_
When npc fallin love?
Gadis remaja cantik kini terduduk menggaruk keningnya yang tak gatal, pikirannya selalu berkhayal jika npc seperti dia jatuh cinta pada pemain utama di dunia nyata?
Ah, pasti seru!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sapiluv Mprits, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang bareng.
Mereka berlima asik ngobrol, apalagi si Galih yang ternyata banyak omongnya saat ini, benar-benar membuat ayya tak bisa untuk tak meliriknya.
' Gini aja kamu happy kak, kalo sama aku aja sikapnya dingin banget, dasar!' Batin ayya sembari curi pandang dari balik bukunya.
Louis ngeh dengan aksi ayya, ia pun menyikut kakinya agar menoleh.
" Apa lui?" Tanya ayya menoleh.
" Yang lain udah gue traktir, tinggal lo doang.." Ucap Louis.
" Loh, ga perlu lagi kan tadi udah beliin aku buku ini.." Ucap ayya menunjuk beberapa buku di tas nya.
Louis pun mengernyit, namun Galih langsung menjelaskan.
" Lo tadi chat gue buat talangin bayar ayya, jadi lo udah bayarin buku ayya lewat gue." Ucap Galih.
Louis sontak bingung, ia tidak pernah berkata itu sama sekali, mereka pun memuji Louis sehingga membuatnya urung untuk menyangkal.
" Thanks bang Galih, abis berapa? gue transfer aja ya, ga ada cash..." Ucap Louis.
Galih menggeleng. " Ntar aja, gampang.."
Ayya tersenyum mekar pada Louis. " Thankyou so much Louis, aku udah ga ngambek ke kamu kok.. hehe."
" Aaaa, syukurlah.. Besok bisa ngantin bertiga!" Seru Kania girang.
Louis dan Kania pun high five bersama dengan ayya,
Asik sendiri bertuga, sehingga sisanya menatap iri.
" Heemmm.. pantes maafin, disogok rupanya." Cibir willy.
Louis pun tertawa. " Yang penting dimaafin, wleee'.."
" Dasar bocah!" Sinis roy.
Oke, ayya lanjut makan dessert pesanannya sembari khusyuk membaca buku, yang lain asik ngobrol tanpa ia hiraukan.
Padahal ada satu orang yang ingin sekali ngobrol dekat dengannya.
Skip, nongkrong lanjut malam minggu sampai jam 8 malam, mereka ber-6 masih memakai seragam sekolah hingga membuat beberapa pelanggan caffe melirik mereka aneh.
Tak peduli, saat itu juga ayya mendapat telfon dari orang tuanya.
" Kenapa ayy?" Tanya Kania.
Ayya langsung membereskan buku-bukunya hingga membuat keempat cowok di depannya menatap heran.
" Kenapa buru-buru? Ditelfon bokap?" Tanya roy memastikan.
Ayya mengangguk dan bangkit dari duduknya.
" Bates waktuku keluar cuma sampe jam 8, jadi maaf ya guys aku harus balik sekarang juga. Makasih banyak udah ikut repot ke perpustakaan tadi.."
" Bah?? Strict parent kah?" Tanya willy.
Louis dan Kania menatap ayya menanti jawabnya, tanpa membuang waktu ayya langsung mengangguk.
" Sedikit strict, tapi masih humble kok.. So, aku pamit sekarang yah, apa kalian mau pulang juga?" Tanya ayya.
Roy dan willy serempak bangun sembari mencangkin tas ranselnya.
" Kita juga mau pulang ke kosan nih, capek euy besok mau latihan soalnya.." Ucap willy.
Louis mengernyit, namun melihat Kania dan galih juga berdiri terpaksa ia ikut berdiri.
" Loh? jadi kita semua udahan nih?" Tanya ayya.
" Yoi ayy, udah dari sore tadi kan, capek belum juga ganti baju dan sebagainya, punggung minta direbahin."
keempat cowok itu mengangguk menyetujui ucapan Kania, okelah.. Akhirnya mereka keluar cafe bersamaan.
Sampai di depan ayya langsung memisahkan diri, namun willy langsung mengejarnya.
" Lo mau kemana jirrr?" Tanyanya heran.
" Mau pulang lah, kan udah pamitan tadi."
Willy menggeleng heran. " Pasti pesen grab lagi?"
" Heh, kok tau?? Kamu cenayang ya kak?" Ayya speechless.
Willy hanya menggeleng kecil, lalu menarik ayya agar ikut ke parkiran dengannya.
" Heh kak, mau apa??" Protes ayya.
Sampai di parkiran, Louis dan Kania berpamitan dulu, begitupun dengan roy yang sudah bersiap tancap gas, namun sebelum pergi ia melempar senyum pada ayya.
" Mau diajak pulang bareng sama leo tuh.." Goda roy membuat ayya mengernyit bingung.
" Maksudnya apaan? Kak willy anter aku pulang lagi? ga usah kak ga enak sendiri aku udah ngerepotin.."
Willy terkekeh dan menggeleng. " Ga ngerepotin sama seki ayya, palingan ngerepotin si Galih.. Tuh liat si Galih udah siap anter lo pulang."
Wait? ayya reflek menoleh ke belakangnya dimana galih sudah menunggangi motor retro vintage nya dengan begitu gagah dan tampan. Ah sial!
Ayya kembali menoleh pada willy, kali ini ia menggeleng cepat seakan meminta tolong padanya.
" Ga ah kak, sama kak willy aja, aku bayar deh.." Tawarnya cemas.
