahanan Raiga ia sampai terhuyung.
Zeta memanfaatkan celah itu. Ia bergerak secepat angin, muncul tepat di depan dada Raiga yang terbuka.
"Berakhir di sini."
Zeta menghunuskan pedangnya ke depan bukan menusuk dagingnya, tapi melepaskan tekanan angin super tinggi tepat di ulu hati Raiga.
Teknik Pedang Angin: bor angin penghancur
BUAGH!!
Mata Raiga memutih. Tekanan angin itu menghantam organ dalamnya tanpa melukai kulit luarnya secara fatal. Raiga memuntahkan darah segar dalam jumlah banyak, tubuhnya lemas seketika dan ambruk ke tanah.
"ZETA STOP!!" teriak Lytia, ngeri melihat Raiga yang tak bergerak.
Detik berikutnya, dua sosok bangsawan paruh baya orang tua Raiga berlari panik masuk ke lapangan.
"Putraku! Raiga!" Ibu Zairon menangis histeris memeluk tubuh anaknya.
Zeta menurunkan pedangnya, efek sihirnya perlahan pudar. Ia berdiri tegak, menatap kekacauan itu dengan napas berat.
Pemenangnya adalah Zeta.
Di pinggir lapangan, Celia yang tadi tersenyum kagum, kini menatap Zeta dengan tubuh sedikit gemetar. Senyumnya hilang, digantikan oleh sorot mata ketakutan. Ia menyadari satu hal: Pemuda asing itu bukan hanya kuat...dia juga berbahaya.
cerita awal lumayan good, pantas untuk like dan hadiah 👍