Tania Kartika harus menelan pil pahit saat alat tes kehamilan menunjukkan dua garis merah yang cukup jelas. Ia hanya bisa memejamkan mata, mengingat malam panas sebulan yang lalu bersama Lingga Perdana, sang mantan terjadi tanpa pengaman. Sungguh Tania tak menyangka hanya sekali melanggar, langsung jadi.
Bagaimana nasib Tania sekarang? haruskah ia menghilangkan janin ini, apalagi Lingga sudah menjadi suami dari seorang model? Beginilah nasib percintaan yang kalah akan strata sosial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KETAHUAN
Si bos tersenyum muak saat melihat Calista menarik perhatiannya saat keduanya di dalam kamar hotel. Perempuan yang biasanya berhasil menaikkan gejolak kelaki-lakiannya, kini dipandangnya tak lebih dari perempuan murahan. Bagaimana tidak, Calista sengaja menurunkan tali tanktopnya dengan slow motion, berharap si bos ganteng akan menjamah dirinya, karena tensi bersama sang fotografer tadi terputus sebelum dituntaskan.
"Sini," pinta si bos masih dengan suara lembut, Calista tersenyum centil, dia langsung duduk di pangkuan si bos seperti biasa, namun siapa sangka si bos malah menyemburkan asap rokok tepat di wajahnya. Sesuatu yang tak pernah dilakukan oleh si bos, dan tak lama sebuah jambakan di rambut Calista terjadi.
"Aww, Sayang!" rintih Calista masih berpikir si bos mencari sensasi lain, apalagi si bos mencium pipi Calista dengan gemas. Calista masih merasa si bos ganteng ini akan meminta lebih seperti biasanya. Namun, tubuh Calista menegang saat si bos berbisik.
"Siapa yang berani mencumbu dada kamu sampai ada bercak kemerahan?" bisik si bos dengan sedikit penekanan. Calista melebarkan matanya, apa mungkin Adit tadi sempat memberi cupa**. Sialan, batin Calista mengumpat.
Si bos ganteng ini tipe laki-laki posesif. Dia tidak mau kepemilikannya dinikmati oleh orang lain, apalagi sampai berhubungan intim. Bos tak mau, dia tak mau ambil resiko terkena penyakit memalukan. "Gak ada!" elak Calista.
"Jangan kira aku tak tahu wanita jalang! Kalau kamu tak mau mengaku, karirmu malam ini akan hancur dalam sekejap. Rahasia papa kamu akan aku bongkar sekalian!" ancam si bos dengan mata tertuju pada mata Calista.
"Sungguh!" jawab Calista, jambakan di rambut perempuan itu terlepas, dan langsung terjengkang karena didorong dari pangkuan.
"Sekali lagi aku tanya, siapa yang berani mencumbu kamu? Suami kamu?" tanya si bos. Meski Calista menikah, ia melarang kekasih gelapnya itu melakukan hubungan suami istri dengan Lingga.
"Aku, aku!" Calista gelagapan, tak mungkin ia mengungkap sebenarnya. Keluarga Lingga juga keluarga berkuasa, dua sumber keuangan keluarga Calista tak boleh saling lawan, demi keselamatan sang papa.
"Jawab!" kali ini rahang Calista menjadi sasaran cengkraman si bos. "Mengakulah sebelum kamu sengsara!"
Calista tak berani, ia baru sekali mencari kepuasan dengan laki-laki lain, belum sampai jauh, kasihan Adit kalau karirnya mati akibat cumbuan singkat tadi.
"Aku gak sama siapa pun, aku setia sama kamu," jawab Calista masih kekeh. Entah apa tujuannya melindungi Adit.
Si bos tak tinggal diam, ia langsung menampar dan menjambak Calista, tak lupa telapak tangannya diberi puntung rokok yang masih sisa nyala. Teriakan Calista terdengar di kamar itu. Si bos makin murka saat Calista menangis dan masih menggeleng. "Apa saja yang disentuh bajingan itu?" tanya si bos sembari menempelkan puntung panas itu di dada Calista yang ada bekas merahnya.
Calista makin menjerit, "Aku cuma ciuman saja!" akhirnya dia mengaku, dan spontan puntung rokok itu berada di bibir sensual Calista. Makin menjerit saja, namun si bos tak peduli. Sekali ia dikhianati, Calista akan menerima balasan yang lebih parah. Perempuan tak tahu terimakasih, sudah dibantu di dunia hiburan dengan banyak job, perlindungan keselamatan sang papa yang menjual senjata ilegal dan obat terlarang, malah berkhianat. Sangat pantas untuk disiksa.