" Apaan? lu kira gue ojek pake dibayar, udah sana naik motor leo, rumah kalian deket jadi kalo sampe leo ga pulang barengan lo, gue bakal protes banget.."
Tuhkan, emang kerjaan si willy yang sengaja kasih kesempatan mereka buat berteman baik, sejak awal willy sudah ngeh dengan kesenjangan interkasi mereka.
Menaiki motor vespanya, willy pun tancap gas setelah berseru pamit pada ayya dan Galih.
Kepergian willy membuat ayya menjadi canggung berada di dekat Galih, Galih pun menoleh padanya.
" Ayo naik sekarang, aku pulang ke rumah eyang karena besok mau latihan disana, jadi kita pulangnya barengan aja." Ucap galih.
Ayya mengerjap tak menyangka jika galih akan mengucap banyak kata padanya, biasanya irit ngomong, hiks.
' He's look so kind, but..'
" Mm, kak galih bisa pulang duluan aj-..."
" Kamu nolak ajakanku?" Tanya galih terkesan menyalahkan ayya.
Ayya pun panik dan menggeleng cepat.
" Ga gitu maksudku, aku cuma takut sama gaya nyetir kak galih yang.. serem.."
What? Galih menahan diri untuk tertawa, melihat ayya yang benar-benar takut membuatnya merasa bersalah atas ulahnya waktu itu.
" Nggak, aku bisa atur kecepatannya biar kamu ga takut. Ayo ah naik, keburu dikancingin pintu sama om radit."
Mengingat papanya yang pastinya sedang menunggu disana, ayya pun melangkah maju mendekati motor Galih.
Namun perasaannya ragu dan kembali mundur hingga membuat Galih menolehnya lagi.
" Astaga, masih aja berdiri disitu? kenapa? masih ga percaya sama aku?" Tanya Galih membuat ayya semakin cepat menggelengkan kepala.
" Bukan gitu maksudku, kak.."
" Ya udah, langsung naik aja ayo.. Udah jam 8 lebih 20 menit loh.." Peringat galih usai melihat jam tangannya.
Ayya pun menaiki jok belakang sembari memastikannya lagi.
" Janji ga ngebut ya?"
Melirik ayya dari kaca spionnya, galih menyembunyikan senyum dan tanpa menjawab ia langsung tancap gas begitu saja.
Ayya sontak panik, namun ia tak berani berbicara lagi karena galih tak merespon terakhir kalinya.
Hingga beberapa menit kemudian Galih memelankan lajunya, sedikit menepi untuk melihat ayya di belakangnya.
" Masih takut?" Tanyanya.
Ayya mengangguk kecil membuat Galih tertawa geli, namun tak disangka motornya mati mesin hingga akhirnya berhenti di pinggir jalan yang sepi.
Ah sial! Galih berusaha tenang mengarahkan ayya untuk turun agar ia bisa memeriksa problem pada motor tuanya tersebut.
Ayya tak peduli Galih sibuk mencari masalah mesin di motornya, yang ia khawatirkan sekarang ialah ayahnya, namun ayya tak ingin meninggalkan Galih sendirian disini.
Sedangkan sudah 20 menit lamanya mereka disana masih belum juga Galih temukan sumber masalahnya.
" Belum ketemu kak?" Tanya ayya.
Galib menggeleng, lama berjongkok membuatnya pegal hingga akhirnya ia berdiri sembari meregangkan seluruh otot tubuhnya.
" Baru seminggu diservis kok udah bermasalah begini ya? motor ini ga pernah mogok sebelumnya.."
' Jadi intinya apaa???! ' Geram ayya dalam hatinya, tak sanggup dia utarakan langsung kekesalannya pada Galih, hiks.
Galih juga lupa kalau ayya sudah ditunggu ayahnya di rumah, ia baru ingat beberapa menit setelahnya.
" Oh iya! ya ampun aku lupa kalo om radit udah nungguin kamu ya ayy.. arg sorry, aku pesenin grab dulu biar kamu langsung pulang.."
Ayya langsung menahan tangan Galih yang hendak membuka aplikasi ijo, tepat sekali dia ojek pesanannya datang sehingga membuat galih mengernyit bingung.
" Tunggu sampai mas-mas mekaniknya dateng, kak galih juga harus pulang cepet biar besok ga capek buat latihan." Ucap ayya.
Galih masih tak menyangka, lebih kagetnya lagi saat dua mekanik dealer motor datang atas panggilan ayya yang berinisiatif.
" Ayo deh kak, naik bapak grab nya biar kita pulang sekarang, serahin motor kakak buat dibenerin sama mas-mas itu, ayya jamin pasti bakal balik.. jangan khawatir.."
Bukannya tidak percaya, tapi galuh masih heran dengan jalan pikir ayya yang tak pernah terlintas sebelumnya.
Sebelum berbonceng di jok motor driver grab, kedua driver itu saling melirik dan tersenyum.
" Neng geulis sami aa' kasep, Badé kersa boncengan?" Tawar dua bapak drivernya.
Galih tersenyum tipis mendengar tawaran mereka, sedangkan ayya mengernyit tak paham.
" Maksudnya apa ya pak? maaf soalnya bukan orang sunda, hehe.." Ucap ayya cengengesan.
" Ah si eneng lucunya, bapak ini bilang ke aa' nawarin kalian mau boncengan berdua saja gak? biar bapak boncengan berdua di belakang."
What?? Ayya terkesiap dan menggeleng cepat sekaligus malu.
" Ah bapak ada-ada aja, nggak ah.. si aa' ini udah ada pacarnya. Jadi lebih menghargai pasangannya saja.."
Galih melirik tajam, perasaan dia ga punya pacaran deh.!