Setelah lima tahun menikah, miliarder Axel Stone yakin bahwa istrinya, Olivia Stone, tidak mencintainya. Olivia juga yakin bahwa suaminya masih mencintai mantannya dan pernikahan mereka hanyalah pernikahan demi kepentingan semata. Axel menyerahkan surat gugatan cerai kepadanya, tetapi segera menyesali keputusan impulsifnya itu. Dalam upaya putus asa untuk memenangkan hatinya kembali, Axel menunda proses perceraian tersebut. Olivia, yang sudah muak dengan pertemuan-pertemuan suaminya dengan mantannya, memutuskan untuk tetap melanjutkan proses perceraian.
Apa yang akan dilakukan Axel ketika ia menyadari bahwa ia telah membuat kesalahan terbesar dalam hidupnya? Akankah Olivia membuatnya membayar atas pengkhianatannya atau justru jatuh cinta padanya lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Minaaida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 22 Pingsan
Saat aku mulai menaiki anak tangga, pintu terbuka dari luar dan ayahku masuk ke ruang tamu.
"Apa yang terjadi di sini?"
Suara bentakan ayahku membuat aku dan ibuku langsung berpaling. Tatapannya menyapu ke arah kami. Sebelum aku sempat berbicara, ibuku keburu menyahut, dia mulai menceritakan apa yang telah terjadi padaku kepada ayahku.
Setelah selesai, ayahku langsung berpaling menatapku dengan tatapan penuh kekecewaan dan penyesalan. "Olivia, kenapa kamu tidak menunggu kami untuk berbicara dengan Alex sebelum memutuskan perceraian."
Ketika Alex sedang sibuk dengan perjalanan bisnisnya, kedua orang tuaku memang berencana untuk berkunjung ke rumah setelah Alex kembali. Mereka ingin berbicara mengenai perceraian itu namun aku sama sekali tidak memberi mereka kesempatan itu.
Berbicara padanya tak akan mengubah apapun sebab keputusanku sudah bulat untuk mengakhiri pernikahan kami. "Seperti yang kukatakan pada mommy sebelumnya, pernikahanku dan Alex sudah berakhir. Dan tidak ada yang bisa kalian lakukan."
Ekspresi wajah ayahku membeku.
Aku sama sekali tidak terkejut dengan kata-kata berikutnya yang keluar dari mulut ayahku. "Baiklah, kalau begitu, maka kamu harus angkat kaki dari rumah ini."
Tentu saja, apakah mereka berpikir aku akan tinggal di rumah mereka? Padahal aku hanya perlu beberapa hari untuk menata hidupku kembali dan mencari sebuah apartemen.
"Aku hanya tinggal di sini selama beberapa hari saja."
"Tidak bisa," sahur ibuku cepat yang membuat aku terbelalak tak percaya. "Kamu tidak bisa tinggal di sini bahkan cuma untuk satu malam." tambahnya dan aku tertegun.
Apakah mereka serius? Apakah mereka berpikir aku akan kembali ke rumah Alex sebab mereka menolakku untuk tinggal di rumah mereka?
Aku belum siap untuk berdebat dengan mereka. Berdasarkan apa yang aku pelajari selama tumbuh dewasa, berdebat dengan mereka hanya akan sia-sia.
Tanpa berkata-kata lagi, aku meraih koperku dan berbalik menuju pintu. Aku terus melangkah ke luar, mengabaikan caci maki dan sindiran ibuku.
Setelah di dalam mobil, aku segera mengabari Sonya aku sedang dalam perjalanan menuju ke rumahnya.
Setelah bertahun-tahun aku berharap kedua orang tuaku lebih bijaksana , tapi nyatanya aku salah. Mereka ternyata lebih buruk dari sebelumnya.
Aku menarik napas panjang sebelum menjalankan mobilku meninggalkan komplek perumahan tempat orang tuaku tinggal menuju ke rumah Sonya.
Setelah beberapa menit mengemudi, akhirnya aku sampai di rumah Sonya.
"Olivia, apa yang terjadi?" tanya Sonya saat membukakan pintu untukku. "Kenapa kamu membawa koper segala?" tatapannya melayang jatuh pada koper yang tergeletak di lantai.
"Bolehkah aku masuk?" tanyaku, suaraku terdengar putus asa.
Sonya mengangguk dan segera menarik koperku yang tergeletak di lantai, dia membuka pintu lebar-lebar dan membiarkanku masuk. "Apa yang terjadi dengan kamu dan Alex?" tanya Sonya setelah menutup pintu di belakang kami.
"Aku akhirnya menandatangani berkas perceraian itu." ucapku, dengan tarikan napas panjang dan sesak aku tenggelam di sofa ruang tamu Sonya. "Aku bermaksud ingin kembali ke rumah orang tuaku tapi mereka berkata bahwa aku tidak bisa tinggal di sana."
Ekspresi wajah Sonya berubah cemas. "Apakah kamu baik-baik saja? Apakah Alex mengejarmu saat kamu pergi meninggalkan rumah?" Sonya mengajukan pertanyaan itu dengan nada suara penuh simpati dan aku hanya menggeleng.