"Bersama siapa?" tanya si bos lagi.
"Lingga!" Calista terpaksa menyebut nama suaminya, pikirnya si bos tak akan mengusik pekerjaan Lingga. Ayah Calista masih butuh suntikan uang dari keluarga Lingga akibat perjanjian dengan kakek lelaki itu. Sungguh, Calista tak enak hati.
"Oke!" jawab si bos tanpa menjelaskan berlebih, lelaki paruh baya itu memotret Calista, terutama bekas puntung rokok yang menyentuh kulit mulusnya. Entah apa yang dilakukan si bos itu. Yang jelas setelah memotret langsung menghubungi seseorang.
"Buat saham mereka anjlok!" ucap si bos murka. Ternyata, si bos meminta orang media menampilkan berita viral dengan tuduhan Lingga KDRT pada Calista.
Seorang pengusaha yang juga suami Calista, telah melakukan tindakan kekerasan dalam rumah tangga. Menyebabkan luka memar pada tubuh si cantik Calista, bahkan ada bekas penyiksaan dengan puntung rokok.
Berita itu langsung turun dan menampilkan foto Calista, dan segera diteruskan ke beberapa admin akun gosip. Malam kelam itu berhasil menyita perhatian netizen.
Kemarin heboh usik perempuan hamil, sekarang istrinya di KDRT, parah sih. Lelaki toxic.
Calista ayo lapor. Suamimu biadab banget.
Run Calista Run.
Ganteng-ganteng KDRT.
Kalau udah gak cinta jangan jadikan wanitamu sebagai samsak dong.
Berita itu diteruskan oleh para netizen dengan meninggalkan jejak komentar yang menyudutkan Lingga.
"Apa-apaan ini!" protes Lingga setelah membaca berita yang dikirim oleh sekertarisnya. Dia saja sudah beberapa jam hampir satu hari tidak bertemu Calista mana ada KDRT.
Belum selesai keterkejutannya, sang papa langsung menelepon. "Kamu apa-apaan, Lingga. Berani kamu main tangan pada Calista. Ingat, Ngga. Perjanjian kakek, sangat merugikan kita kalau kamu berulah!" sentak papa murka.
"Pa, aku gak melakukan apapun. Bahkan aku seharian ini tak bertemu Calista, Pa!" sanggah Lingga sesuai fakta.
"Kamu bisa mengelak begitu, tapi foto Calista yang bicara!" papa langsung mematikan panggilan, Lingga menjambak rambutnya frustasi.
"Brengse* kamu Calista!" teriak Lingga.
Berita KDRT Lingga itu pun sampai ke Tania, memang dia masih terjaga. Dia sedang tak enak badan, sehingga sulit tidur, hidungnya mampet, dan dia pun berinisiatif pumping tengah malam ini, sembari bermain ponsel.
"Tak perlu turun tangan, kamu kena batunya, Ngga!" Tania tak merasa kasihan, ia hanya tersenyum sinis. Nama Lingga yang berusaha mematikan nama baik Tania, malah menjadi boomerang bagi Lingga.
Malam itu keluarga Lingga kalang kabut, pasti berita ini tengah fyp di akun media sosial, dan berpengaruh pada saham perusahaan. Keluarga Calista pun langsung menghubungi papa Lingga. Memaki sang papa, dan mengungkit perjanjian kakek.
"Kita bicarakan baik-baik, pasti ada kesalah pahaman, karena Lingga seharian belum bertemu Calista," papa Lingga tetap saja membela sang putra.
"Kita tunggu Calista pulang! Kalau sampai Lingga terbukti melakukan siapkan aset yang disebut dalam perjanjian itu untuk keluarga kami, dan akan saya ajukan perceraian untuk anak saya!" jelas papa Calista di atas angin.
Sedangkan Lingga terus menghubungi Calista, tentu saja tidak diangkat, karena Calista sedang bercumbu dengan si bos, dan tak lupa tamparan di pipi Calista saat penyatuan berlangsung. Si bos murka, dan tubuh Calista serasa dikeroyok orang, ingin berontak tapi percuma, karena kekuatan si bos terlalu mendominasi.
Puncaknya saat pelepasan, setelah itu Calista disabet dengan gasper, hingga dia sangat lemas. "Malam ini kita putus, dan kamu akan melihat hancurnya keluarga kamu dan keluarga suami kamu, camkan itu! Cuih," ucap si bos tak lupa meludahi wajah Calista.
GO go Tania semangat