"Tidak, Alex tidak berusaha untuk mengejarku. Aku sendiri yang memilih pergi." jawabku sambil memijat belakang leherku. Rasanya sangat berat dan pusing. "Aku tidak bisa tinggal di rumah itu lagi. Itu hanya akan membuatku terus mengingat tentang kegagalan pernikahanku." tambahku,
Mengingat kembali semua yang terjadi membuat air mataku tanpa sadar kembali menetes. Namun aku berusaha tegar dan menenangkan diri. Aku harus kuat dan teguh pada pendirianku. Berpikir jernih untuk melanjutkan hidupku di masa depan.
"Olivia, kamu bisa tinggal di sini bersamaku sampai kamu merasa mampu untuk mandiri." Sonya meraih tanganku dan memberiku pelukan hangat.
Sonya adalah sahabat terbaikku yang bisa aku mintai pertolongan dan aku merasa bersyukur memiliki sahabat seperti dirinya. "Ya, aku tahu." jawabku, dengan suara serak sambil melepas pelukannya.
"Apakah kamu mau makan sesuatu? Bagaimana kalau aku pesenin pizza?" tanya Sonya dan aku mengangguk setuju.Sejak tadi pagi, belum ada sepotong makanan pun yang masuk ke perutku karena aku terburu-buru untuk melacak jejak Claudia.
Sonya dan aku melangkah menuju ke ruang makan. Saat aku baru saja hendak mencomot sepotong pizza dari kotaknya, tiba-tiba aku merasa kepalaku sangat berat. Rasanya seperti berputar-putar, lalu pandanganku mengabur.
Hal berikutnya yang kuingat adalah aku terjatuh dan pingsan.
***
Alexander....
Menyaksikan Olivia mengemasi barang-barangnya terasa begitu menyakitkan bagiku. Aku berpikir keras apa yang bisa kuucapkan agar bisa membuatnya berubah pikiran. Namun dia tetap kukuh pada pendiriannya, bersikeras untuk pergi meninggalkan rumah.
Aku berharap segalanya bisa berjalan berbeda. Meskipun aku belum siap menerima kenyataan bahwa dia bukan lagi istriku, aku harus bersikap tenang menghadapi seluruh situasi ini.
Aku tidak pernah berhenti mencintainya. Hanya ada sedikit kesalahpahaman di antara kita yang akan segera aku luruskan. Tadinya aku pikir dengan memberinya surat cerai segalanya akan menjadi lebih baik. Tapi yang tidak aku sangka ternyata yang terjadi malah justru lebih buruk.
Setelah aku mengantarnya ke mobilnya, aku berdiri terpaku memandangi nya sampai mobilnya menjauhi gerbang. Setelah itu aku baru tersadar bahwa pernikahanku sudah berakhir.
Aku kembali masuk ke dalam rumah dan melangkah menuju kamarku. Aku mandi dan berganti pakaian yang lebih nyaman.
Aku sedikit lelah karena penerbangan yang panjang dan melelahkan dan aku butuh teman. Maka dari itu aku menghubungi Dave, memintanya untuk datang ke rumahku. Aku butuh seseorang untuk menghiburku.
Tak berapa lama kemudian Dave tiba di rumahku.
"Hei, bung, apakah kamu baik-baik saja?" tanya Dave saat kami berdua duduk di bar dekat tangga.
"Tentu saja, aku baik-baik saja," aku berusaha terdengar meyakinkan saat menyesap bourbon dari gelasku. "Apakah kamu juga baik-baik saja?" tanyaku, aku menatap Dave.
Dave menatapku dengan tatapan memaklumi. "Ayolah, teman. Aku sudah lama mengenalmu. Lima belas tahun? Apa kamu pikir kamu bisa membohongiku?" Dave terkekeh.
Aku mengangkat tangan kiriku dengan ekspresi menyerah. "Aku tidak bohong padamu."
Aku kembali ingin menyesap dari gelasku namun Dave menarik gelasku dan menjauhkannya dari tanganku. "Kamu tidak ingin mabuk sebelum orang tuamu kembali, kan?" Dia menyela ketika aku menatapnya dengan pandangan kesal. Aku tidak ingin mabuk tetapi aku perlu minum sebab aku tidak ingin terus menerus memikirkan Olivia.
"Dia baru saja pergi sekitar dua jam lalu tapi aku sudah sangat merindukannya, teman. Dia begitu mudah menyerah pada hubungan kami. Apa aku begitu tidak berarti di matanya?" Aku bertanya pada Dave seolah-olah dia mempunyai jawaban atas pertanyaanku.
Dave menatapku penuh simpati. "Berilah dia waktu, dia akan kembali lagi," Upayanya untuk menghiburku tidak berhasil.
"Kamu tidak mengenalnya, Dave." aku tertawa pahit. Aku ingin mengambil gelas di tangan Dave ketika pintu luar tiba-tiba terbuka.
Orang tuaku sudah kembali. Aku tidak ingin mereka melihatku dalam keadaan seperti ini, maka aku meminta Dave untuk menemui mereka sementara aku pergi ke dapur untuk membasuh wajahku.
Setelah selesai, aku baru saja bermaksud untuk meninggalkan dapur saat aku tanpa sengaja bertemu Carol. Dia dengan lembut menarikku ke belakang pintu.
"Apa yang terjadi denganmu?" suaranya dipenuhi kecemasan. "Kenapa kamu minum di siang hari begini?"
Aku mengangkat bahu dan merebahkan kepalaku di meja dapur. "Dia akhirnya pergi, Carol." jawabku dengan sinis dan ekspresi wajah Carol berubah menjadi kekhawatiran.
"Olivia? Mengapa dia pergi?"